
Pov beberapa saat yang lalu ...
"Jadi apa saja agenda acaranya setelah ini?" Leo bertanya sambil menyeruput fresh mint.
"Sore ini sampai waktu maghrib menjelang semua kegiatan akan berpusat di pantai ini. Aku tidak menyusun acara yang terlalu formal agar semua karyawanku bisa bersantai dan berekreasi sesuka hati. Kegiatan puncaknya nanti malam, ada dinner bersama yang kemudian akan diselingi dengan acara-acara hiburan seperti musik dan stand up comedy juga tak ketinggalan bagi-bagi doorprize ..." Luna menjelaskan garis besar dari konsep acara family gathering yang ia gagas itu panjang lebar.
Mendengar itu Leo manggut-manggut. Namun sesekali sepasang matanya terus mengarah kesana-kemari guna mengidentifikasi keberadaan Victoria yang tidak terlihat sejauh ini.
'Victoria tidak ada ... El juga tidak terlihat ...'
'Mengapa begitu kebetulan?'
'Jangan-jangan ...'
Leo menggelengkan kepalanya cepat, menepis prasangka aneh yang mulai menggerogoti benaknya.
Rasanya Leo ingin sekali menanyakan keberadaan Victoria kepada Luna, namun urung karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan.
"Oh, iya, apakah Tuan El tidak ikut serta?" saking tak sabar memendam rasa penasaran, akhirnya Leo memilih bertanya, meskipun dengan mengganti targetnya.
"Kira-kira satu jam yang lalu saat kami masih berada di hotel, El memberitahukan bahwa ia telah sampai, namun sampai sekarang aku malah tidak melihat batang hidungnya sama sekali."
"Mungkin dia lelah, dan memutuskan untuk beristirahat dulu di kamarnya," Dimitri yang duduk diantara Leo dan Luna menambahkan jawaban Luna atas pertanyaan Leo tentang keberadaan El.
'Jangan sampai mereka bersama ...'
Bathin Leo kembali terusik. Rasa kesal di sudut hatinya pun semakin tidak terbendung lagi.
"Dimitri, kau temani Tuan Leo dulu, aku ingin mengambil ponsel yang tertinggal dikamar agar aku bisa menghubungi El. Lagipula sejak tadi, sepertinya aku juga tidak melihat Victoria ..."
Kalimat Luna itu telah membuat jantung Leo berdetak dua kali lebih cepat, namun Leo mencoba bersikap sewajar mungkin dan tetap tersenyum saat Luna pamit padanya.
Namun sepeninggal Luna yang terlihat berjalan kearah hotel yang tidak begitu jauh dari pesisir pantai, tiba-tiba saja sebuah suara telah menyeruak diantara keheningan, menepis semua kekalutan Leo yang belum sempat berkembang sempurna.
"Kalian berdua sedang apa? Kelihatannya serius sekali."
El muncul begitu saja dihadapan Leo dan Dimitri yang belum sempat bercakap sepeninggal Luna.
Penampilan El terlihat santai dengan outfit kemeja dusty blue motif kerang laut, yang dipadukan dengan celana pendek warna merah, menambah kesan yang sangat eye catching.
Dimitri yang mendapati El telah berdiri dihadapannya malah tertawa kecil, sementara Leo hanya tersenyum.
"Pada awalnya kami sedang membicarakanmu. Luna bahkan kembali ke kamar hanya untuk mengambil ponsel agar bisa mencari tahu keberadaanmu." ujar Dimitri berterus terang.
El menautkan alisnya. "Benarkah?" ujarnya menatap Leo dan Dimitri berganti-ganti sebelum melabuhkan pandangannya kearah Leo.
"Kita bertemu lagi, Tuan El." sapa Leo.
"Wah, kebetulan yang sangat menyenangkan. Apakah Tuan Leo sengaja datang untuk memeriahkan acara?"
Leo menggeleng sambil tersenyum. "Sama sekali tidak, tapi sepertinya aku memiliki keterikatan istimewa dengan Mega Florist sehingga selalu terhubung dengan berbagai cara ..." ucap Leo diplomatis.
El tertawa mendengar kalimat yang disangkanya merupakan sebuah gurauan ringan, namun pastinya sama sekali tidak mengira jika pada kenyataannya, Leo bersungguh-sungguh mengatakannya.
Tentu saja, karena Leo terus memantau perkembangan Mega Florist setiap saat, semenjak dirinya meyakini bahwa pria bernama El yang ada dihadapannya ini, sedang melakukan berbagai upaya guna mendekati istrinya Victoria.
