
Double up.
...
"Ada apa, Vic? Apakah uang bulanan yang aku berikan masih kurang ...?"
Victoria menggeleng lemah. "Bukan. Bukan begitu. Uang yang kau berikan untukku bahkan lebih dari cukup ..."
"Lalu ...?" alis Leo terangkat.
"Aku ... aku hanya ..."
"Kau mulai kesepian?"
"Aku ..."
"Sudah rindu dengan gemerlapnya dunia luar. Hhmm ...?" berucap sambil menyeringai.
"Leo, aku ..."
"Kenapa baru sekarang? Vic, kalau pada akhirnya kau hanya ingin menyerah, seharusnya kau melakukannya sejak awal."
Lidah Victoria terasa sangat pahit dan kelu. Kali ini ia memilih diam, karena mencoba menjelaskan sepertinya percuma.
"Apa sekarang kau tidak pernah merasa bahwa semuanya sudah sangat terlambat? Kau benar-benar wanita yang keras kepala, Vic. Kau sadar tidak bahwa kau telah menghabiskan waktumu juga waktuku selama lima tahun? Lalu, berapa usiamu sekarang? Dua puluh sembilan tahun ...? Tiga puluh tahun ...? Apakah sekarang masih ada perusahaan bonafide yang mau menerima karyawan wanita yang sudah berumur seperti dirimu ...?"
Sebuah bulir bening mengalir jatuh begitu saja, dari sudut mata Victoria. Wanita itu bahkan kaget sendiri saat menyadari ada yang basah disebelah pipinya.
Leo terdiam. Sedikit terhenyak dengan pemandangan yang dilihatnya.
Selama ini Leo selalu bersikap buruk. Baik lewat ucapannya yang sinis, maupun sikapnya yang dingin. Tapi tidak sekalipun Leo melihat air mata Victoria selama lima tahun terakhir ini.
Wanita itu benar-benar keras kepala. Sedikit pun Victoria tidak pernah memperlihatkan tanda-tanda bahwa dirinya akan berhenti dan mengalah. Malah yang ada semakin hari, wanita itu seolah berusaha memperlihatkan seberapa keras hatinya, sehingga tidak mudah disakiti.
'Sepertinya kali ini ... aku sudah sedikit keterlaluan ...'
Leo membathin.
Setitik penyesalan terasa mengendap direlung hati Leo yang terdalam, namun apa mau dikata, ia sudah telanjur mengucapkan kalimat yang pastinya telah melukai hati Victoria yang paling dalam.
"Leo, kau benar. Hari ini, mana ada perusahaan bonafide, yang mau menerima karyawan baru, dengan usia yang nyaris kepala tiga seperti diriku ..."
Victoria menggigit bibirnya yang bergetar lirih. Masih tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin Leo begitu tega menyudutkan dirinya seperti yang barusan pria itu lakukan.
Leo membuang pandangannya kearah lain, berusaha tidak menggubris.
"Seorang sahabat lamaku memiliki sebuah usaha sambilan dibidang florist. Memang bukan sebuah usaha yang besar. Hanya sebuah toko bunga kecil di sudut kota, dan saat ini dia sedang membutuhkan orang yang bersedia menjadi dekorator bunga."
Victoria terlihat menarik nafasnya sejenak, sebelum kembali melanjutkan kalimatnya dengan nada yang lebih rendah.
"Tapi jika kau tidak menginginkannya, maka aku pun tidak akan memaksa ..."
__ADS_1
Leo melengos pelan mendapati sambungan kalimat tersebut. "Memangnya sangat penting untukmu aku menginginkannya atau tidak?" ujarnya terlihat kembali kesal.
"Leo, apa maksudmu ...?"
"Kau tau persis apa maksudku. Lalu untuk apa bertanya lagi?"
Tatapan Victoria mengawasi Leo lekat-lekat, seolah wanita itu sedang membutuhkan penjelasan.
"Kalau memang keinginanku sebegitu penting buatmu, maka jalan hidupku tidak akan serumit ini ...!" cecar Leo.
Usai berucap demikian Leo telah menarik resleting tasnya keatas, kemudian menyampirkan tasnya keatas bahu.
Leo berniat berlalu dari hadapan Victoria, namun begitu tubuhnya melewati tubuh Victoria, suara lirih wanita itu kembali menghentikan langkahnya yang terayun.
"Leo, kau mau kemana dengan membawa passport?"
Leo menoleh, kearah Victoria yang kini telah berdiri dengan seulas senyum.
Ia tidak langsung menjawabnya, melainkan terpaku saat menyadari, jika sepasang mata Victoria tengah menatapnya dengan tatapan yang lembut, seolah Leo tidak pernah menyakiti hati wanita itu sebelumnya, dan sepasang bening itu tidak pernah bertelaga.
Leo menghembuskan nafasnya yang terasa berat, memenuhi seluruh rongga dadanya yang tiba-tiba saja terasa sesak, saat sepasang matanya harus bertaut lama dengan sepasang mata milik Victoria yang berwarna coklat muda.
