TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 75. Pingsan


__ADS_3

Luna yang baru saja tiba dikamar bersama Dimitri kembali membuka pintu kamarnya, yang barusan terkatup begitu ia mendengar bunyi ketukan berkali-kali.


"El ...?" alis Luna bertaut mendapati sang kakak yang berdiri tegak, tepat dibingkai pintu kamar miliknya.


"Mana Dimitri?" tanya El, ia telah mengacuhkan wajah keheranan Luna saat menyadari sosok Dimitri yang tidak terlihat.


"Dimitri sedang mandi. Memangnya ada apa? Apa yang terjadi?" ujar Luna menyadari raut wajah El yang terlihat aneh.


"Victoria."


"Victoria? Ada apa dengan Victoria?"


"Luna, kamar Victoria telah kosong."


"Apa?!" Luna menatap El tak percaya. "Tidak mungkin. Kau pasti salah ..."


"Tidak Luna, aku melihatnya sendiri, bahwa saat ini kamar Victoria sedang dibersihkan oleh dua orang petugas kebersihan hotel. Saat aku bertanya dimana pemilik kamar itu berada, mereka malah berkata penghuni kamar tersebut telah check out pada setengah jam yang lalu."


Tentu saja Luna terkejut mendengar penuturan tersebut. Ia masih tidak bisa mempercayai El sepenuhnya. "Bukankah tadi sore Victoria masih berada ditepi pantai sambil menikmati sunset?"


"Saat menerima telepon di pantai, aku juga masih melihatnya berdiri menatap laut dan langit bersama beberapa karyawan wanita Mega Florist. Karena itulah aku pun tidak mempercayai semua ini, sehingga aku memutuskan untuk menemuimu langsung ..."


"Tunggu sebentar El, aku akan mencoba menelponnya." pungkas Luna sambil berbalik guna mengambil ponsel, sementara El akhirnya memutuskan untuk mengikuti langkah Luna yang masuk kedalam kamarnya.


El memutuskan duduk diam di sofa sudut, dengan sepasang matanya yang terus mengawasi gerak-gerik Luna yang duduk tepat dihadapannya, sedang berusaha menghubungi Victoria.


"Tersambung?" tanya El penasaran, yang disambut anggukan kepala milik Luna.


"Hhmm ..."


Sesaat kemudian wajah El ikut menegang menyadari panggilan Luna telah direspon Victoria dari seberang sana, dan wajahnya pun berubah lesu, usai menyimak pembicaraan tersebut.


Kecurigaan Leo terbukti benar, sesuai dengan hasil klarifikasi dari Victoria sendiri kepada Luna adiknya.


Victoria memang telah pergi. Sebuah urusan keluarga telah menjadi alasan yang terdengar sangat tepat diucapkan oleh Victoria, mampu membuat Luna mengurungkan niatnya yang hendak menginterogasi wanita itu perihal kepergiannya yang tiba-tiba.


Sirna semua harapan El atas kesempatan mendekati Victoria yang telah ia rancang dengan sedemikian rupa, hingga rela melibatkan seluruh karyawan Mega Florist tanpa tersisa!


"Huhhff ..."


Hanya hembusan nafas berat yang mengiringi langkah El saat pria itu memutuskan keluar dari kamar Luna dengan langkah gontai, diiringi tatapan iba sepasang mata Luna yang terus menatap punggung lebar El, hingga hilang dibalik daun pintu kamarnya yang kembali terkatup rapat.


🌸🌸🌸🌸🌸


Usai dinner dimalam itu, El telah menepi dari keramaian serta suara gelak tawa setiap orang, yang sedang menyaksikan aksi seorang komika berdarah manado yang sedang unjuk kebolehan dalam bakat stand up comedy.


El masih bisa mendengar semuanya sayup-sayup, meskipun sepasang kakinya telah melangkah gontai, memilih keluar dari aula hotel xx, guna menghirup udara segar diluar ruangan dengan kapasitas maksimal yang bisa mencapai hingga seribu orang itu.


Langkah kaki El yang terayun ringan tanpa tujuan, pada akhirnya kembali membawa El ke pesisir pantai dengan debur ombaknya yang tenang, sekaligus mengantarkan dirinya tanpa sengaja kepada sosok tubuh wanita yang berdiri seorang diri dengan kaki telanjang.


