TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 70. Bintang Tamu


__ADS_3

Double up.


...


Bugh.


"Maaf Nona, maafkan aku ..." El berucap penuh penyesalan, sambil berusaha membantu menahan tubuh wanita yang nyaris oleng karena bertabrakan dengan tubuh kekar miliknya.


Namun tak disangka, niat baik El telah ditepis kasar oleh wanita itu begitu saja.


"Lepaskan."


"Tapi ..."


"Aku tidak percaya aku bahkan harus kembali bertemu denganmu dalam keadaan yang sama-sama menyedihkan. Apa kau sengaja selalu ingin menabrakku lalu kemudian berpura-pura mengulurkan pertolongan ...?"


El terhenyak kaget mendengar kalimat ketus yang terucap ringan, dari bibir wanita yang begitu ia hafal nada suaranya diluar kepala.


'Florensia ...?'


'Kenapa dia ada disini ...?'


El sungguh terhenyak mendapati kenyataan tersebut, dimana dirinya kembali bertemu Florensia, tepat didepan lift salah satu hotel yang ada di pesisir pantai xx, yang telah dipilih Luna sebagai tempat menginap untuk seluruh personil Mega Florist.


"Kau lagi ...?"


"Katakan, kau pasti sengaja menguntitku. Iya kan?" tuding Florensia tanpa ampun.


"Jangan bercanda." tepis El dengan wajah keruh. "Harusnya aku yang mengucapkan kalimat tuduhan itu, bukan kau."


"El, kau benar-benar menyebalkan!"


"Ada apa? Mulai menyesal telah mengejar orang menyebalkan hingga ke pantai ini ...?" ejek El sambil menyeringai.


"Omong kosong. Siapa yang mengejarmu?"


"Tentu saja kau, Flo ... tidak mungkin aku."


"Kau ..."


"Ada apa ini ...?" sebuah suara bariton terdengar menengahi perdebatan yang mulai alot, antara El dan Florensia.


Cukup membuat kepala El dan Florensia sama-sama menoleh ke asal suara tersebut.


"Siapa kau? Kalau kau bukan siapa-siapa, sebaiknya kau jangan sok ikut campur." ucap El tegas seraya menatap tajam kearah Luiz.


'Kenapa wajahnya seolah begitu familiar ...?'


'Aku seperti pernah bertemu dengan pria ini ... tapi dimana yah ...?'


El membathin, dalam hati pikirannya mengembara, mereka-reka.


Tatapan mata Luiz terarah penuh kearah pria berwajah oriental yang berdiri tegak dihadapannya.


"Maaf, karena mengecewakanmu. Aku memang harus ikut campur, karena Florensia datang ketempat ini bersamaku."


"Apa kau bilang ...?!" El nyaris tak percaya mendengarnya, kepalanya sontak berpaling kearah Florensia yang berdiri dengan senyum penuh kemenangan.


"Aku baru saja selesai meeting bersama Luiz dan beberapa rekan lainnya di hotel ini, dan kami memutuskan melewatkan weekend ditempat ini juga. So ... berhenti berkhayal, bahwa aku kesini untuk menguntit dirimu seperti orang gila!"

__ADS_1


Kemudian Florensia telah memalingkan wajahnya acuh, menatap Luiz yang berdiri diantara dirinya dan El yang berdiri dengan wajah mengeras geram.


"Luiz, ayo kita ke pantai sekarang dan menunggu sunset. Banyak yang bilang bahwa sunset ditempat ini sangatlah indah." ajak Florensia dengan suaranya yang ramah dan terdengar sangat merdu di telinga.


"Benarkah? Kalau begitu baiklah Flo," jawab Luiz dengan wajah dipenuhi senyuman.


Tinggallah El sendiri, yang menatap punggung kedua orang itu yang semakin menjauh ... dan terus menjauh dari pandangannya.


El masih tidak bisa mempercayai semua ini.


Bagaimana mungkin Florensia bisa mengacuhkan dirinya, dan begitu cepat move on hanya dalam kurun waktu sepekan setelah penolakan El akan kehadiran wanita itu, untuk yang terakhir kalinya ...?


🌸🌸🌸🌸🌸


"Apa yang terjadi? Kenapa disana tampak riuh sekali ...?" Luna yang baru saja kembali dari kamarnya menatap Dimitri sang suami.


"Oh, maksudmu yang disana itu?" tunjuk Dimitri pada kehebohan kecil yang terjadi tak seberapa jauh dari tempat mereka duduk bersantai di pinggir pantai, dimana para karyawannya terlihat berkerumun di satu titik.


"Hhmm, ada apa? Sepertinya ramai sekali ..."


"Ada seorang aktor terkenal yang baru selesai melakukan pemotretan di pantai ini."


"Aktor terkenal? Siapa?"


Dimitri mengedikkan bahunya. "Entahlah ... tapi sepertinya, seluruh karyawanmu sangat menyukainya, sehingga mereka nekad mengerubungi aktor tersebut seperti semut yang mengerubungi gula ..."


Alis Luna bertaut. Sebuah nama langsung mencuat begitu saja didalam benaknya, namun Luna masih saja merasa sangsi, apakah benar aktor yang dimaksud adalah Tuan Leo, idola semua karyawan yang bekerja di florist miliknya.


"Dimitri, tunggu sebentar. Aku harus memastikannya kalau aktor tersebut adalah Tuan Leo." Luna telah memutuskan karena tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


"Luna, memangnya kau mengenalnya?"


Luna mengangguk kecil. "Kalau itu benar Tuan Leo, maka aku sungguh beruntung, karena pria itu adalah pelanggan istimewa Mega Florist."


'Tuan Leo!'


