TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 127. Mahligai Cinta


__ADS_3

Double up.


Follow ig aq yah. @khalidiakayum


...


Minggu ini bisa dibilang sebagai minggu yang begitu panas, setelah sederet berita tentang keluarga Arshlan yang fenomenal telah menggemparkan seluruh negeri.


Berbagai media seolah saling mendahului untuk mendapatkan berita yang paling eksklusive, meskipun tentu saja tidak mudah mendapatkannya.


Bukan rahasia lagi jika sejak dulu Arshlan tidak suka kehidupan pribadinya menjadi konsumsi publik.


Bahkan saat Arshlan menikahi Lana, hanya ada segelintir orang yang benar-benar mengetahui kisah berliku rumah tangganya.


Semuanya tertutup rapat, tak ada satu informasi dan cela yang bisa membuat seluk-beluk privacy-nya merambat keluar.


Tapi di era yang sudah semakin modern ini, Arshlan telah menyadari satu hal ... bahwa melakukan semua itu sepertinya tak semudah dulu lagi.


Seiring dengan Luiz dan Leo yang beranjak dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing, Arshlan pun semakin sulit mengendalikan semuanya.


Sampai pada saat ini, mau tak mau Arshlan juga harus merelakan kehidupan pribadi keluarganya sedikit terusik, dan menerima semuanya dengan lapang dada.


Tak mengapa, toh semuanya adalah resiko sepadan yang harus mereka terima, sebagai konsekwensi dari pilihan akhir yang telah diambil oleh Luiz dan Leo untuk masa depan mereka masing-masing.


Berawal dari pengakuan Leo yang memilih hengkang dari dunia keartisan yang telah membesarkan namanya, disaat karirnya sedang berada dimasa kejayaan, pada akhirnya sisi kehidupan pribadi Leo pun ikut terkuak sedikit demi sedikit.


Mulai dari kisah percintaan yang telah mematahkan hati seluruh penggemar tapi juga sekaligus menuai dukungan.


Pada akhirnya semua khalayak pun mengetahuinya, bahwa ternyata sang idola telah menikahi wanita biasa dengan kecantikan yang luar biasa ...


Kemudian terus berlanjut dengan kabar bahagia atas kehamilan sang istri yang baru memasuki trimester awal ...


Sampai akhirnya publik pun mengetahui bahwa rencana masa depan seorang Leo selanjutnya adalah menjadi Ceo dari beberapa anak perusahaan dari Arsh Corp.


Memangnya siapa yang bisa menebak ...?


Tidak ada satu pun ...!


Bahwa aktor terkenal Leo merupakan salah satu dari putra kembar Tuan Arshlan, orang terkaya di negeri ini, dan ...


Bahwa ternyata Luiz bukanlah satu-satunya pewaris seorang Tuan Arshlan, meskipun secara teknis pria itulah yang kini memegang kendali penuh atas keseluruhan cabang perusahaan yang merupakan warisan berharga seorang Tuan Arshlan.


Saudara kembar?


Kenyataan itu jelas-jelas sangat mengejutkan. Karena meskipun kedua pria itu sama-sama memiliki paras tampan dan tubuh yang tinggi, kekar, nan menawan, namun jelas sekali bahwa Luiz dan Leo memiliki daya tarik yang berbeda, bisa dibilang sangat bertolak belakang.


Luiz yang berkulit putih khas asia timur, dengan wajahnya yang menggambarkan kepribadiannya yang dingin, cenderung misterius, sangat berbeda dengan Leo yang berkulit eksotis ... dengan raut wajah yang jauh lebih hangat ... cenderung terkesan badboy.


"Hari yang melelahkan ...! Huhhffh ...!"


Luiz membuang jas mahal yang melekat ditubuhnya keatas tempat tidur, kemudian mengendurkan dasi sekaligus kancing atas kemejanya.


Sebuah konfrensi pers yang digagas Arshlan sore tadi demi meminimalisir seluruh berita yang simpang siur tentang fenomena Keluarga Arshlan, mau tak mau membuat Luiz ikut menghadirinya.


Siapa yang tak mengenal Luiz?


Dalam kesehariannya, Luiz terkenal sangat irit bicara, namun dimata para wartawan yang haus berita Luiz harus rela menjawab lebih dari sepuluh pertanyaan dalam sesi tanya jawab yang berdurasi hampir satu jam lamanya.


