TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
ORANG ASING


__ADS_3

"Tuan, apakah kau membenciku?"


Lana sedang menatap Arshlan yang terlihat tenang namun yang sesungguhnya sedang terhenyak. Tak menyangka jika akan ditodong langsung dengan pertanyaan serius seperti itu.


Pertanyaan Lana sanggup membuat Arshlan merasa kikuk meskipun ia terlihat masih bisa mengendalikan dirinya dengan baik.


"Apakah aku juga telah membuat Tuan marah..?"


Belum sempat Arshlan menjawabnya, gadis itu bahkan telah melontarkan pertanyaan baru lagi.


"Tidak.." elak Arshlan buru-buru menyembunyikan rasa canggungnya. "Kenapa kau bertanya seperti itu?" alisnya sedikit terangkat begitu ia menentang sepasang mata Lana yang luar biasa jernih.


"Karena aku telah terkurung dikamar yang terletak diketinggian sejak kemarin, dan sampai sekarang aku bahkan belum diberi makan apapun.." berucap sedikit merajuk, sambil membelai wajah Arshlan dengan lembut.


Meskipun Arshlan sedikit terbuai dengan belaian diwajahnya, namun tak urung ia berpura-pura bertingkah seolah dirinya terkejut mendengar kalimat Lana. "Benarkah?"


Sejujurnya tatapan polos Lana hanya seperti seseorang yang sedang meminta penjelasannya saja.


Tidak terkesan menuduh.. lebih cenderung terkesan murni sebuah pertanyaan biasa. Namun entah kenapa mendapati semua itu Arshlan malah merasa seperti disudutkan secara tidak langsung. Meskipun semua yang menimpa Lana sudah jelas-jelas merupakan ulahnya semata.


"Kalau begitu buka mulutmu, aku akan menyuapimu.." Arshlan mengambil potongan roti yang ada dipiringnya, dan menyodorkanya kemulut Lana yang langsung menerimanya dengan suka cita.


Untuk sejenak diantara mereka tak ada yang bicara.


Didalam hati Lana bersorak kegirangan mendapati Arshlan yang kini terus menyuapinya. Dan Lana selalu terbuai acap kali menerima sedikit saja kelembutan Arshlan.


Sementara didalam hati Arshlan justru sebaliknya.


Arshlan sedang mengutuk dirinya sendiri begitu menyadari setelah sejak tadi menyuapi Lana, ternyata ia mendapati dirinya begitu menikmati saat memanjakan Lana seperti ini. Menyuapi bocah ingusan yang begitu betah berada dalam pangkuannya, dengan tangannya sendiri.


"Kenapa? sudah kenyang?" tanya Arshlan ketika melihat Lana telah menggeleng.


"Hhhmm.."


Arshlan menaruh garpu yang sejak tadi ia pakai untuk menusuk satu persatu potongan roti, kini tangannya meraih gelas berisi air mineral, menyodorkannya kearah Lana yang kembali menerimanya dengan suka cita.


"Lana,"

__ADS_1


Panggil Arshlan sejenak ketika ia telah menaruh kembali gelas ditangannya keatas meja.


"Aku akui.. aku memang sengaja menaruhmu dikamar yang berbeda, karena aku adalah tipe orang yang perfeksionis. Aku tidak suka barang-barang pribadiku disentuh oleh orang asing." sejak tadi memutar otak untuk mencari alasan apa yang sekiranya bisa ia pakai untuk membohongi Lana dan akhirnya ia menemukan alasan sempurna itu.


Sesungguhnya alasan yang dikemukakan Arshlan bukanlah merupakan seratus persen kebohongan, karena pada kenyataannnya Arshlan memang tidak suka ada yang menyentuh barang-barang pribadinya.


"Orang asing? tapi Tuan, aku kan bukan orang asing. Aku justru istri Tuan yang sah.." berucap heran seolah tidak menaruh curiga atas semua alur kebohongan Arshlan.


Saat ini tangan Lana masih terkalung dileher Arshlan, tubuhnya terpangku sempurna. Kedua kakinya menjuntai kebawah namun tidak bisa menyentuh lantai karena tubuh Arshlan yang kekar, sedangkan disisi lain tubuh Lana cenderung mungil.


"Tetap saja aku merasa asing. Karena didalam kehidupanku, kau adalah orang yang baru bagiku. Lana, terus terang aku belum terbiasa dengan kehadiranmu.." ujar Arshlan lagi-lagi mengukir kebohongannya dengan profesional.


Lana terlihat mengangguk. "Aku mengerti, Tuan. Tapi.. kenapa harus mengunci kamarnya dari luar? kalau seperti itu aku jadi merasa diperlakukan seperti tawanan..?"


Arshlan menyentuh tengkuknya, mulai merasa terdesak dengan rentetan pertanyaan bodoh milik Lana, namun anehnya mampu menyudutkannya dalam sekejap.


"Selain perfeksionis aku adalah orang yang pencemburu. Kau adalah milikku. Jangankan disentuh orang lain.. sebenarnya dilihat orang lain pun aku enggan. Aku memang harus menempatkan dirimu disana, agar kau tidak selalu terlihat oleh semua orang. Lagipula.. aku juga takut kalau tiba-tiba kau menyesal telah menikah denganku lalu kemudian memilih kabur.."