"El, duduklah ..." kalimat Dimitri telah menyadarkan El, yang kemudian mengambil tempat disisi adik iparnya itu. "Kau darimana saja? Kenapa baru terlihat sekarang?" tanya Dimitri lagi seraya menatap El.
"Aku ada keperluan sedikit ..." jawab El beralasan, namun wajahnya agak memerah.
"Jangan katakan kalau kau sedang mencari seseorang ..." ledek Dimitri to the point, tak peduli jika karena pernyataannya tersebut El telah menghadiahi dirinya sebuah pelototan kecil.
Dimitri memang telah mendengarnya sekilas dari Luna, bagaimana upaya keras El yang berusaha mendekati salah seorang karyawan Mega Florist akhir-akhir ini.
Bahkan acara family gathering saat ini juga tak lepas dari peran serta El untuk menyibak latar belakang status Victoria yang sesungguhnya, dan kenyataan tentang Victoria yang datang sendirian telah membuat El rela meninggalkan bejibun pekerjaannya hanya untuk menyusul Luna dan para karyawannya ke tempat ini.
"Dimitri, istrimu itu telah mengarang cerita apa saja tentang diriku?" usut El sambil menggaruk kepalanya dengan wajah bersemu malu.
__ADS_1
"Bukankah dia adikmu?" jawab Dimitri sambil tertawa mendengar tanggapan El, sengaja menggoda pria itu semakin dalam.
"Aku juga sedang mencari seseorang." celetukan Leo yang tiba-tiba sanggup mengurai canda serta pembicaraan dua arah yang berlangsung.
El dan Dimitri yang berada dihadapannya sontak menoleh penuh kearah Leo yang kembali meneguk fresh mint miliknya dengan senyum yang tak pernah lekang.
"Tuan Leo, sepertinya kita punya banyak kesamaan ..."
"Asalkan kita tidak mengincar orang yang sama, maka aku rasa tidak akan ada yang kecewa ..."
Hening.
Kelihatannya kalimat nyeleneh Leo sedikit mengusik bathin El.
Sementara itu Dimitri pun ikut terdiam, sedikit bingung untuk ikut angkat bicara.
"Aku hanya bercanda." tukas Leo sambil tertawa, menyadari suasana yang mendadak kaku.
"Selera humormu sungguh buruk, Tuan Leo," ujar El mencoba melepaskan ketegangan yang sempat menyelimuti dirinya.
El justru berpikir, bahwa bisa jadi Leo memang sedang bercanda, tapi pada kenyataannya, El pernah memergoki Leo berdua saja dengan Victoria di florist yang saat itu berada dalam keadaan sepi, sebelum ia dan Luna datang.
"Bagaimana kalau sore ini kita melakukan sesuatu yang sedikit mengadu fisik?" suara Dimitri menyeruak begitu saja, memberikan ide, sengaja mengurai situasi yang mendadak terasa canggung.
"Ide yang bagus."
"Dimitri, apa kau punya ide?" tanya El.
"Volley pantai?"
"Aku setuju." lagi-lagi Leo memutuskan tanpa ragu.
Ketiganya pun bangkit mendekat kearah lapangan volley pantai dimana empat orang karyawan pria Mega Florist sedang bertanding dua lawan dua.
"Kita perlu menambah seseorang, agar seimbang ..." El berucap sambil melirik Leo dan Dimitri yang juga berdiri di pinggir lapangan, dibawah teriknya mentari di sore hari.
Sebuah suara terdengar menyela tepat dibelakang tubuh El.
El yang berbalik pun terkejut begitu mendapati sepasang pria dan wanita yang baru saja ia temui beberapa saat yang lalu telah berdiri tegak bersisian.
"Kalian ...?"
"Luiz?" Leo terhenyak mendapati Luiz yang berdiri disana, bersama seorang wanita cantik.
"Hai, Leo, tak kusangka bisa bertemu denganmu disini." sapa Luiz ramah.
"Kau mengenalnya?" El menatap Leo sejurus.
Leo mengangguk. "Tentu saja. Dia saudaraku ..."
"Kalian lebih mirip kakak-beradik," timpal Dimitri.
"Hhmm ... benarkah?" Leo mengangkat bahu.
"Dua lawan dua. Aku dan Leo akan melawan kalian berdua, bagaimana?" tantang Luiz tanpa membuang waktu.
