TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
SEOLAH TERBALIK


__ADS_3

Hanya dalam kurun waktu kurang dari satu jam lamanya helikopter yang ditumpangi Arshlan dan Lana telah mendarat sempurna di helipad, yang merupakan landasan untuk helikopter mendarat di pulau pribadi milik Arshlan.


Lana yang baru saja menginjakkan kaki untuk yang pertama kalinya dipulau kecil nan eksotis itu terlihat sangat exited dengan semua hal-hal menakjubkan yang baru saja ia lalui.


Sebuah perjalanan yang luar biasa baru saja terjadi didalam hidupnya, yang jangankan menaiki helikopter, selama ini Lana bahkan belum pernah sekalipun berpergian dengan menggunakan pesawat komersil.


Arshlan telah mengamit bahu Lana untuk menjauh, memberi ruang yang cukup untuk beberapa orang anak buahnya yang nampak sibuk menurunkan, mengangkut serta membawa masuk barang-barang keperluan mereka nantinya, kedalam sebuah villa mewah namun terkesan artistik, yang berdiri megah dipinggir pantai.


Didekat villa itu terdapat sebuah dermaga kayu, tempat dimana yacht milik Arshlan akan berlabuh setiap kali Arshlan mengunjungi pulau itu dengan menggunakan transportasi tersebut, yang untuk malam ini.. Arshlan bahkan tidak rela membuang waktu, berlama-lama mengarungi lautan yang biasanya sangat ia sukai.


Otak mesum Arshlan tidak bisa lagi diajak kompromi maupun bersabar, begitu mengetahui bahwa kesempatan yang ia nantikan selama ini sudah berada didepan mata.


Arshlan memang sengaja bergerak cepat dengan membawa Lana ke pulau kecil tak berpenghuni miliknya ini, karena dirinya seolah trauma dengan kejadian demi kejadian yang selalu saja menggagalkan rencananya acap kali berniat membelah duren.


"Indahnya.." Lana menatap hamparan pemandangan temaram dihadapannya dengan mimik terpesona.


Saking terpesonanya, ia malah telah melepaskan diri dari rengkuhan Arshlan dikedua bahunya.


Debur ombak disepanjang bibir pantai nampak memecah kecil.. sementara lautan yang teduh dimalam hari nampak berkilau di sinari cahaya rembulan.


"Mau mendekat kesana..?" tawar Arshlan, menyadari anak buahnya masih sibuk mempersiapkan villa dan segala sesuatu yang ada didalamnya.


Lana mengangguk cepat.


"Buka dulu sepatumu, agar kau tidak kesulitan berjalan.."


Kembali Lana mengangguk patuh, ia duduk begitu saja keatas rumput yang mulai basah oleh embun sambil berusaha melepas high heels enam centi yang masih menghiasi sepasang kakinya yang indah.


Arshlan hanya tersenyum sambil mengawasi gerak-gerik Lana yang begitu selesai dengan segala kesibukannya telah bangkit, membiarkan sepasang sepatu indahnya teronggok disana begitu saja karena gadis itu telah begitu terburu-buru saat mengamit lengan kekar milik Arshlan, memaksa dengan cepat agar segera melangkahkan kaki mereka mendekati bibir pantai.


"Tuan.. apa pulau ini milikmu seorang..?" tanya Lana begitu kaki mereka mulai menyisir buih kecil disepanjang garis pantai.


"Tentu saja." ujar Arshlan bangga.


"Astaga, Tuan.. kau hebat sekali. Aku sungguh penasaran, uangmu sebanyak apa sampai-sampai kau bahkan bisa membeli sebuah pulau..?" sepasang mata Lana terlihat menyorot takjub akan pria yang sedang berjalan disisinya.


"Aku punya banyak uang. Dan kau.. kau adalah gadis beruntung, karena bisa memiliki seorang pria yang menjadi salah satu dari tiga pria terkaya yang baru saja diakui di negeri ini.."


Lana nampak terhenyak kaget. "B-benarkah..? satu dari tiga pria terkaya di negeri ini..?"


"Memangnya kau belum pernah mendengar beritanya?" Arshlan balik bertanya.


Dari wajahnya Arshlan seolah tidak senang mendengar pernyataan Lana.


Seluruh negeri bahkan mengetahui kehebatannya, bagaimana mungkin istri kecilnya ini bahkan tidak tau apa-apa tentang seberapa hebat dirinya dimata semua orang.


Lana terlihat menggeleng ragu.


"Lana, apa kau sedang berusaha meremehkan aku..?" Arshlan telah menjauhkan tubuh gadis itu begitu saja dari dirinya.


"T-tapi Tuan, aku.."

__ADS_1


"Aku sangat membenci orang yang tidak bisa melihatku." kalimat Arshlan terdengar dingin, sedingin angin darat yang berhembus kelaut.


"Tuan jangan marah dulu. Bagaimana bisa wanita seperti diriku bisa meremehkan Tuan..?"


"Lalu yang kau lakukan ini apa namanya kalau bukan meremehkan..? disaat semua orang memujaku.. semua wanita mengejarku.. aku malah membuang waktuku dengan gadis seperti dirimu, yang bahkan tidak tau cara menghargaiku..!"


Lana terdiam sejenak menerima kemarahan pria itu yang disertai kalimatnya yang menusuk hingga ke kalbu.


'Membuang waktu..?'


'Dengan gadis seperti diriku..?'


'Tuan, apakah memang hanya kepera wananku saja yang penting dimatamu..?'


'Apakah cinta dan pengorbananku belum juga ada artinya..?'


Arshlan telah membalikkan tubuhnya tiba-tiba.


