TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 62. Kecurigaan Leo


__ADS_3

"Jadi Tuan sengaja melakukan semua ini karena permintaan Nyonya Lana?" Dasha bertanya kepada Luiz yang sedang melingkarkan kedua lengan ketubuhnya dari belakang.


Saat ini mereka sedang berdiri sambil menatap pemandangan kota yang bak miniatur menakjubkan, dengan posisi Luiz yang terus memeluk tubuh Dasha, seolah enggan ia lepaskan meskipun sesaat.


"Bukan permintaaan Mommyku, tapi lebih tepatnya aku yang menawarkan diriku sendiri." pungkas Luiz.


"Tuan tidak takut kalau nanti Nyonya Lana akan menaruh curiga seperti diriku pada awalnya, kemudian berpikir bahwa Tuan masih menaruh hati kepada Nona Victoria?"


"Aku tidak memikirkan hal itu. Yang aku pikirkan hanya bagaimana caranya agar aku bisa membuatmu berada didekatku." berucap demikian sambil mencium pundak mungil Dasha dengan gemas.


"Jadi kue ulang tahun dan sepasang anting itu ...?"


"Mommy sudah memesan kue itu sehari sebelumnya, dan aku tinggal mengambilnya saja. Kalau tentang sepasang anting yang cantik, itu adalah usul Daddy untuk menghadiahkan sesuatu yang istimewa." kali ini Luiz menaruh bibirnya di permukaan kulit leher Dasha yang lembut, membuat gadis itu sedikit menggelin jang geli.


"Tuaaann ... aku juga mau diberikan hadiah olehmu ..."


Luiz mengangkat wajahnya sambil tertawa kecil mendengar rengekan manja Dasha. "Kau kan tidak berulang tahun. Lalu untuk apa meminta hadiah?" ucapnya sengaja menggoda.


Mendengar itu wajah Dasha terlihat cemberut. "Memangnya Tuan tidak berpikir untuk memberikan aku sesuatu ...?"


Luiz tersenyum kalem. "Apakah seluruh hatiku belum cukup untukmu?"


Dasha menggeleng manja sambil bergelung di lengan kekar Luiz. "Pokoknya aku juga mau sesuatu dari Tuan."


"Barusan aku menawarkan bukit ini untuk jadi milikmu, tapi kau malah meragukannya."


Dasha bangkit begitu saja dari dalam pelukan Luiz. Sepasang bola matanya yang indah bergerak-gerak ragu seolah berusaha menggali sedalam apa kesungguhan dari pria yang ada dihadapannya.


"Nah, aku berkata benar kan ...? Sekarang lagi-lagi kau meragukan aku ..."


"Tuan, jangan bercanda. Aku sangat suka bukit ini, jadi jangan membuatku patah hati!"


Luiz tertawa lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Wajah merenggut Dasha terlihat begitu menggemaskan dimatanya, dan ia pun kembali menarik pergelangan tangan mungil itu, memaksanya kembali kedalam pelukan, tidak suka jika tubuh mereka berjarak.


"Aku ingin bercerita sedikit tentang bukit ini kepadamu, agar kau yakin bahwa aku tidak sedang bercanda." ujar Luiz sambil mengelus setiap helai rambut Dasha yang tergerai dengan aroma yang menyegarkan.


"Ceritakan Tuan, aku ingin mendengarnya."


Luiz Mengu lum senyum. "Awalnya, aku menemukan bukit ini secara tidak sengaja, saat aku berkendara tak tentu arah, untuk menghilangkan kebosanan. Sejak saat itu aku sering datang kesini seorang diri hanya untuk merenung atau melepas penat. Setahun yang lalu, aku mendengar kabar bukit ini hendak di lelang. Pemilik bukit ini adalah seorang pria tua penderita parkinson, yang karena faktor usia beliau ikut menderita berbagai penyakit komplikasi akut. Untuk membiayai pengobatan pria itu, cucunya yang merupakan satu-satunya ahli waris telah membuka lelang secara umum, bertujuan menjual bukit ini dengan harga fantastis, dan dari situlah akhirnya aku berhasil mengambil alih kepemilikan bukit ini, dengan membelinya lewat jalur tersebut."


