
Double up.
....
Antrian panjang kendaraan yang memenuhi jalan ditengah derasnya hujan, nampak telah terjadi didepan mata.
"Kenapa macetnya separah ini sih?" Florensia menatap kedepan dengan wajah frustasi.
"Sepertinya didepan sana telah terjadi sesuatu. Bisa jadi kecelakaan atau ada pohon yang tumbang."
Mendengar jawaban El tersebut Florensia sontak memijat kedua alisnya. Benaknya mendadak kalut terlebih saat melirik jam tangan yang melingkar manis dipergelangan tangan kirinya.
Bukan apa-apa, tapi Florensia hanya khawatir, kalau terus begini keadaannya bisa-bisa ia tidak bisa menepati janji untuk menjemput ayah.
"Jam berapa ayahmu tiba?" tanya El, kali ini ia telah menatap serius wajah Florensia.
"Kurang lebih setengah jam lagi."
"Aku akan menelepon Rio agar bisa menugaskan seorang anak buah daddy untuk menjemput ayahmu di bandara." putus El sambil merogoh ponsel.
Yang dimaksud dengan El dengan Rio adalah tak lain asisten pribadi daddynya, yang merupakan satu-satunya orang yang bisa El andalkan dalam situasi seperti ini.
El memang tidak bisa berbuat lebih untuk membantu Florensia selain mengandalkan fasilitas kedua orang tuanya dan Luna adiknya, karena lebih dari lima tahun terakhir ini El telah tinggal terpisah dengan keluarganya, demi mengurus beberapa bisnis keluarga juga bisnisnya sendiri yang berada diluar negeri.
Disana pulalah untuk yang pertama kalinya El mengenal Florensia pada lima tahun yang lalu, di sebuah pesta ulang tahun seorang teman, dan terhitung sejak saat itu Florensia terus berusaha menempel padanya seperti kutu.
Florensia adalah gadis yang manja namun cukup nekad. Wajar saja, karena dia adalah anak tunggal dari seorang pengusaha sukses.
Ayah Florensia merupakan orang yang cukup berpengaruh, mungkin itulah salah satu penyebab, mengapa selama ini Florensia terkesan begitu keras kepala jika sudah menginginkan sesuatu.
Kepulangan El kali ini merupakan agenda rutin El dalam melepas rindu dengan kedua orang tuanya juga Luna, adiknya semata wayang.
Sehingga adalah kebetulan yang sangat mencengangkan, jika saat ini El justru begitu sering bertemu Florensia secara tidak sengaja.
Ternyata dunia ini memang sangat kecil ...!
"Tidak perlu repot-repot, El. Aku akan mengirimkan pesan kepada ayah, bahwa aku tidak bisa menjemputnya, sehingga ayah harus memesan taxi online saja menuju hotel."
El melirik kesal kearah Florensia, yang baru saja menolak niat baiknya tanpa canggung.
Namun meskipun demikian, sedikitpun El tidak berniat membatalkan panggilannya kepada Rio, yang merupakan asisten pribadi sang daddy.
"Halo, Rio, ini aku ... El ..."
Ucap El begitu panggilannya di respon.
"Rio, tolong perintahkan seorang anak buah daddy untuk menuju bandara sekarang juga, menjemput seseorang yang sangat penting ..."
Florensia yang duduk sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya untuk sang ayah, sontak terhenyak mendengar kalimat to the point El tersebut. Ia sungguh tidak menyangka bahwa ternyata El tidak mengindahkan perkataannya barusan.
"El, kan sudah aku bilang tidak usah ..."
"Pergilah sekarang juga, di terminal kedatangan internasional. Untuk detailnya akan aku infokan via chat saja ..."
Pungkas El, yang kemudian terlihat menutup pembicaraan tersebut tanpa mempedulikan tatapan protes Florensia.
Detik berikutnya El justru lebih sibuk mengetikkan sesuatu dilayar ponselnya.
