TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 38. Ingin dipeluk


__ADS_3

Triple up.


...


"Apakah kau lupa peraturannya? Bahwa aku paling benci jika dipunggungi, terlebih saat berada ditempat tidur."


Suara Leo terdengar begitu berat ditelinga Victoria, karena posisi tubuh Victoria yang kembali dibawa masuk kedalam pelukan yang begitu dalam.


"Lalu bagaimana dengan memunggungi?"


"Apa maksudmu?"


"Kau sangat membenci jika dipunggungi saat berada ditempat tidur, tapi bukankah kau sendiri justru sangat suka melakukannya?" kali ini Victoria balik berucap datar.


"Rupanya kau sedang berniat menyindirku yah?" tanya Leo, kemudian dengan sengaja, ia telah menjilat telinga Victoria, guna memancing reaksi alami wanita itu yang tentu saja terhenyak kaget bercampur geli.


"Hentikan."


Leo tertawa, melihat itu rasanya ingin sekali Victoria memukulnya!


"Vic, ayo lakukan satu ronde lagi." ajak Leo tanpa basa-basi, seolah sedang mengajak Victoria untuk menambah satu putaran penuh saat mereka lari pagi.


Victoria menggeleng tegas. "Tidak, pliss ... aku mohon, aku merasa sangat lelah setelah semua ini."


"Bagaimana kalau sebentar saja ...?" kembali melontarkan bujukan yang gila, namun kepala Victoria telah menggeleng tegas.


"Leo, aku tidak bercanda, aku benar-benar bisa mati kalau kau memaksaku untuk mengulang semuanya, meski hanya sebentar ..."


Leo tertegun mendapati ungkapan yang diucapkan dengan seraut wajah yang sangat memelas itu.


Berikutnya tatapan mata Leo telah berpindah kearah leher jenjang beserta tulang selangka milik Victoria yang seluruh permukaannya nampak mengerikan.


Seolah baru tersadar dengan kebrengsekannya sendiri, Leo bahkan nyaris tidak percaya jika dirinyalah sang pembuat maha karya mengerikan, yang berjejer tak beraturan disekujur tubuh Victoria.


Diam-diam ada penyesalan yang telah menyelusup kedalam relung jiwa milik Leo, yang baru menyadari betapa buruknya ia telah memperlakukan Victoria malam ini.


"Baiklah, kali ini aku berjanji tidak akan mengusikmu." pungkas Leo perlahan, namun tetap menyembunyikan rasa bersalah yang telah menggerogoti sekujur sanubarinya.


Sepasang mata Victoria bersinar lega mendapati kalimat pengertian Leo yang tak seperti biasanya, setiap kali dirinya mencari 'simpati' agar dikasihani.


🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Luiz sengaja berlama-lama dikamar mandi, berharap saat ia keluar nanti sebuah pemandangan tentang Dasha yang sedang berada diatas ranjang berukuran besar miliknya telah tertidur pulas.


Namun keinginannya terpaksa harus ia kubur dalam-dalam saat menyadari bukannya tertidur pulas, gadis itu malah sedang duduk bersandar dengan begitu santai dikepala ranjang milik Luiz, sambil asik men-scroll akun sosial media miliknya dengan jemari yang bergerak lincah.


"Dasha, kenapa kau belum juga tidur?"


Dasha menoleh sambil tersenyum, saat menyadari kehadiran Luiz yang akhirnya muncul juga dari balik pintu kamar mandi, setelah sekian lama ia menanti.


"Bukankah aku juga sudah berkali-kali mengingatkanmu, bahwa besok pagi-pagi sekali, kalian bertiga sudah harus kebandara dan ..."


"Tuan, ayo kemari." bukannya menggubris omelan Luiz, Dasha malah telah berucap, meminta Luiz untuk mendekat.


"Huhfh ..." napas Luiz terhembus keras, namun pada akhirnya ia telah melangkahkan kakinya mendekat.


"Dasha, seharusnya kau ..."


"Ssssstt ... kemarilah, Tuan," gadis itu telah begitu berani kembali menyanggah kalimat Luiz yang awalnya ingin menasehati.


Tidak hanya itu saja, Dasha juga telah mengamit pergelangan tangan Luiz agar mau menghempaskan tubuhnya keatas ranjang, tepat disebelahnya.


"Tuan, aku baru sadar bahwa aku belum memiliki satu pun foto bersama, Tuan. Jadi sebaiknya kita mengambil kesempatan sekarang untuk membuat sebuah kenang-kenangan."


