
Triple up.
...
Disaat seperti ini ...
Sebuah iklim rumah tangga yang gersang seolah tidak nampak sama sekali, seolah diantara dua sosok yang saling bergumul penuh cinta itu merupakan sepasang kekasih yang saling mencinta dan memuja satu dengan yang lainnya.
Waktu terus berlalu, dan Leo masih terus memacu.
Untuk beberapa saat, penglepasan demi penglepasan yang indah telah menggulung pertahanan Victoria hingga berkali-kali, namun ketangguhan seorang Leo sungguh tidak ada duanya.
Jangankan berakhir, mengendurpun tidak. Yang ada bahkan semakin perkasa, seolah dirinya adalah titisan seekor banteng perkasa yang sedang mengamuk, hingga tak pernah merasa lelah.
"Leo ... ohh ... pelan ... awww ..."
Kedua jemari Victoria meremas sprei kuat-kuat.
Mulut mungil Victoria telah mengucapkan permohonan yang sama sejak awal, namun yang ada sedikitpun Leo tidak menggubris permohonan tersebut.
Tubuh kekar Leo yang dihiasi jejeran otot yang sempurna, terus memacu tubuh ramping milik Victoria yang berada dibawahnya.
Tubuh keduanya telah berkilau dibanjiri peluh, dan Victoria bahkan telah berkali-kali terkulai lemas dalam pertarungan panjang yang tak pernah seimbang itu.
Namun seperti biasanya, Leo belum juga menampakkan tanda-tanda jika dirinya akan selesai dengan mudah.
Pinggul Leo yang kuat terus bergerak maju mundur dengan irama yang bertenaga, sementara kedua tangannya menahan pinggul Victoria yang tersentak kuat, setiap kali batang jamur raksasa miliknya menghujam lurus, menyusuri dinding-dinding gua yang lembab milik Victoria.
"Leo, owh ... mmhh ... akh ..." mulut Victoria tak henti-hentinya mengera ng nikmat, acap kali bagian bawah tubuh Leo yang perkasa itu mendesak dan melesak, seolah ingin menembus titik paling akhir dari ujung lorong gelap yang begitu basah.
Leo selalu merasa dirinya terlalu hebat, sehingga ia tidak memerlukan waktu lama untuk bisa menundukkan Victoria berkali-kali dalam satu ronde permainan.
Kini pria itu menundukkan wajahnya, menyatukan bibirnya dalam sebuah pertautan diatas bibir Victoria yang gemetar dan tereng ah.
"Leo ... aku lelah ..." Victoria berucap lirih, diantara nafasnya yang memburu, akibat tubuhnya yang tak henti dipacu.
Mendengar permintaan itu Leo malah tersenyum puas penuh kemenangan. "Menyerah lagi, hmmm ...?"
"Awww ..."
Victoria memekik, merasakan bahu kirinya yang telah digigit kecil.
"Memohonlah dahulu, lalu aku akan mengabulkan permintaanmu ..."
"Leo ..."
"Memohonlah!"
"Aaaww ..." lagi-lagi Victoria memekik, saat merasakan dagunya yang kini telah digigit.
"Leo, plissh ... aku mohon ..."
"Kurang."
__ADS_1
"Aaawww ... mmmh ..." kali ini pucuk gunung kembar milik Victoria, yang telah menjadi target sasaran dari gigitan kecil Leo, yang terus memaksanya agar memohon kepada pria itu dengan sebenar-benarnya.
"Sudah aku bilang, memohonlah dengan benar ...!"
"Aaaah ... awww ... ohh ... baik ... baiklah oh, pelankan, akh ..."
Victoria setengah memekik saat merasakan inti tubuhnya telah dihantam dengan kasar berkali-kali.
Wajah Leo yang berada diatas wajahnya terlihat mengeras, menggambarkan amarah dan bira hi yang telah bercampur dengan takaran yang sama!
"Leo ... sayang ... pliss ... aku mohon, plisshh, sayang ..."
Tidak hanya berucap dengan kesungguhan, kedua jemari Victoria pun telah terangkat guna membingkai kedua rahang yang mengeras sempurna.
Victoria mengusap lembut disana, seolah sedang membujuk seekor singa yang sedang marah untuk melembutkan hatinya.
Jantung Leo berdenyut kencang, seluruh peredaran darahnya berdesir. Selalu seperti ini acap kali ia mendapati dirinya diperlakukan dengan begitu intim seolah dipenuhi kasih sayang, oleh wanita yang berada dibawah tubuhnya ini.
Gerakan pinggul Leo telah mengendur, meski masih memacu dengan irama yang teratur, dan tatapan matanya pun kini melembut.
Leo memejamkan matanya saat menyesapi jemari Victoria yang awalnya mengelus kedua pelipisnya, kini mulai turun perlahan, menyusuri setiap permukaan kulit tubuhnya yang dibanjiri peluh.
Jemari itu telah mengusap kedua lengan kekar Leo yang berhias otot biceps yang keras ...
Kemudian dada yang bidang dan bertekstur liat ...
Hingga pada perut Leo yang beruas-ruas, tak kalah keras ...
Mendapati semua sentuhan lembut itu membuat Leo menyadari jika dirinya mulai gelisah, oleh karena gelombang orgas me yang hendak menghantam keras, yang membuat Leo mau tak mau kembali mempercepat dan memperdalam setiap hujaman kedalam inti kehangatan milik Victoria yang juga mulai terasa berkedut nikmat ...
"Oh, Vic ...!!" Leo memeluk tubuh Victoria kuat-kuat, saat ia membenamkan jamur raksasa miliknya hingga kepangkal, memenuhi seluruh gua keramat milik Victoria dengan cai ran cinta yang meluap, hingga ke sela-sela pangkal paha wanita itu.
