
"Apa katamu ...? Pemilik ? Jadi kau pemilik Luiz ...? Oh, tidak, kau jangan membuatku tertawa yah adik kecil ..."
Helena tersenyum mengejek kearah Dasha yang berdiri menatapnya dengan tatapan sengit, dari anak tangga kedua.
"Kau sudah terlalu banyak berkhayal. Bisa-bisanya kau datang dan mengaku sebagai pemilik Luiz? Memangnya kau siapa? Ibunya ...?!"
Kali ini gantian wajah Dasha yang merah padam menerima kalimat ejekan Helena yang mulai berasa diatas angin, secara bertubi-tubi.
Tidak mau berdebat lebih lama, Dasha memilih mengacuhkan Helena dan berbalik badan, kembali meneruskan langkahnya yang tertunda dengan meniti lagi anak-tangga tersebut satu persatu, kali ini dengan gerakan yang lebih cepat dari semula.
"Egh, egh, mau kemana kau? Hentikan ...!!"
Helena berteriak, dengan sigap ia kembali memburu langkah Dasha agar jangan sampai berhasil menemui Luiz diatas sana.
Melihat Helena yang berniat mengejarnya, Dasha tidak tinggal diam.
Alhasil gadis berusia enam belas tahun itu semakin mempercepat ayunan kakinya guna menghindari kejaran Helena, yang kini sedang berusaha keras menghalangi dirinya bertemu Luiz.
"Tuaaannn ... Tuaaannn Luiiiizzz ...!"
Seperti orang gila Dasha telah memekik kencang sambil berlari tunggang-langgang menaiki anak tangga dengan langkah seribu.
Ia berusaha sekuat tenaga menjauhkan diri dari Helena, yang sedang memburunya dengan wajah yang dipenuhi amarah ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
'Tuaaannn ... Tuaaannn Luiiiizzz ...!'
Luiz yang awalnya sedang tertidur lelap, tiba-tiba membuka kedua matanya serentak.
Tidak hanya itu, tubuhnya yang masih na ked ikut tersentak bangun, bahkan langsung terduduk diatas ranjang berukuran besar miliknya yang super empuk.
"Suara apa barusan ...? Kenapa aku seperti bermimpi mendengar suara Dasha ...?" Luiz bergumam pada dirinya sendiri, sambil mengusap wajahnya, berusaha mengumpulkan nyawanya satu demi satu yang seolah masih berserakan, dan belum sepenuhnya terkumpul dengan benar ditubuhnya.
Belum juga nyawa Luiz terkumpul semua, alis Luiz kembali berkerut mendengar bunyi tapak kaki berisik seolah berasal dari luar kamarnya, mirip suara tapak kaki yang saling beradu cepat dengan anak tangga dan sedang berkejar-kejaran.
"Hentikan ...! Aku bilang hentikan ...!!"
'Itu suara, Helena. Ada apa dengan wanita itu ...? Dia sedang berteriak kepada siapa ...?'
Luiz membathin sambil beringsut ketepian ranjang. Namun, belum sempat Luiz berdiri, baru sebatas mengulurkan kedua kakinya menyentuh lantai manakala dua sosok wanita terlihat berkejar-kejaran memasuki kamarnya dengan gerakan yang cepat.
"Tuaann Luiiizzzz ... tolong aku, wanita itu sudah gilaaaa ..."
Bugh ...!
Tubuh kekar Luiz bahkan nyaris terlentang manakala seorang gadis telah melompat panik keatas pangkuannya.
"Dasha ...?!"
Sepasang bola mata Luiz terbelalak utuh saat menyadari siapa gerangan gadis yang telah berada diatas pangkuannya ... memeluk tubuh telan jangnya dengan erat ... menyembunyikan seluruh wajah dilehernya ... namun kemudian terlihat mengintip kecil dari balik ceruk dagunya ... sambil mengejek dan menjulurkan lidahnya kearah Helena yang tiba dihadapan mereka dengan wajah geram!
"Kau ...?! Dasar bocah tidak tahu malu! Cepat lepaskan Luiz dan ..."
"Hentikan."
Gerakan tubuh Helena, yang ingin menarik pergi tubuh Dasha dari atas pangkuan Luiz itupun terhenti begitu saja, manakala Helena mendengar suara berat Luiz yang telah melarangnya mendekat dan bertindak.
