TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 57. Pria Tampan


__ADS_3

"Happy birthday to me ..."


Tepat jam dua belas malam, saat Victoria berdiri dibelakang jendela yang tertutup rapat, memandang kosong ke arah luar.


Gemuruh petir di atas langit malam terus bersahutan seolah mengamuk, sementara hujan yang turun semakin deras, dan angin pun bertiup kencang.


Dua buah bening mengalir turun dari sepasang telaga milik Victoria.


Tepat malam ini usia Victoria genap tiga puluh tahun.


Masih seperti tahun-tahun kemarin, manakala usianya terus bertambah tanpa ada sesuatu yang berarti, dan terus seorang diri ...


🌸🌸🌸🌸🌸


"Apa? Leo pergi?" Lisa terhenyak saat asistennya memberitahukan hal tersebut.


Pagi ini, kepanikan kecil telah terjadi terlebih untuk Paul. Pria itu terlihat baru selesai menelepon saat Lisa datang mendekat.


"Paul, kemana perginya Leo sepagi ini?"


"Tuan Leo telah kembali seorang diri."


"Lalu kalian?"


"Aku telah menyewa mobil resort untuk membawa kami kembali." jawab Paul kemudian.


Alis Lisa bertaut sempurna mendengar penjelasan Leo. Benaknya sibuk menebak-nebak, ada apa gerangan yang membuat Leo memilih pergi terburu-buru hingga nekad meinggalkan asisten, sopir, dan dua orang crew-nya sekaligus.


"Paul, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Lisa, tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya, namun Paul malah mengangkat bahu.


"Aku juga tidak tahu persis, Nona Lisa. Yang jelas, Tuan Leo hanya mengatakan bahwa dia memiliki urusan yang sangat urgent. Aku hanya diberitahukan sopir bahwa sebelum shubuh, Tuan Leo telah datang ke kamarnya untuk meminta kunci mobil dengan terburu-buru dan mengatakan bahwa ia mempunyai urusan pribadi yang harus ia kerjakan secepatnya."


Penjelasan panjang lebar dari Paul, justru semakin membuat Lisa penasaran, tentang hal apa yang sebenarnya telah terjadi.


'Leo ... akhir-akhir ini pria itu memang terlihat agak berbeda ...'


Lisa membathin saat ia telah kembali seorang diri, begitu Paul pamit dari hadapannya.


Benak Lisa telah dipenuhi oleh bayangan Leo.


'Apakah dia marah karena semalam aku benar-benar nekad menggodanya secara terang-terangan?"


Lisa membathin lagi.


Lisa telah mengenal dan mengidolakan Leo sejak lama, apalagi mereka memang bernaung dalam satu agensi yang sama.


Setahun terakhir ini Lisa merasa sangat beruntung. Mereka telah menjadi dekat dengan sendirinya, sejak adanya proyek film Love Desire yang diperankan oleh dirinya dan Leo.


Kebersamaan yang diawali dengan seringnya bertemu di lokasi syuting dan upaya membangun chemistry tidak hanya berakhir sampai disitu saja.


Saat Love Desire meledak di pasaran, semakin banyak pula jadwal pemotretan serta program televisi yang selalu mengundang mereka berdua, apalagi seluruh masyarakat juga menyukainya. Leo dan Lisa adalah couple favorite masa kini yang diidolakan semua orang.


Banyak pihak yang ingin mereka bersama dalam dunia nyata, namun hanya sedikit yang tahu ...

__ADS_1


Bahwa pada kenyataannya, Leo selalu bersikap dingin, dan cenderung terlalu datar dengan keberadaan Lisa, saat mereka berada dibelakang layar ... dibalik bidikan kamera ...


Sementara itu ...


"Si al ...! Si al ...!! Si al ...!!!"


Leo memukul setir mobil berkali-kali saat menyadari untuk kesekian kalinya ia kembali terjebak kemacetan.


Mentari pagi mulai menyapa sempurna dari ufuk timur, dan Leo kembali berada dalam antrian panjang mobil dijalanan, yang semalaman penuh telah dihantam cuaca ekstrim.


Leo tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah pada keaadaan, yang kali ini benar-benar enggan berpihak kepadanya.


🌸🌸🌸🌸🌸


Tok ... tok ... tok ...


Victoria telah mengetuk pintu ruangan Luna, sehingga wanita cantik yang merupakan owner dari Mega Florist tersebut mengangkat wajahnya, langsung tersenyum semringah mendapati kehadiran Victoria diruangannya.


"Selamat pagi."


"Selamat pagi, Vic, ayo masuk ..."


Victoria mengangguk sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan Luna yang tidak terlalu besar.


"Duduklah," titah Luna kemudian, dengan nada yang ramah.


Victoria pun menarik sedikit kursi yang ada dihadapan Luna dan menghempaskan tubuhnya keatas sana dengan perlahan.


