TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 112. Memilih Gaun


__ADS_3

Special thx untuk kak "Santhi" 🥰



...


"Tarrraaaa ...!!"


"Nona Victoria ...?!" Dasha terlonjak kaget bercampur senang, saat mendapati wajah Victoria yang berdiri tepat di bingkai pintu kamarnya.


Senyum Victoria terkembang sempurna. "Dasha, kau tidak menyuruhku masuk?" imbuhnya sambil melongokkan kepalanya kedalam kamar.


"Egh iya, maaf Nona, ayo masuklah ..." ajak Dasha ramah sambil mempersilahkan Victoria untuk masuk kekamarnya.


"Nona Vic pasti mau cokelat Silverking lagi, kan?" tebak Dasha sambil berjalan kearah meja belajar miliknya, dimana dua kardus cokelat Silverking bertumpuk diatasnya.


"Aku belum mengatakan apa-apa, tapi kau sudah menebaknya dengan jitu ..."


Mendengar ucapan Victoria, Dasha pun tergelak kecil.


Tanpa membuang waktu Dasha langsung memeluk satu kardus cokelat yang masih utuh dan tersegel, kemudian menaruhnya diatas permukaan tempat tidur, tepat disebelah Victoria yang baru saja menghempaskan tubuhnya disana.


"Nona Vic, boleh mengambil semuanya ..." ujarnya sambil menunjuk satu kardus yang didalamnya berisikan dua belas batang cokelat.


"Semuanya ...?" Victoria terbelalak. "Tidak ... tidak ... kenapa memberiku cokelat sebanyak ini ...?"


"Karena aku masih punya banyak, dan karena aku ingin membaginya dengan calon keponakan lucu yang sepertinya sedang ingin makan cokelat yang banyak ..."


Victoria tersenyum mendapati kalimat Dasha yang terucap tulus.


"Baiklah, karena kau memaksa maka aku akan menyimpannya, dan memakannya kapan pun aku ingin ..." kemudian setelah itu Victoria terdengar kembali berucap. "Oh ya, Dasha, kenapa kau tidak bergabung saat makan siang barusan?"


Mendapati pertanyaan tersebut Dasha pun tersenyum. Perlahan ia juga menghempaskan tubuhnya ketepi tempat tidur, tepat disebelah Victoria.


"Aku sudah mengatakannya kepada seorang maid bahwa aku sedang diet. Memangnya tidak ada maid yang mengatakannya?" alis Dasha bertaut.


Dasha memang sengaja menghindari moment makan siang bersama karena tidak ingin bertemu Luiz.


Untuk saat ini, menghindar dari pria berhati dingin itu sepertinya memang merupakan satu-satunya jalan ninja terbaik yang bisa dilakukan Dasha.


"Maid itu mengatakannya kepada Luiz saat di meja makan, tapi tetap saja aku merasa tidak tenang begitu mendengarnya. Dasha, kau bercanda yah? Tubuhmu sekarang sudah sekurus ini, mana mungkin kau masih melakukan diet lagi?"


Dasha tersenyum kikuk mendapati wajah keheranan Victoria, yang berucap sambil menguliti sekujur tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Mmmm, anu Nona, sebenarnya aku tidak diet seperti yang kau kira. Aku hanya tidak ingin mengkonsumsi karbohidrat untuk persiapan malam nanti ..." imbuh Dasha berusaha mengemukakan alasan apapun yang terdengar masuk diakal, agar Victoria tidak menaruh curiga.


"Jadi kau sengaja tidak makan siang hari ini hanya agar terlihat ramping di malam nanti?"


"Hmmm ..."


Kepala Victoria mengangguk berkali-kali mendengar penuturan tersebut.


"Sebenarnya masuk diakal juga jika kau ingin tampil menawan, karena malam nanti pasti akan ada banyak sekali orang terlebih dari pihak media. Tapi meskipun begitu, sepertinya alasan dietmu ini telah membuat Luiz kesal. Untunglah pria dingin itu tidak memperpanjang persoalannya dan langsung makan tanpa banyak bicara lagi ..."


Dasha tercekat dalam diam. Sungguh ia tak menyangka jika kalimat panjang lebar milik Victoria malah berakhir dengan membicarakan Luiz.


Victoria pasti tidak menyadari jika pembahasan tentang Luiz mampu membuat Dasha berdebar tak menentu, namun toh ia tetap harus mengendalikan semua perasaan yang tidak menyenangkan itu dengan sempurna.


"Dasha, kelak dikemudian hari kau harus berusaha agar tetap menjadi gadis yang baik. Luiz sangat memperhatikanmu, Leo juga begitu. Tapi sebaik apapun Leo, sepertinya tidak sebanding dengan ketulusan Luiz. Kau harus tahu, bahwa sama halnya seperti yang aku rasakan ... kita berdua adalah para wanita yang beruntung, karena bisa menjadi bagian dari keluarga ini ..."


Dasha tergugu mendapati nasihat bijak Victoria kepadanya.


