TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 73. Pertarungan Tak Kasat Mata


__ADS_3

Mentari senja benar-benar telah begitu condong di ufuk barat, menghadiahkan sunset yang indah, yang bisa dinikmati siapa pun yang berada disepanjang pesisir pantai yang sore itu terlihat semakin ramai.


Usai sebuah pertandingan volley pantai yang sangat menegangkan, lengkap dengan euphoria kemenangan dari tim Luiz dan Leo, Dimitri dan Luna secara khusus telah meminta waktu kedua pria tampan itu, agar bisa menjamu keduanya dengan berbagai hidangan ringan yang memenuhi meja, dibawah sebuah gazebo yang terlihat sangat artistik karena terbuat dari bahan bambu dan beratapkan rumbia.


Bersama El dan tak ketinggalan pula Florensia yang yang berada disisi Luiz terus-menerus, mereka berenam duduk disana, sambil berbincang ringan.


"Maaf, permisi sebentar ..." El menyela begitu mendengar bunyi ponselnya yang berdering, terlebih saat mengetahui yang menelpon adalah asisten pribadinya.


Pria bertubuh tinggi dengan kulit cerah khas asia itu terlihat berjalan keluar gazebo, guna mengambil jarak agar bisa berbicara dengan nyaman.


Kalau mau jujur El juga merasa sangat tidak betah berada didalam gazebo itu, apalagi sambil disuguhi pemandangan Florensia yang begitu terang-terangan menempel pada Luiz seperti kutu.


Entahlah ...


Yang jelas El merasa sangat kesal dan tidak nyaman, saat menyadari sisi lain Florensia yang belum pernah ia lihat sebelumnya, dimana ada seseorang yang bisa menarik perhatian wanita itu, melebihi dirinya, dan orang itu adalah seorang pria sekelas Luiz ...!


"Tuan Luiz dan Tuan Leo, jika kalian berkenan, maukah kalian bergabung dengan kami untuk dinner malam nanti?" ucap Luna penuh harap sambil menatap Luiz dan Leo yang duduk bersisian.


Tepat disebelah sang istri, Dimitri terlihat berdiri dengan senyum yang sama, berharap kedua pria hebat dihadapannya kembali bersedia menyisihkan waktu sejenak, untuk acara puncak malam nanti.


Dalam waktu singkat Dimitri telah mengetahuinya. Awalnya ia nyaris tak percaya, bahwa Luiz, pria yang sedang duduk santai disisi sang aktor papan atas yang akrab disapa Tuan Leo, adalah Tuan Luiz, sang pewaris tunggal perusahaan raksasa Arsh Corp.


Yah, Luiz.


Luiz adalah putra Tuan Arshlan, pria yang begitu fenomenal sehingga bak seorang legenda dalam dunia bisinis, karena bisa membangun kerajaan bisnis yang besar hingga ke pelosok negeri, bahkan sampai ke manca negara.


Sudah jelas, bahwa Luiz bukanlah pria sembarangan, karena pria itu bisa dibilang the real Sultan!


"Maafkan aku, Nyonya Luna dan Tuan Dimitri, sebenarnya aku ingin sekali bergabung lebih lama dengan keceriaan ini, tapi sayangnya aku telah memiliki agenda makan malam bersama Florensia dan beberapa rekan bisnis lainnya." jawab Luiz sopan.


"Wah, sayang sekali, padahal aku sangat berharap bisa mengenal Tuan Luiz lebih dalam lagi, berharap bisa mendapat kesempatan untuk sebuah kerjasama di masa yang akan datang ..." ujar Dimitri to the point, seperti sifatnya selama ini yang selalu jujur dan tidak suka berbelit-belit.


Luiz tersenyum mendengarnya. "Kalau mengenai hal itu, Tuan Dimitri tidak pelu khawatir, Tuan bisa datang kapan pun ke kantor pusat, pintu ruanganku terbuka kapan saja untuk Tuan Dimitri ..." Luiz menyodorkan tangannya kehadapan Dimitri, yang menyambutnya dengan suka cita.


"Wah, Tuan Luiz, terima kasih banyak. Aku pasti akan datang dalam waktu dekat." sambut Dimitri dengan wajah berseri.


Luiz pun mengangguk sambil tersenyum. Sejujurnya ia telah mengenal siapa Dimitri lewat informasi Todd sesaat lalu, saat ia menyuruh sang asisten untuk mencari tahu seluk beluk serta latar belakang Lionel Winata, yang sering disapa El.


Dimitri tak lain merupakan adik ipar El. Sama seperti El, Dimitri pun terkenal sebagai pribadi yang baik, serta pengusaha yang cukup sukses dibidangnya.


Bekerja sama dan melakukan hubungan bisnis dengan orang-orang seperti itu tentu saja Luiz tidak akan menolaknya, terlepas dari misi pribadi antara dirinya dan Florensia.


Florensia ...?


Yah, wanita yang sejak tadi selalu menempel disisinya itu ternyata cukup licik juga.


Baru kali ini Luiz dibuat mati kutu dan tunduk tanpa perlawanan, begitu menyadari bahwa Florensia berhasil memegang kartu as miliknya, perihal hubungannya dengan Dasha yang selama ini telah disembunyikan Luiz mati-matian dihadapan dunia terlebih kedua orang tuanya.

__ADS_1


Apa kata dunia jika mengetahui, bahwa pewaris Ars Corp memacari gadis yang masih duduk dibangku sekolah?


Hal itu pastilah sangat tidak baik untuk reputasi Luiz, perusahaan, terlebih reputasi kedua orang tuanya dimata masyarakat.


