
Arshlan duduk dengan tenang, sambil menyilangkan kakinya. Ia duduk disofa yang ada dipinggir jendela, yang nyaris merupakan sudut terjauh dari ranjang Maura, yang sedang menatapnya lekat.
Seperti biasa, Maura selalu terlihat menawan.
Gaun merah menyala seperti warna darah.. dengan potongan leher yang rendah, tapi entah kenapa semua pemandangan seronok itu rasanya sudah begitu lama tidak lagi bisa mengusik kejan tanan Arshlan sedikitpun, malah yang ada Arshlan selalu merasa muak meihatnya.
Untunglah sisi kemanusiaannya tidak serta merta ikut mati. Sehingga ia masih memiliki rasa iba untuk terus mengikuti permainan Maura hingga detik ini.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Arshlan, mengawali basa-basinya dimalam itu.
"Buruk." wajah Maura terlihat sedang menahan rasa kesal.
"Apa yang terjadi..?" tanya Arshlan lagi begitu menyaksikan wajah cemberut Maura.
"Apa yang terjadi? Arsh.. bisa-bisanya kau masih bertanya?"
Mendengar kalimat dingin itu, Arshlan pun menghembuskan nafasnya perlahan.
"Arsh.. katakan padaku, apa kau sengaja melakukan semua ini?"
"Maura.. memangnya apa yang sudah aku lakukan sehingga membuatmu kesal seperti ini..?"
"Kau sengaja membawa pelayan kecil itu ke villa ini untuk bisa menyakitiku kan?"
Arshlan malah tersenyum menerima tuduhan itu. "Lana?" ujarnya seolah ingin meyakinkan.
"Seleramu sungguh rendah, kau sekarang bercinta dengan pelayan..!"
"Bukankah aku telah melarang Madam Lori untuk memakaikannya seragam pelayan..?"
"Cih.. pelayan tetap saja pelayan. Tidak ada hubungannya dengan seragam..!"
"Tidak apa-apa.. buatku itu seperti sebuah tantangan, dan aku menyukai tantangan.."
Maura terhenyak ditempatnya menerima kalimat yang terucap santai itu. Kepalanya menggeleng berkali-kali, seolah menolak kenyataan yang ada dihadapannya.
"Ars, rasanya aku tidak bisa mengenalimu lagi. Dulu kau tidak seperti ini.."
"Tentu saja. Tentu saja kau tidak bisa lagi mengenaliku dengan baik, Maura. Karena dulu mataku selalu tertuju padamu, tapi kau.. kau bahkan tidak bisa jika hanya melihatku seorang.."
Maura bisa merasakan rasa sakit dari kalimat arshlan, sehingga tak terasa sebuah bening telah meluncur mulus kepermukaan pipinya.
"Arsh, sekali lagi aku minta maaf. Aku sudah mengatakannya ribuan kali.. dan aku akan terus mengatakannya sebelum aku bisa mendapatkan sebenar-benarnya pengampunan dari dirimu.."
Arshlan membuang wajahnya. Sungguh, dirinya benci melihat air mata wanita.
Mengapa?
Karena jiwanya yang mati sekalipun akan berontak setiap kali melihat seorang wanita menangis dihadapannya.
Pemandangan seperti itu akan selalu mengingatkan Arshlan kepada sosok Ibu, yang hingga diakhir hidupnya hanya diisi tangisan dan air mata kepedihan, akibat pengkhianatan Ayah.
__ADS_1
"Aku bertahan demi dirimu.." Maura berucap dengan suara serak.
Arshlan menyeringai sinis. "Benarkah? benarkah demi diriku..?" mendadak suara Arshlan dipenuhi rasa geram. "Bukankah karena semata-mata demi ambisi dirimu sendiri..?"
"Apa maksudmu, Arsh.." protes Maura dengan sepasang kelopak mata yang semakin berkaca.
"Sudahlah..!"
Arshlan mengibaskan tangannya acuh, tak ingin kembali terlarut dalam perasaan sakit hatinya yang mendalam, yang telah merubah dirinya yang penuh belas kasih menjadi seorang pria yang tidak punya hati.
"Apakah dokter David masih rutin mengunjungimu?" memilih mengalihkan topik pembicaraan, karena membenci situasi dimana Maura akan mulai menguasai emosi jiwanya dengan semua pembelaan diri serta rasa iba.
Sudah cukup. Arshlan benar-benar sudah muak dengan semua itu.
Maura terlihat mengangguk lemah.
"Dokter David selalu datang, tapi semua usaha ini sepertinya sia-sia.." berucap putus asa, dengan bibir bergetar.
"Kau selalu saja pesimis.."
"Pesimis? aku sudah menghabiskan lima tahun hidupku ditempat tidur ini, dan kau mengatakan aku selalu pesimis..?"
"Kau terlalu manja dan tidak sabar. Wanita tua bernama Alexandra dibawah sana, bahkan telah menghabiskan dua puluh satu tahun untuk menunggu keajaiban, tapi dia tidak pernah sekalipun mengeluh padaku."
"Jadi maksudmu aku juga harus menunggu selama dua puluh satu tahun? kau sudah gila! kalau seperti itu, lebih baik aku mati saja!"