Nada suara lembut milik Victoria, mampu menembus hingga kedalaman relung hati Dasha yang terdalam, meskipun di sisi yang lain ada juga kesedihan yang bergelayut disana.


'Benarkah?'


'Benarkah yang dikatakan Nona Victoria tentang ketulusan seorang Luiz ?'

__ADS_1


'Entahlah...'


Tak berapa lama berselang sejak Dasha pertama kali menginjakkan kaki dirumah keluarga Arshlan, meskipun awalnya sedikit terpaksa, namun Luiz memang telah menggantikan peran Lana dan Arshlan dengan sangat baik, dalam hal pendidikan dan tumbuh kembang Dasha secara keseluruhan, sebelum sebuah kejadian buruk yang nyaris menimpa Dasha, telah membuat hubungan diantara mereka berubah seratus delapan puluh derajat.


Dalam sekejap, batas kekaguman Dasha telah berubah drastis, dan sejak saat itu dirinya terus saja disibukkan dengan mencari perhatian Luiz.


'Sepertinya dalam hal ini, aku memang sedikit tidak tahu diri ...'


Dasha membathin gamang.


Dasha bukannya tidak tahu, bahwa Luiz telah melewati banyak hal untuk menghindar dari dirinya.


Pria itu bahkan pernah pergi selama lima tahun dan sekalipun tak pernah kembali ... namun pada kenyataannya perasaan Dasha tak kunjung berubah untuk Luiz. Terus mengharapkan, dan terus berusaha menyesatkan Luiz sekuat tenaga.


"Dasha, sebenarnya maksud kedatanganku kesini adalah karena aku sedang bingung dan ingin meminta pendapatmu ..."


Suara Victoria telah menerbangkan segenap lamunan milik Dasha, tentang berbagai rentetan episode panjang antara dirinya dan Luiz.


"Meminta pendapatku ...?" ulang Dasha seolah memastikan pendengarannya, karena merasa jangan-jangan ia telah salah mendengar.


"Hhhmm ..."


"Memangnya Nona sedang bingung tentang apa ...?"


"Begini Dasha, belakangan ini aku nyaris tidak pernah berbelanja dan membeli sesuatu. Jadi aku ... maksudku semua pakaianku tidak ada lagi yang bagus. Aku tidak punya pakaian yang layak untuk kupakai pada acara malam nanti ..."


Mendengar ungkapan hati Victoria sepasang mata Dasha pun mengembang sempurna.


"Oh, astaga Nona, kau telah menyadarkan aku tentang hal yang sama. Aku juga baru sadar bahwa aku juga tidak punya gaun yang bagus ..."


Sambutan meriah Dasha telah membuat wajah lesu Victoria mula-mula kini menjadi secerah mentari di pagi hari.


Victoria jadi semakin sadar kenapa sejak dulu mommy Lana sangat menyukai Dasha, karena ternyata gadis belia ini memang sangat menyenangkan untuk diajak melakukan segala hal, tanpa terkecuali.


'Rasanya aku menyesal baru mengenal baik Dasha sekarang ...'


"Kebetulan sekali. Kalau begitu bagaimana kalau kita berbelanja online saja ...?"


"Baiklah Nona, nanti aku akan membantumu mencari gaun yang indah untuk kau pakai ..."


"Bukan gaunku saja, melainkan gaunmu juga." ralat Victoria masih dengan semangat yang sama.


Mendengar perkataan yang terdengar sangat bersemangat itu. mendadak wajah Dasha berubah murung.


"Egh, kenapa tiba-tiba kau kelihatan sedih, Dasha ...?" usut Victoria keheranan.


"Nona, sepertinya untuk saat ini aku tidak bisa membeli gaun. Dalam dua bulan terakhir kebutuhan sekolahku telah menghabiskan uang yang banyak. Aku tidak mau menambahnya lagi dengan membeli sebuah gaun ..."


Victoria tersenyum sambil menepuk bahu Dasha dengan lembut. "Kau tenang saja, aku juga tidak akan menggunakan uang Leo untuk membeli gaun. Sejak bulan kemarin gajiku masih utuh. Bagaimana kalau aku membelikanmu sebuah gaun? Anggap saja itu hadiah dariku ..."


Mendengar itu kepala Dasha langsung menggeleng tegas. "Tidak, Nona Vic, tidak ... aku tidak mau merepotkan ... "


"Hal itu sama sekali tidak membuatku repot, Dasha. Justru sebaliknya, aku senang bisa melakukannya untukmu ..."


"Tapi, Nona Vic ..."


"Dasha, tolong jangan menolak. Semua ini juga aku lakukan demi Leo ..."


Dasha terdiam, sembari menatap wanita cantik yang berada tepat disampingnya.


"Dasha, kau harus tahu. Meskipun tidak ada yang menyadari apa makna kehadiran kita disana nanti malam, tapi aku tetap ingin menunjukkan hal yang istimewa untuk Leo. Aku tidak mau kita tampil asal-asalan ... aku ingin semuanya sempurna ... aku ingin membuat Leo bangga ..."