Sepasang mata Leo terpejam, ia belum ingin keluar dari keharuman ceruk leher Victoria, yang aromanya semakin terasa candu saat berbaur dengan wangi alami tubuh.
Sementara dibawah sana ... batang jamur raksasa miliknya, seolah masih dipijat dengan sangat lembut ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Selesai ...!"
Pekik riang milik Mona terdengar, begitu ia menarik kandas resleting travelbag miliknya.
Wajah Mona yang berseri-seri bukanlah tanpa alasan, karena pada akhirnya besok mereka bertiga bisa kembali lagi kerumah.
Malam ini, memanglah merupakan malam terakhir bagi ketiganya berada dinegara ini, dalam rangka program pertukaran pelajar yang dilakukan oleh sekolah selama sebulan penuh.
Sedikit rasa sedih tentu saja tetap ada, namun semuanya tidak sepadan jika dibandingkan dengan perasaan rindu yang membuncah, karena rasa tidak sabar ingin secepatnya kembali bersua dengan keluarga tercinta.
Mona menoleh kearah Dasha yang masih saja terlihat cemberut ditepi ranjang.
Sejak tadi wajah gadis itu terus terlipat dengan sepasang mata bulatnya yang tak henti mengawasi ponselnya.
"Dasha. Kau kenapa? Apakah Tuan Luiz belum juga memberi kabar?"
__ADS_1
Dasha menggeleng lesu.
Dasha bukannya tidak tahu jika seminggu ini Luiz memang telah menjadi sangat sibuk, karena harus mempersiapkan kepulangannya juga ketanah air dalam waktu dekat.
Sebelum kembali, Luiz harus mempersiapkan semua dokumen yang menyangkut peralihan pimpinan, karena nantinya akan ada seseorang yang telah ditunjuk, untuk menggantikan Luiz dalam mengawasi langsung perusahaan.
Semuanya harus dilakukan dengan teliti, agar orang yang kelak akan menggantikan Luiz, bisa meneruskan pekerjaan tanpa kesulitan berarti.
Itulah sebabnya Luiz telah menjadi dua kali lipat lebih sibuk dari biasanya.
Setiap hari Luiz akan berangkat pagi-pagi sekali, dan pria itu juga akan pulang sangat larut.
Kemarin, sebelum mereka bertiga berangkat kesekolah, Dasha diam-diam berniat menyelinap kedalam kamar Luiz yang berada dilantai dua.
Namun baru saja hendak menaiki anak tangga, pria itu malah telah muncul lebih dulu dari atas sana, dengan penampilan yang rapi, terlihat sangat tampan dimata Dasha yang sempat terpukau berjenak-jenak.
"Tuan, kenapa Tuan menjadi sangat sibuk? Besok adalah hari terakhir aku berada disini, tapi Tuan malah tidak pernah menghabiskan waktu bersamaku lagi." belum apa-apa telah berucap panjang lebar dengan wajah yang dipenuhi ekspresi cemberut.
Melihat pemandangan itu Luiz sontak mengu lum senyum.
"Aku sangat sibuk, justru agar pekerjaanku disini cepat selesai, sehingga aku juga bisa segera pulang menyusulmu." ujar Luiz sambil menyentuh sekilas sebelah pipi Dasha yang begitu halus.
Luiz kembali meneruskan langkah kakinya yang sempat tertunda, saat harus menuruni anak tangga kelantai satu.
"Benarkah ...? Tuan tidak berbohong kan ...?" Dasha telah mengejar langkah pria itu dan bergelayut manja dilengannya.
"Tentu saja tidak. Lagipula untuk berbohong?"
"Lalu kapan tepatnya Tuan akan kembali?"
"Kalau mengenai itu aku tidak bisa memastikannya dengan detail. Intinya, dalam waktu dekat."
Dasha membisu, namun tetap melangkahkan kakinya mengikuti arah langkah kaki Luiz yang hendak menuju pintu keluar.
"Jangan cemberut dan ngambek kalau aku pulang larut malam. Percayalah, saat ini, aku benar-benar sedang berusaha untuk membuat semuanya selesai dalam waktu singkat." bujuk Luiz sungguh-sungguh.
"Baiklah Tuan, aku berjanji aku tidak akan cemberut apalagi ngambek ..."
Dan Luiz membalasnya dengan senyum, sambil mengacak rambut Dasha dengan gemas.
"Jangan cemberut. Bukankah kemarin kau sendiri yang telah berjanji untuk tidak akan cemberut dan ngambek lagi ...?" celetukan usil Mona telah menerbangkan semua khayalan Dasha tentang sosok Luiz.
Tersadar akan sesuatu telah membuat Dasha terhenyak seraya menatap Mona yang sedang tertawa cekikikan.
"Kenapa kau bisa mengetahui isi obrolanku dengan Tuan Luiz? Mona, kau menguping ya ...?!" ujar Dasha dengan sepasang mata yang telah melotot sempurna kearah Mona, yang saat ini tidak lagi hanya cekikikan melainkan tertawa dengan keras.
"Maaf, maaf, kemarin aku benar-benar tidak sengaja telah menyaksikan sebuah adegan yang super uwwu ... Ha ... ha ... ha ...!"
Mendengar pengakuan jujur dari Mona, Dasha pun membuang nafasnya dengan penuh kekesalan.
"Dasar tukang mengintip!!" pungkasnya dengan wajah keruh, terlebih saat menyadari tawa Mona yang semakin membahana, menanggapi kekesalan Dasha ...
...
__ADS_1
Bersambung ...
Support yang kenceeeng yah akakkk ... π