
πΈπΈ
"Ke-kenapa bisa disini?" tanya Aera, bingung.
"Ngajar keponakanmu mengaji" jawabnya
"Duluanlah" sambung Akbar
"Hmm, ya Paman"
"Jangan panggil paman!"
"Eh, baiklah oppa"
Akbar pun tersenyum, dibalas senyum pula oleh gadis itu yang tak kalah manisnya seperti gulali. Aera pun segera melangkahkan kakinya menaiki tangga, diikuti oleh pria itu dibelakang sembari menggendong Dzaka. namun sejurus itu, tiba-tiba Aera menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang. sontak saja keduanya saling kaget saat tubuh mereka saling bertabrakan dan bersentuhan tanpa jarak. sebab Akbar yang termenung tidak menyadari Aera menghentikan langkahnya.
Deg!!
Jantung Aera berdegup kencang saat panca perciumannya menghirup aroma maskulin ditengkuk kiri pria itu, sialnya kepala bocah yang tertidur malah bersandar di pundak kanannya hingga Aera dapat mencium aroma tubuh pria tampan tersebut.
Akbar pun tak kalah kaget, jantungnya langsung berdebar-debar seakan ingin lepas dari tempatnya. keduanya pun saling salah tingkah.
"Eh, m-maaf, Oppa. apakah perlu aku yang menggendongnya?"
"Hm, tidak perlu"
"Oh, he-- baiklah"
Aera pun segera berpaling, berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya berada. sungguh dibalik itu wajahnya tengah bersemu merah menahan rasa malu yang membuncah. walaupun hampir 3 tahun terakhir ini hanya hitungan jari bertemu pria itu, namun rasa yang tersimpan tak pernah pudar. Aera baru menyadari ada rasa yang beda jika bertemu dengan pria itu.
"Huh! astaghfirullah," gumam Akbar, menghirup napas dalam-dalam lalu menghembusnya. Ia pun segera ke kamar Ye-Jun, tepatnya berada di tengah antara dua kamar gadis.
Ceklek,
Ruangan yang kosong dan sepi, 3 tahun tak ditempati semenjak baru beberapa minggu menikah. namun kamar itu telihat sangat rapi, tentu saja Bibi sudah mengganti seprainya. Akbar menatap isi kamar itu, sangat mewah seluruh perabotannya. sungguh berbeda dengan kamarnya yang hanya berukuran kecil, kasur pun hanya kasur tunggal yang ia miliki.
Merasa memiliki beban di pundaknya, Akbar baru menyadari bahwa ada Dzaka yang tengah terlelap. Akbar menaruh bocah itu di atas ranjang, setelahnya ia terduduk sebentar sambil menatap jam di pergelangan tangannya.
13.20
Sekitar 40 menit lagi ia harus tiba di kantornya. untung saja jaraknya dari rumah ini tidaklah jauh, hanya menempuh waktu sepuluh menit. Akbar pun segera membaringkan tubuhnya disamping Dzaka, memejamkan mata sejenak untuk mengistirahatkan sepasang penglihatan yang cukup lelah menatap dunia.
**
__ADS_1
Di kamar Aera, gadis itu baru saja selesai membersihkan diri. seharian ini dengan rutinitas kuliah tataboga yang ia tempuh begitu menguras tenaganya. Apalagi cuaca yang panas membuat gadis 21 tahun itu merasa sangat gerah.
Kini gadis itu ingin sekali menghampiri keponakan kesayangannya, namun langkahnya seketika terhenti mengingat pria tadi berada di kediamannya. sungguh membuat Aera sangat ragu.
"Eh, Paman itu masih disini gak yaa?" gumamnya bertanya-tanya
"Dzaka kan sudah tidur, pasti otomatis dia sudah pulang" gumamnya lagi seraya mengulum senyum. dan dengan yakinnya ia segera melangkah keluar menuju kamar sebelah.
Ceklek,
Kosong, tidak ada pria itu di ruangan kamar kakaknya. hanya ada keponakan yang ia cintai tengah lelapnya memasuki alam mimpi. Aera pun menyelonong masuk, bibirnya terukir indah menatap bocah itu. baru saja memasuki kamar, tubuhnya merasakan sensasi yang tak biasa. kamar ini terasa panas sekali, menatap AC yang ternyata tidak dinyalakan pria itu.
"Dasar! AC kenapa tidak di nyalakan. pasti tu anak kepanasan" gerutu Aera, segera mengambil remote AC yang terpajang di samping ranjang lalu menyalakannya hingga keluarlah hawa sejuk menyegarkan.
