TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 129. Damai


__ADS_3

Yuk, Follow akun sosmed author 🤗


ig. @halidiakayum


tiktok. @lidiaaa121


TRIPLE UP.


...


"Bagaimana? Masih mau menolak untuk kulamar?"


El berucap sambil tersenyum penuh kemenangan, begitu pembicaraannya dengan Jody Frederick berakhir.


Florensia membisu, namun ujung matanya terus mengawasi gerak-gerik El yang kini tengah mengembalikan ponselnya keatas nakas.


El menatap Florensia dengan tatapan yang hangat, namun Florensia malah menundukkan wajahnya, tidak punya nyali untuk beradu tatapan apalagi dengan seluruh celah hatinya yang terasa sejuk dialiri kebahagiaan.


Mungkin ini adalah jawaban yang indah, buah dari sekian lama penantiannya. Tapi tetap saja Florensia merasa sangat malu, juga gugup.


"Flo, sejauh ini aku sudah membuktikan kesungguhanku. Tidak bisakah kau menerima dan mempercayai kesungguhanku ..."


"Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku tidak percaya ..."


"Jadi itu sama artinya kau percaya ...?"


Florensia membisu, sibuk memilin jemarinya satu sama lain guna membagi kegugupannya.


El memindahkan tubuhnya agar duduknya menjadi lebih dekat. Jemarinya kembali bergerak perlahan menyusuri dua jemari yang terasa lembab oleh keringat dingin.


Diam-diam El tersenyum mendapati kenyataan seberapa besar kegugupan Florensia saat ini.


"Kau ingat kalimat terakhir ayah sebelum memutuskan pembicaraan tadi?"


Florensia melirik sekilas, sebelum kemudian kepalanya mengangguk perlahan.


"Ayah selalu seperti itu. Selalu memintaku untuk menjaga putrinya ... membuatku selalu merasa sesak dan ..."


"Jadi kau keberatan dengan permintaan ayahku?" pungkas Florensia dengan mimik wajah yang kecewa.


El tersenyum penuh makna. "Bukan seperti itu."


"Tapi katamu tadi ..."


"Jagalah Florensia putri ayah, untuk ayah .."


El terdengar mengucapkan kalimat Jody Frederick, begitu sama persis.


"Sebenarnya aku tidak keberatan, bahkan untuk seumur hidupku aku bersumpah akan menjagamu. Tapi ..."


"Tapi apa?"


El menatap Lekat Florensia yang tanpa sadar telah menentang kilau mata elang El dengan begitu dekat.


"Kalau aku menyentuhmu sedikit ... apakah itu termasuk melanggar perjanjian dalam menjagamu ...?"


Florensia terhenyak, sangat tidak menyangka bahwa yang dimaksud El adalah ... adalah ...


Astaga, Florensia malu sendiri saat kedapatan menyimpulkan sesuatu yang aneh.

__ADS_1


Namun mau bagaimana lagi? Otaknya sudah keburu travelling kemana-mana.


"Flo, aku ingin menciummu, tapi kau tidak akan mengadukan perbuatanku ke ayah kan ...?"


Florensia semakin terbelalak mendapati kalimat frontal tanpa filter tersebut.


'Pria ini ... Lionel Winata ... apakah dia tidak merasa malu mengucapkan keinginannya untuk menciumku dengan terang-terangan seperti itu?"


'Lagipula ... apa dia tidak khawatir jika kelak dia akan malu jika aku nekad menolaknya ...?'


Bathin Florensia bergejolak.


"Karena kau juga mencintaiku, maka kau jangan pernah berpikir yang tidak-tidak. Kau pasti tidak mungkin menolakku kan ...?"


'Oh astagaa ... pria ini ...'


Florensia kembali membathin dengan pikiran kalut.


Belum sempat Florensia memutuskan apa yang hendak ia putuskan juga ucapkan, manakala pandangan Florensia sontak menggelap.


Detik berikutnya sebuah kelembutan diatas bibir Florensia terasa begitu menggetarkan seluruh sanubarinya tanpa tersisa.


Bibir El terasa sangat nyata saat menyapu lembut permukaan bibir Florensia, yang awalnya sangat tak siap menerima kejutan yang mendebarkan.


Florensia ingin menghindar, namun El terus bersikukuh menghalangi keinginan Florensia, terus berusaha keras membuat Florensia tunduk dan takluk oleh has ratnya sendiri.


Bunyi kecipak saliva terdengar indah diantara kecupan El yang semakin lama semakin intens.


"Bernafas dengan benar ... jangan sampai kau pingsan ..."


Bisikan menggoda El membuat sekujur wajah Florensia merona merah. Rasanya Florensia ingin memukul pria usil itu namun urung saat menyadari niat hatinya untuk melepaskan diri dibalas El dengan semakin memperdalam ciumannya.


Seluruh sentuhan pria itu sangat memabukkan juga menggetarkan jiwa polos Florensia yang belum pernah terbuai sedemikian rupa oleh sentuhan pesona seorang pria.


"Flo, katakan kau juga mencintaiku ..." lagi-lagi berbisik dengan suara berat mendayu, bak symphoni mistis yang membuat Florensia luruh dan tunduk tanpa perlawanan berarti.


