TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
SURAT KUASA


__ADS_3

"Lana sayang.. kenapa kita tidak melakukannya sekarang saja..?" nafas Arshlan terdengar memburu, namun kilat gai rah itu meredup begitu saja manakala dirinya kembali menyaksikan Lana yang telah menggelengkan kepalanya dengan tegas.


Entah itu adalah kalimat permohonan keberapa yang meluncur lurus dari bibir Arshlan, yang lagi-lagi harus ditolak oleh Lana.


Arshlan bahkan merasa saat ini dirinya sudah tidak lagi memiliki harga diri dihadapan gadis ini karena sejak tadi terus mengemis tanpa henti.


"Huhhf.." Arshlan menghempaskan nafasnya dengan keras, sambil menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi.


Kepala Arshlan terasa pening karena terus-menerus menahan hasrat yang tak kunjung mendapatkan penyaluran yang tepat.


Detik berikutnya tangan Arshlan telah terangkat guna memijat tengkuk, kemudian pangkal hidung, dan yang terakhir kedua pelipisnya secara bersamaan.


Lana tersenyum melihat tingkah pria yang telah mencuri hatinya sejak pandangan pertama itu.


Sebenarnya jauh didalam lubuk hati Lana pun merasa tidak tega menyiksa Tuan Arshlan seperti ini, tapi mau bagaimana lagi..?


Lagipula Tuan Arshlan kan telah bertekad untuk menikahinya saat ini juga.. lalu mengapa pria itu tidak bisa menahan diri sedikit lagi..?


Namun meskipun demikian rona kebahagiaan terus memancar diseraut wajah milik Lana, yang saat ini memilih menyandarkan tubuhnya dengan manja kedada bidang milik Arshlan, seraya mengatur nafasnya yang masih sedikit tersenggal kelelahan, akibat sisa-sisa permainan terakhir.


Lana merasa bibirnya semakin kebas, dan dua buah aset kembarnya terasa sakit saking terlalu lama diperah.


Baju yang dipakainya pun masih sedikit berantakan, karena Lana bahkan hanya memperbaikinya seadanya.


Semua yang ada didalam dirinya terlihat kacau, hanya area kecil dibawah sana yang masih aman terjaga, tidak terjamah. Itupun didapat Lana dengan perjuangan keras untuk tetap bertahan menolak keinginan menggebu Tuan Arshlan yang terus meghujaninya dengan sejuta rayuan dan cum buan, begitu mobil yang mereka tumpangi bergerak meninggalkan pekarangan villa yang luas.


Sejak saat itulah mereka berdua bahkan nyaris tidak berhenti berciuman, saling memberikan kehangatan, dan bertukar kenikmatan hingga sepanjang perjalanan.


Suara de sa han, era ngan, dan bunyi pertukaran saliva yang terdengar cukup berisik sempat membuat Lana malu dengan sopir dan pengawal pribadi Arshlan yang berada tepat dibangku depan, meskipun Arshlan telah menutup tirainya terlebih dahulu untuk menghalangi pandangan sang sopir dan sang pengawal yang duduk mematung seolah tak terpengaruh sedikit pun.


Tentu saja hal seperti ini bukanlah kali pertama bagi mereka, menjadi saksi bisu kenakalan Tuan majikannya dengan seorang wanita.


Sudah terlalu sering sopir dan pengawal pribadi Arshlan berada pada situasi seperti saat ini sehingga mau tak mau membuat mereka kebal dan terbiasa bertingkah profesional meskipun rasanya mustahil juga jika bathin mereka tidak terusik sama sekali.


Untuk sejenak suasana terasa hening, meskipun bukan berarti gejolak yang sedang dialami Arshlan sudah terkendali.


Arshlan telah menyerah dengan kebulatan tekad Lana yang terus menepis tangan dan segala usahanya acap kali Arshlan ingin berpetualang kelembah penuhi misteri yang belum terpecahkan.


Disaat sang Mr. Pemarah miliknya sudah kelayapan kemana-mana, bahkan dengan percaya diri menggelar konser tunggal dihadapan Lana, Arshlan malah belum bisa menyentuh, mencuri pandang, apalagi berkenalan langsung dengan harta berharga milik Lana yang menjadi target utamanya.

__ADS_1


Betapa tersiksanya..


"Astaga Tuan..!" tiba-tiba Lana terlonjak bangun dari dada Arshlan, membuat Arshlan yang sedang memejamkan mata demi menetralisir gelora dijiwanya ikut terlonjak.


"Lana, kau ini kenapa sih? mengagetkan aku saja..! kau ingin aku mati karena jantungan..?!"


Lana terlihat meringis. "Maaf, Tuan.."


"Hhhhh..!" hembusan nafas Arshlan terdengar menyentak keras. Detik berikutnya ia telah menatap lagi wajah Lana yang terlihat gelisah. "Ada apa sebenarnya? tiba-tiba berteriak membuatku kaget..!" desis Arshlan gusar.