Dasha terhenyak mendengar cerita panjang lebar milik Luiz.


"Jadi sekarang ... Tuan benar-benar telah menjadi pemilik bukit ini?"


"Dalam waktu dekat kau yang akan jadi pemiliknya."


"Tuaaaann ..." pekik Dasha masih saja meragu, namun tak bisa lagi menyembunyikan rasa kebahagiaan.


Dasha telah keluar dari rengkuhan posesif milik Luiz, menggantinya dengan bergelayut manja dileher pria itu.


Luiz tersenyum menerima kemanjaan Dasha yang sangat menyenangkan hati. "Apakah kau senang?"


"Hmm, tentu saja,"


"Lalu, apa yang bisa aku dapatkan setelah ini?" pancing Luiz sambil menyeringai nakal.

__ADS_1


"Tuan, bisa meminta apapun." ucap gadis itu penuh percaya diri.


"Benarkah?"


"Hhmm.."


"Kalau begitu aku mau ini." Luiz mengusap bibir Dasha dengan ibu jarinya.


"Hanya ini?"


Luiz terkesiap mendengar kalimat yang terucap enteng dan sedikit menantang, terlebih saat menyaksikan Dasha malah mengecup ibu jarinya tanpa canggung.


"Dasha, kau ..."


"Padahal kalau Tuan mau, Tuan bisa meminta semuanya ..." bisik Dasha sambil tersenyum centil saat melihat wajah Luiz yang awalnya penuh kepercayaan diri kini terlihat sedikit memerah.


"S-semuanya?"


"Iya, semuanya untuk Tuan ..."


Luiz terdiam. Namun didalam sana jantungnya mulai berdebar tak menentu, dan has ratnya seolah terpacu dalam hitungan detik.


Sepenggal kalimat Dasha telah membuat otak mesum Luiz yang susah payah selalu ia kendalikan mulai berontak dan menggila.


"Sudahlah, hari sudah sore, sebaiknya kita pulang." putus Luiz secepat kilat, sambil bergegas melepaskan diri dari pelukan manja Dasha, yang berbalik keheranan mendapati tingkah laku Luiz yang terlihat aneh dan kaku.


Pria itu bahkan telah berjalan terburu-buru kearah mobil yang terparkir tak seberapa jauh dari sana, meninggalkan Dasha yang masih saja bengong, sibuk mencerna apa saja kalimat yang telah ia ucapkan sebelum sikap Luiz menjadi aneh seperti sekarang.


Seperti biasa, dan Dasha hafal betul. Setiap kali mereka bersama dan begitu dekat, maka Luiz akan mulai panik dan berusaha menjauh tanpa sebab.


"Karena hari sudah sore. Mommy pasti akan khawatir kalau kita belum juga tiba dirumah."


"Tapi aku masih ingin berada disini sebentar, Tuan,"


"Kita bisa kesini lagi, di lain waktu." tepis Luiz sambil membuka pintu mobilnya untuk Dasha terlebih dahulu.


"Tapi Tuan ..."


"Dasha, jangan protes lagi, dan cepatlah naik." titah Luiz dengan wajah yang kini mengeras serius, membuat Dasha tidak lagi memiliki keberanian untuk membantahnya, selain hanya menurut.


Begitu Dasha naik ke mobil, Luiz pun menutup pintu dan berjalan ke sisi yang lain, serta menempatkan dirinya dibelakang kemudi.


'Aneh ...!


'Tuan Luiz kenapa?'


'Kenapa dia segugup itu saat mendengar aku bisa memberikan semuanya ...?'


'Memangnya ada yang salah ...?


'Padahal maksud aku dengan semuanya adalah semua cintaku, semua kasih sayangku, masa depanku ...'