"T-tapi ... Luiz ..."
"Dia adikku."
"A-appa ...?!" Helena terhenyak, wajahnya memucat dalam hitungan detik.
'Adik? Astaga, Helena ... kenapa kau bodoh sekali? Kau telah memperlakukan adik Luiz dengan buruk ...!'
__ADS_1
'Egh, tapi sebentar ... bukankah menurut pemberitaan selama ini bahwa Luiz hanya mempunyai saudara kembar lelaki, yang identitasnya tidak diketahui oleh publik ...?'
'Jadi ... selain saudara kembar, pria dihadapannya ini ternyata juga mempunyai seorang adik perempuan yang sangat nakal ...!'
Helena berdiri bingung, namun tak bisa berbuat apa-apa.
Helena bahkan hanya bisa pasrah menerima ejekan lidah serta bias wajah yang dipenuhi rona kemenangan, yang tergambar jelas dari wajah gadis usil itu, tanpa bisa membalasnya sedikitpun ...!
"Helena ..." panggil Luiz lagi dengan suara yang berat.
"I-iya Luiz ...?"
"Pulanglah ..."
"T-tapi Luiz ..."
"Nanti aku akan menghubungimu."
Helena membisu.
'Omong kosong ...'
Bathin Helena lagi mendengar janji Luiz.
Sudah terlalu sering Helena mendengar kalimat serupa.
'Nanti aku akan menghubungimu.'
Helena tahu bahwa sepenggal kalimat itu bohong belaka, karena selama ini, Luiz tidak pernah sekalipun menghubunginya lebih dahulu.
Sehangat dan semesra apapun mereka bercinta, pada kenyataannya semua itu seolah tidak pernah membekas dihati Luiz.
Pria itu tidak akan pernah menghubunginya, apalagi sampai merindukannya.
'Omong kosong ...!'
Helena tahu, bahwa ia selalu menjadi korban PHP Luiz, namun mau bagaimana lagi, dirinya sendiri tidak pernah jera untuk terus berusaha mendekati bahkan bisa dibilang mengejar Luiz ... tergila-gila pada pria tampan yang kaya raya itu ...!
"Baiklah Luiz, aku akan pergi ..."
Mengalah. Memang hanya itu yang saat ini bisa dilakukan Helena.
Dengan langkah lunglai Helena pun memunguti bajunya yang teronggok dilantai ... satu persatu ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
Bugh ...!
"Awww ...!"
Dasha terpekik kaget.
Gadis itu terlalu menikmati kenyamanan yang ia rasakan saat berada dipangkuan Luiz, terlebih saat menyadari saking dekatnya, Dasha bahkan bisa ikut-ikutan melakukan modus tersembunyi.
Menyentuh langsung hangatnya kulit Luiz yang menempel di pipinya ... diseluruh wajahnya ... diujung jemarinya ...
Sungguh Dasha tak menyangka jika kenyamanan itu langsung berakhir begitu saja, begitu Helena berlalu dari hadapan mereka untuk beberapa saat.
Luiz telah melempar tubuh mungil Dasha keatas ranjang dengan kasar.
Sambil melingkarkan tubuh bagian bawahnya dengan selimut, pria itu telah berdiri tegak sambil berkacak pinggang dihadapan Dasha, lengkap dengan wajahnya yang masam.
"Kau ... sedang apa kau disini?!" tuding Luiz tanpa ampun.
"Sedang apa? Tuan Luiz, tentu saja aku sengaja datang untuk melihat kondisimu ... bagaimana keadaanmu ... " ujar Dasha begitu ringan seraya berusaha mendudukkan tubuhnya diatas ranjang Luiz yang berantakan, seolah sedang menggambarkan dengan jelas jika ranjang tersebut baru saja digunakan sepasang insan yang saling adu mekanik semalaman penuh ...!
__ADS_1
Luiz melengos mendengar jawaban sok dewasa tersebut.
'Setelah lima tahun, gadis ini ternyata belum berubah, masih saja sok tau, dan suka berbicara layaknya orang dewasa ...!'
Luiz membathin dongkol.
"Tuan, aku telah berada disini selama satu minggu, tega sekali Tuan mengabaikan aku ..."
