
Double up..!
...
"Hey kau! apa mulutmu tidak sakit? daritadi kau bersiul terus seperti burung kenari..!"
Suara Madam Lori yang keras membuyarkan konsentrasi Lana dan Lin yang sedang menyiram bunga yang berjejer rapi.
"Hehe.. maaf Madam.." Lana cengengesan kearah Madam Lori yang sedang berkacak pinggang dibingkai pintu.
"Kalau aku mendengarmu bersiul lagi, akan aku plester mulutmu!" usai mengancam Lana yang sontak merapatkan bibirnya, Madam Lori pun menghilang dari balik pintu.
"Huh, dasar pemarah, masa bersiul saja tidak boleh.." gumam Lana sambil mencebik.
Lin yang ada disamping Lana meliriknya sekilas.
"Lana, sepertinya wajar saja jika Madam Lori kesal. Lagian kenapa seharian ini kau bersiul terus sih..? apa mulutmu memang tidak sakit melakukannya sejak tadi pagi..?" tanya Lin yang sebenarnya juga sedang merasa terganggu dengan keceriaan Lana yang berlebihan yang membuat Lana bersiul sepanjang hari.
Bukan hanya bersiul, wajah Lana bahkan terus menyuguhkan senyum meskipun sejak pagi gadis itu tak berhenti mendengar perintah dari tiga orang penyihir, seperti istilah Lana saat menyebut Nyonya Alexandra, Madam Lori, dan Lucy yang tentu saja merupakan refleksi dari titah Nona Maura.
"Lin, aku sedang bahagia." bisik Lana dengan senyumnya yang secerah mentari.
"Apa hari ini kau ulang tahun..?" tebak Lin penasaran.
Lana sontak menggeleng. "Tidak.."
"Lalu..?"
"Tuan Arshlan akan datang." bisik Lana tanpa merasa perlu merahasiakan apapun kepada Lin yang sedikit terhenyak mendapati kalimat Lana yang meluncur lancar meskipun kedua pipinya merona, menandakan bahwa dirinya sedang tersipu.
"Apakah itu juga penyebab sehingga Nona Maura berdandan sangat cantik, dan.."
"Mengenakan gaun merah menyala.." pungkas Lana dengan senyum getir.
Lin terkesiap, ia merasa telah kelepasan bicara, takut menyinggung Lana.
__ADS_1
"Lana, maaf, bukan maksudku untuk.."
"Sstt.. tidak apa-apa," imbuh Lana lagi, mencoba tersenyum meski terasa hambar.
Lana bukannya tidak tau, bahwa sebelum mereka berdua ditugaskan oleh Madam Lori menyiram bunga, dirinya dan Lin telah disibukkan terlebih dahulu oleh rutinitas mandi Nona Maura yang kali ini benar-benar extra special daripada hari-hari sebelumnya.
Nona maura meminta untuk bisa berendam di bathtub dengan taburan kelopak bunga mawar, bercampur minyak esensial mawar, seluruh penjuru kamar mandi dipenuhi lilin aromatherapy, kemudian Lucy telah memilihkan sebuah gaun yang sangat menawan.
Gaun itu berwarna merah menyala dengan potongan dada yang sangat rendah, sudah pasti saat Nona Maura memakainya, akan membuat gu nung kem bar milik Nona Maura yang berukuran super itu akan terlihat lebih menantang, karena gumpalan daging kenyalnya yang akan mencuat dari berbagai belahan gaun yang akan ia kenakan.
"Lana.." panggil Maura seraya melirik Lana sedikit ragu, sanggup menerbangkan semua ingatan Lana
"Hhhmm.."
"Sebenarnya.. ada sesuatu yang sangat ingin aku tanyakan padamu.."
"Oh ya? kenapa tidak kau tanyakan saja, Lin..?"
Lin terdiam sejenak seolah sedang menimbang-nimbang.
Lin terlihat menarik nafasnya sejenak. "Begini Lana, kalau aku boleh tau, sebenarnya kau punya hubungan apa dengan Tuan Arshlan..?"
Mendengar pertanyaan polos itu membuat Lana tersenyum tipis.
"Sebenarnya sejak awal aku sudah ingin bertanya, tapi aq merasa tidak enak.." kilah Lin lagi.
