TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
PERI PESTA


__ADS_3

Halo Reader.. mampir yuk di Novel PASUTRI, sudah mendekati ending.. dan sangat greget..🤗



Saat ini Arshlan sedang terlibat pembicaraan serius dengan Aldo, salah seorang teman yang juga salah satu kolega bisnisnya.


Awalnya Arshlan sengaja menepikan dirinya agar tidak terlalu terlihat oleh para tamu lainnya, tapi yang ada si tengil Aldo malah telah dengan mudah mengenali Arshlan.


"Sepertinya aku sudah lama sekali tidak bertemu denganmu.." ujar Arshlan sambil mengingat-ingat entah kapan terakhir kali dirinya bertemu dengan Aldo.


"Tentu saja, kita memang sudah tidak pernah lagi bertemu setelah pestamu yang gagal di yacht tempo hari." ujar Aldo sambil menyesap sedikit isi cawan yang berisikan minuman berwarna merah.


Mereka berdua berdiri bersisian diujung ruangan, yang sedikit tersembunyi oleh sepasang bucket yang berisi rangkaian bunga raksasa.


Arshlan mengangguk-anggukkan kepalanya begitu ingatannya kembali ke peristiwa itu.


Yah.. peristiwa yang tidak diketahui siapapun kecuali para anak buah Arshlan, bahwa kegagalan party di yacht mewahnya tersebut disebabkan oleh ulah istri kecilnya Lana, yang dengan nekad datang menggoda Arshlan dikamarnya, dan membuat kericuhan.


Mengingat Lana, membuat Arshlan refleks melirik jam tangan mahal yang melingkar disalah satu pergelangan tangannya. Alis Arshlan langsung bertaut sempurna saat menyadari bahwa seharusnya Lana sudah tiba di pesta ini, tapi entah kenapa Asisten Jo belum juga menelpon untuk memberitahukan kehadiran Lana.


"Sedang menunggu istrimu?" usut Aldo dengan tawa usil, saat melihat kegelisahan Arshlan yang telah melakukan hal yang serupa hingga beberapa kali.


Mengecek jarum jam tangan, kemudian mengarahkan pandangan kepintu masuk, mengecek lagi jarum jam tangannya.. kembali mengarahkan lagi pandangan kearah yang sama.


Arshlan terlihat menyeringai. "Jadi kau sudah tau..?"


"Semua orang sudah tau, bahkan sedang menantikannya. Tidak hanya kau saja.." ujar Aldo santai, lagi-lagi sambil menyesap minumannya, tak peduli dengan ekspresi wajah Arshlan yang terlihat berubah. Sedikit tegang, namun lebih banyak terlihat kesal.


Yah, siapa yang tidak tau dengan mulut Aldo. Pria dihadapan Arshlan ini terkenal dengan mulutnya yang tajam namun Arshlan cukup menyukainya karena setiap perkataan Aldo justru menunjukkan kejujurannya dalam menilai segala hal dengan begitu objectif.


"Apa kau ingin mengatakan bahwa kau juga sedang menantikan kehadiran istriku..?" tanya Arshlan dengan sikap posesifnya yang kentara.


"Sebenarnya tidak terlalu, karena aku hanya mengikuti euphoria-nya saja.."


Arshlan terlihat menyeringai. "Benarkah..?"


Aldo menatap Arshlan yang sedang menatapnya intens. "Aku juga belum bernyali untuk bersaing denganmu.." ujar Aldo lagi, seperti biasa ia sangat suka berucap terus terang.


"Sejujurnya aku tidak suka 'wanitaku' dilihat semua orang, tapi malam ini adalah pengecualian. Aku sedang berbaik hati untuk sedikit pamer.. tapi jangan harap aku akan menghabiskan waktuku yang berharga dipesta menyebalkan Marco ini..!"


Aldo tergelak mendengar kalimat Arshlan yang terdengar geram.


Meskipun tidak terlalu dekat, tapi Aldo cukup mengenal Arshlan. Pria itu memang cukup arogan. Wajar saja, karena Arshlan adalah pengusaha yang sangat sukses dibidangnya.

__ADS_1


Arshlan pun dicintai oleh begitu banyak wanita, karena konon katanya para wanita menggilai kebrutalannya di ranjang. Untuk hal terakhir itu, Aldo tidak bisa memastikannya.


Karena apa..?


Tentu saja karena dirinya seorang pria tulen, mana mungkin ia bisa menilai kejanta nan pria lainnya..?


Yang jelas bagi Aldo dirinya juga merupakan pria tangguh, tapi mungkin Arshlan memiliki taste yang istimewa, sehingga memiliki aura daya pikat yang kuat, selain beberapa faktor yang membuat Arshlan jauh lebih populer dari dirinya.


Sudah pasti karena Arshlan lebih kaya darinya, lebih sukses darinya, dan bahkan lebih tua darinya..!


"Halo Arsh.. aku tidak menyangka ternyata kau sudah hadir disini." Marco menyapa Arshlan dengan senyum.


Entah darimana pria itu bisa menemukan keberadaan Arshlan, namun nampak jelas matanya yang jelalatan kesana kemari seolah sedang mencari sesuatu.


"Aku datang untuk mencegahmu mati penasaran."


Mendengar itu Aldo kembali tergelak, tak peduli jika wajah Marco terlihat memerah, meskipun Marco tetap mencoba tersenyum.


