
Double up.
...
Victoria baru saja kembali dari toilet.
Entah kenapa seharian ini perut Victoria seolah tidak bersahabat dan terasa begah. Ia bahkan merasa mual nyaris sepanjang hari, sehingga membuatnya bolak-balik kamar mandi sejak pagi.
"Apa yang terjadi?" Victoria bertanya sambil mencolek bahu Feni, temannya sesama dekorator bunga, saat melihat kepanikan kecil yang sedang terjadi di ruangan Bos Luna.
Didalam ruangannya wanita yang seumuran dengannya itu terlihat berjalan mondar-mandir kesana kemari sambil menelpon, wajahnya pun terlihat resah.
"Bos Luna sedang panik begitu mendengar kabar bahwa Austin mengalami kecelakaan."
"Apa?! Austin mengalami kecelakaan?!" Victoria terpekik ngeri.
"Iya, Vic, motor yang dikendarai Austin telah diserempet oleh pengendera motor lainnya, dalam perjalanan kembali menuju kesini."
Victoria terhenyak mendengar kabar tersebut.
Pantas saja Bos Luna terlihat panik. Austin adalah salah satu rekan kerja mereka di Mega Florist, yang bertugas sebagai kurir pengantar bunga.
Tadi pagi, pria itu berangkat untuk mengantarkan dua kardus besar pesanan bunga tangkai disebuah minimarket yang telah menjadi langganan mereka.
Lokasi minimarket itu sendiri jaraknya sebenarnya tidak lebih dari dua kilo meter, sehingga Austin pergi kesana hanya dengan mengendarai motor kantor.
"Lalu bagaimana keadaan Austin?" tanya Victoria prihatin.
"Sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat. Menurut informasi yang didapat ia selamat, tapi tulang kakinya mengalami retak."
Victoria bergidik ngilu mendengar penjelasan Feni, namun detik berikutnya perhatian keduanya sontak teralih begitu Bos Luna keluar dari ruangannya, masih dengan raut wajah yang diliputi ketegangan.
"Apakah diantara kalian ada yang bisa menyetir?"
"Memangnya ada apa, Bos?" seorang wanita yang merupakan salah satu karyawan nampak bertanya.
"Aku akan pergi ke rumah sakit melihat keadaan Austin. Tapi saat ini masih ada satu pesanan bunga lagi yang belum sempat diantar ..." tatapan Bos Luna mengarah pada sebuah buket bunga yang ukurannya cukup besar, sehingga sudah pasti pengantarannya harus menggunakan mobil box agar tidak rusak.
Hari ini, kebetulan Mega Florist sedang mendapatkan job besar untuk mendekorasi salah satu wedding party yang cukup mewah disebuah hotel bintang lima.
Karena itulah mereka telah kekurangan tenaga kerja pria, yang biasanya bertugas di lapangan.
Hanya tersisa Austin, dan naasnya lagi Austin telah mengalami kecelakaan barusan.
"Vic, kau bukannya tahu caranya mengendarai mobil?" kalimat Feni telah mencuri perhatian Bos Luna yang langsung mendekati keduanya yang tengah berdiri bersisian.
"Benar juga. Kau kan mahir menyetir, Vic ..."
Wajah Bos Luna yang belum apa-apa sudah terlihat lega, membuat Victoria tak kuasa menolak.
"Kebetulan sekali Vic. Kalau begitu, kau dan Feni pergilah kesana dan segera antarkan pesanan istimewa ini."
__ADS_1
"Pesanan istimewa?"
"Iya, pesanan istimewa. Karena buket bunga itu merupakan pesanan khusus Tuan Leo, untuk hadiah ulang tahun seseorang yang sepertinya sangat special."
"T-Tuan Leo ...?" tenggorokan Victoria tercekat begitu mengeja nama tersebut dengan susah payah.
Sang pemesan yang telah memesan sebuket bunga yang sangat cantik untuk seseorang yang special, ternyata orang itu adalah Leo, pria yang tak lain suaminya.
Bos Luna pun mengangguk.
Ekspresi wajah Victoria yang memucat sontak tertutupi oleh pekik girang dari Feni, yang justru terlihat sangat antusias, begitu menyadari siapa gerangan orang yang hendak mereka temui nanti.
"Nona Lisa. Buket bunga yang cantik itu, sudah pasti untuk Nona Lisa. Aku telah menonton beritanya di infotainment tadi pagi, bahwa hari ini Nona Lisa berulang tahun ..."
Victoria termanggu ditempatnya, mendapati kalimat Feni yang berapi-api
'Benarkah ...?'
'Jadi buket bunga itu untuk Nona Lisa ...?'
'Padahal aku baru saja berpikir yang tidak-tidak tentang buket bunga yang cantik itu ...'
Victoria membathin dalam diam, hatinya mendadak terasa dipeluk oleh kesedihan begitu saja.
πΈπΈπΈπΈπΈ
'Coz you are my precious. Happy Birthday.'
'From the owner of your life.'
...
Sejak tadi, Feni yang duduk disamping Victoria itu, tak henti-hentinya bercermin, hanya demi memastikan penampilannya agar terlihat pantas saat harus menemui Leo, sang idola.