"Sebaiknya kita pulang saja..!" putus pria itu dengan nada suaranya yang datar.


Lana terhenyak. "T-tidak.. Tuan.."


Lana mengejar punggung kekar Arshlan yang menjauh dengan cepat, menarik pergelangan tangan kanan milik Arshlan dengan kedua tangannya sekuat tenaga, mengantisipasi agar jika pria kuat itu menepisnya, ia tidak akan terlempar karena kemarahan Arshlan saat ini terlihat begitu membabi buta.


"Lepaskan..!!" hardik Arshlan begitu gagal menyingkirkan Lana seperti perkiraan Lana sejak awal.


"Tuan, dengar dulu.."


"Tuan.."


"Lepaskan sebelum aku akan bertindak kasar!"


"Tuan, dengarkan aku dulu. Apa Tuan lupa kalau aku telah sekian lama tidak lagi menonton televisi dan tidak memegang ponsel..?"


Tubuh Arshlan sontak membeku.


"Tuan, maafkan aku kalau aku tidak tau tentang apapun yang terjadi diluar sana. Aku sama sekali tidak berniat meremehkan Tuan. Sungguh.."


Arshlan yang seolah tersadar bahwa sejak awal justru ia sendiri yang telah menutup semua akses kehidupan Lana dari dunia luar, sontak merasa setiap inchi tubuhnya dialiri rasa bersalah.


'Astaga, mengapa aku bisa semarah ini hanya karena masalah sepele?'


'Kenapa juga aku bisa menjadi selabil ini, dan sekonyol ini?'


'Mengapa semua yang menyangkut penilaian Lana terhadapku kini terasa begitu penting?'


Arshlan berbalik, dan ia langsung dihadapkan pada pemandangan seraut wajah pias yang bercampur penyesalan.


"Tuan, maafkan aku.."


"Tidak Lana, bukan dirimu, melainkan aku yang seharusnya minta maaf."

__ADS_1


Arshlan tertunduk dihadapan Lana, yang memilih mendekat dan memeluk Arshlan dengan hati-hati.


"Aku bahkan tidak tau apa alasannya mengapa aku bisa semarah itu dan.."


"Cemburu."


Arshlan menguraikan pelukan Lana secepat kilat. "Apa kau bilang..?"


Lana tersenyum. "Cemburu." ulang Lana dengan berani, sambil menahan tawa.


"Bicara sembarangan. Memangnya siapa yang aku cemburui.." kilah Arshlan, dari rautnya jelas tidak terima mendengar tuduhan tak berdasar itu.


"Tidak harus menyangkut orang ketiga. Meski kebanyakan orang mengaitkannya dengan hubungan percintaan, namun rasa cemburu sebenarnya bisa terjadi di berbagai latar kehidupan, termasuk pertemanan, pekerjaan atau ranah profesional lainnya.."


"Cih.. sejak kapan kau jadi pintar mendongeng..?" pungkas Arshlan semakin kesulitan menyembunyikan perasaan jeoulous-nya yang sebenarnya.


"Emosi, curiga, marah, takut, hingga malu. Perasaan seperti itu bisa dialami siapapun baik tua atau muda, laki-laki maupun perempuan.."


"Sudah.. sudah.. hentikan omong kosongmu. Kau mau membuatku marah lagi..?"


"Egh.. t-tidak.. tidak Tuan.. jangan marah ya. Kita kan kesini untuk bermesaraan dan melakukan itu.. bagaimana bisa melakukannya kalau Tuan marah..?"


Wajah Arshlan memanas mendengar kalimat polos namun menggoda jiwanya itu.


Untung saja sekarang bukan siang hari, sehingga wajahnya yang sudah pasti bersemu merah luput dari tatapan Lana. "Kau ini.." ujar Arshlan membuang wajahnya yang salah tingkah.


'Aku ini sudah tidak ada ubahnya dengan remaja pria. Kenapa aku harus berdebar begini saat menyadari bahwa aku hendak melakukan sesuatu yang sudah begitu sering aku lakukan..?'


'Kenapa juga aku jadi segugup ini..? seolah-olah aku akan menghadapi malam pertama, padahal saat melakukannya pertama kali pada lebih dari dua puluh tahun yang lalu aku bahkan tidak segugup ini..!'


Arshlan mengusap tengkuknya sejenak.


"Tuan, semuanya sudah selesai, kami akan kembali sekarang." seorang anak buah Arshlan yang memberikan informasi nampak berdiri tak jauh diantara mereka.


"Kembalilah ke heli, aku akan menyusul." ujar Arshlan.


"Baik, Tuan." pria itu langsung berbalik dan melangkahkan kakinya menjauh, menuju kearah landasan helipad.


"Dan kau.. pergilah mandi dan persiapkan dirimu.." bisik Arshlan kearah Lana begitu ekor matanya menangkap kesibukan di villa yang sepertinya memang sudah selesai.


"Tuan, bukankah sebaiknya kita mandi bersama saja..?" tanya Lana polos, namun senyumnya terlihat sangat nakal dan menggoda, membuat Arshlan sedikit terhenyak sejenak menyaksikan keberanian gadis itu.


'Si al.. bahkan sekarang semuanya seolah terbalik. Lana terlihat sangat nekad, tidak sabar dan begitu percaya diri, sementara aku justru ketar-ketir sendiri..!'


Bathin Arshlan mengumpat dalam hati.


...


Bersambung..


Mampir yuk di PASUTRI. End dengan bab super pendek (75 bab). Ceritanya cakeppp seriusan.. 😀

__ADS_1


__ADS_2