"Halo, Nyonya Luna, aku sungguh tak menyangka bisa bertemu dirimu dan seluruh karyawan Mega Florist ditempat ini ..."


Sepasang mata Luna pun langsung berbinar-binar. "Tuan Leo? Sudah kuduga ..."


Leo tertawa kecil mendengarnya, kepalanya berpaling kearah pria yang ada disisi Luna.


"Tuan Leo, perkenalkan ini suamiku ..." ucap Luna sambil memeluk lengan suaminya yang gagah.


"Dimitri." Dimitri mengulurkan tangannya ke arah Leo dengan wajah yang ramah.


"Aku Leo, senang mengenalmu Tuan Dimitri. Aku adalah konsumen nomor satu Mega Florist, yang sangat menyukai setiap rangakaian tangkai demi tangkai para dekorator bunga ditempat itu ..." ucap Leo tanpa ragu, sambil menjabat telapak tangan Dimitri yang terulur.


"Tuan Leo, jika anda tidak keberatan, maukah anda bergabung dengan kami? Mega Florist sedang melaksanakan family gathering di tempat ini, besar harapanku anda mau bergabung dengan kami, menjadi bintang tamu khusus, juga ikut berpartisipasi dalam keceriaan di sore ini bersama para karyawan yang semuanya merupakan anggota fans club resmi milikmu. Kami semua adalah fans fanatikmu, Tuan ..." Luna seolah tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut, untuk mengikut sertakan Leo dalam beberapa kegiatan seru di sore nanti. Karena jika itu terwujud, sudah pasti ia bisa menyenangkan hati seluruh karyawan.


Mendengar itu, Leo terlihat berpura-pura berpikir sejenak, padahal didalam hati bersorak-sorai.


'Sesuai dengan yang aku harapkan ...'


Leo membathin, sambil melirik wajah Luna yang terlihat menanti dengan ekspresi wajah yang harap-harap cemas.


"Sepertinya boleh juga. Lagipula aku tidak punya agenda lain lagi setelah pemotretan, pasti seru kalau aku bergabung ..." ucap Leo, yang disambut hembusan nafas lega milik Luna.


"Jadi Tuan Leo bersedia ikut memeriahkan acara ini?" tanya Luna lagi memastikan.

__ADS_1


"Of course ..."


Rasa bahagia Luna tidak bisa lagi ia sembunyikan, manakala wanita itu terpekik girang sambil tak lupa kembali meraup lengan suaminya, seolah ingin membagi kebahagiaan yang ia rasakan.


"Tuan Leo, terima kasih atas kesediaannya, dalam mengabulkan keinginan istriku." Dimitri mengucapkan rasa terima kasihnya mewakili sang istri, yang masih saja betah dan larut dalam kebahagiaan, karena keinginannya yang terpenuhi.


🌸🌸🌸🌸🌸


Bunyi nyaring ponsel yang berada disisi Victoria telah membuat Victoria terjaga dari tidurnya yang entah sejak kapan.


"Astaga, jam berapa ini? Bisa-bisanya aku ketiduran ..." desis Victoria sambil meraih ponselnya yang masih setia berdering.


Nama 'Winda' tertera jelas di layar ponsel, sekaligus menandakan siapa gerangan sang penelepon.


"Halo, Win ...?"


"Oh, astaga, Vic, akhirnya kau mengangkat ponselmu juga. Padahal aku mulai khawatir ..." suara panik milik Winda terdengar nyata ditelinga.


"Maaf, Win, saat masuk waktu ishoma aku memilih kembali ke kamar, egh malah ketiduran ..." lirih Victoria dengan nada suara di penuhi kantuk.


"Kau membuat kami khawatir, Vic, aku dan beberapa teman bahkan sudah mencarimu kemana-mana."


"Maaf, Win ..."


"Sudahlah, sekarang cepatlah kau bersiap dan turunlah segera. Kau telah melewatkan banyak hal menarik hari ini, jangan sampai kau melewatkan lebih banyak hal lagi ..."


Alis Victoria berkerut mendengar suara Winda yang penuh semangat empat lima. "Winda, kau ini bicara apa ..."


"Vic, kau pasti tidak akan menyangka jika Tuan Leo ada bersama-sama di acara family gathering kali ini. "


"Aaappa ...?"


"Tuan Leo ada disini, Vic ...!"


"Ha-ah?!"


Victoria tersedak saliva-nya sendiri mendengar nama Leo yang disebut Winda dengan enteng.


Victoria bahkan berharap bahwa telinganya telah salah mendengar.


Iya, pasti salah. Leo tidak mungkin berada disini ... tidak. Tidak mungkin.


"Cepatlah turun, karena para pria akan tanding volley pantai, dan Tuan Leo telah menantang Tuan El untuk adu skill ..."


'Tidak ... tidak mungkin ...'


'Bagaimana bisa Leo ada disini? Tadi pagi, pria itu bahkan tidak mengatakan apa-apa ...'


Victoria masih mematung ditempat dengan ponsel ditangan, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk bergegas bangkit menuju kamar mandi terlebih dahulu, sebelum turun kebawah dan membuktikan semua keraguannya.


Dan pada akhirnya ...


Winda memang tidak berbohong.


Leo benar-benar berada di pantai xx, dan kini hanya berjarak tak lebih dari lima meter, dari tempat dimana Victoria berdiri bersama Winda dan para karyawan lainnya ...


...


Bersambung ...

__ADS_1


Terima kasih untuk semua doa dan perhatiannya bagi kesembuhan author, niscaya Allah akan membalasanya dengan berlipat ganda.


Amin .... Ya Rabbal Alamin ... πŸ€—


__ADS_2