
Kamar yang sangat bagus. Besarnya bahkan dua kali lipat dari kamar yang ditempati Lana di villa Black Swan.
Saing senangnya, tanpa sadar dalam sekejap Lana telah melakukan tour mini.
Memeriksa seluruh isi kamar tersebut hingga kesudut-sudutnya, bahkan mengubek keseluruhan sudut kamar mandi.
Terakhir Lana beranjak kearah balkon yang terbuka, dimana semilir angin yang melewati jendela besarnya yang terbuka membuat tirainya bergerak-gerak akibat hembusan angin.
Saat Lana sampai diujung balkon, Lana langsung terkesiap.
Ia baru menyadari bahwa saat ini dirinya berada begitu tinggi, sehingga rumput dibawah sana terlihat begitu jauh. Dan ketika dua orang pengawal dengan jas necisnya melintas, kedua tubuh pria itu pun terlihat lumayan kecil.
"Astaga.."
Lagi-lagi Lana terhenyak, sambil mundur dari tepian besi pembatas. Mendadak ia merasa ngeri dan pening saat melihat kebawah.
Sepertinya saat ini dirinya sedang berada minimal dilantai empat. Lana mengira-ngira karena tadi ia begitu sibuk mengagumi semua yang ada di rumah mewah milik Tuan Arshlan, sehingga ia tidak terlalu memperhatikan saat pengawal yang mengantarnya menekan angka dipanel lift.
Lana masuk kedalam kamar lagi, tidak kuat rasanya berdiri berlama-lama di balkon karena sejak dulu dirinya memang sedikit phobia dengan ketinggian.
Lana duduk ditepian ranjang besarnya dan mulai mengedarkan pandangannya lagi, sebelum kemudian Lana telah menyadari sesuatu yang penting, yang bahkan telah luput dari perhatiannya untuk beberapa saat yang lalu.
"Tidak.. ini tidak mungkin.." desis Lana sambil bangkit, dan dengan tergesa menuju lemari pakaian yang menempel didinding, membentangkan semua pintunya.
"Kosong..?"
Lana kembali bergumam, namun menolak firasat buruk yang telah menginvasi setiap inchi otaknya.
Dengan penuh harap disertai langkah yang tergesa Lana kembali menuju kekamar mandi. Meneliti lagi semua yang berada disana namun lagi-lagi nihil.
Selain peralatan mandi seadanya berupa sabun, shampoo, sikat gigi dan pasta gigi yang semuanya masih dalam keadaan baru dan terkemas rapi, Lana tidak menemukan jejak apapun lagi disana.
"Ini tidak mungkin.."
Bibir Lana bergetar lirih, langkahnya terayun ragu keluar dari kamar mandi tersebut, dan menguatkan hatinya menuju pintu kamar.. tempat dimana satu-satunya harapan terakhirnya bergantung disana.
Lana meraih gagang pintu yang dingin, dan memutarnya dengan dada yang berdebar.
Wajah Lana memucat.
Ia melakukannya sekali lagi untuk lebih meyakinkan dirinya, berharap bisa melakukannya dengan baik.. dan.. hasilnya tetap sama.
Pintu itu tetap mengatup rapat, pertanda seseorang telah menguncinya dari luar sana. Mungkin pengawal yang tadi.
Lana termanggu ditengah kesunyian, hanya hembusan angin yang terdengar, yang membuat tirai kamarnya melambai.
Dikamar ini, tidak ada satupun jejak Tuan Arshlan yang tertinggal, yang bisa membuat Lana mendapatkan clue bahwa kamar yang ia tempati ini adalah kamar Tuan Arshlan.
__ADS_1
Tidak.. ini bukan kamar suaminya,
Melainkan sebuah penjara..!
Tanpa sadar tubuh Lana telah merosot begitu saja keatas lantai yang dingin..
XXXXX
Arshlan baru saja tiba didalam kamarnya.
Ia telah melempar jas nya begitu saja kelantai dan mengendurkan seluruh kancing kemejanya manakala ketukan dipintu kamarnya yang sengaja tidak ia katupkan saat masuk tadi terdengar.
Her masuk kedalam kamar Arshlan diikuti seorang pria paruh baya.
"Bagaimana asisten Jo? apakah terjadi sesuatu?" tanya Arshlan dengan wajah dingin kearah kepala pelayan yang sehari-harinya sering disapa asisten Jo itu.
"Tidak, Tuan."
"Apa kau yakin?"
Asisten Jo mengangguk lagi. "iya Tuan."
Arshlan terdiam sejenak, sambil melirik asisten Jo. "Apa kau telah memberinya makan seharian ini?"
Lagi-lagi asisten Jo menggeleng. "Tentu saja tidak. Tuan sudah memerintahkan dengan jelas untuk tidak memberikan gadis itu makanan, dan aku benar-benar tidak memberikannya.."
