
πΈπΈ
Ye-Jun telah menduduki kursi dibelakang kemudi, ia menatap Zoya yang sedang kedinginan membuat Ye-Jun iba melihatnya. Ia pun mengambil selimut di jok belakang yang terdapat pakaian ganti saat syuting dan beberapa sepatu. disana juga terdapat selimut, mantel, bantal dan peralatan lain yang dibawanya saat berada di lokasi syuting. Zoya menoleh ke belakang, mungkin saja ia merasa risih dengan kebisingan barang-barang yang sedang diotak atik oleh Ye-Jun. Hingga Ye-Jun pun mendapati selimut yang bersembunyi dari permukaan.
"Ini, agar kamu tidak kedinginan lagi" ujar Ye-Jun memasang selimut tersebut ditubuh pujaannya.
"Terimakasih" ucap Zoya menatap kebelakang mobil yang cukup berantakan.
"Hehehe, maaf sedikit berantakan. itu barang-barang yang ku kenakan saat di lokasi syuting" jelasnya seraya terkekeh. Zoya pun manggut-manggut mengerti dan kembali menatap ke depan dengan tangan yang memeluk erat badan yang cukup terasa hangat itu. Ye-Jun pun kembali menekan pedal gas mobilnya, melajunya dengan kecepatan sedang memecahi jalanan yang telah tergenang air itu.
Rasa canggung pun menyelimuti suasana didalam ruangan mobil itu, hanya terdengar deruan rintikan hujan yang menghantam atap mobil hingga sayup-sayup dapat terdengar oleh mereka berdua yang membisu. Hwan Ye-Jun menatap sekilas wanita disampingnya, ia tersenyum melihat Zoya yang sudah tidak berisik lagi seperti tadi saat ia memaksanya untuk masuk.
Zoya menatap jalanan dari jendelanya, rintikan hujan yang begitu deras membuat badannya terasa dingin. semua karna ulah Ye-Jun yang memaksanya hingga payung milik ibu kontrakan pun sudah hilang diterpa angin. Namun tidak sepenuhnya kesalahan Ye-Jun, ia juga bersalah karna terus membantah.
Tidak terasa mobil pun telah tiba dikediaman Zoya, hujan masih saja deras tak kunjung reda. Ye-Jun mengambil payung dibelakang mobilnya, ia baru teringat kalau ia memiliki payung. mungkin saja saat tadi saking cemasnya ia tidak mengingat alat pelindung itu hingga langsung menerobos keluar untuk membantu Zoya.
Ye-Jun pun segera keluar namun dihalangi oleh Zoya.
"Aku bisa sendiri. terimakasih" ucapnya mulai membuka pintu sembari mengambil kantung kresek yang terletak dikakinya.
"Tidak! tidak! itu hujannya masih deras" Ye-Jun pun langsung bergegas keluar dan berlari menghampiri Zoya, sebelum wanita itu lebih cepat langkahnya daripada dia.
Zoya yang keras kepala pun tak menggubris ucapan Ye-Jun, ia tetap saja menghantam guyuran hujan itu dengan terus berjalan. Ye-Jun menggelengkan kepala melihat tingkah kerasnya, ia berjalan cepat menghampiri Zoya dan memayunginya. Zoya terperangah, ia menatap ke atas sudah terdapat payung diatas kepalanya itu. Zoya pun mendesah,
"Kenapa Tuan terus membantuku? aku kan sudah tiba dirumah" ucap Zoya.
"Kamu gak lihat, jarak rumah sama aspal itu cukup luas dan jauh" ujar Ye-Jun. Zoya hanya bisa menghembus nafas dengan kasar.
__ADS_1
"Astaghfirullah, sabarkan hamba Ya Allah, lelaki ini terus saja menggangguku" gumam Zoya didalam hati. Ia pun hanya menurut, berjalan menuju teras rumah bersama Ye-Jun yang berada disampingnya itu.
Kini kedua insan itu telah berada di teras rumah, Zoya pun menatap Ye-Jun sekilas lalu menundukkan sedikit kepalanya.
"Terimakasih, Tuan" ucap Zoya sedikit membungkukkan badannya.
"Tidak perlu berterimakasih, ohya tunggu sebentar" Ye-Jun teringat akan.sesuatu, ia pun permisi sebentar untuk menghampiri mobilnya. Zoya mengernyitkan dahinya, menatap heran pria yang sedang berlari menuju mobil. hingga tak berapa lama Ye-Jun kembali dengan membawa kotak makanan ditangannya.
