
πΈπΈ
Triiiiing....!!! Triiiiing...!!!! Triiiiing!!!!
Jam waker berdenting dengan sangat kuat menggelegar diruangan cukup luas itu. sebuah ruangan yang gelap dan hanya ada secercah cahaya dari lampu pijar disebuah tiang. suasana begitu senyap, hening, tidak ada suara apapun baik suara manusia, hewan maupun kendaraan.
Sepasang kelopak mata mulai bergerak, mengerjap-ngerjapkan kedua mata itu untuk segera dibuka. berisiknya dentingan jam waker, segera ia raih dari atas nakas untuk mematikan suara memekikkan gendang telinga itu.
Ye-Jun si pemilik jam waker, ia terbangun akibat berisiknya bunyi jam itu. Namun Ye-Jun tidak berdecak kesal, ia langsung menduduki tubuhnya setelah berbaring cukup lama. ditatapnya jam itu, menunjukkan pukul 4 subuh. Ye-Jun sengaja menyalakan alarm diwaker tersebut agar ia bisa bangun lebih pagi lagi sesuai janjinya pada Abi waktu siang kemarin.
Ye-Jun pun segera turun, menginjakkan kedua kakinya dilantai berbahan marmer tersebut. Ia pun segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi, untuk membersikan tubuhnya agar kembali wangi pada pagi itu.
Pintu kamar mandi pun terbuka, keluarlah sesosok makhluk yang sangat tampan, tampak segar, kulit bening tanpa berminyak dan setetes air masih berjatuhan dari atas permukaan kulit itu. dada bidang nan kekar terlihat jelas, sangat eksotis sekali tanpa bulu halus didada. rambut yang basah sedang disapu oleh handuk kecil, wajahnya tampak begitu segar pagi itu dan bercahaya menerangi gelapnya kamar tersebut.
Ye-Jun baru keluar dari kamar mandi, tubuh telanjang hanya dililiti handuk dipinggang terlihat sangat mempesona. Ia pun segera melangkahkan kaki menuju ruang ganti yang terdapat lemari dan koleksi lainnya yang tersimpan dilemari kaca. Ye-Jun pun membuka lemari yang terkesan mewah, menampikkan deretan pakaian kemeja yang beraneka ragam model didalam sana. Ye-Jun pun mengambil baju koko yang baru saja ia beli, dengan sigap ia mengenakan baju itu ketubuh kekar dan tangan yang ligat memasangkan beberapa dua kancing yang terletak didada atasnya. tak lupa ia juga mengenakan celana sebab celana wajib untuk dikenakan.
Ye-Jun bercermin didepan meja riasnya, kedua sudut bibir sengaja ditarik keatas hingga bibir pun terlihat melebar hingga terbentuklah sebuah senyuman manis yang menghiasi wajah itu. Ye-Jun tersenyum menatap penampilannya yang keren dan terlihat seperti pria muslim sejati. ini adalah pertama kali ia mengenakan pakaian muslim, Ye-Jun begitu menyukainya.
Tanpa berlama-lama, ia pun mengenakan minyak rambut yang begitu wangi, memijat keseluruh rambut hingga kekulit kepala sekalipun. Aroma wanginya begitu menusuk ke permukaan hidung, namun aroma ini sangat disukai oleh seluruh kalangan pria dan wanita.
Ye-Jun menatap jam dipergelangan tangannya, waktu menunjukkan sudah hampir pukul setengah lima. Ia pun segera meraih kunci mobil, ponsel dan buku perpustakaan Masjid yang ia pinjam. Ye-Jun memilih untuk membelinya saja, memiliki sendiri itu jauh lebih baik daripada meminjam.
Kaki jenjangnya melangkah dengan tergesa-gesa menuruni tangga, sudah terlihat para pekerja kediamannya mulai bersih-bersih disetiap sudut ruangan. Ye-Jun hanya acuh, tidak memperdulikan mereka yang menunduk hormat pada sang tuan muda diistana itu. Hingga kini ia pun telah tiba di mobil miliknya, segera menaiki kendaraan beroda empat tersebut dan menyalakan mesinnya agar bisa membawanya pergi bertemu Abi.
"Semoga Abi tidak marah kalau aku sedikit terlambat" gumam Ye-Jun seraya menekan pedal gas mobil.