"Sungguh pria itu tak disini? ah syukur. aku bisa berbaring di samping keponakanku" ucapnya senang, sungguh sepi kamar itu seakan tak ada kehidupan didalamnya.
Ceklek,
Aera yang baru saja memejamkan mata, sontak terperanjat kaget mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. bola matanya melotot sempurna menatap pria itu yang tak kalah kaget diambang pintu.
Aera pun beranjak duduk, tertegun menatap wajah segar pria disana.
"Op-pa,"
"Pengen tidur sama ponakanku lah! Oppa kok bisa masih disini?"
"Orangtuamu memaksaku beristirahat disini" jawabnya
"Oh," Aera menundukkan wajahnya, merah merona kembali menghiasi wajahnya yang tengah malu. Akbar menatap penuh menyelidik, menghampiri gadis itu.
"Kamu kenapa?"
Sontak Aera mengangkat kepalanya dan semakin kaget melihat pria itu sudah berada tepat di depannya.
"Eh, enggak. maaf sudah masuk kamar. aku pergi dulu" pamit Aera
"Tidak perlu. ini sudah waktuku untuk berangkat bekerja" sanggahnya, segera beranjak berdiri ingin meninggalkan tempat itu.
Aera tertegun menatap kepergiannya, entah kenapa hatinya merasa sangat tidak senang melihat pria itu akan pergi. Aera tanpa sadar segera menuruni ranjang, mengejar pria itu hingga--
Bruk!!
Tanpa sadar gadis itu memeluk pinggang pria itu dengan erat. baru saja tangannya menekan gagang pintu, tiba-tiba tubuhnya menegang merasakan pelukan hangat dibelakang sana.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan, Aera!" tampaknya pria kaku itu sangat kesal menatap sepasang tangan memeluk tubuhnya. sontak saja Aera langsung melepaskan pelukan itu. ia semakin malu.
"Astaga,"
"Ma-maaf! gak sengaja" Aera merasa tidak enak, ia segera merebut gagang pintu itu lalu membukanya. Aera langsung berlari menghampiri kamarnya, sungguh malu sekali dengan sikapnya yang agresif memeluk pria itu.
Apa yang terjadi????
Begitu pun Akbar menatap lekat gadis yang tengah berlari itu, sungguh tiba-tiba dirinya mendapatkan perasaan yang tak biasa. hingga senyum tipis terukir di bibir Akbar, mengantar kepergian gadis itu.
"Oh astaga! apa yang ku lakukan?" Aera berdecak kesal tepat di belakang pintu kamarnya. kedua tangan menutup wajahnya menahan rasa malu dan sikap bodohnya itu. bersamaan rambut berderai panjang ikut menutupi wajahnya.
**
Sore ini Zoya telah menyelesaikan rutinitasnya di kampus. Ia segera memasuki mobil yang ia bawa untuk menuju kediaman Papa Hwan. melambaikan tangan pada sahabatnya sebagai tanda perpisahan pada sore itu. Zoya pun melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, walau tak sabar untuk menemui putra tercintanya, namun berhati-hati tetap menjadi nomor satu.
Setiba di kediaman mertua, pandangan Zoya langsung disuguhi oleh mobil sang suami yang telah terparkir di depan rumah. mobil Zoya pun ikut menyusul, menghentikan tepat dibelakang mobil itu.
Zoya mengedarkan pandangan, tak nampak dimana orang-orang tercintanya berada.
"Mungkin di kamar" gumamnya, segera menaiki tangga untuk menuju kamar itu.
Ceklek,
Tampak sang suami tengah memakaikan pakaian ke tubuh putranya. ada Aera juga disana yang sepertinya baju gadis itu tampak basah, berdiri diambang pintu kamar mandi.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" sahut Ye-Jun, menoleh ke samping, sang istri berjalan menghampiri mereka.
"Eonnie" sapa Aera, menghampiri kakak iparnya lalu memeluk wanita itu.
"Oh Aera, kenapa bajumu basah?" tanya Zoya, Aera memutar bola mata lalu melirik keponakannya itu.
"Apalagi kalau bukan memandikan dia" gerutu Aera, kesal.
Weeek!!
Dzaka menjulurkan lidah mengejek tantenya itu, sangat usil, bukan?
"Dzaka!!" berang Zoya, penuh penekanan.
πΈπΈ
__ADS_1