
Ig. @khalidiakayum
...
Dasha merasa tidurnya sangatlah lelap, namun belaian lembut dipipinya seolah memaksa Dasha agar terjaga.
Awalnya sepasang mata Dasha mengerjap perlahan. Namun saat kesadarannya mulai terkumpul utuh hingga memberikan Dasha kekuatan untuk membuka mata, yang pertama kali dilihat oleh Dasha adalah seraut wajah wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik diusianya yang tidak muda lagi.
"Dasha, akhirnya kau bangun juga ..."
"Nyonya Lanaa ...!"
Dasha bangkit dari tidurnya, langsung menghambur dan memeluk tubuh Lana yang duduk ditepi ranjang.
Dalam sekejap tangis gadis cilik itu telah memecah keras, begitu ingatan tentang kejadian buruk yang baru saja menimpanya kembali meintas dalam benak.
"Sssstt ... sudah, jangan menangis lagi karena sekarang kau aman ..."
"Nyonya, aku takut ..."
"Tidak perlu takut, karena mulai detik ini tidak akan ada lagi orang yang akan menjahatimu." pungkas Lana, sambil mengusap punggung mungil yang naik-turun karena isak tangis.
"Aku sengaja membangunkanmu karena kau terus tertidur hingga melewati jam makan malam."
"Nyonya, aku tidak lapar."
"Tapi kau tetap harus makan. Lihat, aku sendiri yang membawakan makan malam." Lana menunjuk nampan yang berada diatas meja kecil disisi ranjang milik Dasha.
Detik berikutnya Lana bangkit dan mengambil piring yang berada diatas nampan.
"Aku akan makan sendiri saja, Nyonya," cicit Dasha sambil menyeka ujunya matanya yang lembab dengan punggung tangannya, saat menyadari Lana yang berniat menyuapinya.
"Apa kau yakin akan makan sendiri?"
"Tentu saja, Nyonya," angguk Dasha penuh keyakinan, sambil mengambil alih piring yang semula berada ditangan Lana, yang akhirnya menyerahkan piring itu meskipun dengan gerakan yang sedikit ragu.
Lana akhirnya memilih kembali duduk ditepi ranjang, sambil terus memperhatikan Dasha yang mulai menyendok makanan yang ada dipiring.
Diam-diam hati Lana terenyuh mendapati Dasha yang terlihat begitu tegar, meskipun baru saja mengalami kejadian sangat buruk, pada beberapa jam yang lalu.
Belum juga menyuapi dirinya sendiri, gadis mungil itu terlihat tertegun sejenak, seolah memikirkan sesuatu.
"Mmm, Nyonya, dimana Tuan Luiz?"
"Luiz? oh, dia ..."
"Nyonya, aku ingin bertemu ..." rengek Dasha seraya menaruh lagi sendok yang ada ditangannya, ganti menatap Lana dengan sepasang mata yang mengembun.
Lana tersenyum sambil menatap Dasha. Tangannya terangkat guna membelai rambut Dasha yang tergerai.
"Luiz masih bersama daddynya. Ada sebuah pembicaraan penting yang harus dibahas terlebih dahulu."
Dasha terdiam mendengar penjelasan itu, sedapat mungkin berusaha memendam riuh-rendah rasa aneh yang menghuni disudut hatinya.
Semacam rasa rindu ingin melihat sosok yang telah menyelamatkan dirinya dari sebuah tragedy yang sangat mencekam.
"Aku akan menyuruh Luiz datang menemuimu besok pagi. Karena sekarang sudah sangat larut, sebaiknya setelah makan, kau kembali beristirahat ..."
"Tapi Nyonya Lana, aku ..."
"Jangan membantah ... makanlah dulu kemudian beristirahatlah ..."
Ucapan lembut Lana membuat Dasha tak kuasa membantah.
__ADS_1
Akhirnya dengan gerak perlahan, Dasha kembali meraih sendok yang berada diatas piringnya, mulai makan dengan perlahan dibawah tatapan teduh milik Lana, yang sesekali membelai rambut tergerai Dasha dengan penuh kasih sayang.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Perusahaan baru kita membutuhkan perhatian ekstra, Luiz. Mau tidak mau, Daddy harus tangan."