"Baik Tuan.." asisten Jo pun undur diri dari hadapan Arshlan setelah menunduk takjim.
"Dan kau, Her.." tunjuk Arshlan. "Atur lah jadwal seorang wanita cantik setiap malam untuk menemaniku disini."
Mendengar titah yang aneh itu membuat Her termanggu sejenak.
Bagaimana mungkin Tuan Arshlan memberi perintah yang aneh seperti itu? seorang wanita cantik untuk setiap malam? lalu bagaimana dengan Lana? bocah ingusan yang baru saja dinikahi majikannya ini tadi pagi?
"Her.. kenapa kau malah melamun?" sentak Arshlan.
"Ah.. tidak apa-apa Tuan. Baiklah aku mengerti. Satu wanita cantik setiap malam kan, Tuan..?"
Arshlan mengangguk dengan wajah datar.
"Baiklah Tuan, akan aku atur semuanya sesuai dengan yang Tuan inginkan..."
"Kalau begitu kau juga boleh kembali. Hari ini terlalu melelahkan, aku hanya ingin beristirahat dengan tenang."
"Baiklah, Tuan.. aku pergi dulu." pamit Her sambil undur diri.
Her terlihat melangkah keluar, dan sebelum berlalu ia telah menarik pintu kamar Arshlan terlebih dahulu, untuk mengatupkannya.
__ADS_1
XXXXX
Jam yang tergantung disalah satu dinding kamar Arshlan telah menunjukkan pukul dua dini hari.
Arshlan bangkit dari ranjangnya yang berukuran super besar, setelah putus asa karena tak kunjung terlelap.
Keinginannya untuk beristirahat dengan tenang yang ia ungkapkan pada Her beberapa jam yang lalu ternyata tidak semudah dengan apa yang Arshlan ucapkan.
Entahlah..
Seharusnya Arshlan sudah harus terlelap, mengingat betapa tubuhnya begitu lelah, apalagi pikirannya.
Kejadian kebakaran hebat yang melanda salah satu pabriknya hingga menghanguskan satu unit menjadi rata tanah bahkan cukup mengacaukan pikirannya.
Sebenarnya bukan karena besaran jumlah kerugian yang membuat beban pikiran Arshlan bertambah, karena semua asetnya telah ia asuransikan. Melainkan karena krisis stock hasil produksi yang seharusnya sudah siap packing untuk dikirim ke konsumen asing kini menjadi tersendat.
Imbas dari kebakaran tersebut yang mengakibatkan proses produksi di pabrik untuk beberapa hari kedepan pasti akan berjalan pincang, dan akhirnya Arshlan harus memaksakan ketersediaan stock tersebut dipabrik utama yang nyaris proses produksinya sudah bisa dibilang telah overloaded alias kelebihan beban.
Arshlan takut jika dipaksa berproduksi melebihi target, akan berimbas pada pemeliharaan mesin produksi, belum termasuk SDM yang mau tidak mau harus dipaksa lembur untuk beberapa hari kedepan, menunggu proses produksi pada pabrik kedua berjalan dengan normal.
Dan bertepatan dengan semua itu, Arshlan bahkan mendapati betapa disela-sela persoalan peliknya yang membutuhkan perhatian extra dari dirinya, Arshlan malah mendapati otaknya yang terus dipenuhi oleh sosok gadis ingusan bernama Lana.
'Sial.. kalau seperti ini terus, bisa-bisa aku bakal jatuh cinta padanya.'
'Tapi jatuh cinta pada bocah bar-bar yang hanya berniat menjerat dan menipunya demi bisa menumpang hidup enak padanya..? no way..'
Arshlan telah menggelengkan kepalanya berkali-kali, sebelum pada detik kemudian ia telah menyalahkan dirinya sendiri.
'Salahku juga karena terlalu memberi gadis itu begitu banyak kesempatan sejak awal..!'
'Selama ini aku terlalu terbawa perasaan sehingga terlalu lembek dalam menghadapi Lana!'
'Lagipula.. apa sih yang aku inginkan sebenarnya hingga terus terpaut begitu rupa? sejak kapan sebuah selaput darah begitu menggiurkan hingga mengalahkan kenikmatan bercinta itu sendiri?'
Arshlan menyeringai, merasa bahwa ini tidak bisa dibiarkan. sehingga telah membuatnya nekad memikirkan hal yang lebih menantang, yakni bercinta sepanjang malam dengan wanita yang berbeda.
Arshlan benar-benar ingin tau, kalau sudah demikian apakah dirinya masih bisa mengingat bocah ingusan bernama Lana itu.. atau tidak lagi..!
"Lana.. Lana.. bersabarlah, karena ini baru awal.." ujar Arshlan sambil menyeringai dalam temaram.
...
Bersambung..
Follow my IG. @khalidiakayum
Like, Vote and Support jangan lupa yah guys.. Thx and Lophyuu all.. 😘
__ADS_1