"Selalu, El ... aku ... selalu mencintaimu ... hanya kamu ..." Florensia telah mengucapkan kalimat itu dengan susah payah, diantara deru napasnya yang tere ngah.


El tersenyum puas, seolah mendapatkan kartu kunci dari semua yang dirinya inginkan.


Jemarinya semakin berani membe lai, mengusap, dan meremas lembut di beberapa bagian sensitive yang bisa memacu degup jantung Florensia.


"Aku juga mencintaimu, dan malam ini, akan kubuat kau menjadi milikku seorang ..."


Bisikan posesive El seolah tak bisa lagi terbantahkan, seiring dengan keyakinan hatinya yang semakin teguh bahwa seorang Florensia memanglah telah ditakdirkan untuk ia miliki sejak awal.


Sementara Florensia yang awalnya sempat meragu dengan semuanya semakin tak bisa menolak pria dengan keinginan yang setegar karang itu.


"El ..." desis Florensia mencerminkan keengganannya, menyadari gerak kedua tangan El yang semakin terang-terangan melucuti pakaian yang melekat ditubuhnya.


Florensia merasa sangat malu, namun El bersikeras menyingkirkan kedua tangan Florensia yang seolah menjadi palang penghalang dari tekadnya yang menggebu.


"Aku ingin memilikimu, Flo. Tidak sedikit ... tapi banyak. Tidak ingin separuh ... tapi seutuhnya ..."


Rayuan El terasa memaksa namun begitu pas. Pria itu tak gentar membujuk dan menyingkirkan kedua lengan yang terpalang diatas dada yang membusung indah.


Nyaris seminggu El berusaha keras agar tidak tergoda menyentuh Florensia.


Tapi hari ini ... menyadari wanita itu semakin leluasa bergerak karena kondisi luka yang semakin membaik, El merasa tidak kuat lagi jika tidak bisa mencurahkan segenap cinta yang meluap didalam hatinya, hanya untuk Florensia seorang.

__ADS_1


"El, t-tunggu dulu ..."


"Aku menginginkanmu, Flo. Banyak ... seutuhnya ... semuanya ..."


Napas yang hangat kembali menerpa, sebelum beberapa kecupan singgah di ceruk leher hingga ke tulang selangka, membuat Florensia tak kuasa menggelin jang.


Florensia terdiam pasrah saat bahunya mulai terekspos, seiring dengan tanggalnya piyama berwarna salem dari tubuhnya.


El bahkan tak peduli saat melihat Florensia yang terlihat jengah, begitu kedua jemarinya mempreteli kaitan b r a yang ada dibalik punggung yang mulus bak pualam.


"El, aku takut ... ohhhh ..."


Sangat terlambat untuk menolaknya, karena begitu b r a milik Florensia terlepas, kepala pria itu telah menguasai isi didalamnya, yakni sepasang bukit kembar dengan ukuran yang cukup menantang.


"El, ahh .... mmmhh ..."


Tak kuasa.


Florensia merasa malu saat menyadari, betapa ia sangat suka menerima setiap sentuhan El diatas tubuhnya.


Mengecup, memilin, menghi sap dengan kuat, bak bayi besar yang sedang lapar dan dahaga.


Perasaan mendebarkan yang sangat sulit dilukiskan dengan kalimat terindah sekalipun, karena semua orang pun tahu, bahwa selama ini, betapa besarnya Florensia mendamba cinta seorang El, mengejarnya seperti orang gila.


"El, jangan ..."


Mulut mungil Florensia memekik saat menyadari jika pria itu telah memposisikan bagian tubuhnya yang tegang itu pada permukaan tubuhnya yang telah basah.


"Florensia, percayalah padaku. Aku benar-benar ingin memilikimu ..."


Sepasang mata mereka masing-masing terkunci satu sama lain, karena dalam beberapa detik El telah menjeda semuanya. Hanya beberapa detik ... sebelum akhirnya pria itu nekad menurunkan pinggulnya dan menekan, tanpa mengalihkan tatapannya.


Florensia terlihat meringis kecil, namun mulutnya telah dibungkam sempurna.


Sesuatu yang terkoyak paksa dibawah sana membuat kuku Florensia menancap kuat di punggung El yang lebar.


Mata Florensia berkaca karenanya. Perpaduan antara rasa sakit bercampur haru, atas persembahan cintanya yang tak kunjung usai untuk pria yang sama, sejak awal dirinya mengenal cinta serta rasa ketertarikan kepada seorang pria.


El mencium sudut mata Florensia yang berembun, namun tak menyurutkan pergerakannya yang terus naik turun dengan irama teratur, masih dengan ritme perlahan dan berhati-hati, tak ingin menyakiti Florensia dan meninggalkan pengalaman yang pahit akibat has ratnya yang menuntut ingin dipuaskan.


...


Malam semakin larut ... dan suasana didalam kamar itu telah hening untuk beberapa saat lamanya.


Tak ada lagi suara deru nafas yang saling berkejaran ...


Tak ada lagi suara-suara percintaan yang menggoda jiwa ...


Semuanya terasa damai ...


Se-damai pelukan hangat El ke tubuh Florensia ...


Begitupun sebaliknya Florensia ...


...


NEXT ...


Sebelum NEXT, Jangan Lupa di LIKE and SUPPORT dulu yah ... 🤗

__ADS_1


__ADS_2