
Double up untuk hari ini, sebagai ungkapan maafku karena kemarin absen up.. 🙏
...
Untuk yang kesekian kalinya Asisten Jo melirik kearah spion tengah, dimana wajah Lana terlihat semakin pucat seperti mayat.
"Nyonya.. kau tidak apa-apa..?" Asisten Jo membalikkan tubuhnya sejenak, agar bisa mendapati wajah Lana dengan utuh.
"Tidak apa-apa, Asisten Jo. Aku baik-baik saja.." jawab Lana lesu.
Tentu saja Lana berbohong. Bagaimana mungkin dirinya baik-baik saja, usai menandatangani dokumen perceraian..?
Tidak hanya itu. Arshlan bahkan tega mengirimnya begitu jauh keluar negeri, dengan dalih meneruskan kuliah disaat yang sama.
"Akhir-akhir ini Nyonya tidak makan dengan benar. Tadi pagi, Nyonya juga tidak menghabiskan sarapan. Mungkin itu sebabnya wajah Nyonya sangat pucat.."
Lana menyandarkan tubuhnya yang terasa lemah kesandaran kursi. Jemarinya ikut memijat kedua pelipisinya, mencoba mengusir rasa pening yang menggerogoti disana.
Yang dikatakan Asisten Jo benar. Akhir-akhir ini pola makannya memang terganggu, akibat beban pikiran yang membuat selera makannya ikut menguap.
Meskipun pada akhirnya semuanya sia-sia, berakhir dalam sekejap mata.
Lana sungguh tidak menyangka, kisahnya bersama Tuan Arshlan akan berakhir secepat ini. Karena rasa cinta, kasih sayang, ketulusan, semua yang Lana lakukan.. tidak ada satupun yang bisa menyentuh hati pria itu.
"Nyonya Lana, apa kau butuh sesuatu..?" suara Asisten Jo menyentak lamunan Lana.
Lana membuka matanya yang terpejam, sosok Asisten Jo masih berada disana, masih berbalik badan nyaris seratus delapan puluh derajat kearahnya seolah sedang memastikan keadaannya.
"Permen kapas.."
"A-apa..?" alis Asisten Jo bertaut mendengar permintaan aneh Lana.
"Aku ingin makan permen kapas.."
Asisten Jo sedikit terhenyak. Awalnya ia mengira salah mendengar.. tapi ternyata telinganya tidak salah, karena Lana benar-benar menginginkan permen kapas.
"Bisakah aku mendapatkan permen kapas ditengah perjalanan ke airport..?"
Lana menatap Asisten Jo dengan bersungguh-sungguh, sementara wajah pria paruh baya itu terlihat keheranan mendapati permintaannya yang terdengar aneh.
"Waktu kecil aku suka sekali permen kapas.. entah kenapa saat ini ingin sekali memakannya lagi.."
__ADS_1
Asisten Jo melirik arloji yang ada dipergelangan tangannya. "Ada banyak penjual permen kapas dipinggir jalan area pasar tradisional. Kalau Nyonya mau, kita masih bisa pergi membelinya terlebih dahulu.."
Kemudian Asisten Jo menoleh kearah sopir yang ada disisinya.
"Nanti didepan sana belok kiri.. kita akan mengambil jalan memutar agar bisa melewati pasar tradisional.."
"Baik, Asisten Jo." sopir tersebut mengangguk patuh, dengan gesit langsung menyalakan lampu sein kiri begitu belokan yang dimaksud Asisten Jo terlihat.
"Kira-kira lima puluh meter kedepan kita akan memasuki area pasar tradisional. Itu adalah area yang ramai, pelankan laju mobilnya."
"Baik, Asisten Jo." lagi-lagi sopir itu mengangguk patuh.
Bertepatan dengan itu ponsel Asisten Jo berbunyi.
'Tuan Arshlan calling..'
Asisten Jo menggeser icon hijau dipermukaan layar ponsel guna menerima panggilan tersebut, sambil menegakkan tubuhnya, menatap kearah jalan yang mereka lalui didepan.
"Iya, Tuan." Asisten Jo menjawab dengan suara perlahan.
"Kenapa kalian mengambil rute memutar..?" tanya Arshlan to the point, begitu ia menyadari titik yang menunjukkan pergerakan mobil yang hendak membawa Lana ke airport kini bergerak kekiri, mengambil jalan memutar.
"Asisten Jo, itu disana ada penjual permen kapas..!"
Arshlan bahkan ikut mendengar saat suara Lana menyela tiba-tiba dari bangku belakang.
"Hentikan mobilnya didepan." titah Asisten Jo perlahan kearah sopir, masih dengan sebelah tangannya yang terangkat, dengan ponsel yang menempel disebelah telinganya.
"Biar aku saja yang akan turun dan membelinya sendiri.." dengan wajah berseri Lana berucap demikian, sambil meraih gagang pintu disebelahnya tanpa bisa tercegah.
"Jangan biarkan Lana turun sendirian, Asisten Jo."
"Nyonya Lana tunggu.. jangan pergi, biar aku saja..!"
Terlambat, Lana telah melompat keluar, dengan tatapan yang hanya terpaut keseberang jalan.
Melihat itu refleks Asisten Jo keluar dari mobil dengan tergesa, hendak menyusul Lana yang berniat menyeberang jalan menuju lapak kecil penjual permen kapas.
"Nyonya Lana..!! tunggu..!!"
Cciiiiieetttt..!
__ADS_1
Bughh..!
"Aaaaaa..!!"
"Oh Tuhan..!! Nyonya Lanaaa..!!"
Diujung sana Arshlan langsung terlonjak dari duduknya, yang sejak tadi terpekur sambil menatap tanda tangan Lana diatas dokumen perceraian.
"Asisten Jo, ada apa..?! halo..?! Asisten Jo..!!"
Asisten Jo tak lagi menghiraukan teriakan panik Arshlan dari dalam ponselnya, ia telah berlari secepat kilat mendekati kerumunan manusia yang terbentuk begitu saja, usai sebuah mobil berjenis pick up telah menyerempet seorang gadis muda yang hendak menyebrangi jalan dengan wajah semringah.
"Halo..?! Asisten Jo.. katakan padaku ada apa.?! dimana Lana..?? katakan padaku Lana baik-baik saja..!! Asisten Jo..!! demi Tuhan..!!"
Suara panik Arshlan terus terdengar berteriak seperti orang gila, namun Asisten Jo lebih memilih untuk menyeruak kerumunan manusia terlebih dahulu.
"T-Tuan.. Nyonya.. Nyonya Lana..!!"
Asisten Jo terlihat panik, saat menyadari tubuh Lana tergeletak tak bergerak didekat trotoar jalan, bersimbah darah segar.
"Lana.. demi Tuhan.." desis Arshlan sambil berjalan kesana kemari. "Asisten Jo..!! Asisten Jooooo..!!"
"T-Tuan.. Tuan Arshlan.."
"Katakan.." lirih Arshlan, pandangannya mulai buram dalam sekejap, menyadari suara Asisten Jo yang terdengar bergetar jelas diujung sana.
Detik berikutnya, usai mendengar sepenggal kalimat Asisten Jo, Arshlan telah terduduk dilantai kamarnya yang dingin.
Kedua matanya dipenuhi air mata..
Hatinya dipenuhi penyesalan..
...
Bersambung..
Jangan lupa di like dua bab-nya sekaligus yah.. 🙏
Tuan "J" mau tamat nih.. kencengin suportnya yah.. like, coment, terlebih hadiah dan vote.. 🤗
Thx & Lophyuuu all.. 😘
__ADS_1