"Aku sangat sibuk."
"Sangat sibuk? Bagaimana bisa dibilang sangat sibuk? Tuan bahkan masih bisa menghabiskan waktu bersama Tante Helena ..."
"Tante ...?" alis Luiz bertaut. "Kau memanggilnya Tante?"
Dasha mengangguk kecil dengan sepasang mata yang berbinar lucu. Pertanyaan Luiz telah membuatnya mengingat wajah Helena yang kesal, hanya karena Dasha terus-menerus memanggil wanita itu dengan sebutan demikian.
"Dan dia marah saat aku memanggilnya Tante."
"Dasha ... kau kan bisa memanggilnya Nona Helena. Mengapa kau memanggilnya demikian? Pantas saja jika Helena kesal ..."
Dasha terlihat merenggut mendengar omelan Luiz. "Memangnya apa salahku ...? Toh wajahnya memang sudah setua itu ..." desisnya perlahan, namun Luiz yang masih bisa mendengar kalimat lirih itu sontak mempelototinya.
"Haihh ... sudahlah ...! Sekarang cepat katakan kepadaku, kenapa kau bisa menemukanku?" ujar Luiz memilih mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku mendapatkan alamat apartemen ini, dari Nyonya Lana."
"Sudah kuduga ..." desis Luiz semakin kesal.
"Tuan, kenapa Tuan mengacuhkan aku selama ini ...?"
Luiz tersentak diam. Tak menyangka jika Dasha bisa menanyakan pertanyaan seperti itu dengan begitu mudahnya, tanpa merasa canggung sedikit pun.
Sejenak Luiz belum bisa menemukan kalimat yang pas, untuk dirangkai menjadi sebuah kalimat pembelaan diri yang tepat, tidak menyakitkan, dan tidak akan mencederai hati gadis polos dihadapannya ini, manakala kalimat lirih Dasha kembali terdengar lirih ...
"Bukan aku yang melukai hatimu, Tuan, tapi kenapa aku juga ikut menanggung semua rasa sakit hati ... dan ..."
"Kau ini bicara apa ...?" pungkas Luiz tidak bisa menahan lebih lama, keinginan hatinya untuk bertanya.
Kali ini Dasha terlihat menatap Luiz dengan tatapan matanya yang bertelaga, membuat Luiz terhenyak.
Gadis itu terlihat seolah bimbang dan menimbang-nimbang sejenak, sebelum akhirnya memutuskan dan memantapkan hati, balik menentang sepasang mata Luiz dengan tatapan yang ikut terluka ...
"Malam itu ... lima tahun yang lalu ... aku berniat menyusul, Tuan, tapi ... tapi ..."
"Tapi apa?" tanya Luiz semakin tak sabar, seraya menatap nanar kearah Dasha yang kembali tertunduk dalam.
"Aku ... aku melihat Tuan berada didepan kamar Nona Victoria ..."
Lirih, namun cukup membuat Luiz tercengang karena tak menyangka jika pada malam itu, Dasha telah melihat bagaimana kalut dirinya, sehingga tanpa sengaja terpekur lama didepan kamar Victoria yang kala itu sedang bercinta dengan Leo.
"Tuan Luiz, aku tahu Tuan sangat menyukai Nona Victoria, kan? Tapi Nona Victoria malah memilih Tuan Leo. Hatimu pasti sangat sakit kan, Tuan? Saking sakitnya, Tuan bahkan langsung meninggalkan aku begitu saja ..."
Luiz terhenyak mendengar ucapan Dasha.
'Jadi selama ini ...'
'Dasha telah mengira ...'
'Aku pergi karena Victoria ...!'
Luiz memijat pelipisnya. Entah ia harus senang mendengar kesalahpahaman ini, atau justru sebaliknya.
"Tuan Luiz, tolong jangan menjauh lagi. Aku tidak membencimu setelah semua ini, karena aku tahu persis, Tuan melakukan semuanya karena ingin menjauh dari Nona Victoria dan Tuan Leo. Nona Victoria adalah cinta sejati Tuan, dan Tuan bahkan bisa memberikan hidup Tuan, untuk kebahagiaan Tuan Leo ..."
...
__ADS_1
Bersambung ...