TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
LUIZ DAN LEO


__ADS_3

Adakah sebuah moment yang paling menggetarkan sanubari..?


Arshlan tidak bisa memilahnya lagi, yang manakah moment tertinggi, terindah, serta teristimewa untuknya..?


Jawabannya.. terlalu banyak.


Sejak ia mengenal Lana, moment demi moment yang berlalu selalu saja terasa lebih indah dari hari kehari kendati pun Arshlan begitu gigih untuk mengingkari.


Begitupun dengan titik nadir yang terjadi dalam hidupnya.


Awalnya semua kisah kelam dimasa lalu seolah menjadi titik nadir kehidupan Arshlan, tapi kenyataannya semua itu tidak seberapa bila dibandingkan saat ia nyaris kehilangan Lana, kemudian melewati semua hal-hal menakutkan yang ikut mengguncang segala ketegarannya hingga berbulan-bulan lamanya.


Pada akhirnya Arshlan telah meyakini satu hal.


Bahwa titik tertinggi dari rasa sakitnya adalah saat melihat Lana kesakitan, dan obat terbaik untuknya pulih adalah menyaksikan kebahagiaan Lana.


Lima bulan yang lalu Arshlan telah melakukan sebuah kebodohan besar, yakni mendorong Lana pergi dari kehidupannya.


Namun takdir telah menghukum Arshlan dengan cara yang paling elegan, menyadarkan keegoisannya yang sesumbar untuk mencoba bertahan hidup tanpa Lana, karena ternyata Arshlan benar-benar tidak mampu jika harus kehilangan gadis itu dari dalam kehidupannya.


Beruntunglah dirinya saat Tuhan menunjukkan mukjizatnya berkali-kali, disaat ia lebih memilih hidup Lana, dari pilihan yang teramat sulit lainnya.


Dokter telah mengingatkan bahwa sangat kecil kemungkinan jika kedua janin Lana mampu bertahan pasca operasi tersebut, tapi ternyata si kembar tetap tumbuh dengan sehat setelahnya.


Mungkin Lana juga tidak rela kehilangan kedua janinnya, karena itulah gadis itu terus bertahan sampai si kembar lahir kedunia meskipun harus dengan tindakan sc darurat karena kondisi Lana yang masih koma.


Dua minggu telah berlalu usai keajaiban besar itu terjadi dalam hidup Arshlan, dimana Lana benar-benar kembali padanya.

__ADS_1


Saat ini, perkembangan kesehatan Lana terus meningkat secara signifikan, setahap demi setahap, namun kesabaran Arshlan seolah tak pernah ada habisnya.


Seperti prediksi awal dari tim dokter yang dikepalai oleh dokter Gunawan. Arshlan pun bisa bernafas lega. Karena pasca siuman momok menakutkan seperti komplikasi penyakit lain, penurunan fungsi otak serta kelumpuhan pada tubuh Lana semuanya tidak terindikasi.


Proses kesembuhan setiap manusia memang berbeda-beda, dan Lana adalah gadisnya yang sangat kuat serta penuh semangat.


Setelah menjalani therapi fisioterapi dan psikoterapi, perkembangan kesehatan Lana terlihat melaju pesat, terlebih setiap saat Arshlan tak pernah lupa memberikan cuplikan video perkembangan dua pangeran mungil mereka.


Rencananya hari ini juga, keduanya sudah diperbolehkan keluar dari ruangan khusus perawatan, sehingga bisa bertemu Lana untuk pertama kalinya.


"Katakan padaku, kau pasti sudah tidak sabar ingin melihat mereka berdua secara langsung kan..?"


Lana mengangguk pelan, sambil menatap Arshlan dengan wajah yang dipenuhi senyuman, tatapan matanya seolah menyiratkan rasa ketidak sabarannya menunggu moment tersebut tiba.


"D-dim.. mana.. m-me.. reka.." ucap Lana dengan kalimat yang masih terpatah-patah.


Arshlan tersenyum semringah. "Bersabar sedikit lagi yah, sayang, suster pasti akan membawa mereka menemuimu. Aku yakin kau akan terkejut.. karena mereka sangat mungil.." bisik Arshlan lagi dengan wajah berbinar.


Sama seperti Lana, Arshlan pun sudah tak sabar menanti moment pertemuan Lana dengan kedua pangeran mungil mereka.


Sesaat kemudian, bunyi ketukan didaun pintu terdengar, sebelum akhirnya pintu ruangan tersebut terbuka lebar.


Dari sana muncul seorang dokter jaga, dengan dua orang suster yang masing-masing mendorong baby box.


"Selamat pagi Tuan Arshlan, selamat pagi Nyonya Lana.." sapaan hangat tersebut meluncur lancar dari bibir dokter jaga, yang kini telah berdiri tepat dihadapan mereka.


"Selamat pagi, dokter.." jawab Arshlan dengan ramah.

__ADS_1


Dokter itu tersenyum kearah Lana. "Nyonya Lana, bagaimana kabar Nyonya pagi ini..?"


"B-ba.. ik, dok.. ter.." sambut Lana dengan penuh semangat. Tatapannya semakin berbinar saat mengarah penuh kearah dua baby box tersebut berganti-ganti.


"Sudah siap bertemu si kembar..?" tanya sang dokter lagi sambil tersenyum lebar.


"I-iy.. ya.. dok.. ter.."


Raut kebahagiaan milik Lana terpancar jelas terlebih saat kedua suster tersebut dengan sangat berhati-hati telah mengangkat si kembar dan menaruhnya dipangkuan Lana dikiri dan dikanan, meski tentu saja mereka tetap menopang penuh tubuh kedua bayi mungil itu.


"Halo Mommy.. perkenalkan namaku Luiz, dan namaku Leo.." Arshlan menyentuh satu persatu pipi kedua putranya yang memerah dengan bangga, namun tetap saja ia gagal menyembunyikan nada suaranya yang bergetar, terlebih saat melihat pancaran kebahagiaan tak terhingga disepasang mata Lana begitu menyaksikan dua bayi mungil yang kini berada dalam pelukannya meskipun belum bisa ia peluk seutuhnya.


Lana mendekatkan wajahnya, menyentuh lembut permukaan bibirnya dikedua wajah Luiz dan Leo.


Dalam sekejap, instingnya sebagai seorang ibu bahkan langsung bisa membedakan kedua putranya.


Luiz berkulit seputih susu seperti dirinya, sementara Leo berkulit eksotis seperti Tuan Arshlan.


Hanya itu saja yang membedakan wujud si kembar nan tampan, karena selebihnya wajah keduanya begitu mirip.. semuanya berkiblat seutuhnya pada wajah Tuan Arshlan, pria tampan yang sangat ia cintai.


Luiz dan Leo..?


Sungguh, nama yang sangat tepat.


Arshlan mengangkat jemarinya, guna menghapus jejak air mata yang ada dipipi Lana. Ia terlalu fokus mengawasi kebahagiaan gadis itu, sehingga tak sadar jika sudut matanya pun sedang tergenang.


...

__ADS_1


Next bab sabi lah.. tapi jangan lupa di Like and support-nya yah.. 😍


__ADS_2