
"Her..!" panggil Arshlan serentak kepada asistennya yang duduk dibangku depan.
"Iya Tuan?"
"Siapkan heli. Aku mau ke pulau malam ini..!"
"Baik Tuan." Her menjawab singkat titah Tuan Arshlan.
Asisten Tuan Arshlan yang sangat tanggap itu seperti biasa langsung bergerak dengan cekatan, mengeluarkan ponselnya guna berkoordinasi dengan pihak-pihak yang akan terlibat dalam rencana dadakan sang bos besar.
Mendapati semua itu kini gantian Lana yang terpana, ia menatap Arshlan tanpa berkedip. "T-Tuan..?"
"Kita akan ke pulau malam ini, Sayang.." bisik Arshlan mesra dengan perasaan yang menggebu-gebu.
"K-kita..?"
"Iya Kita. Hanya kau dan aku."
"T-tapi.."
"Her akan mengurus semuanya. Apa yang kau dan aku perlukan selama kita disana.."
Lana menatap Arshlan tanpa berkedip, dengan perasaan yang bercampur aduk tak menentu.
Malu, bahagia, takut, berdebar..
"Itu adalah pulau pribadiku yang dulunya merupakan tujuan perjalanan yacht mewahku tempo hari. Apa kau ingat..?" tanya Arshlan, berucap demikian sembari mencoba mengingatkan Lana akan perjalanan mereka tempo hari yang pada kenyataannya telah dikacaukan oleh Lana.
"Tuan.. kau sedang tidak berniat membalas dendam padaku karena party-mu yang gagal tempo hari, kan..?" Lana balik bertanya dengan mimik curiga.
Arshlan pun tertawa mendengarnya. "Menurutmu bagaimana..?" godanya kemudian, yang terang saja membuat Lana merengek manja.
"Aaaaaa.. Tuaaann.. kau jangan menakutiku.."
Arshlan tertawa kecil sebelum akhirnya meraih tengkuk Lana tanpa ragu. "Aku tidak berniat menakutimu, aku hanya berniat memakanmu..!"
Usai berucap demikian pria itu telah melu mat bibir Lana seolah haus.
Tangannya pun tak mau kalah berpetualang, menjamah kesana-kemari dengan rakus..!
XXXXX
"Akh Tuann.. Tuaan.. mmhh.."
Her menggaruk telinganya, disebelahnya sang sopir terlihat melakukan hal yang sama, meskipun tetap fokus pada jalan yang ada dihadapannya.
Tuan Arshlan memang keterlaluan, selalu saja tidak sabar sampai tujuan sehingga begitu sering bermesraan didalam mobil.
Jeritan wanita dibalik tirai pembatas yang sudah pasti sedang menggelin jang nikmat itu sudah begitu sering didengar oleh Her dan sopir pribadi Tuan Arshlan, dan sejauh ini mereka berdua hanya sanggup menggaruk telinga.
__ADS_1
Benar saja, dibalik tirai pembatas, sebenarnya Lana sudah berusaha sekuat tenaga membekap mulutnya kuat-kuat, agar tidak terdengar oleh Her dan sopir pribadi, namun tetap saja desa han dan era ngannya lolos begitu saja tak tertahan.
Lana merasa nyaris gila, dengan sensasi yang diberikan Tuan Arshlan untuknya, dimana pucuk dari kedua gu nung kembar miliknya terus dihisap bergantian oleh mulut pria itu, serta diji lat dan dipermainkan oleh sebuah lidah yang bergerak lincah.
Sementara dibawah sana, secara bersamaan titik kecil miliknya juga sedang digosok keras dengan irama yang cepat oleh tangan besar milik Tuan Arshlan.
"Tuann.. akh.. akh.. terus.."
Lana berbisik gelisah begitu merasakan perutnya seperti sedang diserbu oleh ribuan kupu-kupu, sebelum akhirnya ia lemas tak bertenaga, dalam kurun waktu yang cukup singkat.
Arshlan menyeringai penuh kepuasan, menyadari tanpa hambatan berarti, ia telah berhasil melemparkan Lana kepuncak kenikmatan untuk yang pertama kalinya.
Arshlan menarik tangannya yang baru saja bekerja dengan prima dari bawah sana, kemudian mengu lum sejenak jemarinya yang berlumuran cai ran cinta milik Lana.
Detik berikutnya Arshlan telah menunduk guna mengu lum bibir tipis Lana dengan begitu dalam.
Lana tidak menolak saat pria itu semakin memperdalam jajahannya, hingga menekan kuat tengkuk Lana semakin dalam.
Lama mereka berpagut mesra dan Arshlan belum juga ingin berhenti menyenangkan Lana.
Jemarinya kembali memilin dua buah puncak berwarna koral muda, dan dengan bibir dan lidahnya ia telah menyusuri setiap inchi wajah Lana.