Luiz memang tidak sendirian, karena Leo dan Arshlan juga ikut serta dalam konfrensi pers tersebut.


Meskipun tidak terbiasa, tapi demi memuluskan rencana masa depan kedua putra kembarnya, Arshlan terlihat sangat percaya diri saat harus duduk ditengah, diapit oleh kedua putranya yang menawan, Luiz dan Leo.

__ADS_1


Arshlan juga nampak sangat sabar menghadapi rentetan pertanyaan yang jumlahnya kira-kira sebanyak pertanyaan untuk Luiz, sementara Leo yang justru paling banyak angkat bicara dan menghandle jalannya konfrensi pers tersebut, terlihat cukup tenang menjawab semua rasa penasaran publik yang terwakilkan oleh para awak media.


Tok ... tok ... tok ...


Suara ketukan pada daun pintu kamarnya yang terbuka tak diindahkan Luiz.


'Paling-paling itu hanya maid yang akan mengantarkan segelas kopi ...'


Bathin Luiz dengan posisi tubuh yang tetap membelakangi daun pintu.


"Masuk saja, dan taruh kopinya diatas meja." ucap pria itu, sibuk menggulung lengan kemejanya hingga ke siku.


Bunyi tapak langkah kaki yang beradu dengan ubin terdengar jelas memasuki kamar Luiz, begitupun dengan bunyi gelas yang beradu dengan permukaan meja, yang menandakan segelas kopi hangat telah berada disana.


Namun manakala dari belakang punggung Luiz dua lengan mungil tiba-tiba melingkar di area perutnya, mau tak mau Luiz pun terkejut.


"Dasha ...? Kau ..."


Mengambang.


Sebuah senyum khas terukir indah dibibir yang mungil, saat Luiz memutar kepala.


"Surprise ..."


Luiz tidak langsung menanggapinya, melainkan bergegas mengurai pelukan gadis mungil itu, langsung berjalan kearah pintu kamarnya yang masih terbentang lebar, dan menutupnya dengan terburu-buru.


"Dasha, kenapa kau datang kekamarku ...? Apa yang kau lakukan ...?"


"Aku ...? Aku hanya mengantarkan segelas kopi ..." telunjuk Dasha mengarah keatas meja, dimana segelas kopi benar-benar berada disana, nampak mengepul nikmat.


Luiz mengusap wajahnya, mendapati senyum jenaka khas Dasha yang kini terlihat antusias mendekat, sudah pasti ingin melompat kedalam pelukannya.


Terlambat.


Kini seluruh tubuh gadis itu benar-benar telah berada dalam pelukan Luiz yang tak lagi bisa menolaknya.


"Sayang, kau jahat sekali. Kau tidak merindukan aku yah?"


Luiz terhenyak sesaat. "Apa kau bilang? Tidak merindukanmu? Aku bahkan hampir mati menahan rindu, dan kau masih bisa mengatakan hal itu ...?!" rasanya Luiz ingin menggigit pucuk hidung mancung yang berada tepat dibawah dagunya, saking gemasnya.


Mendengar itu Dasha terkikik. "Apa mommy Lana semenakutkan itu dimatamu?"


Luiz melotot mendengar kalimat Dasha yang bernada ejekan.


"Apa kau rela mempunyai suami cacat yang tidak memiliki daun telinga?" sungut Luiz, membuat Dasha kali ini tidak lagi terkikik melainkan tergelak sempurna.


Luiz bahkan harus menutup mulut gadis itu demi meredam suaranya agar tidak sampai keluar dan terdengar.


Dasha merasa sangat lucu, menyaksikan betapa manisnya seorang Luiz, yang dengan umurnya sekarang masih terlihat sangat ketakutan untuk melanggar perintah mommy Lana.


Pada akhirnya Dasha benar-benar memahaminya.


Perihal mengapa selama ini Luiz sangat menyembunyikan hubungan mereka, tak lain dan tak bukan karna pria itu benar-benar takut mengecewakan kedua orang tuanya, meskipun yang terjadi adalah kebohongannya tetap saja membuat kedua orang tuanya kecewa.


Pasca hubungan Luiz dan Dasha terkuak, saat itulah kesepakatan atas masa depan mereka telah diputuskan.


Dalam beberapa hari kedepan, Dasha memang akan resmi menjadi istri Luiz, dan karena itulah untuk sementara waktu Lana telah melarang keduanya bertemu sampai hari H nya tiba.