Victoria yang masih saja terngiang-ngiang dengan sepenggal kalimat romantis, yang tertera pada secarik kartu ucapan yang terselip pada buket bunga yang sedang mereka antarakan saat ini sontak terhenyak.
"Astaga Vic, kenapa sejak tadi kau melamun terus sih? Kau tidak takut kalau kejadian yang menimpa Austin akan menimpa kita juga?" dumel Feni begitu menyadari, bahwa untuk yang kesekian kalinya, Victoria kembali terlihat melamun sambil menyetir.
"Feni, kau ini bicara apa?" protes Victoria.
"Bicara apa? Masih mending ada aku yang selalu mengajakmu bicara, kalau tidak bagaimana?"
Victoria terdiam menerima dumelan Feni yang tak kunjung usai.
Feni memang benar, masih untung ada wanita itu yang selalu menyadarkan Victoria dari setiap lamunan panjang.
Lagipula bagaimana mungkin Victoria tidak kalut, saat menyadari bahwa saat ini dirinya sedang mengantarkan sebuah buket bunga special, yang merupakan pesanan suaminya sendiri, yang akan diperuntukkan untuk wanita lain?
"Vic, kau yakin tidak ingin tampil sedikit menarik saat bertemu Tuan Leo nanti?" usut Feni sambil melirik Victoria lagi.
Sebuah topi, kacamata photocromic, lengkap dengan masker. Victoria bukannya tidak menyadari jika saat ini penampilannya sudah tak ubahnya seorang yang bekerja sebagai spionase, dari pada sebagai seorang kurir pengantar bunga!
__ADS_1
Victoria telah menggeleng tegas. "Tidak perlu."
Bahkan kalau saja dirinya bisa memilih, Victoria lebih memilih untuk tidak bertemu Leo dalam keadaan dirinya seperti ini.
"Kita hampir sampai." Feni menunjuk sebuah lambang agensi besar yang tertera disebuah gedung yang menjulang, dimana manajemen Leo ikut bernaung disana.
Victoria mencengkeram kemudi yang ada ditangannya itu kuat-kuat seolah sedang membagi keresahannya.
Jauh didalam lubuk hatinya Victoria tidak ingin bertemu Leo, sayangnya keinginannya itu justru berbanding terbalik dengan keinginan Feni yang menggebu-gebu, untuk bisa bertatap muka dan bertegur sapa langsung dengan sang artis idola.
Setelah berputar mencari tempat parkir yang strategis, mobil yang dikendarai Victoria pun akhirnya berhenti.
"Here we go ..." Feni bahkan bersenandung saat turun dari mobil dengan wajahnya yang super ceria.
Berbeda dengan Victoria yang malah sibuk membenahi letak topi, kacamata serta maskernya sekaligus di spion tengah sebelum turun menyusul Feni.
"Biar aku saja yang membawanya." ujar Victoria, mengambil alih buket tersebut dari pelukan Feni.
"Egh, tapi ..."
"Sudah, tidak apa-apa. Biar aku yang membawanya. Agar kalau nanti bertemu Tuan Leo, kau bisa dengan leluasa meminta tanda tangan, sekalian ber-selfie ria dengan idolamu itu." ujar Victoria sambil melangkahkan kakinya.
"Vic, memangnya kau benar-benar tidak suka Tuan Leo?" ujar Feni penasaran, sambil berusaha mensejajari langkah Victoria yang telah melangkah mendahului dirinya.
Victoria membisu.
"Vic ..."
"Aku tidak suka menonton film, karena itulah aku tidak terlalu mengenal para aktor dan artis negeri ini ..." kilah Victoria beralasan.
"Kau ini aneh sekali, padahal sepertinya tidak ada wanita di negeri ini, yang tidak suka Tuan Leo ..." imbuh Feni kemudian, namun kali ini Victoria tidak lagi merasa ingin meladeni kalimat wanita itu.
Langkah mereka telah memasuki lobby depan dari gedung tersebut, langsung menuju meja resepsionis.
"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" seorang wanita cantik yang berada dibelakang meja resepsionis, telah menyapa Victoria dan Feni dengan ramah dan penuh senyuman.
"Kami dari Mega Florist, ingin mengantarkan pesanan bunga dari Tuan Leo." Feni yang menjawab.
"Tuan Leo? Baiklah tunggu sebentar ..."
Wanita itu terlihat mengangkat telepon untuk menghubungi seseorang, berbicara singkat disana, sebelum akhirnya kembali menaruh gagang telepon tersebut ketempat semula dan kembali fokus menatap kearah Victoria dan Feni.
"Tuan Leo ada dilantai tiga, tepat di ruangan pertama sebelah kanan dari lift. Silahkan, beliau sudah menunggu disana ..."
Mendengar informasi tersebut Feni langsung menyambutnya dengan suka cita disertai senyum semringah.
"Baiklah, terima kasih ..." jawab Feni tak kalah ramah, sementara Victoria memilih terus berdiam diri dibalik masker yang ia gunakan.
Detik berikutnya, langkah keduanya pun telah mengarah kearah lift, masing-masing dengan dada yang berdebar tak karuan ...
...
__ADS_1
Bersambung ...
Kopi dong, tambahin vote juga boleh π₯°. *j**angan lupa like dan comment yah π€*