"Maaf, Tuan. Aku tidak bermaksud mengagetkan, Tuan. Tapi aku baru ingat bahwa ternyata kita tidak bisa menikah begitu saja.."


"Apa kau bilang..?!" mendengar kalimat lirih itu Arshlan bahkan telah dua kali lipat lebih terkejut dari saat Lana melonjak dengan tiba-tiba. "Lana, kau jangan main-main ya..! apa maksudmu dengan kita tidak bisa menikah begitu saja..?!" raut kepanikan jelas membayangi wajah Arshlan.


'Tidak.. tidak boleh..'


'Enak saja mau membatalkan pernikahan, disaat aku nyaris mati karena tersiksa menahan hasrat seperti ini..!'


Arshlan ngedumel dalam hati. Tentu saja ia tidak rela jika rencananya untuk membelah duren akan tertunda kembali.


"Tuan, aku tidak main-main, kalau aku ingin menikah, maka itu artinya aku harus membutuhkan ayahku untuk menikahkan aku dan.."


Lana membutuhkan ayahnya yang penjudi dan gila wanita itu sebagai wali yang bisa menikahkan putrinya.


Of course.


Tentu saja hal yang standar seperti itu mana mungkin tidak bisa diantisipasi sejak awal oleh Her, asistennya yang sigap dan cakap.


Yah, Her memanglah sosok yang sigap dan cakap, sehingga bisa diandalkan Arshlan dalam segala situasi dan kondisi yang pelik sekalipun.


Dari laporan Her jugalah yang membuat Arshlan mengetahui sebuah rahasia mengenai status Lana tanpa sengaja.


"Tapi Tuan.. ayahku.."


"Ayahmu telah menandatangani sebuah surat, yang isinya adalah memberikan wali hakim kuasa penuh, sehingga bisa menikahkan dirimu mskipun tanpa kehadirannya."


Lana tercenung lama, sambil menatap Arshlan dengan sepasang mata yang menyorot kelam.


Dari wajahnya sangat terlihat bahwa dirinya seolah belum sepenuhnya mempercayai apa yang barusan diungkapkan oleh Arshlan.

__ADS_1


Lana tau, selama ini dimata Ayah dirinya sepertinya tidak penting. Tapi bagaimana mungkin Ayah bahkan tega memberikan kuasa kepada wali hakim untuk menikahkan dirinya yang seharusnya menjadi hak penuhnya sebagai seorang Ayah untuk anak gadisnya?


"Her telah mengurus semua persuratannya begitupun urusan dengan kedua orang tuamu. Tapi pada kenyataannya, Ayahmu memilih menandatangani surat kuasa kepada wali nikah daripada hadir dan menikahkan putrinya sendiri.Ibumu pun seperti itu.."


"T-tapi.. tapi kenapa mereka seperti itu..?" kali ini Lana telah gagal menahan tangisnya. Dua buah bening meluncur turun, membuat aliran parit kecil dikedua pipinya.


"Entahlah.." Arshlan mengangkat bahunya.


Sejujurnya ia tidak ingin membahas hal itu lebih lama karena hatinya mulai diliputi rasa iba menyaksikan Lana yang menangis tanpa suara, hanya bulir bening yang terlihat terus berkejaran dipermukaan kulit pipinya yang halus.


"Aku tidak ingin mempercayai semua ini, Tuan.."


"Kau harus percaya, karena tidak hanya surat, Her bahkan mempunyai bukti rekaman videonya.."


"Apa Tuan sudah melihat rekaman videonya?"


Arshlan menggeleng. "Aku tidak punya waktu untuk menonton hal yang tidak penting seperti itu. Tapi kalau kau ingin melihatnya sendiri boleh saja. Semua rekaman videonya ada ditangan Her, kamu bisa memintanya langsung.."


"Tidak." geleng Lana tegas.


Arshlan menatap wajah Lana yang terlihat murung. Sangat terlihat jika gadis itu sedang benar-benar berusaha menguasai dirinya agar tidak terlarut sepenuhnya dalam isak.


"Aku tidak mau melihat sesuatu yang kelak akan menyakiti hatiku. Masih lebih baik aku tidak melihat apa-apa, dan tidak mengetahui apapun.."


Gadis itu terdiam sejenak sambil tertunduk dalam.


"Karena jika aku tidak mengetahui apapun.. maka hatiku akan baik-baik saja.. tidak akan pernah lagi merasakan sakit, cukuplah saat ini.."


.


.


.


Bersambung..


Follow my IG. @khalidiakayum


Follow my FB. Lidia Rahmat

__ADS_1


Like, comment, Favoritekan, & Vote yah guys.. Thx and Lophyuu all.. 😘


__ADS_2