Baru saja Arshlan berencana menggigit kecil cuping telinga Lana dengan gemas manakala alisnya bertaut saat mendapati sebuah benda aneh, berukuran kecil, dan berwarna hitam, terlihat menempel ditelinga Lana.
Dahi Arshlan telah mengerinyit. "Lana, apa ini?" ujarnya seraya menarik benda itu dari dalam cuping telinga Lana dan memperhatikannya sejenak.
"Oh.. itu.. itu earphone.."
Lana mengangguk polos.
"Tapi untuk apa kau menggunakan earphone..?"
"Maaf Tuan, itu.. itu adalah ideku. Sebenarnya aku telah begitu kesulitan untuk mencerna semua pelajaran etika yang diberikan Asisten Jo, sehingga terpikir cara untuk membuatku selalu terhubung dengan Asisten Jo dan beberapa anak buah Tuan, agar mereka semua bisa terus mengontrol pergerakanku di pesta itu.."
Penjelasan Lana yang panjang lebar telah membuat wajah Arshlan yang tadinya bingung sontak bersemu. Lana bahkan tidak bisa memastikan apakah pria itu kini sedang malu.. atau bahkan kembali marah..?
Arshlan mendekatkan benda kecil itu ketelinganya sambil berucap kesal. "Asisten Jo..? kau kah ini..?!"
Hening.
"Asisten Jo..!!"
"M-maaf Tuan.." nada suara yang lunglai akhirnya terdengar dari seberang sana, membuat wajah Arshlan semakin bersemu.
"Jadi kau telah memasang earphone ditubuh Lana..?!" usutnya memastikan.
Asisten Jo terdengar sedang menelan ludahnya dengan susah payah. "M-maaf Tuan s-sebenarnya bukan hanya sebuah earphone melainkan beberapa kamera, yang salah satunya ada di bros yang dipakai Nyonya.."
"Ap-pa..?! a-apa maksudmu..?!" Arshlan tergeragap mendengar penjelasan itu.
__ADS_1
Dengan cekatan Arshlan pun memeriksa bros yang dimaksud Asisten Jo yang ternyata berada didada kiri gaun Lana yang kini terlihat kusut masai akibat ulahnya barusan.
Benar saja, sebuah kamera pengintai kecil masih berada disana, sebelum Arshlan nekad mencabut paksa kamera tersebut, memisahkannya dari bros indah milik Lana.
Kalau apa yang ditakutkan Arshlan benar, maka sudah pasti dirinya akan merasa sangat malu. Karena itu berarti semua tindakan mesum dan rintihan Lana telah didengar bahkan dilihat oleh si tua Asisten Jo dan beberapa orang anak buahnya yang terlibat didalamnya.
Arshlan memijat kedua alisnya. "Asisten Jo.."
"I-iya Tuan.."
"Katakan. Katakan apa maksud semua ini.." Arshlan bersusah payah menekan emosinya terlebih dahulu meskipun ia bahkan tidak yakin bisa terus bertahan sampai akhir.
"T-Tuan.. maaf, maafkan aku. Aku melakukan semua ini demi bisa mengarahkan Nyonya Lana secara langsung.."
"Teruskan."
"Karena itulah aku telah memasang earphone dan kamera untuk Nyonya Lana.."
"Teruskan."
"Aku.. aku telah membuat jaringannya paralel untuk beberapa unit agar memudahkan kami memantau keberadaan gerak-gerik Nyonya Lana.."
'Baiklah.. ternyata bukan hanya Asisten Jo yang telah menjadi saksi bisu adegan liar barusan, melainkan beberapa anak buahnya juga..!'
Kali ini Arshlan tidak bisa lagi menahan kekesalannya yang telah sampai diubun-ubun hingga tak sadar ia telah mengumpat.
"Kurang ajar.. jadi sejak tadi kalian semua mendengar semuanya dan bahkan mengawasinya..?!"
Pungkas Arshlan geram sambil tak lupa melotot kearah Lana yang terlihat mengkerut ketakutan, sambil menyesali kebodohannya yang bisa-bisanya lupa menanggalkan seluruh peralatan spy yang melekat ditubuhnya.
Otomatis semua peralatan tersebut masih dalam keadaan on disaat mereka baru saja bercumbu dengan liar, didalam mobil yang sedang melaju kearah landasan heli yang menjadi tempat tujuan mereka.
"M-maaf Tuan.."
'Si al..!!'
Detik berikutnya, dengan secepat kilat Arshlan telah menurunkan kaca mobil yang ada disampingnya.
Lewat celah tersebut Arshlan telah melempar keluar seperangkat alat yang melingkar ditubuh Lana sejak tadi..
Membuangnya tanpa ampun..!
...
Bersambung..
Yang ikhlas.. mana yang ikhlas..?
Mau dong poin dan koinnya.. 😀 Jangan ragu-ragu yah.. 🥰
__ADS_1
(Numpang iklan..😅 Terima kasih untuk apresiasinya 🤗)