"Florensia ...?" desis El tanpa sadar, cukup membuat wanita yang sedang berdiri diatas pasir dengan sebelah tangan menentang high heels itu menoleh kearah El dengan raut wajah yang tak kalah terkejut.


"El ...? Kenapa kau ada disini?" pungkas Florensia yang sungguh tidak menyangka, bisa bertemu El dibawah sinar bulan yang mengintip dibalik awan berwarna gelap.


Wanita itu berdiri tegak dengan gaun selutut, ujung gaunnya terlihat melambai kecil tertiup angin malam yang syahdu.


"Kau sendiri ... untuk apa kau berada disini seorang diri? Apa kau tidak khawatir jika Tuan yang hebat itu akan mencarimu?"


Mendengar kalimat yang sedikit berbau sarkas itu Florensia malah tertawa kecil.


"Maksudmu Tuan Luiz?"


El memilih tidak menjawabnya. malah membuang wajahnya kearah debur ombak dibawah sana.


"Katakan padaku, apa saja yang kau pikirkan tentang aku dan Luiz?" pancing Florensia yang malah dihadiahi senyum mengejek El.

__ADS_1


"Memangnya aku harus memikirkan apa? Aku bahkan tidak peduli ..."


"Aku tahu, kau pasti tidak mungkin peduli."


"Of course ..."


"Tidak apa-apa, aku bahkan telah memutuskan untuk menyerah mengenai segala sesuatu yang menyangkut dirimu."


Mendengar pernyataan langsung bahwa pada akhirnya Florensia memilih menyerah, membuat El langsung menatap tajam Florensia.


"Mudah sekali kau berpaling ..." desis El tak bisa lagi menyembunyikan raut kesal, yang menggantung jelas di wajahnya.


"Bukan berpaling, tapi mencoba berjalan di jalan yang berbeda."


El melengos. "Akui saja bahwa semua yang kau katakan barusan, semata-mata karena kau telah berhasil mendekati Tuan Luiz dengan begitu mudahnya."


"Bukan begitu, El. Yang benar adalah kedua orang tua kami merupakan kolega bisnis di masa lalu, sehingga di masa depan, mereka juga berusaha membuat hubungan yang ada akan terus terikat dengan erat." tepis Florensia akan kalimat ketus El.


'Pantas saja,'


'Sepertinya untuk hal ini Florensia berkata benar,'


'Ayah Florensia adalah seorang pebisnis ulung, sementara ayah Luiz adalah seorang legenda.'


'Seorang Tuan Arshlan yang hebat, tidak ada yang tidak mengenalnya ...!'


El membathin sejenak.


"Sejujurnya saat ini kami sedang berusaha melakukan penjajakan. Kedua orang tua kami ingin kami bisa bersama di masa depan, namun semua keputusan tetaplah berada ditangan kami kelak ..."


Entah kenapa mendengar kejujuran Florensia, secara tiba-tiba telah membuat El semakin menjadi tidak nyaman.


Sejauh ini Luiz tidak hanya dikenal sebagai pewaris tunggal sebuah perusahaan terbesar di negeri ini, namun El juga harus mengakui bahwa pria itu juga memiliki fisik yang menawan.


'Pria itu terlihat sangat gentleman, karena mampu memperlakukan Florensia dengan sangat baik ...'


'Mereka juga terlihat cukup akrab ...'


'Apakah itu berarti ... mereka ...'


Sungguh, semua yang terjadi sangat diluar ekspektasi El.


Wanita yang sejak awal hanya sibuk mencari cara untuk mengejarnya seperti orang gila, sekarang malah memiliki masa depan dengan orang lain.


El bahkan tak habis pikir, mengapa secara tiba-tiba bathinnya ikut-ikutan nyeri mendapati kenyataan jika Florensia telah dijodohkan oleh seseorang yang notabene berada diatasnya?


Pikiran El semakin mengembara liar, dan menjadi kalut dalam waktu singkat, hanya dengan membayangkan Florensia yang akan di sunting oleh pria sehebat Luiz!


"El, maafkan aku jika aku telah menyusahkanmu selama ini. Sesungguhnya aku sangat menyukaimu, tapi pada akhirnya aku harus berusaha menerima jalan takdirku ..."


