TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 120. Memuji Diri Sendiri


__ADS_3

Follow ig aq yah. @khalidiakayum


...


El tahu bahwa sejak awal Florensia tak berhenti tersipu, dikarenakan kejadian di klinik dokter Nia, dimana El nekad menggendong wanita itu dari ranjang pemeriksaan hingga ke mobil tanpa perlawanan berarti.


"El, apa yang kau lakukan?" protes Florensia, malu bercampur panik, apalagi saat menyadari dokter Nia yang hanya mengangguk sambil senyam-senyum menanggapi Leo yang mengucapkan kalimat permisi.


"Kakimu kan sedang sakit, dan semua itu karena diriku ..." jawab El begitu mereka keluar dari pintu ruangan dokter Nia.


"Turunkan aku. Apa kau tidak malu berjalan melewati banyak orang dengan menggendongku seperti ini?"


Florensia mendadak panik saat menyadari meskipun hari sudah larut namun masih banyak juga orang yang berlalu-lalang di klinik tersebut.


"Malu? Untuk apa aku malu?"


"El, jangan bercanda!"


"Aku sedang menggendong wanita secantik dirimu, kenapa aku harus merasa malu?"


"El, kau ini ..."


"Aku tidak peduli. Aku justru bangga bisa memamerkan dirimu ke semua orang ..." jawab El cuek.


Sungguh, pria itu tidak sedang bermain-main dengan ucapannya. Karena kini senyum El terlihat semakin terkembang kesana-kemari, seolah ingin membalas tatapan setiap orang yang ia temui dengan penuh kebanggaan seperti yang ia katakan


"Dasar gila!" desis Florensia.


Tak ada pilihan lain bagi Florensia, selain menyurukkan wajah kedalam dada El semakin dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona malu dari pandangan orang-orang yang berlalu lalang.


Mendapati sikap menggemaskan Florensia, El malah terkekeh kesenangan.


'Dasar ...'


'Benar-benar tipe manusia over confidense alias tidak tahu malu!'


Florensia mengutuk dalam hati.


Florensia merasa kesal, karena pada kenyataannya ia tak bisa berlaku acuh seperti halnya El, yang begitu percaya diri melangkah seolah tanpa beban, seolah pria itu tak lagi punya rasa malu.


Mereka tiba di parkiran dan El baru melepaskan pelukannnya.


El menurunkan tubuh Florensia tepat diatas tempat duduk, membantu memasangkan seatbelt, dan baru menutup pintu dan beranjak kesisi yang lain begitu ia memastikan Florensia telah dalam keadaan aman dan nyaman.


Dalam diam, tak ada satupun gerak-gerik El yang luput dari pandangan Florensia.


'Tak ada yang berubah. Masih tampan ... semakin tampan ... dan aku selalu mencintainya ...'


'Dasar Florensia Frederick yang bodoh ...'


'*Tolong sadarlah, Florensia ... karena kendati pun kau mencintainya, kau tetap tidak akan pernah bisa mendapatkan restu ayah untuknya* ...'


Bathin Florensia yang awalnya sibuk mengutuk dirinya sendiri seolah tak kan pernah usai, kini berbalik terpekur.


Lagi-lagi Florensia merasa begitu terperdaya dan selalu dibuat tak berdaya.


Florensia sadar, bahwa masa depannya dengan El, tak memiliki harapan sama sekali.


🌸🌸🌸🌸🌸


Sepanjang perjalanan Florensia tak banyak bicara.


El membiarkannya, meskipun demikian, senyum pria itu terus terlukis indah di bibirnya manakala menyaksikan pemandangan wajah merona Florensia yang menyebar hingga ke cuping telinga.


Tak sampai dua puluh menit berkendara, mobil El telah terparkir manis di parkiran basement apartemen mewah Florensia.


"Jadi kau tinggal disini rupanya ..." desis pria sambil membuka seatbelt.


"Memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa." pungkas El sambil buru-buru keluar dari mobil.


El terlihat berjalan cepat mengitari setengah body mobilnya agar dia bisa membukakan pintu untuk Florensia.


"Ayo turun ..."


"Egh ... k-kau mau apa?" tanya Florensia jengah saat menyadari telapak tangan kiri El telah menyusup kebawah tubuhnya, sementara yang satunya lagi berusaha melingkari punggung.


"Masih bertanya ... tentu saja aku ingin menggendongmu lagi ..." berucap demikian, dan tanpa membuang waktu lebih lama El langsung mengangkat tubuh ramping Florensia dengan begitu mudah, menggendongnya dengan acuh kearah lift yang berada tak jauh dari tempat mobil mereka terparkir, meskipun raut wajah protes milik Florensia terpancar jelas.


"El, kau sudah gila ya?!"


Dari wajahnya yang kesal jelas terlihat jika rasanya Florensia ingin sekali mengamuk.


"Tunda dulu marah-marahnya, sekarang katakan lantai berapa?" ucap El cuek begitu pintu lift mengatup, membuat Florensia yang sedang berwajah masam mau tak mau menjawab juga meskipun dengan nada suara dingin.


"Tujuh belas."


"Baiklah, tujuh belas." ucap El sambil menekan nomor tujuh belas pada panel lift, lewat jari telunjuk yang disaat yang sama sedang menyangga punggung Florensia.


Lift pun bergerak naik.


"Kau ini ... aku hanya berniat membantumu dengan tulus, tapi kau malah mengataiku gila ..." saat berucap demikian El terlihat nyengir.


Florensia menarik nafas sepenuh rongga, pada akhirnya ia memilih mengalah dan berhenti mendebat pria tak tahu malu, yang entah kenapa bisa terus melukis senyum, meskipun mendengarnya mengumpat.


🌸🌸🌸🌸🌸


El menaruh perlahan tubuh Florensia keatas tempat tidur, setelah terlebih dahulu menyusun beberapa buah bantal agar bisa membuat Florensia duduk dan bersandar dengan nyaman.


"Kalau butuh sesuatu kau tinggal mengatakannya kepadaku."

__ADS_1


"Aku tidak butuh bantuanmu." pungkas Florensia sambil membuang pandangannya kearah lain.


"Bukan tidak butuh, tapi belum butuh saja ..." pungkas El masih dengan sikap keras kepalanya yang sama.


Florensia menatap pria yang masih bersikukuh berdiri dihadapannya dengan senyum yang si alnya sangat manis.


"Kenapa masih berdiri disitu?" tanya Florensia dengan nada ketus.


"Aku?"


"Iya, kau. Kenapa kau tidak pulang saja?"


El tersenyum lagi. "Aku tidak akan kemana-mana, dan akan selalu siap melayani semua kebutuhanmu,"


"Apaaa ...??" sepasang mata Florensia melotot mendengarnya. "Apa maksudmu? Jangan bilang kau akan terus berada di apartemen ku dan ..."


"Kau benar. Aku memang berniat terus berada disini guna menebus semua kesalahanku yang telah membuatmu terluka ..."


"Tidak ... tidak boleh ..." Florensia menggeleng berkali-kali.


"Aku akan tidur disana." tunjuk El pada sebuah sofa yang ada disudut ruangan.


El nyaris melenggang acuh kearah sofa manakala suara dingin Florensia telah menghentikannya.


"Tolong hentikan semua kekonyolan ini El!"


El berbalik, menatap Florensia yang duduk membeku diatas tempat tidur.


"Flo ..."


"Kau sedang apa? Sejak awal kau melakukan semua ini untukku ... sebenarnya kau ingin menunjukkan apa?"


"Aku ..."


"Tolong berhenti."


"Flo ..."


"El, sadarlah. Kendatipun semakin hari aku akan semakin menyukaimu ... tapi aku bukanlah si bodoh Florensia yang akan mengemis cintamu seperti di waktu yang lalu ..."