"Maura.."
"Kau ini bicara apa?"
Maura tidak langsung menjawabnya. Hatinya begitu sakit, dan dadanya terasa begitu sesak seolah sedang terhimpit batu. Ia merasa perlu menata nafasnya terlebih dahulu sebelum mengeluarkan emosi jiwa yang sedang menggelegar didalam dirinya.
"Kau memang sengaja ingin menghukumku, kau ingin membalas dendam!" tuduh Maura tanpa ampun. "Selama ini kau selalu membuatku terluka, dan kau belum puas. Kau malah menambah luka dihatiku dengan membawa pela cur berganti-ganti ke villa ini. Sekarang kau bahkan meniduri pelayan rendahan..! kau mau membuat harga diriku terluka.. ha-ah..?! kau ingin aku bersaing dengan seorang pelayan hina..?!"
"Aku tidak pernah mencari kekasih dan menikah dengan siapapun. Lalu kau mau aku bagaimana lagi.?"
Kemarahan Maura hanya ditanggapi Arshlan dengan sikapnya yang datar, membuat Maura terhenyak.
Lama Maura tercenung, memikirkan kalimat Arshlan barusan.
'Tidak mencari kekasih, tapi meniduri semua wanita. Lalu apa bedanya..?'
Hati Maura membathin pedih.
"Aku telah memegang janjiku untukmu. Lima tahun yang lalu kau mengatakannya dengan jelas, bahwa kau tidak ingin aku memiliki kekasih apalagi menikah. Tapi kita tidak bicara tentang menyalurkan hasrat, kan?"
"Kau keterlaluan.."
"Maura.. tolong mengertilah, aku adalah pria normal.."
"Kalau memang demikian.. lalu kenapa kau tidak mau menyentuhku lagi..?"
__ADS_1
Arshlan terdiam Lama. Ucapan sendu Maura sanggup membuatnya menelan ludah di tenggorokannya yang terasa pahit.
'Sekalipun kau menari telanjang dihadapanku dengan sepasang kakimu yang indah, jangankan menyentuh.. aku bahkan tidak berhasrat sama sekali untuk seorang pengkhianat seperti dirimu..'
Bathin Arshlan bergumam sinis.
"Kau sakit, dan aku tidak ingin menyakitimu." akhirnya Arshlan memilih mengucapkan kalimat diplomatis yang penuh kebohongan.
"Tapi.. kita bisa melakukannya dengan perlahan.."
"Tidak." pungkas Arshlan cepat.
"Kenapa tidak, Arsh..? kita bahkan belum pernah mencobanya.."
Namun Arshlan terlihat terus menggeleng membuat Maura lagi-lagi seolah terlempar kejurang tanpa dasar karena kembali menerima penolakan pria itu entah untuk kesekian kalinya, selama lima tahun!
"Kau bahkan tau aku tidak bisa melakukannya dengan perlahan kan..? apakah kau sudah lupa..?" pungkas Arshlan.
Maura memejamkan matanya. Bayangan percintaan panas antara dirinya dan Arshlan bertahun tahun yang lalu bahkan masih bisa terputar ulang dengan sangat jelas dibenaknya.
Arshlan memang benar. Pria itu tidak bisa melakukannya dengan lembut, apalagi perlahan.
Percintaan mereka selalu terasa begitu panas disetiap malamnya, dipenuhi erangan kasar Arshlan serta jeritan kenikmatan miliknya.
Mereka berdua bahkan tidak pernah merasa puas melakukannya dimanapun, setiap kali gelombang hasrat menggulung, dan tubuhnya pun telah terbiasa dihancurkan oleh Arshlan.
Maura menelan ludahnya, begitu ingatannya kembali. Hasratnya menggelora tak tertahan saat potongan-potongan adegan erotis yang kasar mulai mengacaukan pengendalian dirinya.
Saat sepasang matanya menatap Arshlan, gairahnya telah begitu memuncak ingin dipuaskan, rasanya Maura ingin melompat keatas pria itu dan memaksanya bercinta, namun sayangnya.. lelaki itu telah berubah menjadi begitu dingin, dan semakin dingin untuknya setelah sekian lama.
"Aku harus pergi." Arshlan terlihat bangkit dari duduknya dengan sikapnya yang tenang seperti biasa.
"Apa kau akan kembali ke pelayan itu..?" sinis suara Maura terdengar.
"Tidak. Aku sudah membuatnya luluh lantak, bagaimana mungkin aku tega membuatnya sekarat diatas ranjang.."
Gigi Maura bergemeretak menahan amarah.
Maura telah termakan kebohongan Arshlan mentah-mentah, yang sengaja diucapkan Arshlan untuk menyiksa bathin wanita itu.
Kedua tangan Maura terkepal, kemudian ia memilih meremas kedua pahanya sendiri dengan sekuat tenaga untuk menyalurkan kemarahannya untuk pria yang telah berlalu acuh.
Seperti biasa.. tanpa menyentuhnya sedikit pun.. seujung rambutnya pun tidak..
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Thx and Lophyuu all.. 😘