'Memangnya apa lagi selain semua itu ...?'


Bathin Dasha sambil melirik Luiz yang telah menarik beberapa lembar tissue untuk menyeka wajahnya yang dibanjiri keringat dingin.

__ADS_1


'Lihat ... Tuan Luiz yang playboy bahkan harus segugup itu, hanya karena mendengar kalimat bahwa aku bisa memberikan semuanya!'


'Bukankah itu sangat lucu ...?'


Dasha kembali membathin geli, saat lagi-lagi melirik Luiz yang masih saja terlihat kikuk.


Dasha pun terkikik dalam hati.


🌸🌸🌸🌸🌸


Leo menaruh ponselnya seketika dengan gusar keatas meja. Tangannya mengepal kuat begitu dirinya selesai membaca laporan singkat dari orang yang sengaja ia tugaskan untuk mencari tahu tentang latar belakang seorang pria, yang baru tadi siang dikenalnya.


Lionel Winata.


Putra sulung Rudi Winata, seorang pengusaha ternama yang bahkan memiliki hubungan yang sangat baik dengan Daddy Arshlan. Mommy Lana pun mengenal baik ibunya, yang juga seorang pebisnis woman di bidang fashion internasional.


Mega Florist milik Luna, adik perempuan El satu-satunya, hanya merupakan refleksi dari hobby sang adik yang sangat menyukai bunga,


Sejatinya Luna sama seperti El, keduanya telah berancang-ancang dan mempersiapkan diri untuk mewarisi serta mengambil alih bisnis raksasa ayahnya begitupun dengan bisnis ibunya.


"Tepat seperti dugaanku. Pria itu, ternyata benar-benar bukan pria sembarangan, dan yang paling parahnya lagi keyakinanku telah terbukti. Dia ... benar-benar sedang berusaha mencuri perhatian istriku!"


Leo bergumam kesal, begitu seraut wajah tampan milik pria bernama El itu kembali menyeruak dalam benaknya.


Kecurigaan Leo terbukti benar, bahwa hampir seharian ini El terpantau telah berada di Florist milik adiknya.


Aneh, karena mendadak seorang El seolah menjadi pria pengangguran tanpa kesibukan, padahal keseharian El sebelumnya sangatlah padat.


Hari ini, entah kenapa pria itu begitu betah berada di Mega Florist.


Untuk apa?


Untuk apa lagi kalau bukan berusaha mendekati Victoria?!


"Cih, apa dia kekurangan stock gadis cantik diluar sana? Sehingga dia begitu gigih mendekati wanita yang sudah bersuami ...?!"


Leo mendesis dongkol, menyadari hal tersebut.


Paul, asisten pribadi Leo nampak memasuki ruangan setelah mengetuk daun pintu terlebih dahulu.


"Tuan Leo, sore ini kau masih harus melakukan pemotretan di ..."


"Tidak." pungkas Leo cepat, membuat alis Paul berkerut nyata.


Tadi pagi majikannya ini telah membuat Paul dan crew kebingungan karena menghilang dari resort pada dini hari, dan kini Leo juga telah menolak agenda terakhir di sore ini.


"Aku tidak bisa melakukan apapun, Paul. Mood-ku sedang benar-benar buruk, dan aku juga harus pulang cepat karena ada acara keluarga yang sangat penting." usai berucap demikian Leo pun bangkit dari kursi, menyambar kunci mobilnya yang tergeletak diatas meja.


Detik berikutnya Leo telah berlalu dengan acuh, meninggalkan Paul yang hanya bisa menepuk jidatnya, karena dengan terpaksa, lagi-lagi, Paul harus membatalkan satu lagi jadwal pekerjaan Leo dihari yang sama.


...


Bersambung ...


Bagi kopi bagi vote, Like-nya jangan lupa, jika ada bab yang belum di LIKE, mohon di Like yah ... πŸ™

__ADS_1


__ADS_2