TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
RAHASIA LUCY


__ADS_3

Tok.. tok.. tok..


Kepala Lin dan Lana sama-sama menoleh kearah pintu.


"Siapa itu..?" tanya Lin kearah Lana yang serentak mengangkat bahunya.


Tok..! tok..! tok..!


Suara pintu yang diketuk dari luar kembali terdengar kali ini lebih keras dari yang pertama.


"Biar aku yang buka." ujar Lana sambil beranjak turun dari atas ranjangnya, guna mendekati pintu kamarnya yang kembali diketuk lebih keras lagi.


Tokk..!! tokk..!! tokk..!!


"Iya.. iya.." ujar Lana seolah ingin menjawab ketidaksabaran seseorang diluar sana. Lana bergerak cepat memutar gagang pintu.


Pintu terbentang.


Seraut wajah judes milik Lucy telah berdiri pongah disana, sambil memeluk dada.


"Lucy? ada apa mencariku..?" tanya Lana kearah wanita yang tidak pernah tersenyum itu.


"Nona Maura memanggilmu!" ucap Lucy sinis.


"Aku..?"


"Iya kau. Aku kan sudah mengatakannya. Apa kau tuli..?!" pungkas Lucy dengan nada kesal, terlebih saat melihat wajah blo'on khas milik Lana yang ada dihadapannya.


"Kira-kira ada apa yah?" ekspresi wajah Lana terlihat mengira-ngira.


'Cihh.. entah apa yang dilihat Tuan Arshlan yang kaya nan tampan itu dari gadis kampungan ini..!'


Rutuk Lucy dalam hati yang membuatnya semakin kesal saja dan terlihat melengos. "Mana aku tau? daripada kau terus berdiri dengan tampang bodohmu itu, masih mending kau segera keatas menemui Nona Maura."


Lana terlihat mengangguk kecil. "Baiklah, tapi aku akan mengganti bajuku terlebih dahulu.."


"Tidak perlu!"


Lana urung berbalik dan kembali menatap Lucy yang terlihat semakin tidak sabar.


"Malah bengong, ayo cepat..!!" hardik Lucy kesal, sambil membalikkan tubuhnya dan berlalu dari depan pintu kamar Lana.


Menerima tingkah semena-mena Lucy membuat Lana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iya, baiklah.." ujarnya kearah Lucy yang telah melangkah menjauh.


Lana menatap Lin yang terlihat mendekat. "Ada apa Nona Maura memanggilmu malam-malam begini?"


"Entahlah Lin," Lana mengedikkan bahunya. "Tidak pelayannya.. tidak majikannya.. semuanya sama ketusnya.." dumelnya dengan suara perlahan, takut didengar Lucy yang terlihat sedang menaiki tangga satu persatu.


"Jangan-jangan ini ada kaitannya dengan hubunganmu dan Tuan Arshlan.." bisik Lin, wajahnya terlihat cemas saat menatap Lana.


"Sebenarnya aku juga berpikir seperti itu, Lin.. tapi.. akh sudahlah. Sebaiknya aku pergi menemui Nona Maura sekarang juga."

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu pergi saja, biar aku kembali ke kamarku." ucap Lin yang disambut anggukan kecil Lana.


XXXXX


'Prangg..!!'


Lana tertunduk dalam diam begitu menyadari tatapan Nona Maura yang lekat padanya.


Sementara dilantai, serpihan kaca dari pecahan vas bunga akibat lemparan Nona Maura nampak berserakan disana, diantara kedua kakinya yang beralaskan sandal rumahan.


Wajah Nona Maura yang senantiasa terlihat cantik itu kini nampak memerah, menandakan dirinya yang sedang memendam amarah yang sangat besar.


"Seumur hidupku, baru kali ini aku menemukan pelayan rendahan yang begitu tidak tau diri seperti dirimu!"


Tatapan Nona Maura terhunus lurus setajam belati.


"Kau masih muda.. tapi rela menjual diri pada pria dewasa seperti Arshlan..!"


"Aku tidak menjual diri, Nona.. tapi aku mencintai Tuan.."


"Cuihh..!"


Lana terhenyak, melihat Nona Maura benar-benar meludah dihadapannya.


"Dasar pelayan tidak tau diuntung..!"


Nona Maura terlihat semakin dikuasai emosi hingga keubun-ubun, apalagi begitu menyadari tindak-tanduk Lana yang terlihat menunduk, tapi dari sikapnya bahkan terlihat tidak gentar sedikitpun.


"Nona, aku juga tidak mau tinggal seatap dengan wanita kasar seperti dirimu.."


"Apa kau bilang..?!"


"Kau bahkan mengatakan tidak sudi tinggal seatap dengan wanita yang menggoda kekasihmu..? wah.. sebaiknya kau harus lebih jeli lagi..''


"Apa maksudmu..?"


"Maksudku..?" Lana tertawa kecil. "Tidak ada.. aku hanya memperingatkan Nona agar lebih berhati-hati.."