"Apa kau yakin semua ini akan membuatmu bahagia? Kau yakin bisa bahagia jika menapak masa depan dengan pria yang tidak kau suka?"


Florensia tersenyum kecut mendengarnya. "Lalu aku harus bagaimana, El? Kebahagiaanku adalah jika aku bisa mendapatkan cintamu ... sedangkan kau ... kau justru membenci kehadiranku ..."


"Aku tidak membencimu."


Saat El menoleh, ia malah mendapati pemandangan sepasang mata indah yang bertelaga. El tercenung menyaksikannya, lidahnya menjadi kelu.


"Aku ... aku hanya merasa bahwa kehadiranmu selama ini ... cukup mengganggu ..."


"Mulai sekarang aku akan berusaha sekuat tenaga, agar tidak mengganggumu lagi ..."


"Kau ...?"


"Maafkan aku, El. Mungkin sudah saatnya aku menyerah ..."

__ADS_1


"Flo, kau ... kau ..."


"Semuanya terasa sangat berat, tapi demi dirimu ... aku harus mengatakannya ..."


"Jangan melakukan sesuatu yang tidak bisa membuatmu bahagia." larang El entah mendapat kekuatan darimana.


Entahlah ...


Yang jelas El pun tidak mengerti, mengapa tiba-tiba ia menjadi tidak rela jika Florensia akan bersama pria lain, dan berhenti mengejarnya seperti yang selama ini wanita itu lakukan.


"Aku telah melakukan apa yang selama ini aku pikir akan membuatku bahagia. Tapi ternyata hatiku semakin terluka ..."


El tergugu mendapati kalimat lirih itu.


"Selamat tinggal, El."


Tangan kanan Florensia terangkat guna menyentuh lembut pelipis kiri El yang mematung mendapati kelembutan Florensia.


Mendadak semua perjuangan Florensia selama ini untuk mendapatkan hatinya seolah terputar bak sebuah reka ulang kejadian perkara.


Florensia yang selalu berada di pelupuk mata El, memberikan perhatian tanpa henti ...


Entah kekuatan darimana yang telah membuat El maju selangkah, meraih pinggang ramping wanita itu dengan tangan kanannya yang kuat, sebelum akhirnya menunduk guna melabuhkan bibirnya diatas bibir Florensia yang terhenyak dalam diam.


'Manis ...'


El membathin dalam hati, saat bibirnya telah mengu lum penuh kelembutan.


Sementara itu Florensia telah terpaku ditempatnya. Ia sungguh tak menyangka bahwa saat ini pria yang selalu menepis kehadirannya sekian lama telah mengambil sesuatu yang selama ini ia jaga dengan sepenuh jiwa.


'Ciuman pertamaku ...'


Kesadaran Florensia lambat laun semakin memudar, seiring dengan sebuah lidah yang terasa semakin berani saat berusaha menerobos celah bibirnya ... menyentuh ujung lidahnya ... mereguk saliva dalam rongga mulutnya ...


Melayang.


Florensia merasakan dadanya berdebar kencang ...


Jantungnya berdetak semakin cepat ...


Tubuhnya seringan kapas ...


Detik berikutnya semua dunia Florensia yang terasa jungkir balik berubah menjadi hampa ...


Gelap ...


Semakin gelap ...


🌸🌸🌸🌸🌸


"Florensia ...?"


El terkejut setengah mati saat menyadari seluruh bobot tubuh Florensia telah jatuh kedalam pelukannya begitu saja.


"Flo ...? Florensia ...?!"


El berusaha menepuk lembut pipi yang terasa dingin oleh hembusan angin malam, sementara titik-titk kecil air yang berasal dari langit malam mulai menyentuh kulit.


"Astaga, kenapa dia malah pingsan?" El terhenyak mendapati kenyataan bahwa Florensia telah kehilangan kesadarannya, hanya karena menerima sentuhan lembut dibibirnya yang ranum.


El tidak memiliki pilihan lain selain memapah tubuh ramping Florensia yang tak bertenaga, membawanya menuju gazebo terdekat dengan langkah yang sedikit berlari kecil, menghindari air hujan yang semakin mengucur deras ...


...


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2