"Aku adalah tuan pesta yang beruntung." ujar Marco sambil melirik sebal kearah Aldo yang masih menyisakan sedikit tawa.


"Tuan Marco, pestamu sangat meriah, terima kasih sudah mengundangku juga.." ucap Aldo sambil tersenyum tengil.


"Pesta kali ini memang cukup spesial, karena aku sudah lama tidak bersua dengan para kolega. Bisnisku yang baru sedang bergerak pesat. Aku menjadi sangat sibuk sehingga nyaris lupa bersenang-senang.."


Sementara sebaliknya, Aldo terlihat bersikap sportif sambil mengangkat gelasnya yang berisikan anggur merah. "Selamat untukmu, Marco.." ujar Aldo, sebelum detik berikutnya perhatiannya terusik saat melihat seorang gadis yang berjalan mendekat kearahnya, dari arah toilet wanita.


"Maaf, apakah aku telah membuatmu menunggu lama..?" gadis itu menyapa Aldo dengan lemah gemulai sambil tak lupa menyuguhkan senyum yang manis.


"Tidak apa-apa sayang, kebetulan aku sedang dihibur oleh dua pengusaha besar negeri ini. Tuan Arshlan dan Tuan Aldo.. perkenalkan, ini kekasihku, Siska. Dan Siska, sapalah kedua Tuan besar ini dengan santun.." ujar Aldo sambil memeluk pinggang ramping gadis itu.


"Salam Tuan Arshlan, senang sekali bisa bertemu dengan Tuan."


Siska menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan malu saat menundukkan kepala dihadapan Arshlan.


"Salam kenal juga Tuan Marco.. terima kasih atas pestanya yang begitu menyenangkan.." kali ini berucap kearah Marco sambil tersenyum ramah.


"Halo nona Siska, aku pun sangat senang bisa mengenalmu. Aldo memang sangat pintar mencari gadis muda yang cantik.." puji Marco seperti biasa, selalu terlihat begitu lembut saat berhadapan dengan seorang wanita cantik.


Arshlan menatap sejenak wanita yang menemani Aldo tersebut sebelum ia kembali memalingkan wajah tak peduli.


'Siska..?'


Meskipun terlihat tidak peduli namun benak Arshlan seolah sedang mengingat sesuatu. Dan ia sedikit terhenyak dalam hati saat menyadari bahwa pantas saja ia merasa pernah mengenal Siska. Wanita itu dulunya adalah sahabat Lana, kekasih salah satu anak buahnya, si botak Romi.

__ADS_1


Sementara itu, Siska merasa dirinya sangat malu saat harus berhadapan kembali dengan Tuan Arshlan untuk kali kedua.


Meskipun tidak yakin apakah orang sepenting Tuan Arshlan mampu kembali mengenali dirinya yang dulu pernah menyapa sang Tuan besar sebagai kekasih Om Romi disebuah pesta milik Tuan Arshlan yang diadakan diatas yacht mewah tersebut, yang juga menjadi awal pertemuannya dengan Tuan Aldo, namun disudut hatinya tetap saja Siska merasa tidak nyaman.


"Wahh.. primadonanya telah tiba.." Aldo terdengar sedikit berseru. Bibirnya sedikit naik seolah menggantikan telunjuknya menunjuk kearah pintu masuk.


Suara Aldo itu mampu mengusik fokus Arshlan dan Marco secara bersamaan.


"Aku terpesona.." desis Marco dengan wajah berbinar penuh kekaguman. "Kau pasti bisa selalu melihatnya kan, Arsh. Wanita itu bahkan tidak pernah berubah.. selalu cantik seperti sejak awal bersua.."


Sepertinya bukan hanya mereka, karena ada begitu banyak pandangan yang telah terusik, oleh kehadiran wanita yang bak seorang peri itu.


Cantik, melenggang anggun memasuki ruangan pesta.


Dia bak seorang peri pesta!


Dengan dress panjang yang elegan, yang seperti biasa berpotongan leher rendah, wanita itu pastilah sangat mengetahui dimana letak bagian tubuhnya yang paling menarik, karena dua bukit kembar yang berukuran super itu selalu terlihat begitu menantang setiap kali ia melenggak-lenggok menebar senyum yang memukau kepada semua penikmat pesta.


Kedua kaki yang jenjang diantara belahan gaun yang tinggi, melangkah dengan sangat percaya diri, bak seorang artis hollywood yang sedang menapaki red carpet diajang grammy.


'Maura'.


Arshlan melengos saat menyadari siapa gerangan pemilik tubuh tinggi semampai, dengan lekuk bak gitar spanyol itu, terlebih saat melihat Marco yang langsung datang menghampiri sambil mengucapkan selamat datang dengan mengecup lembut jemari lentiknya.


'Dasar sepasang manusia tidak tau malu..!'


Arshlan membathin dongkol, saat mengingat pengkhianatan Marco dan Maura lima tahun yang lalu.


"Mereka terlihat sangat serasi.." Aldo berucap tepat disamping Arshlan.


"Tentu saja. Yang satunya monyet licik, yang satunya rubah betina.."


Aldo tertawa keras mendapati umpatan Arshlan, begitu melihat Maura dan Marco, datang mendekat kearah mereka dengan senyum terkembang.


"Mereka datang, bro.. Here we go.." ujar Aldo lagi nampak melipat kedua tangannya didada, seolah sedang mempersiapkan diri untuk menonton sebuah pertunjukan mahal.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


Thx and Lophyuuu all.. 😘


__ADS_2