El terdiam mendapati wajah Florensia yang tanpa riak.


"Jangan membuang waktumu untuk hal yang sia-sia, dan jangan berbuat baik kepadaku. Sudah cukup, El. Karena sebesar apapun aku mencintaimu ... maka sebesar itu pula aku membencimu."


"Flo ..."


"Sumpah demi Tuhan, aku sangat membencimu, El ...!" pekik Florensia penuh sesak.


El kembali tergugu.


Bohong jika ia mengatakan bahwa selama ini hatinya tidak sakit acap kali mendengar setiap kalimat penolakan yang meluncur mulus dari bibir Florensia, namun El tak mampu mengatakan apapun.


'Karma ... yang sangat telak!'


Saat El berusaha mengangkat wajahnya, ia mendapati sepasang mata Florensia yang tak berkedip menatapnya.


"Kehadiranmu disekitarku selalu membuatku kesal. Kenapa kau tidak pulang saja?!"


'Bersabarlah El ...'


"Aku benar-benar tidak mengharapkan kehadiranmu."


'Tahan El ... tahaaann ...'


"Jangan membuat mood-ku semakin bertambah jelek ...!"


'Oh my ...'


"El ...! Kau dengar tidak sih ...?!"


El serentak mengangkat wajahnya, menentang sepasang mata Florensia yang dipenuhi kemarahan.


"Iya, Flo, aku mendengar semuanya."


"Kalau begitu tunggu apalagi? Pergilah. Kehadiranmu disini tidak diperlukan sama sekali, karena aku membencimu ..."


"Flo ..."


"Kau dengar kan, El? Aku membenci ..."


"Baiklah ... fine ... fine ..."


El mengangkat kedua tangannya.


Lama mereka berdua terdiam, sebelum akhirnya suara hembusan nafas yang teramat sangat berat milik El terdengar.


"Aku pergi ..."


Lirih, tanpa kekuatan sedikitpun di dalamnya.


El menatap wajah Florensia sejenak sebelum akhirnya menarik mundur langkahnya, berjalan keluar dari kamar Florensia, meninggalkan wanita keras kepala yang hanya diam seribu bahasa.


Sungguh, El tak menyangka jika pada akhirnya dirinya harus menyerah, dan menerima kekalahan seperti ini.


Sementara itu ...


Florensia terpekur menatap kepergian El, seolah baru tersadar bahwa sikapnya sudah sangat keterlaluan.


'Florensia, apa yang kau lakukan ...?'


'*S*etelah semua ini, El pastilah akan sangat membencimu ...'

__ADS_1


Florensia tahu ia telah sangat menyakiti hati El, dan sesungguhnya dirinya pun sangat menyesali perbuatannya.


Tapi seperti halnya sebuah penyesalan yang selalu saja terjadi belakangan, begitupun halnya dengan Florensia.


Ia menyesal telah mengatakan semua hal buruk untuk El, namun semuanya terlambat sudah ...


El telah pergi ...


🌸🌸🌸🌸🌸


Pada sebuah tidur yang lelap, yang entah kenapa bisa berubah menjadi sebuah mimpi yang buruk.


Luiz merasa seolah sedang berada disebuah ruang hampa udara, dan jalan napasnya mendadak sesak.


"Uhuuukk ...!"


Luiz terbatuk dengan keras.


"Uppss ..."


Luiz terlonjak bangun, sepasang matanya melotot sempurna saat tersadar.


"Dasha, kau ...?!"


Terang saja Luiz merasa sesak napas, sampai bermimpi berada di ruang hampa udara, sehingga tak bisa menghirup oksigen.


Rupanya hidungnya sedang dijepit oleh sebuah jemari lentik milik gadis yang kini tersenyum salah tingkah.


"Maaf Tuan ..."


"Kenapa kau menutup lubang hidungku?! Kau mau membuatku mati kehabisan napas?!"