"Tapi, Dadd ..."
"Ini adalah hal terakhir yang sudah seharusnya Daddy lakukan. Kalau semuanya sudah selesai dan telah berjalan normal, maka kau harus berjanji untuk menangani semuanya tanpa penolakan."
Luiz memijat kedua alisnya sekaligus, menerima keputusan Arshlan, perihal masa depannya juga masa depan bisnis mereka.
Sebuah perusahaan raksasa yang berlokasi disalah satu negara industri yang maju mulai beroperasi tahun ini. Jika tidak ada yang menanganinya langsung, maka tidak menutup kemungkinan akan berpengaruh pada perputaran roda bisnis secara menyeluruh.
Arshlan telah memutusukan untuk pergi keluar negeri bersama Lana, guna menghandlenya secara langsung. Sementara disini, ia telah memaksa Luiz untuk menerima tanggung jawabnya secara penuh.
"Daddy dan Uncle Her semakin hari semakin menua. Kami hanya bisa mengharapkanmu seutuhnya."
Luiz tidak sedikitpun menyela kalimat yang diutarakan Arshlan. Ia terus saja memijat alisnya dengan gerakan perlahan.
"Luiz, tetapkanlah kesiapanmu. Setelah semuanya berjalan normal, berjanjilah kau akan menggantikan daddy untuk memikul semua tanggung jawab yang selama ini berada dipundak daddy."
"Dadd, dalam lima tahun, semua kemungkinan bisa terjadi. Aku masih berharap kalau Leo ..."
"Leo bisa datang kapan saja. Tapi Daddy tetap mengharapkanmu." pungkas Arshlan tegas, seolah tak bisa lagi terbantahkan.
Luiz menarik nafasnya yang terasa sangat berat, sambil menatap Arshlan dengan tatapan nyaris menyerah.
"Kenapa harus aku, Dadd? kenapa harus aku yang tidak diberikan pilihan...?" lirih Luiz lagi.
Sejujurnya Luiz bukannya tidak ingin menerima kepercayaan Daddynya. Tapi menjalankan semua bisnis yang dirintis Daddy, apakah dirinya mampu?
Luiz takut jika kelak ia akan mengecewakan banyak orang yang telah menaruh harapan, terlebih mengecewakan Daddy Arshlan.
"Dadd ..."
"Mungkin karena Daddy selalu melihat diri Daddy didalam dirimu. Kau tau? kau ... adalah gambaran sempurna dari diri Daddy di masa muda. Itu yang membuat Daddy tidak egois, sehingga tidak ingin memberikanmu pilihan ..."
Luiz terpekur lagi.
"Luiz, maafkan Daddy, karena memberikanmu tanggung jawab sebesar ini. Tapi apa boleh buat, Daddy hanya bisa mengandalkanmu."
Sesungguhnya, jauh didaam lubuk hati Luiz pun tidak tega, melihat Daddynya masih harus turun tangan langsung dengan segala urusan bisnis seperti ini.
Tapi mau bagaimana lagi?
Hati Luiz pun selalu meragu setiap kali dituntut untuk melangkah maju.
"Baiklah, Dadd, lalu kapan rencananya Daddy dan Mommy akan pergi?"
"Secepatnya."
"What ...?!"
"Dalam dua atau tiga hari, maybe ..."
Luiz menghembuskan nafasnya berat.
Lima tahun bukanlah waktu yang singkat, tapi Luiz benar-benar tidak diberi pilihan.
Seandainya saja Luiz memiliki keberanian untuk memikul tanggung jawab seutuhnya, maka sudah pasti Luiz akan menawarkan diri untuk menggantikan Daddy dan menghandle semuanya.
Tapi apa mau dikata, Luiz merasa tidak punya setitik pun keberanian untuk berdiri sendiri dengan penuh rasa percaya diri.
__ADS_1
Berbagai ketakutan akan kegagalan terus menghantui langkahnya dan membuat dirinya insecure.