"Berjanjilah bahwa semua foto tadi hanya sebatas untuk kau jadikan koleksi pribadi, dan kau akan menyimpannya untuk dirimu sendiri." ujar Luiz lagi-lagi mengingatkan gadis berusia enam belas tahun itu agar tidak melakukan kecerobohan.


"Iya, Tuan aku berjanji ..." berucap acuh tanpa mengindahkan ekspresi wajah Luiz yang serius, lebih sibuk tersenyum gembira sambil tak bosan mempelototi beberapa foto mesra dirinya dan Luiz, yang telah diabadikan dengan mudahnya oleh kamera ponsel miliknya.


"Aku juga melarangmu untuk memposting foto-foto tersebut, ke akun media sosial milikmu, dimanapun itu dan ..."


"Iya ... iya ... Tuan, bahkan sudah mengatakan semua hal itu lebih dari lima kali ..."


Luiz melotot menyaksikan wajah Dasha yang malah terkikik geli acap kali menangapi kekhawatiran Luiz.


"Tuan Luiz, sesungguhnya melihat Tuan yang takut sekali jika hubungan ini diketahui oleh orang lain, selalu membuatku sedih."


Wajah Dasha yang tadinya ceria mendadak berubah menjadi sedikit sendu.


"Tuan, kenapa Tuan juga tidak mau jujur mengakui hubungan ini dihadapan Tuan Arshlan dan Nyonya Lana? apakah semua itu karena aku tidak pantas menjadi ..."


"Berhenti berspekulasi."


Pungkas Luiz dengan tegas, saat menyadari jika ternyata, segala kesepakatan yang telah dirinya dan Dasha lakukan sejak beberapa hari yang lalu, tetap saja membuat Dasha meragu dengan keputusannya.

__ADS_1


"Dasha, aku ingin menyembunyikan semuanya terlebih dahulu, sama sekali bukan karena alasan konyol yang dibuat-buat seperti itu."


"Maafkan aku, Tuan Luiz," Dasha telah berucap lirih, terlihat menyesal karena terkesan tidak bisa mempercayai Luiz begitu saja.


Namun apa boleh buat, dirinya pun sangat menginginkan sebuah pengakuan, meskipun Luiz telah mengatakannya dengan sangat jelas, dan Dasha pun telah menyanggupi dan menerima keputusan Luiz, namun belum apa-apa, semuanya telah terasa sangat melelahkan.


"Tidurlah, dan berhenti mengkhawatirkan hari esok. Kita akan bersama-sama mencoba untuk menjalani semuanya dengan perlahan, karena aku ... aku bahkan belum bisa menjanjikan apapun ..."


"Aku juga tidak mau apapun." berucap tegas dengan sepasang mata yang bergerak-gerak, begitu ia menatap sepasang mata Luiz yang masih berada disampingnya. "Tapi malam ini adalah pengecualian, karena aku ingin tidur sambil dipeluk ..."


Luiz menepuk jidatnya lagi.


'Oh, God ...'


'Susah payah aku memberikan pengertian dengan berbagai kata-kata, serta kalimat yang mendayu ...'


'Pada akhirnya bocah ini bahkan tidak memahami apapun ... hanya berpikir untuk dipeluk ...!'


Luiz telah membathin lagi dengan gemas.


'Dasar bocah ...!'


"Tuan, tolong jangan menolakku terus. Memangnya Tuan tidak kasihan kepadaku ...?" berucap sambil menaruh wajahnya yang berpura-pura menyedihkan.


"Kasihan? Kenapa juga aku harus merasa kasihan?"


"Karena besok pagi aku sudah harus pergi meninggalkan, Tuan ..."


"Jangan lebay. Aku bahkan akan menyusulmu kurang dari satu minggu ...!"


"Meskipun demikian, memangnya ada jaminan kalau Tuan benar-benar tidak akan merindukan aku nantinya?!" sepasang mata bulat yang berpendar indah itu kembali mencecar Luiz.


"Tentu saja aku akan merindukanmu, Dasha, tapi kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku secara berlebihan ..." pungkas Luiz lagi.


"Kalau begitu bukankah semua itu lebih baik? Jadi Tuan bisa memelukku sepanjang malam, tanpa perlu mengkhawatirkan apapun ..."


...


Bersambung ...


(Support yang kencang untuk penambah imun author, agar selalu bisa double up, dan triple up, setiap hari. Chayooo ...! πŸ’ͺ)

__ADS_1


__ADS_2