Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
149. Melihat calon istana baru


__ADS_3

🌸🌸


Satu jam berlalu, akhirnya pasutri itu menyelesaikan kegiatan pertempuran mereka yang begitu mengguncangkan panggung persegi itu. Ye-Jun menghembuskan nafas kasar, ponselnya selalu berbunyi hingga untuk kesekian kali. membuatnya harus terburu-buru menyalurkan si kecebong untuk menghampiri kediamannya.


Ye-Jun mengangkat ponsel itu, orang seberang sana sudah berisik tak karuan.


πŸ“žYa ya baiklah, aku datang


Kemudian memutuskan panggilan itu secara sepihak.


"Pasti dari lokasi. ini ulahmu, sudah tau kerja malah buat anak" gerutu Zoya


"Hehe. aku mandi dulu" ucap Ye-Jun segera berlari ke kamar mandi dengan tubuh telanjangnya.


"Astaghfirullah, bisa-bisanya dia tidak kenakan pakaian dulu" gerutu Zoya menutup kedua matanya dengan telapak tangan, hanya memberi celah untuk bisa melihat dari jari mungilnya.


Zoya pun segera memakai pakaiannya, lalu menyiapkan pakaian suami didalam lemari. tak berapa lama, pria itu telah keluar dari kamar mandi, mendapati sang istri yang tengah menyiapkan pakaiannya.


"Sayang, kamu tidur saja. pasti lelah" ucap Ye-Jun meraih pakaian itu dari tangan sang istri.


"Gak apa-apa, biar cepat" ucap Zoya


"Istri pengertian" Ye-Jun mengusap rambut sang istri dengan gemas.


Dengan ligat, akhirnya ia cepat menyelesaikan pakaiannya. lalu menyisir rambut yang basah, menyemprot parfum maskulin yang beraroma wangi, lalu mengecup kening sang istri. tak lupa Zoya menyalimi punggung tangan itu.


"Kamu disini saja. jangan keluar kamar sampai Aera pulang. aku berangkat ya, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


**


Dua minggu kemudian, tak terasa sudah dua minggu lebih Zoya dan Ye-Jun menjadi sepasang suami istri. Hari ini pria itu mengajak sang istri untuk melihat kediaman baru mereka yang sengaja Ye-Jun buat dari awal ia mulai mengejar Zoya. Kediaman itu hampir sedikit lagi telah selesai. menurut informasi dari mandor pembangunan, sudah 90% pembangunan selesai. sisa 10% lagi dalam masa pengecatan tembok luar.


Awalnya gadis itu tercengang mendengar alasan suaminya untuk mengajak ke lokasi pembangunan, ia tak percaya secepat itu suaminya bergerak untuk masa depan mereka. Kini pasangan suami istri itu telah memasuki mobil, Ye-Jun segera menekan pedal gas mobil, melajukan kendaraan roda empat itu dengan kecepatan sedang, memecah jalanan yang sepi pada pagi itu.

__ADS_1


Sekitar 30 menit berkendara, Mobil yang mereka tumpangi telah tiba di pembangunan itu. lokasi yang bertempat di kediaman elite, hanya ada beberapa rumah yang mewah dan luas. begitu juga dengan kediaman baru mereka, memiliki halaman luas, taman, interior design modern yang megah hingga tentunya tempat itu begitu asri dan udaranya yang segar jauh dari jalanan berpolusi.



(anggap aja rumahnya belum jadi 100% ya πŸ˜‚πŸ˜‚)


Tampak para pekerja sedang melakukan pekerjaan mereka dimasing-masing tempat. ada yang sedang mengecat tembok, memasang keramik, hingga mengurusi taman dan membuat air pancur.


Zoya dan Ye-Jun menyapa para pekerja dengan ramah. Pak mandor menghampiri mereka dengan sopan, tentunya membungkukkan setengah badannya menghormati pemilik rumah itu. Mandor pun mengarahkan keduanya untuk menelusuri Mansion yang akan menjadi Kediaman baru Tuannya, berjalan melewati arah samping menuju belakang sebab di teras depan masih dalam masa pemasangan keramik lantai.


Zoya begitu terpukau dengan suasana alam sekitarnya, rumput hijau yang menyejukkan mata, udara segar yang begitu bersih tanpa campuran polusi kendaraan lainnya. hanya boleh dilalui oleh pemilik rumah dan orang tertentu. tentu saja bukan jalanan umum yang dilewati banyak kendaraan.