Mungkin selama ini orang-orang diluar sana akan melihat Luiz sebagai putra hebatnya seorang Tuan Arshlan. Tapi pada kenyataannya, semua yang terjadi justru sebaliknya.
Dibandingkan Daddy Arshlan, Luiz tidak ada apa-apanya.
Luiz bahkan harus berada dibawah bayang-bayang Uncle Her sekian lama, meskipun pria tua itupun telah begitu sering mengeluh jika sudah saatnya ia mengistirahatkan dirinya dari kerasnya dunia bisnis yang telah dilakoni puluhan tahun lamanya.
Disaat seperti ini Luiz selalu merasa bahwa Leo bahkan jauh lebih baik darinya.
Leo mampu memutuskan apa yang ingin ia jalani dalam hidup ini, berani menantang dunia dan menanggalkan semua yang ia miliki.
Karir Leo terbentuk dengan hasil kerja kerasnya sendiri, tanpa sedikitpun mendompleng nama besar Arshlan. Hanya segelintir orang saja yang tau latar belakang Leo yang sebenarnya, dan pria itu mengukuhkan dirinya tanpa beban dijagat hiburan, dimana semua mata publik justru tertuju penuh pada dirinya.
Suara pintu yang terbuka mengusik keheningan yang bertahta sekian lama, seiring dengan munculnya sosok Lana dengan senyuman yang khas.
"Sayang, ini sudah sangat larut. Biarkan Luiz beristirahat." berucap sambil mendekati meja dimana Luiz dan Arshlan duduk berhadapan.
"Bagaimana keadaan, Dasha?" tanya Arshlan tanpa mengindahkan kalimat Lana diawal.
"Kelihatannya membaik. Tadi aku terpaksa membangunkannya untuk makan malam. Aku tidak tega membiarkannya terus tidur dengan perut yang kosong."
Arshlan terlihat mengangguk. "Yang kau lakukan itu benar, sayang. Bagaimanapun Dasha harus makan malam dulu, sebelum kembali beristirahat." kemudian tatapan Arshlan berpindah kearah Luiz. "Luiz, bagaimana dengan pelakunya?"
"Aku telah memberikan pria breng sek itu pelajaran terlebih dahulu, sebelum membiarkan hukum mengadilinya."
"Bagus."
Lana melotot mendengar interaksi pembicaraan aneh yang pasti terlontar secara tak sengaja dihadapannya itu.
"Luiz, apa maksudmu dengan memberikan pria itu pelajaran terlebih dahulu?"
Luiz yang tersadar sontak menggelengkan kepalanya dengan sigap. "Egh, t-tidak, Momm, maksudku, aku hanya menyuruh anak buahku menangkapnya dan menyeretnya kekantor polisi."
"Tapi tadi kau bilang ..."
"Tidak ada, kau hanya salah mendengarnya." kali ini Arshlan yang menengahi dengan sigap.
"T-tapi ..."
"Luiz, pergilah beristirahat." pungkas Arshlan cepat, tanpa sedikitpun mengindahkan tatapan protes Lana yang kini telah mengarah penuh padanya.
"Baiklah, Momm, Dadd ... aku akan pegi kekamarku sekarang juga."
Tanpa membuang waktu lebih lama Luiz bangkit dari dudknya, berjalan kearah Lana dan Arshlan hanya untuk mendaratkan kecupan selamat tidur sekilas sebelum benar-benar beranjak.
"Oh iya Luiz, tadi Dasha menanyakanmu. Dia ingin menemuimu, tapi Mommy telah melarangnya dan mengatakan bahwa kau akan menemuinya besok pagi."
Kalimat Lana yang panjang sukses menghentikan langkah Luiz tepat diambang pintu.
"Luiz, apa kau mendengar apa yang Mommy katakan?"
"Aku mendengarnya, Momm." berucap lirih tanpa menengok.
Kemudian Luiz telah berucap lagi dengan nada perlahan, masih tanpa menoleh.
"Have a nice dream Momm ... Dadd ..."
Ujar pria itu, sebelum benar-benar menghilang dari bingkai pintu, tanpa mempedulikan tatapan kedua orang tuanya yang lekat ...
...
Bersambung ...
__ADS_1
Vote dong π