
"Dasha, mau sampai kapan kau akan menunggu Tuan Luiz seperti ini?"
Sudah tidak terhitung berapa puluh kali Devon menguap lebar.
"Sebentar lagi, Devon, belum juga jam dua belas malam ..."
"Tapi aku sudah sangat mengantuk, Dasha. Lagipula kau juga harus istirahat. Jangan sampai kau lupa bahwa besok pagi-pagi sekali, mobil jemputan akan membawa kita ke bandara ..." pungkas Devon panjang lebar, sambil menatap Dasha dengan sepasang mata yang memerah penuh kantuk.
"Ya sudah kalau begitu, kalau kau memang mengantuk, sebaiknya kau tidur saja lebih dahulu." tukas Dasha, mulai tidak tega menahan Devon lebih lama untuk menemaninya, setelah Mona yang telah menyerah lebih dahulu, sejak kira-kira satu jam yang lalu.
Saat ini Mona pastilah sudah tertidur lelap dibuai mimpi.
"Kalau kau tidak masuk ke kamarmu dan beristirahat sekarang juga, bagaimana mungkin aku bisa pergi ke kamarku dan meninggalkanmu sendirian disini?"
Yah, tentu saja Devon tidak mungkin bisa meninggalkan Dasha seorang diri, apalagi jika mengingat bahwa dia sendiri yang telah berjanji kepada Luiz, untuk menjaga Dasha.
Dasha nampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk berucap perlahan ke arah Devon.
"Baiklah, aku juga akan pergi ke kamarku dan berisitirahat."
"Hhhhf, syukurlah," pungkas Devon lega, karena pada akhirnya ia bisa melabuhkan tubuhnya yang dipenuhi kantuk, yang telah menyerangnya begitu rupa.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Devon telah beranjak ke kamarnya sejak beberapa saat yang lalu, namun pada kenyataannya Dasha sama sekali belum juga beranjak.
Dasha menyandarkan tubuhnya kesandaran sofa. Sejujurnya saat ini ia pun telah merasakan hal yang sama dengan Devon.
Lelah, dan sangat mengantuk.
Hari terakhir mereka disekolah telah diisi dengan sebuah acara perpisahan yang melelahkan meskipun disisi lain juga menyenangkan. Rangkaian acaranya bahkan telah dimulai dari pagi sampai sore hari, maka wajar saja jika mereka semua merasa kelelahan.
Tapi meskipun demikian, malam ini Dasha telah bertekad bulat untuk menunggu kedatangan Luiz kendati Dasha harus membohongi Devon karena tidak tega melihat sahabatnya itu tersiksa oleh kantuk yang menyerang.
Selama beberapa malam ini Luiz selalu pulang larut malam, tanpa diketahui oleh Dasha kapan tepatnya pria itu tiba di apartemen.
Paginya mereka akan melihat Luiz telah berada dalam setelan yang necis, siap berangkat bekerja, yang juga bertepatan dengan jam mereka berangkat kesekolah.
Luiz juga telah mempercayakan salah satu mobil mahalnya kepada Devon, demi memudahkan mereka bertiga pergi dan pulang sekolah.
Sepertinya pria sebaya Dasha itu telah mampu mengambil hati dan kepercayaan Luiz dalam waktu singkat.
"Pokoknya, aku harus bisa menunggu Tuan Luiz pulang, dan aku tidak boleh tertidur!" ucap Dasha dengan begitu optimis.
Bertekad demikian, namun yang ada sepasang mata bulatnya semakin lama semakin sayu ... dan lambat laun mulai terpejam.
__ADS_1
Dasha pun telah tertidur ...!
πΈπΈπΈπΈπΈ
Malam sudah sangat larut, saat Luiz tiba di apartemennya.
Suasana hening langsung menyapa Luiz.
"Mereka pasti sudah tidur." Luiz bergumam pelan, saat menatap dua pintu kamar yang terkatup rapat, sambil mengendurkan beberapa kancing atas dari kemejanya.
Meskipun sisi hatinya terbersit keinginan untuk melihat wajah Dasha, namun lagi-lagi Luiz harus menahan dirinya untuk tidak menerobos masuk, ke kamar yang ditiduri gadis itu.
Diam-diam Luiz juga bersyukur dengan keadaan tersebut.
Keberadaan Mona yang berada didalam kamar yang sama dengan Dasha, setidaknya mampu mengontrol dan menahan diri Luiz, sehingga ia tidak mungkin berbuat nekad dengan menerobos kesana, hanya demi menyalurkan segenap kerinduan yang membuncah didada.
Luiz baru saja hendak berniat melangkah mendekati anak tangga yang berada disudut ruangan, namun yang ada sepasang matanya malah lebih dulu menangkap sebuah pemandangan menarik, yang telah membuat mulutnya terbuka.