"Maaf aku memanggilmu sepagi ini,"


"Tidak apa-apa, bos ..."


"Bos?" sepasang mata Luna membeliak. "Sudah aku katakan jangan panggil aku seperti itu, Vic ..."


Victoria tertawa kecil mendengar kalimat protes Luna yang entah untuk kesekian kalinya, setiap kali ia memanggil sahabatnya itu dengan sebutan 'bos'.


"Semua karyawan memanggilmu seperti itu, lalu bagaimana mungkin aku hanya memanggilku seperti biasa ..." kilah Victoria beralasan.


"Aku bisa menerima alasanmu. Tapi saat ini kita hanya berdua, tolong jangan panggil aku seperti itu ... kau membuatku risih!" protes Luna dengan sengit.


Mendengar itu Victoria tertawa lagi, sementara Luna malah mesem-mesem.


"Baiklah, ada apa kau memanggilku sepagi ini?" usut Victoria kemudian setelah beberapa saat tawanya mereda dengan sendirinya.


"Begini, Vic, kau tahu kan kalau akhir-akhir ini, Mega Florist terus-menerus kebanjiran orderan besar? Sesuai jadwal yang aku susun, nyaris setiap hari Mega Florist mendapat job untuk dekorasi wedding party dan beberapa event besar lainnya ..."


"Hhhmm. Lalu ...?"


"Karena semua itu aku menjadi semakin sibuk dan harus fokus mengontrol langsung ke lapangan. Karena itulah aku butuh bantuanmu ..."


"Bantuan seperti apa, Lun?"


"Vic, bisa tidak, mulai sekarang kau saja yang menghandle semua orderan yang masuk sekaligus bertanggung jawab dengan laporannya? Untuk saat ini, aku sangat kekurangan tenaga yang bisa stay ditempat ini. Semua karyawan sebagian besar harus terjun ke lapangan, sementara waktuku masih sangat mepet untuk melakukan perekrutan karyawan baru ..."

__ADS_1


Victoria paham dengan maksud Luna. Saat ini hanya tersisa tiga karyawan yang bisa stay ditempat termasuk dirinya, usai Austin kecelakaan kemarin siang.


Oleh karena itulah mereka bertiga telah dituntut agar selalu siap melakukan semua pekerjaan, baik dari yang ringan maupun yang terberat sekaligus.


"Bagaimana, Vic? Apakah kau bersedia?" tatap Luna penuh permohonan.


Victoria pun mengangguk menyadari bahwa kali ini Luna benar-benar memerlukan bantuannya.


"Baiklah, Lun, tapi agar semuanya maksimal, bisakah kau menempatkan seseorang untuk menggantikan Austin di bagian kurir ...?"


"Kalau itu kau tidak usah khawatir. Aku sudah memutuskan bahwa kau, Feni dan Doni, akan aku tugaskan untuk melakukan semua pekerjaan disini. Doni yang akan menggantikan Austin untuk pengiriman, dan Feni bisa membantunya jika diperlukan." ujar Luna menjelaskan dengan bersemangat.


"Kalau begitu baiklah, aku akan berusaha sebaik-baiknya agar kami tidak mengecewakanmu." sambut Victoria optimis.


"Terimakasih, Vic, dan maaf jika aku selalu saja merepotkanmu ..."


"No problem ..." kemudian Victoria pun bangkit dari duduknya. "Aku harus kembali, ada beberapa pesanan buket yang harus diantar sebelum jam sepuluh pagi ini."


Luna mengangguk dengan senyum. Wanita itu ikut bangkit dari duduknya namun tiba-tiba tubuhnya telah membeku ditempat.


Victoria yang melihat Luna mendadak terdiam sontak keheranan.


"Luna, kau kenapa?"


"El ..."


"El ...?" ulang Victoria lagi, sambil menatap Luna lekat. "Luna, kau ..."


"EL ...!!"


Bertepatan dengan pekikan Luna, wanita itu terlihat menghambur kearah daun pintu.


'El ...?'


Victoria membalikkan tubuhnya bingung, namun detik berikutnya ia telah melihat sebuah adegan manis, dimana Luna menghambur ke pelukan seorang pria dengan garis wajah yang begitu mirip dengan Luna.


Pria itu tertawa kecil, tanpa sengaja memamerkan deretan giginya yang putih dan tersusun rapi, saat menyadari Luna yang telah memeluk tubuh kekarnya dengan erat, penuh kerinduan.



Tampan dan menawan ...


Tinggi dan tegap ...


Berkulit putih bersih khas kulit asia ...


'El ...? Siapa dia ...?'


...


Bersambung ...


Yang gak sabar pengen tahu siapa pria tampan bernama EL, boleh kilas balik di "Bab 54. LANA, NYONYA KAYA RAYA" πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2