"Aku akan pergi ke xx selama tiga hari." ucap Leo, kali ini dengan intonasi rendah, sambil menyebut salah satu negara mediterania, yang terkenal dengan pemandangan lautnya yang menawan, tempat berliburnya para artis dunia dan orang-orang kaya di seantero jagat.
"Itu adalah tempat yang sangat indah ..." imbuh Victoria, lagi-lagi dengan nada lirih.
Leo membisu.
"Besok adalah hari ulang tahun agensi tempat aku bernaung. Seluruh crew management beserta para artis yang dibawahi telah mendapatkan tawaran liburan gratis selama tiga hari." pungkas Leo seala kadarnya.
"Selamat bersenang-senang, semoga liburanmu menyenangkan ..."
Kali ini, Leo tidak mengindahkan ucapan Victoria lagi. Ia memilih kembali membenarkan tali tasnya yang sedikit melorot kembali keatas bahunya, sebelum benar-benar berlalu dari kamar tersebut, tanpa menoleh.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Dasha ...!"
Mona yang berteriak tertahan telah membuat Dasha yang sedang berdiskusi tentang materi pekerjaan kelompok bersama Devon sontak mengangkat wajahnya.
Alis Dasha mengerinyit heran saat menyadari bahwa nafas Mona terdengar sangat ngos-ngosan, saat berada tepat dihadapan dirinya dan Devon.
"Mona, kau ini kenapa? Kau seperti sedang dikejar hantu saja." ucap Devon yang tak kalah terkejut dari Dasha, melihat kondisi Mona yang masih saja bernafas naik-turun tak beraturan.
"Dasha, kau ... kau ... karena kau ..."
Sepasang mata Dasha melotot sempurna mendengar kalimat Mona yang belepotan.
"Mona, bicaralah yang benar. Sebenarnya kau ini mau mengatakan apa ...? Lalu ada hubungan apa dengan diriku ...?"
Mona menghempaskan tubuhnya diantara Dasha dan Devon.
__ADS_1
Melihat Mona yang belingsatan seperti itu, Devon telah mengulurkan air mineral kemasan yang belum sempat ia minum kearah gadis itu.
"Ini, minumlah dulu." pungkas Devon yang disambut oleh Mona dengan secepat kilat.
Dalam sekejap Mona yang telah meneguk minuman yang diberikan Devon dengan sedikit rakus, hanya menyisakan separuh dari isi botol air mineral tersebut.
"Huhhf ... leganya ... terimakasih, Dev ..." ujarnya sambil melap sudut mulutnya begitu saja dengan punggung tangan.
"Cepat katakan padaku, apa yang membuatmu seperti ini." ucap Dasha tak sabar, sambil menatap Mona lekat.
"Iya Mona, cepat katakan. Kau sengaja ingin membuatku dan Dasha mati penasaran yah?"
"Tidak ... tidak seperti itu. Justru aku kesini dengan membawa sebuah kabar spektakuler yang telah mengguncang seisi asrama dalam sekejap."
"Ck ... ck ... ck ... kau ini bicara apa sih? Katakan dengan jelas apa maksudmu? Memangnya ada berita apa yang begitu spektakuler sehingga bisa mengguncang seantero isi asrama, lalu apa hubungannya semua itu denganku ...?"
"Pria tampan." pungkas Mona cepat.
"Pria tampan?"
"Pria tampan?"
Dasha dan Devon telah mengulang kalimat singkat itu nyaris bersamaan.
Mona mengangguk mengiyakan. "Hhmm ... seorang pria tampan telah datang ke asrama ini, dan membuat geger seisi asrama."
Mendengar berita tersebut, Dasha berbalik menatap Devon, namun pria itu justru terlihat mengangkat kedua bahunya, menandakan bahwa dirinya pun masih tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Mona.
"Mona, katakan dengan jelas, sebenarnya apa hubungan semua ceritamu itu dengan diriku?"
"Tentu saja ada hubungannya." imbuh Mona secepat peluru. "Karena pria tampan itu datang ke asrama ini, untuk mencarimu."
"Hah ...?! Mencariku ...?!"
"Yang aku dengar, dia bermaksud menjemputmu karena tidak mengijinkanmu tinggal di asrama ini lagi."
Lana terhenyak. "Apa kau bilang ...?!"
"Dasha, kalau kau tidak percaya kepadaku, kau boleh memastikannya sendiri. Saat ini, pria tampan itu sedang menemui Nyonya Rosana ..."
"Tuan Luiz!"
Mulut mungil Dasha telah memekik perlahan.
Tidak salah lagi. Karena hanya Tuan Luiz satu-satunya orang yang bisa melakukan semua yang telah diuraikan Mona barusan.
'Pria tampan ...'
Tentu saja, dan Dasha sangat meyakininya.
Pria tampan itu ... pastilah Tuan Luiz ...!
__ADS_1
... NEXT