"Dasha ...?"
Luiz terhenyak.
Dengan gerakan secepat kilat tubuh Luiz telah berbalik arah, mendekati sosok yang sedang tertidur pulas diatas sofa panjang.
"Kenapa Dasha bisa tidur disini? Apakah gadis itu ... sengaja menungguku pulang?"
Berpikir seperti itu membuat Luiz tersenyum dalam hati.
Luiz telah berjongkok tepat di depan sofa, dimana napas Dasha terhembus begitu teratur.
Jemari Luiz terangkat guna merapikan setiap helai rambut Dasha, yang menutupi sebagian wajah polos itu.
Untuk beberapa saat lamanya, Luiz hanya diam termanggu, dengan tatapan yang lurus, seolah tak bisa lepas dari setiap inchi wajah Dasha yang terlihat begitu damai.
Dimulai dari barisan alis yang berjejer rapi, hingga pada lentiknya bulu mata yang membingkai sepasang mata yang sedang terpejam. Hidung yang mancung ... dan ...
Glek.
Luiz nyaris tersedak, saat begitu terburu-buru menelan ludahnya sendiri.
Pemandangan akan dua bongkahan daging yang terlihat sangat lembut itu telah membuat jantung Luiz berdesir lembut.
Sudah sejak lama setelah terakhir kali Luiz mengecapnya, namun sampai detik ini Luiz masih bisa menggambarkan seperti apa tastenya dengan begitu spesifik.
Manis, kenyal, lembut dan sangat memabukkan ...!
__ADS_1
Sejenak Luiz tertunduk, ia merasa sangat malu, karena pernah menjadi pria yang begitu brengsek, dengan melakukan hal yang diluar batasannya, disaat usia Dasha masih teramat sangat belia serta baru saja mengalami trauma karena kejadian menakutkan yang nyaris menghancurkan masa depannya.
'Waktu itu ... aku juga telah menjadi seorang pria yang nyaris menghancurkan masa depan Dasha ...'
'Lalu apa bedanya diriku dengan pria buruk rupa, yang juga nyaris merenggut kegadisan Dasha ...?'
'Aku bahkan telah melakukan hal yang lebih brengsek lagi ...!'
Luiz mengangkat wajahnya, kembali menatap wajah Dasha yang begitu polos saat terlelap.
"Dasha, sudah seharusnya aku menjagamu, bukan merusaknya." bisik Luiz, seolah sedang berjanji dengan dirinya sendiri.
Kemudian jemari Luiz terangkat, menyentuh lembut pipi yang sangat halus itu, mengusapnya penuh kasih sayang, sekaligus mati-matian menahan has ratnya manakala bibirnya ikut menginginkan berada disana.
Luiz telah berjanji dalam hati dan berusaha terus mengingatkan diri, bahwa apapun yang terjadi ia tidak akan melakukan sesuatu yang melanggar lagi.
Tidak, sebelum usia Dasha benar-benar dewasa.
'Tapi, apakah aku sanggup bertahan selama itu ...?'
Bathin Luiz kembali kalut, menyadari betapa nelangsa nasibnya yang harus menerima kenyataan, karena nekad mencintai gadis belia seperti Dasha.
Tidak ingin berlama-lama memikirkan segala keresahan hatinya, membuat Luiz telah berinisiatif untuk memindahkan tubuh Dasha ke kamar.
Perlahan namun pasti Luiz membopong tubuh mungil yang seringan kapas itu, namun baru sekitar dua langkah Dasha terlihat menggeliat kecil dalam pelukannya.
"Tuan Luiz ...?"
Sepasang mata gadis itu mengerjap-ngerjap, seolah sedang memastikan bahwa wajah tampan yang berada di depan matanya itu benar merupakan wajah Luiz, kekasih hatinya.
"Tuan luiz, aku mau di bawa kemana?" tanya Dasha dengan wajah yang sontak berbinar, saat menyadari dirinya tengah berada di dalam pelukan Luiz.
"Ke kamarmu. Tadi aku menemukanmu tertidur disofa dan ..."
"Tidak ... tidak mau ...!"
"Dasha, apa maksudmu?" Luiz menghentikan langkahnya, mendapati pemberontakan Dasha.
Saat Luiz hendak menurunkan tubuhnya, Dasha malah telah berpegang kuat-kuat dileher Luiz, menolak melepaskan diri.
"Dasha, ini sudah sangat larut malam. Kenapa kau menolak untuk tidur dan ..."
"Aku akan tidur, tapi ... tapi ... aku tidak mau pergi ke kamar itu ..." berucap demikian sambil menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah kedalam dada Luiz.
... NEXT
__ADS_1