"Apa itu?" tanya Zoya.
"Ini untukmu" Ye-Jun pun memberikan kotak makanan itu kepada Zoya. Zoya semakin heran, bagaimana bisa pria itu memberikannya makanan yang dikemas rapi didalam box.
"Tenang saja, ini aman kok. Gak ada racunnya--
Haaasyiiiim!!
Haaasyiiiiim!!!
"Ah sial!" umpatnya mengucek hidung.
"Ya ampun, kamu flu? masuklah dulu, aku akan membuat air hangat" Zoya yang memerhatikannya mulai merasa kasihan hingga ia menyuruh Ye-Jun untuk memasuki rumah. Ye-Jun hanya menurut, ia pun memasuki rumah tersebut dan menduduki tubuhnya dilantai.
Zoya segera ke dapur untuk menaruh barang belanjaannya. lalu ia merebus air, membuatkannya teh hijau dicampur dengan jahe untuk Ye-Jun yang sedang flu itu. setelahnya ia pun berjalan ke ruang tamu dengan membawa nampan, memberikannya pada Ye-Jun agar segera meminumnya selagi hangat agar bersin itu segera reda.
"Ini minumlah, kamu butuh minuman yang hangat agar flu-mu reda" ucap Zoya menaruh gelas tersebut diatas meja.
"Terimakasih, Asyifa. ternyata kamu orangnya perhatian juga" puji Ye-Jun disela mengucek hidungnya.
__ADS_1
"Hadeeeeuh, anggap saja ini sebagai tanda terimakasihku karna kamu sudah mengantarkanku" ujar Zoya memutar bola matanya merasa jengah.
"Tapi aku bisa melihat rasa khawatirmu" goda Ye-Jun terkekeh menatap wajah kesal itu lalu mengambil gelas yang berisi teh hangat, kemudian meminumnya pelan.
Zoya menatap minuman hangat itu yang sedang diteguk,
"Setelah selesai menghabiskannya, silakan pulang" usir Zoya menyedekapkan kedua tangannya didada tanpa melihat wajah tampan pria itu.
"Kamu ngusir ya? tidak masalah, setidaknya pagi ini aku senang bisa diperhatiin sama kamu" ucapnya semakin menggoda wanita itu.
"Apaan sih!! cepat habiskan!" gertak Zoya kesal.
Pppfffft....
"Jangan galak-galak, nanti cantiknya hilang lho" lanjutnya kemudian. Zoya merasa jengah, ia pun pergi ke dapur untuk membereskan barang belanjaannya daripada mengurusi pria gak jelas itu.
"Dasar lelaki gila! mending aku masuki barang belanja kedalam kulkas" gerutuya sambil berjalan.
Setiba di dapur, Zoya melihat box yang diberikan pemuda itu. Zoya yang masih keroncongan itu pun meneguk salivanya dengan susah payah. Ia penasaran makanan apa yang diberikannya hingga Zoya memilih untuk melihat isi box tersebut.
"Kimchi Bokkeumbap? sepertinya enak" gumamnya tersenyum. tanpa berlama-lama ia pun segera mengambil sendok dan air putih hangat. Zoya pun mulai melahapnya, mencium aroma makanan itu yang begitu mewangi. dengan senyum semringahnya, ia pun segera menyendoki makanan itu kedalam mulut mungilnya.
Disisi lain, Ye-Jun yang penasaran dengan Zoya pun menyusulinya kedapur, ia terhenti sebentar karena melihat Zoya yang sedang melahap makanan pemberiannya. Sebenarnya tadi, Ye-Jun memang ingin kerumah Zoya untuk memberikan sarapan pagi itu. Zoya yang hanya sendiri tanpa keluarga membuatnya risau, pikirannya selalu memenuhi Zoya, apakah pagi-pagi ini ia sudah sarapan atau belum? hingga Ye-Jun pun berinisiatif menyuruh pelayan rumahnya untuk memasuki sarapan itu ke dalam kotam makanan.
Ye-Jun pun tersenyum, setelah memerhatikan Zoya beberapa saat, ia pun memilih pergi meninggalkan kediaman itu.
πΈπΈ
__ADS_1
Baca juga karyaku berjudul pengkhianatan cinta: 2 hearts will love,ya kakak.. gak kalah seru ceritanya lho, boleh dibaca saat malam hari setelah berbuka π