"Kau yang memintanya." El menjawab tantangan Luiz dengan wajah dingin, sambil membuang muka begitu saja, manakala sepasang matanya menangkap sebuah pemandangan manis, dimana Luiz dan Florensia saling melempar pandang.
Penuh senyuman ...
Penuh arti ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
Tidak. Tidak hanya Leo. Tapi juga Luiz.
Leo dan Luiz ...?
__ADS_1
Ada apa ini ...?
Apa yang kedua pria kembar itu lakukan di tempat ini?
Victoria masih mematung di tempatnya berdiri, berusaha mengatupkan mulut rapat-rapat, yang nyaris menganga mendapati pemandangan yang berada tepat didepan matanya.
Empat orang pria tampan dengan tubuh tinggi atletis sedang berembuk seolah sedang menyepakati sesuatu.
Leo, Luiz, El, dan Dimitri yang merupakan suami Luna.
Luna juga ada diantara mereka bersama seorang wanita cantik yang belum pernah dilihat Victoria sebelumnya, sementara seluruh karyawan Mega Florist terlihat berjejer memenuhi pinggiran lapangan volley pantai, siap menjadi suporter dari kedua kubu yang akan bertarung ditengah arena.
Itu adalah pertandingan yang sangat menarik.
Bagaimana tidak?
Empat orang pria tampan yang bertelan jang dada dibawah teriknya sinar mentari sore ...?
Makhluk gila mana yang menolak pemandangan indah empat tubuh atletis sekaligus, lengkap dengan dada bidang serta perut kotak-kotak yang mulai berkilau diterpa sang surya ...?
Sungguh pemandangan yang luar biasa ... amazing view in the world ...!
"Vic ...!"
Victoria tercekat mendapati panggilan itu.
El terlihat melambaikan tangannya dengan wajah semringah, langsung berlari kecil mendekati Victoria yang mematung.
Panggilan keras El tidak hanya membuat Victoria terkejut, namun cukup ampuh mengundang beberapa pasang mata sekaligus untuk tertuju pada Victoria.
Victoria bahkan harus menelan ludahnya kelu saat menyadari Leo dan Luiz pun ikut menoleh kepadanya secara bersamaan, dengan sinar mata yang sulit dijelaskan.
"Ayo mendekat. Kau harus berdiri di sisi Luna, karena aku memintamu secara khusus untuk menjadi suporterku dan Dimitri." El menarik pergelangan tangan Victoria begitu saja yang masih tidak bisa menyadari apa yang sedang terjadi.
"T-tunggu, tunggu s-sebentar, El, aku ... aku ..."
"Luna, bala bantuanmu telah tiba." ucap El begitu mereka tiba.
Victoria berusaha secepat kilat melepaskan pergelangan tangannya yang berada dalam cekalan lembut El.
Sekujur wajah Victoria memerah salah tingkah, terlebih saat menyadari sepasang mata Leo yang tajam tengah mengawasinya, belum lagi dengan wajah Luiz yang menatapnya diam-diam dengan ekspresi wajah bingung.
Sementara seorang wanita tak dikenal yang berada disisi Luiz, juga terlihat menatap Victoria dengan wajah kesal.
'Siapa wanita itu?'
'Apakah dia pacar Luiz ...? Atau ... Leo ...?'
'Lalu kenapa dia menatapku dengan wajah sekesal itu ...?'
'Apa salahku kepadanya ...?'
Dalam kekalutan, Victoria bahkan masih sempat membathin, menyadari dirinya seolah merasa sedang dibenci oleh wanita yang sama sekali tak dikenal olehnya.
Luna menatap VIctoria penuh kegembiraan. "Vic, akhirnya kau datang juga."
"Maaf, Luna, tadi aku ketiduran." bisik Victoria seraya mengalihkan wajahnya kearah Luna.
"Tidak apa-apa, kemarilah, kau harus berada di pihakku untuk menyemangati Dimitri dan El, dalam menghadapi Tuan Luiz dan Tuan Leo." titah Luna lagi dengan nada riang.
"B-baiklah ..." jawab Victoria terbata salah tingkah, terlebih saat menyadari wajah Leo yang semakin keruh, usai mendengar keputusan Victoria yang memilih memberikan suportnya untuk El dan Dimitri, daripada menyemangati dirinya dan Luiz.
...
Bersambung ...
Kasih support yang banyak dong akaaakk ... π₯°
__ADS_1