"Nah, ini kita berada dibelakang, Tuan. sesuai pinta Tuan dalam designnya yang menginginkan bentuk sedikit bundar. jadi samping itu mendekati belakang kediaman ini. itu kolam renang sudah jadi, dan ada tempat bersantai pula" jelas Mandor. Ye-Jun mengangguk paham, lalu menoleh menatap istrinya yang tersenyum sendiri menatap area kediaman ini.


"Kamu tampaknya senang sekali, Yang" ucap Ye-Jun mengulum senyum


"Tentu saja. lokasinya sangat bagus. disini tampak alami tanpa polusi, udaranya segar dan lingkungannya hijau sekali. persis seperti di pedesaan kayak di Bali" ujar Zoya, mencurahkan perasaannya pada lingkungan ini.


"Habisnya kamu suka menghirup udara, jad gak salah aku membuat rumah disini" ucapnya tersenyum


"Iya sama-sama, ayo kita masuk" ajaknya. mereka pun mengikuti langkah Mandor, memasuki rumah indah itu melalui jalan setapak yang diberi bebatuan. Zoya terpukau dengan kolam ikan kecil disampingnya, begitu sempurna dan lengkap didepan matanya ini. ada taman, kolam ikan, air pancur, bunga indah berwarna-warni dan ada kolam renang pula dibelakang. sungguh dirinya begitu teristimewakan.


Zoya semakin terpana saat langkahnya memasuki area di dalam rumah ini, interiornya sungguh keren, menakjubkan dan megah. bernuansa putih dan sedikit biru muda, menjadi ciri khasnya Mansion yang megah ini. tak terasa pandangan asyik bergerilia kesana kemari, tanpa sadar sudah tiba saja di lantai atas. Hingga panggilan sang suami pun membuat ketakjuban itu buyar seketika.


"Yang,"


"Eh, iya"


"Melamun aja. ayo masuk" ajak Ye-Jun, Zoya pun memasuki sebuah kamar yang masih tampak kosong. belum ada perabotan apapun termasuk di bawah.


(Nanti setelah rumah selesai, author kirim perabotannya πŸ˜…)


Namun design kamar itu juga tak kalah bagusnya, nuansa biru putih begitu melekat dikamar utama itu walau belum ada kasur dan perabotan lainnya.

__ADS_1


"Kapan perabotan rumah ini datang?" tanya Ye-Jun pada Mandor


"Setelah keramik depan selesai, Tuan. paling besok atau lusa. dan rumah ini sudah bisa ditempati" jawabnya.


"Baiklah, kerja yang bagus. waktu 6 bulan cukup lumayan cepat tapi kamu bisa menghandle semuanya dalam waktu singkat" puji Ye-Jun bangga


"Tuan bisa saja, itu berkat mereka bisa mengerjakan rumah sebesar ini" ucap Mandor terkekeh.


"Ck, itu karna kamu juga. yasudah, kita mau jalan berdua dulu menelusuri seluruhnya" ucap Ye-Jun merangkul bahu istrinya.


"Baik, permisi"


Ye-Jun memandang sang istri yang tampak kagum, tak sia-sia ia menghiasi rumah ini dengan nuansa biru putih sesuai warna favorite istrinya. Ye-Jun tersenyum menatap wajah itu, begitu bahagianya ia bisa membahagiakan sang istri yang teramat ia cintai.


"By, ini rumahnya bagus sekali, Hubby gak salah kalau ini jadi rumah kita?" tanya Zoya, Ye-Jun menggeleng.


"Tentu saja tidak, ini rumah baru kita, istana kita, mansion kita dan tempat berteduh kita bersama anak-anak yang lucu hinggaa mereka dewasa. Tentu saja ini kediaman sampai maut memisahkan" ujarnya


"Ah Hubby, kenapa pikiranmu jauh sekali. aku jadi terharu"


"Hehehe, aku bahagia melihat kamu senang. tiga hari lagi kita akan pindah kesini setelah semuanya benar-benar beres"


"Cepat amat, jadi kangen sama Aera ntar"


"Kan bisa main kesini juga. ajak juga sahabatmu, kebetulan jarak ke kampus tidak terlalu jauh"


"Serius??"


"Ya, sepulang nanti akan ku tunjukkan"


"Terimakasih, By. ngomong-ngomong perabotannya warna biru juga gak?"


"Kita lihat saja nanti"


"Ah Hubby," Zoya mencubit perut pria itu, membuatnya meringis kesakitan.

__ADS_1


"Aw, nakal! awas nanti"


🌸🌸


__ADS_2