Diam-diam Lana melirik Lucy yang untuk pertama kalinya kehilangan taji dihadapan Lana, begitu menyadari apa maksud yang terkandung dalam ucapan wanita mungil itu.


"Dasar pelayan gila..!! urus saja urusanmu sendiri, dan jangan dekati Arshlan lagi..!!"


"Nona, sekalipun aku tidak mendekati Tuan, tapi diluar sana Tuan selalu didekati wanita berganti-ganti.."


"Kau.." wajah Maura memerah. "Pelayan si a lan..!! dasar mura han..! pela cur kecil..!!"


Menerima seluruh makian Nona Maura untuk pelayan rendahan seperti dirinya, tidak membuat Lana terusik sedikit pun.


"Aku tidak mau lagi membersihkan semua kekacauan ini, Nona Maura. Aku tidak mau. Setiap kali kau kesal, kau selalu memecahkan benda.. dan aku yang selalu membereskannya.."


"Kau.."


"Suruh saja pelayan setiamu untuk membersihkannya. Malam ini aku ingin tidur cepat untuk mengistirahatkan tubuhku yang lelah karena permainan Tuan Arshlan.."

__ADS_1


Sepasang mata Nona Maura nampak melotot kedua-duanya mendengar kalimat nakal yang sudah pasti sengaja diucapkan Lana untuk mengejek dirinya.


Dengan melenggang santai Lana bahkan telah bergerak keluar dari kamar itu tanpa disuruh.


"Jangan lupa bereskan semuanya, kalau kau mau rahasiamu aman bersamaku.." bisik Lana kearah Lucy yang kali ini hanya bisa mematung ditempatnya, tanpa bisa membalas seperti biasa.


Sementara dibelakang tubuh Lana sebuah gelas kaca kembali menjadi serpihan halus diatas lantai, diiringi begitu banyak umpatan yang terucap dengan penuh kemarahan, namun langkah Lana tetap melenggang acuh keluar dari kamar yang ibarat neraka itu, meninggalkan Lucy yang masih terpaku ditempatnya dengan wajah yang memucat.


'Si al.. jangan-jangan Lana mengetahui apa yang aku lakukan tadi pagi kepada Tuan Arshlan..?'


Dalam hati Lucy menggumam kalut.


Yah.. Lucy memang tidak tau, bahwa sesaat sebelum berangkat ke peternakan, Lana yang baru selesai berganti baju telah memergoki sesuatu yang mencengengkan.


Begitu Lana kembali, Tuan Arshlan yang memilih menunggunya dengan duduk bersandar disofa dengan mata terpejam tiba-tiba dikagetkan dengan sapuan menggoda dua buah jemari yang merayap didadanya.


Tuan Arshlan tersenyum dan menyeringai, saat mendapati kenakalan jemari yang awalnya ia kira adalah jemari Lana.


Masih dengan mata terpejam tangan kekar Tuan Arshlan sontak menangkap jemari nakal itu, bermaksud ingin membawanya bermain dibawah tubuhnya, yang merupakan titik inti dari semua kenikmatan.. namun gerakannya sontak terhenti diudara, begitu ia merasakan bahwa jemari itu bukanlah milik Lana.


Saat membuka matanya Tuan Arshlan terkejut setengah mati saat menyadari itu adalah perbuatan Lucy, yang tak lain pelayan yang ia tugaskan khusus untuk melayani semua kebutuhan Maura selama ini.


"Apa yang kau lakukan?"


"T-Tuan.."


"Berani sekali kau menyentuh tubuhku..! apa kau ingin aku memotong tanganmu?! ha-ah..?!"


Arshlan meradang. Menyadari keberanian Lucy yang menyentuhnya.


Melihat ketegangan itu Lana pun menyembunyikan tubuhnya dibalik dinding.


"Maafkan aku Tuan.. maaf.." suara Lucy terdengar bergetar ketakutan. Ia tak menyangka sama sekali, Tuan Arshlan akan menolaknya, selagi pria itu menerima Lana, yang juga pelayan seperti dirinya.


"Si al! kalau bukan karena Maura, tubuhmu akan aku lempar ke kandang harimau peliharaanku..!"


"Maaf Tuan, sebenarnya aku hanya ingin menyampaikan keinginan Nona Maura untuk bisa bertemu Tuan. Sekali lagi aku mohon maaf atas kelancangan kedua tanganku ini, Tuan.."


"Sudah. Jangan bicara lagi..! cepat pergi dari hadapanku dan katakan pada nonamu bahwa aku tidak punya waktu!"


"B-baik Tuan.. sekali lagi aku minta maaf.."


"Pergi sana..!" hardikan Tuan Arshan terdengar semakin geram, membuat Lucy berlalu dari hadapan pria itu secepat kilat.. nyaris berlari..!


.


.


.


*Next..


Support**nya untuk bab ini jangan lupa ya.. 🙏🙏🙏*

__ADS_1


__ADS_2