__ADS_1
Tanpa perlu menanyakan kesediaan Florensia terlebih dahulu, dengan yakin El telah mengetik nama Jody Frederick, yang merupakan nama dari ayah Florensia, sementara untuk visual pria paruh baya itu bukanlah hal yang sulit bagi El untuk mendapatkannya.
Wajah Jody Frederick dengan mudahnya didapatkan El dari mesin pencarian yang ada di ponsel miliknya, dan El tinggal mendownload salah satu foto, sehingga ia bisa mengirimkannya kepada Rio sebagai petunjuk bagi si penjemput.
"Done ...!"
Raut kepuasan menggantung nyata di wajah tampan El, seolah ia tak peduli sama sekali meskipun wajah Florensia yang ada disampingnya telah menatapnya dengan tatapan jutek.
"Marahlah jika kau ingin marah, tapi aku tidak akan membatalkan semua tindakanku, hanya karena kau tidak suka."
"Tapi El ..."
"Jangan lupa beritahukan ayahmu, bahwa ada seseorang yang akan menjemputnya di bandara."
"Dia adalah ayahku, untuk apa kau begitu peduli ..."
"Memang dia ayahmu."
"Lalu kenapa kau ..."
"Florensia, hentikan sikap keras kepalamu. Mengapa kau tega sekali ingin membiarkan ayahmu naik taxi online?"
Florensia terdiam sambil menentang kilau mata El yang menyorot tajam.
'Seharusnya aku yang bertanya, El ... Sikapmu ini ... apakah kau tau? Semua itu menyiksaku ...!'
'Kenapa kau menjadi sebaik ini, disaat aku tidak lagi memiliki harapan untuk meraih hatimu ...?'
Pada akhirnya Florensia telah membuang pandangannya kembali keluar jendela, tak kuasa menentang sepasang mata El yang seolah tak gentar mengulitinya.
'Hatiku sudah terluka begitu rupa ... dan pria ini masih mau menambah takarannya lagi ...'
"Flo, ayahmu bukanlah orang sembarangan. Meskipun berada diluar negeri, tidak menutup kemungkinan akan ada yang mengenalinya. Kau tidak bisa seenaknya membiarkan ayahmu pergi ke hotel dengan menggunakan taxi online ..."
Florensia terdiam mendengar penuturan El.
Semua yang diucapkan El memang ada benarnya, namun sejauh ini baik ayah maupun dirinya tidak terlalu memberi standar yang ketat dalam kehidupan mereka.
Memang benar, Jody Frederick adalah pria yang easy going dalam kesehariannya, meskipun beliau masuk dalam jejeran sepuluh orang terkaya dan berpengaruh di negara mereka.
Bukan hal yang aneh jika dalam moment-moment tertentu, pria paruh baya itu lebih suka berpergian dengan menggunakan berbagai fasilitas yang bersifat komersil, serta tak lupa menyamarkan diri agar tidak menarik perhatian orang lain, sehingga orang lain tidak bisa mengenali siapa dirinya.
"Biasanya tidak ada yang bisa mengenali ayah ..." lirih Florensia.
"Aku tahu, ayahmu memiliki kebiasaan yang suka berpergian dengan penampilan yang tidak bisa dikenali orang lain dengan mudah. Tapi keselamatan ayahmu jauh lebih penting dari apapun."
Kalimat El sanggup membuat Florensia tertunduk dalam.
Separuh hatinya terenyuh mendapati perhatian El yang begitu besar, sementara sebuah kesedihan ikut memeluk sisi hatinya yang lain dengan utuh.
Hujan masih tercurah dari langit dengan begitu keras, namun mobil mereka begitupun dengan mobil lainnya, belum juga bergerak seinchi pun.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Getaran ponsel yang sengaja di taruh disaku kiri jaketnya membuat El terjaga, tersentak kaget saat menyadari, meskipun tubuhnya sangat kelelahan setelah aktifitas seharian, namun bisa-bisanya ia tertidur dalam keadaan seperti ini.