__ADS_1
Mobil melaju dengan sangat kencang memecah jalanan yang masih sepi pagi itu. hanya segelintir kendaraan lain yang melewati jalan. hingga beberapa menit kemudian, mobil telah tiba dikediaman Zoya. dengan langkah terburu-buru, ia pun segera berlari menghampiri kediaman tersebut.
Ting tong,
Ceklek,
"Assalamualaikum, Abi, Malik" ucap Ye-Jun menyalimi punggung tangan Abi.
"Waalaikumsalam, kau sudah siap?" tanya Abi.
"Sudah, bi. ayo kita pergi" ucap Ye-Jun dengan mantap. ketiga pria itu pun berjalan menuju mobil, Abi melirik calon menantunya, terlihat sangat berbeda mengenakan pakaian muslim itu.
"Kau lebih tampan mengenakan ini, Abi suka" puji Abi tersenyum, lalu memasuki mobil yang pintunya telah dibukakan oleh Ye-Jun.
Mobil kembali memecah jalanan sepi tersebut, tidak ingin terlambat dan mengecewakan Abi, ia menambah kecepatan laju kendaraannya.
"Jangan ngebut-ngebut, walau sepi harus tetap berhati-hati" peringat Abi.
"Baik, Bi" Ye-Jun pun menurut, ia kembali menstabilkan lajuannya seperti tadi.
"Zoya sudah bangun, Bi?" tanya Ye-Jun yang teringat gadis pujaannya.
"Belum" jawab Abi singkat.
"Kalau Zoya tidak mencintaimu, bagaimana?" tanya Abi pada Ye-Jun.
__ADS_1
"Ye-Jun akan berusaha terus untuk mengejar cintanya" jawab Ye-Jun yakin. Abi pun mengangguk-angguk paham.
"Kamu jangan macam-macam sama putri Abi, dia hanya orang asing disini" peringat pria parubaya tersebut.
"Siap, Bi. Ye-Jun akan menjaga Zoya dengan sepenuh hatiku" ucapnya tersenyum dari balik spion itu.
Mobil sport berwarna navy itu pun telah tiba dipekarangan Masjid Central Seoul, banyak para muslim dan muslimah berbondong-bondong memasuki area Masjid. Masjid itu pun juga terdapat para santri, tampak padat isinya yang sudah dipenuhi oleh umat islam yang akan berjamaah sholat subuh.
Suara Adzan yang begitu nyaring digendang telinga, membuat hati siapa saja akan tersentuh dengan alunan indahnya yang shahdu, termasuk Ye-Jun sekalipun. Ye-Jun terdiam ditempat menatap seluruh area Masjid untuk kedua kalinya. tubuhnya terpaku tatkala mendengar adzan yang menyejukkan dan menentramkan hatinya yang kosong. Ini pertama kalinya Ye-Jun mendengar alunan indah ini, Ye-Jun memejamkan mata sejenak, meresapi setiap ayat yang berkumandang hingga kelubuk hatinya.
"Hei, kamu mau disini saja atau ikut masuk?" suara Abi membuyarkan lamunan Ye-Jun yang sedari tadi menikmati alunan Adzan itu. ia tersentak kaget tatkala Abi menepuk pundaknya.
"Eh, disini saja deh, Bi" ucap Ye-Jun.
"Baiklah, selesai sholat kamu harus masuk" suruh Abi..Ye-Jun mengangguk seraya tersenyum.
Abi dan Malik pun melangkahkan kaki memasuki Masjid tersebut, meninggalkan Ye-Jun yang masih terpaku di depan mobilnya. banyak orang yang menatap dia, mereka hanya tersenyum seraya sedikit menunduk. Ye-Jun pun membalasnya, orang muslim begitu sangat ramah. selama ini Ye-Jun tidak pernah dihormati kecuali para pelayan kediamannya. Namun mereka, begitu mengayomi sosok Ye-Jun.
"Kamu tidak masuk?" tanya salah seseorang kepada Ye-Jun.
"Tidak, paman. saya non-muslim" ucapnya tersenyum. pria yang menyapanya pun hanya mengangguk seraya tersenyum, namun matanya menatap pakaian yang dikenakan oleh pemuda tampan itu.
"Semoga Allah memberkatimu" ucapnya kemudian, setelahnya ia pergi meninggalkan Ye-Jun.
πΈπΈ
__ADS_1