Apalagi jika publik mengetahui kebejatannya yang telah melakukan hal terlarang saat Dasha masih sangat belia?


Memikirkkan hal itu selalu membuat Luiz merasa sangat tertekan, dan si alnya Florensia justru datang mengintimidasi Luiz, dengan menggunakan semua itu sebagai amunisi lengkap ditangan dan menodongnya dengan telak!


Semua itu membuat Luiz mau tak mau, harus mengikuti alur permainan Florensia.


"Aku akan menunggu," ujar Luiz seiring dengan usainya jabat tangan penuh persahabatan yang baru saja terjalin, antara dirinya dan Dimitri.


"Lalu bagaimana dengan Tuan Leo? Apakah Tuan Leo tidak ingin bergabung?" tatapan Luna beralih kearah pria yang sedang menikmati orange juice dingin itu dengan wajahnya yang super cool.


Leo terlihat menatap Luna dan Dimitri dengan penuh penyesalan. "Maafkan aku juga, tapi sepertinya aku harus segera kembali sore ini."


"Aku pikir kau akan menginap?" celetuk Luiz dengan alis bertaut.


Dalam hati Luiz bahkan tidak habis pikir, mengapa Leo membiarkan Victoria menginap semalam ditempat se-romantis ini, dengan El yang terang-terangan sedang berusaha keras mencuri atensi istrinya.


"Awalnya aku memang berencana menginap, tapi sayang, asistenku telah mengingatkanku tentang agenda pekerjaan penting yang masih harus aku kerjakan." ucap Leo dengan wajah menyesal.


"Wah, sayang sekali." wajah Luna terlihat sedikit tidak rela.


"Maafkan aku Nyonya Luna, mungkin lain kali, tapi tidak malam ini."


Luna pun mengangguk, sambil mengulas senyum. "Baiklah, Tuan Leo, karena permainan volley pantai tadi sebenarnya sudah lebih dari cukup sebagai moment yang sangat menyenangkan untuk seluruh karyawan Mega Florist. Terima kasih karena Tuan Leo dan Tuan Luiz telah berpartisipasi didalam kemeriahan barusan."


Sementara Leo terlihat menaruh gelas oranges juice keatas meja, hendak beranjak bangkit dari duduknya.


"Aku harus pergi sekarang, selamat bersenang-senang," pamit pria itu sedikit menundukkan wajahnya dengan sopan.


"Kami juga akan pamit sekarang saja." imbuh Luiz yang ikut berdiri, lagi-lagi dibarengi Florensia.


"Tidak menyaksikan sunset hingga selesai?" Dimitri menatap Leo, Luiz dan Florensia berganti-ganti.


"Mungkin di lain waktu, Tuan, sampaikan pamitku kepada Tuan El." ucap Leo lagi sambil melirik sejenak El yang berada agak jauh dari gazebo, dengan ponsel yang menempel di telinga kiri.


"Baiklah, nanti akan kami sampaikan."


Pada akhirnya ...


Luna dan Dimitri akhirnya hanya bisa menyaksikan punggung Leo, Luiz dan Florensia yang semakin menjauh ...


🌸🌸🌸🌸🌸


"Kau yakin akan pergi malam ini?" Luiz melirik Leo yang berjalan tepat disisinya.

__ADS_1


Saat ini mereka berdua sedang menyusuri lorong hotel yang lenggang, setelah Florensia berbelok kearah pintu kamarnya yang berada didekat lift.


"Memangnya kenapa?" tanya Leo sambil menyeringai kearah Luiz yang seolah sanksi dengan keputusannya, yang akan meninggalkan hotel malam ini.


"Kalau aku jadi kau, aku tidak akan pergi."


Leo tertawa kecil mendengar kalimat datar Luiz.


"Kenapa kau malah tertawa?" ucap Luiz lagi sedikit dongkol dengan tindak-tanduk Leo yang terlihat acuh tak acuh.


'Dasar bodoh, apa dia tidak sadar jika istrinya sedang di incar oleh seorang pria tampan dan berkwalitas ...?'


Luiz membathin gemas.


"Sudahlah Luiz, kau tenang saja ..." Leo menepuk bahu Luiz. Tawanya semakin berderai saat menyadari wajah Luiz yang terlihat semakin belingsatan saat menatapnya.


"Kau sudah gila yah?" umpat Luiz tak tahan lagi.


"He ... he ... he ..."


"Leo, kau ..."


"Ssstt ... aku tidak sebodoh itu." bisik Leo dengan tatapan matanya yang nakal.


"Maksudmu ..."


"Kau pikir aku rela meninggalkan istriku begitu saja, agar bisa digoda oleh buaya bernama Lionel Winata itu?"


Mata Luiz membesar mendengar ungkapan Leo yang terlihat santai namun terkesan licik.


"Jadi kau sudah tahu?"


"Hhhhmm ..."


"Lalu apa rencanamu sebentar?" tanya Luiz lagi, tak bisa menahan rasa penasaran yang mengungkungnya.


"Mine is mine."


Melihat wajah Leo yang begitu percaya diri telah membuat Luiz menarik nafas lega.


Saat ini Luiz telah yakin seratus persen, bahwa ia tidak perlu lagi mengkhawatirkan apapun keputusan Leo, dalam menghadapi persaingan tak kasat mata tersebut.


Karena saudara kembarnya itu, sudah pasti tahu apa yang harus ia lakukan ...


...


Bersambung ...

__ADS_1


(Mine is mine \= Milikku adalah milikku)


*Jangan lupa di L**IKE yah ... πŸ™*


__ADS_2