El menarik nafas lega saat menyadari kemacetan yang ada dihadapannya sama sekali belum terurai, dan sedikit tersenyum saat menoleh kesamping dan mendapati wajah Florensia yang juga tertidur pulas seperti dirinya.
__ADS_1
"Halo, Rio?"
Ujar El dengan nada suara perlahan, saat menyadari bahwa panggilan tersebut berasal dari Rio, asisten daddy yang senantiasa sigap dalam menghandle apapun.
"Oh, syukurlah ... begitu aku dan Florensia bisa keluar dari kemacetan parah ini, aku akan segera menuju ke hotel mercy." pungkas El lagi masih dengan suara perlahan, seolah takut mengusik wanita yang tertidur lelap dikursi yang ada disebelahnya.
Yah, Rio baru saja memberikan informasi bahwa ayah Florensia telah sampai di hotel mercy, sebuah hotel mewah bintang lima yang menjadi tempat menginap pria itu untuk beberapa hari kedepan.
"Apakah ayah sudah sampai?" suara sedikit serak terdengar menghentak kesunyian dalam bilik mobil yang sejuk.
"Hhmm ... Rio sudah memastikan bahwa ayahmu sudah sampai di hotel mercy."
"Benarkah?"
El mengangguk lagi, entah kenapa El seolah merasa tidak bisa mengalihkan tatapannya seinchi pun pada Florensia, yang sedang berusaha memperbaiki posisi tubuhnya, kemudian merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dengan ala kadarnya, menggunakan jemari lentik wanita itu.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apakah ada sesuatu di wajahku?" Florensia mengusap wajahnya rikuh seolah ingin menepis sesuatu.
El menggeleng. "Tidak ada."
"Tidak ada ...? Tapi kenapa kau ..."
Florensia membeku, sepasang matanya telah menatap El dengan wajah yang sedikit panik, terlebih saat menyadari wajah El yang terus mendekat ke wajahnya.
Seinchi demi seinchi ...
Semakin dekat ...
Terus mendekat ...
Teeennn ...! Teeeeenn ...! Teeeennnnn ...!!
Bunyi suara klakson mobil yang bersahut-sahutan dari belakang telah membuat keduanya tersentak jengah.
Begitu tersadar, El baru mengetahuinya bahwa ternyata jalan yang ada dihadapannya telah menjadi lapang karena kemacetan yang telah terurai, entah sejak kapan.
Pantas saja deretan mobil yang ada dibelakang mobil mereka menjadi tidak sabar, sehingga membunyikan klakson berkali-kali.
'Astaga apa yang baru saja aku lakukan? Aku hampir saja tergoda untuk mencium Florensia kembali ...!'
Dengan sedikit tergesa El menginjak pedal gas mobil.
Pikiran El begitu kacau, seolah setiap syaraf otaknya sedang bertengkar satu sama lain.
Ada yang mengutuk kemesumannya ... namun sebagian besar malah mengutuk jejeran mobil yang berada dibelakang mobil mereka, yang telah berhasil mengganggu sebuah moment indah yang hendak terulang untuk kedua kalinya!
'Dasar klakson mobil sia lan! Mengganggu saja!"
Umpat sisi hati El, tanpa sadar tangan kanannya telah menyentuh tengkuknya sendiri, menggaruknya meskipun tidak merasa gatal.
Sementara itu Florensia yang merasa tidak punya muka lagi terlihat memalingkan wajahnya jauh kearah kaca yang ada disampingnya.
'Apa tadi itu ...? Apakah tadi El hendak berencana menciumku lagi ...?'
Tanpa sadar nafas Florensia terhembus sangat berat, detak jantungnya pun ikut berdegup tak karuan.
'Untung saja tidak terlanjur terjadi, karena kalau tidak, aku pasti akan pingsan lagi ...!'
__ADS_1
...
Bersambung ...