
Sinar mentari pagi yang menyeruak dari balik tirai yang tidak tertutup sejak kemarin itu seolah ingin menyadarkan Lana dari tidurnya yang lelap.
Lana hanya membuka matanya, sambil menoleh kesamping dimana jendela kamarnya yang terpentang lebar telah membuat sinar mentari menyeruak bebas hingga kedalam kamar.
Kemarin, Lana telah menangisi nasibnya habis-habisan, begitu tersadar bahwa Tuan Arshlan telah berhasil menjerat dirinya sekaligus menipunya mentah-mentah.
Seharian sudah Lana menunggu kedatangan Tuan Arshlan, ia bahkan rela duduk meringkuk dilantai balkon yang dingin hingga tengah malam, melihat dengan mata kepalanya sendiri kepulangan pria itu.
Sayangnya meskipun Tuan Arshlan telah berada didalam rumah megah ini, namun Tuan Arshlan malah tidak berniat untuk langsung menemuinya sedikit pun.
Pria yang sangat kejam..!
Menikahinya dalam sekejap, meninggalkannya, kemudian diam-diam mengurungnya diketinggian.. tanpa makan!
Semua perlakuan buruk Tuan Arshlan yang diterima Lana ini telah mengingatkan Lana pada kemarahan Ibu yang sejak Lana kecil begitu sering membuatnya kelaparan seharian jika Lana membuat wanita itu marah.
Yah, pasti Tuan Arshlan tidak tau, bahwa bahkan sampai Lana beranjak remaja, Lana sering tidak diberi makan selama dua hari penuh. Dan kalau sudah begitu, alternatif satu-satunya adalah pergi kekamar mandi, dan meminum langsung air dari curahan keran.
Sekian lama tidak pernah lagi mengganjal perutnya dengan air keran, pada akhirnya semalam Lana melakukannya lagi. Meminum air keran karena hanya dengan begitu ia bisa mengganjal perutnya yang kosong melompong.
"Lana.. Lana.. Lana.."
Lana telah memanggil dirinya sendiri. Ia sengaja melakukannya seolah ia sedang memanggil rohnya yang terkulai nyaris menyerah.
"Yah.. aku adalah Lana yang kuat, dan tidak ada yang bisa menyakiti hatiku. Tidak juga denganmu, Tuan.."
Lirih Lana sambil berbisik, lagi-lagi pada dirinya sendiri, sebelum kemudian senyumnya terkembang sempurna.
"Baiklah, pemalas.. pertama-tama, yang harus kau lakukan adalah bangun dari tempat tidurmu.." Lana pun bangkit dari tidurnya dengan gerakan yang sangat bersemangat.
Begitu kakinya menginjak lantai ia pun tersenyum lebar kemudian berucap lagi meskipun tanpa lawan. "Dan kau harus berolahraga kecil, agar tubuhmu kuat menghadapi semua yang akan kau hadapi hari ini, besok, lusa.. begitu pun dengan yang akan terjadi dimasa depan..! hup.. hupp.. huppp..!" Lana telah berlari-lari ditempat untuk beberapa saat, sampai-sampai ada titik-titik bulir keringat yang menghiasi dahinya.
"Kemudian.. aku harus mandi, tapi sebelum itu, aku akan membersihkan tempat tidurku terlebih dahulu.." dan akhirnya Lana benar-benar bernyanyi ceria, sambil merapikan selimut dan bantal, serta semua yang ada disana dengan raut wajah yang seolah tak terjadi apa-apa.
Lana bahkan bersiul girang saat memasuki kamar mandi setelah terlebih dahulu mengambil bathrobe yang terlipat rapi disalah satu rak lemari.
...
"Apa dia sudah gila?" Arshlan sampai melotot kearah layar monitor di dinding kamarnya, yang sedang menunjukkan aksi super ceria milik Lana di pagi hari ini.
"Bisa-bisanya dia sempat berolahraga.. dia bahkan menyanyi dan bersiul riang seperti burung perkutut..!!"
Geram Arshlan, merasa jengkel bukan main.
Bagaimana tidak?
__ADS_1
Meskipun semalam suntuk ia nyaris tidak bisa tidur dan baru terlelap nyaris pukul tiga dini hari, namun karena padatnya jadwal pekerjaan yang menanti dihari ini, tepat jam enam pagi suara alarm diponsel Arshlan telah berdering, untuk mengingatkan dirinya agar bangun sesegera mungkin.
Dan saat Arshlan hendak beranjak keluar dengan penampilan yang telah rapi, entah setan apa yang telah merasuki dirinya sehingga merasa begitu penasaran dengan isi kamar yang ada dilantai empat rumah megahnya ini.
Tanpa tercegah lagi Arshlan telah meraih remote layar control cctv, dimana jemarinya yang lincah pun langsung mencari channel yang menghubungkan cctv kamar tersebut dengan layar kontrol miliknya yang berada didalam kamar.