"Maaf ..." masih menatap Luiz dengan tatapan penuh permohonan dan rasa bersalah.


"Astaga Dasha ..." melihat pemandangan super naif itu Luiz hanya bisa mengusap wajahnya berkali-kali.


Sungguh Luiz tak habis pikir, apa penyebab tingkah konyol Dasha yang membuat gadis itu begitu berani menutup hidungnya saat ia tidur, sehingga dirinya terbangun dengan gelagapan.


"Aku sudah mencoba membangunkan Tuan Luiz berkali-kali, tapi Tuan malah tidak bergerak sama sekali ..." imbuh Dasha dengan ekspresi wajah yang sedikit meringis.


"Memangnya ada apa sampai sampai kau mau membangunkan aku? Kau tidak lihat aku sedang tidur?"


Dasha tertunduk dalam.


Melihat pemandangan itu membuat Luiz mau tak mau menjadi tidak tega juga.


"Ada apa?" akhirnya Luiz memutuskan kembali bertanya, kali ini dengan nada suara yang sedikit lebih rendah.


Dasha melirik Luiz sejenak, tapi tak kunjung bicara.


"Dasha, ada apa ...?" tanya Luiz sambil meraih dagu yang tertunduk. Kali ini nada suara Luiz telah berubah lembut seratus persen.


"Anu, Tuan ... aku ... aku ..."


"Katakan saja. Kau mau apa?"


"Aku ... aku mau kekamar mandi ..."


"Lalu ...?"


"Anu ... itu ... rasanya ... sakit ..."


Kalimat Dasha sangat belepotan, namun Luiz telah paham apa yang hendak disampaikan gadis itu.


Dasha tertunduk jengah, di karenakan rasa malu yang menguasai jiwa saat mencoba mengatakan kesulitan yang sedang ia alami, sehingga ia tak lagi melihat bagaimana raut wajah Luiz yang berubah iba dalam sekejap.


Tanpa banyak bicara Luiz pun beringsut turun dari ranjang yang berukuran tidak terlalu besar itu.


Luiz meraih boxer miliknya yang teronggok di lantai kemudian memakainya dengan cepat, kemudia ia bangkit dan memutar tubuhnya ke sisi ranjang yang ditempati Dasha.


"Kemarilah," ucap Luiz sambil meraih tubuh mungil yang hanya dilingkari selimut.


Dasha tak berucap sepatah katapun, dia hanya terdiam saat Luiz membopongnya menuju kamar mandi dan mendudukannya ke atas closet dengan perlahan.


"Biar aku saja ..." wajah Dasha semakin memerah saat menolak niat Luiz yang hendak mengurai selimut yang melingkar di tubuhnya. "T-Tuan, bisa tidak beri aku kesempatan untuk melakukannya sendiri?"


Luiz menatap Dasha lamat-lamat. "Kau yakin bisa melakukannya sendiri?"


Dasha mengangguk cepat.


Lagi-lagi Luiz menatap Dasha seolah ingin kembali memastikan.


"Baiklah ... aku akan berada dibalik pintu itu. Kalau kau sudah selesai, kau panggil aku saja ..."


Dasha mengangguk malu-malu.


Luiz pun mengayunkan langkahnya keluar dari kamar mandi, berniat menunggui gadis itu selesai dengan hajatnya dari balik pintu, agar dia bisa membantu Dasha dengan menggendongnya kembali ke ranjang.


Diam-diam sebuah senyum nakal menghiasi bibir Luiz, saat menyadari bahwa dirinyalah penyebab kesulitan Dasha sehingga gadis itu bahkan tidak bisa berjalan.


'Ternyata aku memang se-hebat itu yah ...'


Luiz membathin bangga ...


Sibuk memuji diri sendiri ...


Memuji kehebatannya di atas ranjang ...


...


Bersambung ...

__ADS_1


LIKE and SUPPORT-nya selalu dinanti ... πŸ€—


__ADS_2