Mendengar kalimat terakhir Arshlan yang terdengar konyol itu Lana tak mampu menahan dirinya untuk tidak tergelak. "Itu tidak mungkin." ujarnya geli.


"Tidak ada hal yang mustahil.." ujar Arshlan sambil tetap melotot bersikeras.


"Tuan, mana mungkin aku bisa kabur dari sini..? aku tidak akan pernah berpikir untuk mencobanya. Rumah ini dipenuhi pengawal dimana-mana. Kalau pun aku ingin, lalu bagaimana mungkin aku bisa melakukannya..?"


"Ehemm.." Arshlan berdehem, menyembunyikan ekspresi dirinya yang sempat tercekat. "Terserah kau mau menertawaiku dengan keras, yang jelas aku tetap khawatir." pungkasnya berpura-pura ngotot, seolah-olah kenyataan tentang Lana yang akan kabur dari sisinya bisa sangat menakutinya serta mempengaruhi jiwanya. Cih..


Lana menghela nafasnya perlahan sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Baiklah Tuan, tidak mengapa jika aku harus berada dikamar yang tinggi itu dan tidur terpisah denganmu. Tapi bisakah aku tidak dikurung..?"


Arshlan terdiam, namun dalam hati sedang menimbang untung ruginya.


"Aku berjanji, kalau aku keluar dari sana maka aku hanya akan pergi kedapur saja. Aku ingin melayani diriku sendiri, tidak perlu pelayan. Aku trauma dengan para pelayanmu yang bisa-bisanya membuatku kelaparan seperti kemarin.."


Lagi-lagi Arshlan terdiam. Dirinya merasa malu, seolah tersindir.. namun dimatanya raut wajah Lana saat ini terlihat begitu polos. Gadis itu benar-benar tidak terlihat menaruh curiga sedikitpun atas 'kejahatan' yang telah Arshlan lakukan.


Arshlan menggeleng perlahan. "Sepertinya itu adalah kesalahpahaman, dan aku pasti akan menegur mereka.."


"Tidak apa-apa, Tuan, tidak perlu menegur mereka, cukup ijinkan aku mengurus diriku sendiri. Bagaimana?"

__ADS_1


Mau tak mau akhirnya Arshlan mengangguk juga. "Baiklah.. aku tidak akan lagi mengurungmu dikamar itu, tapi kau harus memegang janji bahwa dapur adalah satu-satunya tempat yang bisa kau tuju. Kau mengerti?" pungkas Arshlan pada akhirnya meskipun dengan berat hati saat memutuskan untuk mengalah dan memberikan Lana kelonggaran.


Sepasang kelopak mata indah itu langsung berbinar. "Tuaaannn.." Lana menjerit kegirangan lagi seperti biasa, setiap kali ia merasa bahagia. "Tuan, terima kasih. Aku mengerti, Tuan, aku mengerti.. dan aku tidak akan pernah melanggarnya. Aku janji!" Lana menghujani seluruh wajah Arshlan dengan kecupan-kecupan kecil yang brutal.


Arshlan tertawa mendapati kebiasaan Lana itu, membiarkan sisi hatinya yang lain mengutuk kelemahannya saat ini, yang begitu mudah disenangkan oleh hal sederhana yang dilakukan bocah kemarin sore.


Saat Lana mengakhirinya dengan lu ma tan kecil sejenak dibibirnya, sesaat kemudian Arshlan telah menatap Lana dalam-dalam.


"Lana.. ada yang harus kau ingat, bahwa menjadi istriku berarti siap mengikuti semua aturan mainku. Aku sudah memperingatkanmu sejak awal bahwa aku bisa saja bukan orang yang kau inginkan.. tapi kau tetap bersikeras hingga detik ini.."


"Yang aku yakini justru sebaliknya, bahwa Tuan adalah satu-satunya pria yang aku inginkan. Itu saja." berucap sedikit pongah dengan rasa percaya diri yang meluap-luap.


"Kelak jika ada sikapku yang nantinya akan mengecewakanmu.. maka kau tidak boleh protes.."


Lana menggeleng tegas. Keyakinannya benar-benar setegar batu karang. "Tuan, percayalah.. semua yang Tuan takutkan dari diriku, itu tidak akan pernah terjadi, karena aku adalah orang yang tidak mudah menyerah.."


Arshlan menyeringai kecil. "Kau bahkan tau bahwa aku adalah pria yang buruk dan kejam.. tapi kau terus menempel padaku seperti kutu."


"Aku percaya semua orang bisa berubah.."


"Tapi aku tidak termasuk didalamnya.."


"Aku yakin Tuan memiliki hati yang lembut.." berucap demikian seraya menaruh kepalanya diatas bahu Arshlan.


"Sudah aku bilang bahwa aku tidak punya hati, kecuali naf su."


"Tenanglah.. karena untuk hal itu, kita bisa membicarakannya lagi.."


.


.


.


Bersambung..


Follow my IG. @khalidiakayum

__ADS_1


Follow my FB. Lidia Rahmat


Support jangan lupa yah guys.. Thx and Lophyuu all.. 😘


__ADS_2