"Tidak apa-apa. Tidak usah sungkan.." pungkas Lana dengan senyum, sambil menaruh kembali watering pot yang ada ditangannya dibawah rak bunga yang baru saja mereka siram.
"Aku merasa kau diperlakukan istimewa karena tidak diperkenankan memakai pakaian khusus pelayan. Kau bahkan menempati kamar yang besar dan indah. Lana.. kau diperlakukan seolah-olah kau adalah kekasih Tuan Arshlan.. tapi kenapa Madam Lori selalu memperlakukan dirimu dengan buruk..?"
Kemudian Lin kembali menambahkan.
"Dan yang lebih anehnya lagi, Nyonya Alexandra, Nona Maura bahkan Lucy, mereka tidak segan-segan memarahi dan memaki dirimu. Mereka sangat bar-bar dan semena-mena.." kilah Lin sambil bergidik. "Lana, kau sadar tidak, kalau saat ini, kau sedang diperlakukan tidak manusiawi oleh mereka. Sangat buruk. Bahkan jauh lebih buruk, melebihi perlakuan mereka kepada pelayan biasa seperti kami.."
Beberapa saat hanya keheningan yang ada, karena Lana pun belum membuka suara.
__ADS_1
"Aku memang menandatangani perjanjian khusus dengan Tuan Arshlan.." desis lirih Lana pada akhirnya.
"'Jadi.. kau benar-benar bukan kekasih Tuan Arshlan yang sesungguhnya..?"
Lana telah menatap Lin dengan senyum yang khas. Seolah keceriaannya yang sempat hilang beberapa saat telah kembali dengan mudahnya.
"Untuk saat ini belum. Tapi kau tenang saja, aku sangat berharap bisa menjadi kekasihnya.."
Lin terbelalak mendengar keyakinan bodoh itu. "Tapi Lana.."
"Tolong Lin, jangan menasehatiku dulu. Aku tau maksudmu baik, tapi tolong.. untuk saat ini.. aku sedang mengumpulkan serpihan dari semua keyakinan dan keberanianku satu persatu.."
Lin menatap sepasang mata Lana yang bersinar, sedangkan dibibirnya, senyumnya pun tak pernah surut, membuat Lin akhirnya menyerah.
"Baiklah, apapun yang akan menjadi keputusanmu aku akan tetap mendukungmu sebagai seorang teman.." ucapan Lin yang bersungguh-sungguh begitu menyentuh sisi hati Lana, membuat Lana mendekat dan langsung memeluk Lin dengan sukacita.
"Terimakasih, Lin. Apakah kau tau..? kau benar-benar temanku yang hebat.." ujar Lana bersukacita, namun tidak berlangsung lama, karena sebuah suara telah menyela seperti petir.
"Apa-apaan kalian ini?! pekerjaan begitu banyak malah berpelukan..!!" suara melengking yang khas milik Madam Lori membuat pelukan mereka terurai dalam sekejap.
Disana, tepat dibingkai pintu samping, Madam Lori tengah berdiri pongah sambil berkacak pinggang. Perut besarnya terlihat membusung angkuh saat menatap jengkel kearah Lin dan Lana.
"Lin, cepat masuk! bantu aku menyiapkan hidangan makan malam, dan kau.." telunjuk gemuknya menunjuk Lana dengan raut wajah yang dua kali lipat lebih kesal daripada saat berbicara dengan Lin. "Cabut semua rumput liar yang tumbuh disemua pot bunga itu. Jangan ada yang tersisa!"
"Baik, Madam." jawab Lin dan Lana nyaris bersamaan.
Tanpa membuang waktu lebih lama, Lin bergegas masuk kedalam villa mengikuti Madam Lori, sementara Lana menghembuskan nafasnya berat sebelum akhirnya kembali berbalik menghadap rak besar yang dipenuhi aneka bunga didalam pot.
Tangan Lana mulai bergerak lincah untuk menyingkirkan rumput-rumput liar yang mengganggu keindahan bunga-bunga tersebut, tanpa sadar.. mulut mungilnya kembali bersiul riang..
.
.
.
__ADS_1
Next.. cekidoot.. 😀