'Kira-kira dia sedang apa yah..?'
Begitu kira-kira bunyi pertanyaan iseng yang bergelayut diotak Arshlan, sebelum menekan tombol remote tersebut.
Sayangnya pemandangan yang didapat Arshlan di layar monitor justru berkebalikan seratus delapan puluh derajat dari apa yang pikirkan..!
Sungguh mencengangkan, yang dilihat Arshlan malah sosok Lana yang sedang berlari ditempat dengan penuh semangat sambil melakukan gerakan-gerakan absurd tambahan seolah mengesankan bahwa dirinya sedang berolahraga ala kadarnya.
Padahal Arshlan justru berharap ia akan menemukan Lana yang menangis sesegukan karena merindukan dirinya, kalau perlu sambil tergeletak tak berdaya karena kelaparan.
Tapi yang ada malah sebaliknya.. Arshlan malah menemukan Lana yang justru bekali-kali lipat lebih ceria, dari biasanya..
XXXXX
'Aku tidak boleh menyerah.. tidak boleh..'
'Karena kalau saat ini aku menyerah, maka Tuan Arshlan tidak bisa melihat kesungguhanku!'
Lana sedang menatap pantulan dirinya, dipermukaan cermin yang ada dimeja rias. Ia telah memantapkan hatinya untuk melakukan segala cara demi meluluhkan hati Tuan Arshlan.. pangerannya..
Status dirinya bahkan telah menjadi istri yang sah dari pria itu, lalu apalagi yang lebih kuat dari semua itu?
Yah.. tekad Lana telah bulat, bahwa setelah meyakini semua kejadian beruntun yang telah menimpanya hanya ada satu kesimpulan yang bisa diambil oleh Lana.
Amarah.
Tuan Arshlan pasti sedang marah, meskipun Lana bahkan tidak tau apa yang telah ia lakukan, sehingga membuat pria itu menjadi begitu marah kepadanya.
Tok.. tok.. tok..
Bunyi pintu yang terketuk dari luar itu mengusik lamunan Lana.
Seolah mendapatkan jackpot rasanya Lana ingin terbang kearah pintu, menunggu seseorang yang terdengar sedang membukanya dari luar.
Seorang pria berpakaian necis terlihat berada dibingkai pintu.
"Maaf Nyonya, anda ditunggu Tuan Arshlan dimeja makan.."
Sinar mata Lana bersinar cerah mendengar kabar yang telah ia nantikan sejak kemarin, yang menunggu dengan sabar kapan pria itu akan mengingatnya.
__ADS_1
"Mari akan aku antarkan Nyonya kebawah.."
"Baiklah.." Lana mengangguk, tanpa protes sedikitpun ia langsung membuntuti langkah sang pengawal yang telah menuju lift yang berada di sudut ruangan.
Beberapa saat kemudian pintu lift itu telah terbuka kembali, menandakan jika mereka telah tiba dilantai satu.
"Mari Nyonya.." kembali pengawal itu mempersilahkan Lana dengan sopan.
Lana pun mengangguk, mengikuti langkah sang pengawal yang telah membawanya melintasi sebuah ruangan besar yang setelah ruangan tersebut tampaklah sebuah meja makan besar, dimana seorang pria tampan telah duduk disana dengan tenang, sambil menikmati sarapan.
"Tuaann.."
Seperti biasa Lana tidak bisa menahan dirinya untuk tidak gembira, setiap kali ia melihat sosok Arshlan.
Teriakan nyaring yang khas itu menggema hingga kesudut ruangan, membuat Arshlan urung memasukkan potongan roti kemulutnya.
Baru saja Arshlan hendak mengangkat wajahnya.. manakala tubuh mungil Lana telah berada dipangkuannya dengan sempurna.
Wajah itu terlihat sedikit pucat, namun..
Sepasang kelopak matanya berbinar..
Dua buah belahan bibirnya merekah..
"Tuaann.. aku rinduuu.." ungkapan khas yang begitu polos dan manja, sanggup membuai keseluruhan dari segenap perasaan Arshlan hingga ke relung.
'Damn..'
Arshlan memaki dalam hati, menyadari betapa mudahnya dirinya yang telah dikalahkan lagi.
Detik berikutnya Arshlan telah melepas sekaligus pisau dan garpu yang berada masing-masing ditangan kanan dan kirinya keatas piring yang berisikan roti tawar dengan olesan selai.
Menggantinya dengan menarik tengkuk Lana dengan rasa tidak sabar yang luar biasa, dimana Arshlan melabuhkan sebuah ciu man hangat yang penuh kerinduan yang menggelora.. dibibir Lana yang seolah tidak pernah bisa membuatnya puas saat mengecap manisnya..
.
.
.
Bersambung..
Follow my IG. @khalidiakayum
Follow my FB. Lidia Rahmat
__ADS_1
Like, comment, Favoritekan, & Vote yah guys.. Thx and Lophyuu all.. 😘