Namun peraturan sederhana itu ternyata tidak semudah itu untuk Luiz dan Dasha.


Kenyataannya mereka kerap melanggarnya dan tidak memiliki ekstra kesabaran untuk tidak saling melihat satu sama lain, sehingga terus saja berusaha saling bertemu, meskipun akan berbuntut dengan jeweran Lana di kedua telinga Luiz sekaligus.

__ADS_1


"Kalau begitu jangan biarkan mommy tahu ..."


Luiz melotot mendengar ucapan Dasha. Belum sempat ia menolak ide gila itu, Dasha telah berjinjit terlebih dahulu guna mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan wajah Luiz.


"Sayang ... biarkan aku tidur disini malam ini yah, pleaseee ..." bisikan nakal Dasha terucap disertai hembusan nafas hangat ke wajah Luiz, membuat Luiz seolah berada diantara buah simalakama.


Ingin mengiyakan takut dijewer, ingin menolak tapi si jamur raksasa keburu on mendengar bujuk rayu bak bulu perindu.


Luiz menghembuskan napasnya, kepalanya menggeleng pelan.


"Tidak, Dasha, tidak boleh ..." ucap Luiz dengan berat hati namun terdengar tegas, sambil berusaha memberi jarak antara tubuhnya dengan tubuh Dasha.


Dasha terlihat menatap Luiz dengan ekspresi wajah protes. "Tapi aku ..."


"Aku bilang tidak." tegas Luiz lagi membuat bibir Dasha sontak mencebik naik dua centi.


"Sayang, dengarkan aku dulu ..."


"No ..."


"Sayang ..."


"Mommy bisa marah besar kalau aku ..."


Mengambang.


Dalam hati Dasha tersenyum menang saat kalimat penolakan Luiz yang awalnya begitu gencar dan solid kini terhenti di udara begitu menyaksikan Dasha yang nekad menurunkan resleting depan dari dress rumahan yang dipakainya, menanggalkannya dengan berani tepat didepan mata Luiz hingga dress tersebut teronggok di lantai yang dingin.


"Dasha ... kau ... apa yang sedang kau lakukan ...?" Luiz menyentuh panik belakang tengkuknya, yang meremang tanpa tercegah.


Pemandangan sen sual itu telah membuat Luiz menyadari satu hal, bahwa tubuh mungil yang seputih susu milik Dasha, sudah jelas begitu pas dengan warna kulit pucat miliknya.


Kepala Luiz dilanda pening mendadak saat menyadari bayangan ero tis mereka di bukit itu kembali memenuhi setiap inchi otak mesum miliknya, sementara sang jamur raksasa dibawah sana terus saja mengamuk, dan semakin mengetatkan celana.


Luiz belum juga bisa memutuskan keputusan yang akan ia ambil, antara menepis rejeki di depan mata atau malah menyambutnya dengan tangan terbuka, manakala Dasha terlihat berjalan lurus kearah ranjang besar milik Luiz, dan menaruh dirinya diatas sana tanpa ragu ... lengkap dengan pose menantang.


'Oh my ....'


Luiz kembali meremas tengkuknya yang ikut menegang.


'Mommy, maafkan anakmu ini ...'


Ungkap bathin Luiz saat menyadari naf su bira hi yang tak lagi terkendali, manakala langkahnya terayun cepat kearah ranjang, siap menyongsong sang kekasih yang terus berusaha membakar has ratnya hingga membara ... menerkamnya tanpa ampun.


Dalam diam Dasha tersenyum penuh kemenangan, diantara dashyatnya pergumulan yang semakin lama semakin terasa panas suhunya.


"Emmhh ... sayaaanng ... ohhh ..."


Dasha merengek manja, diantara gempuran cinta Luiz yang menggelora.


Napas Luiz yang berat seolah berpadu sempurna dengan gerakan pinggulnya yang terus berpacu. Sedikit tak beraturan, namun menusuk kuat dan bertenaga.


Kedua tubuh yang menyatu itu terlihat bergerak brutal dalam irama yang sama.


Tereng ah, dan berpeluh ...


Terus mengayuh mahligai cinta yang terasa semakin utuh ...


... NEXT


Sebelum NEXT jangan lupa di LIKE dulu yah ... 🥰

__ADS_1


__ADS_2