"Nona, Vic, aku mengerti tapi ..."


"Aku mohon jangan menolaknya, please ..." dua telapak tangan Victoria terlihat menyatu didepan dadanya. Wajahnya yang penuh permohonan membuat Dasha tak tega mengecewakan ketulusan hati Victoria kepadanya.


"Baiklah, Nona ... kalau dengan melakukan semua itu bisa membuatmu senang, maka aku akan menerima hadiahmu juga dengan senang hati ..."

__ADS_1


"Nah, begitu kan lebih baik ..."


Senyum kegembiraan yang menghias di bibir Victoria membuat hati Dasha yang melihatnya ikut bahagia.


Sungguh Dasha merasa senang bisa membuat satu-satunya menantu di keluarga Arshlan itu tersenyum tanpa henti.


Kemudian Victoria terlihat mengeluarkan ponselnya dari saku terusan berwarna mocca yang ia kenakan.


"Kalau begitu kita akan memulainya darimana? Apakah kita akan mencarinya di aplikasi Shoppa atau Lizidi?" tanya Victoria sambil menyebut dua aplikasi yang sangat terkenal dalam menyediakan segala jenis kebutuhan, termasuk pakaian branded sekalipun.


"Boleh juga Nona, dan aku sarankan untuk mencari lapak dari butik-butik terkenal ..."


"Apakah kau punya referensi yang bagus?" tanya Victoria lagi kali ini dengan mimik wajahnya yang serius.


"Seingatku, ada beberapa butik terkenal yang menjadi langganan Nyonya Lana, salah satunya SWD Fashion. Apakah Nona ingin mencobanya ...?"


Victoria tercenung mendengar referensi Dasha tersebut.


"Dasha, apakah kau tahu bahwa SWD Fashion itu merupakan butik dari ibu Tuan El ...?" imbuh Victoria.


Sepasang mata Dasha melotot mendengarnya.


Dasha sungguh tidak menyangka jika wanita cantik berparas asia, sang pemilik butik SWD Fashion yang merupakan sahabat baik Nyonya Lana adalah ibu dari Tuan El.


'Benarkah?'


'Pantas saja Tuan El sangat tampan, karena kedua orang tuanya juga memiliki paras yang menawan ...'


Dasha membathin takjub.


"Dasha, sepertinya kau harus menurunkan sedikit standarmu. Uangku tidak cukup jika harus membeli sebuah gaun dari butik nomor satu di negara ini ..."


Mendengar selorohan Victoria yang terucap dengan wajah yang memelas, entah kenapa hati Dasha tergelitik untuk tertawa.


Sementara itu, melihat Dasha yang tergelak lepas, membuat Victoria pun ikut tertawa.


"Nona Vic, kau ini lucu sekali. Bagaimana mungkin kau menyerah membeli sebuah gaun mahal dari sebuah butik termahal di negara ini, sedangkan kau sendiri adalah menantu dari keluarga terkaya di negara ini ...? Kau kan istri Tuan Leo, kau juga satu-satunya menantu keluarga Arshlan ..."


"Tidak Dasha, tidak ... kali ini aku benar-benar bertekad untuk tidak menyentuh uang Leo ..." jawab Victoria lagi masih di sela-sela tawanya yang belum juga reda sempurna.


"Hemmm, kalau begitu kita mulai dari butik kelas menengah saja ..." usul Dasha.


"Aku setuju."


"Asalkan kita bisa memilih gaun dengan tepat, pasti akan tetap terlihat elegan saat dipakai ..."


"Oh, astaga ... Dasha, kau selalu benar ..."


Dasha meringis mendengar pujian itu. Ia merasa sangat senang karena kini bersama Victoria ternyata telah sama menyenangkannya dengan saat ia bersama Nyonya Lana.


"Tujuan utamanya adalah kita harus bisa membuat Tuan Leo terpukau. Dan meskipun saat ini tak ada yang tahu siapa kita terlebih siapa Nona Victoria, tapi kelak dikemudian hari, saat Tuan Leo siap membuka identitas siapa istrinya, maka rekam jejak Nona pada hari ini ... akan senantiasa terlihat memukau dimata semua orang ..."


Victoria menatap Dasha takjub.


"Kau benar Dasha ... aku bahkan tak pernah berpikir sejauh itu, tapi kau bahkan bisa memikirkannya hingga ke hal yang sangat detail ..."


Usai berucap demikian Victoria pun beringsut semakin dekat guna meraih tubuh mungil Dasha, dan memeluknya penuh haru.


"Dasha, terima kasih ..."


"Nona, aku bahkan belum melakukan apapun, tapi kau sudah mengucapkan terima kasih ..."


"Tidak ... kau bahkan tidak tahu bahwa sejauh ini, kau telah melakukan banyak hal untukku ..." bisik Victoria dengan sepenuh hati.


...


Bersambung ...

__ADS_1


LIKE and SUPPORT please ... 🥰


__ADS_2