TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
KEPUTUSAN YANG SULIT


__ADS_3

Ig. @khalidiakayum


...


Lama setelah tangis Lana mereda, Arshlan masih tidak bisa berkata apa-apa, hanya jemarinya yang terus mengusap punggung Lana yang sesegukan.


Arshlan bahkan belum sempat mengajak Lana bicara, tapi sepertinya hati Lana sungguh sangat peka.


Ternyata selama ini, gadis itu diam bukan karena tidak menyadarinya.. bersikap tenang bukan karena tidak tahu..


Lana bahkan mampu membaca semua sikap Arshlan yang berusaha menjauhkan diri sejak awal. Mungkin hanya satu hal yang tidak diketahui Lana.. bahwa sebenarnya, Arshlan justru merasa jauh lebih sulit dari dirinya.


Sesuatu yang bahkan tidak bisa Arshlan jelaskan. Yakni perpaduan dari rasa was-was dan ketidakpercayaan diri.. yang telah berkolaborasi unik dengan rasa mendamba serta ingin terus memiliki.


Sungguh, itu adalah perpaduan rasa yang aneh, namun bagi Arshlan sangat menakutkan..!


Arshlan telah mengambil keputusan yang sulit, manakala ia harus berbulat hati untuk mengalah. Memutuskan semuanya berdasarkan logika, bukan lagi perasaan. Dengan umurnya saat ini yang tidak muda lagi, Arshlan merasa terlalu tua jika harus bertindak dengan membawa nama perasaan.


Bagi Arshlan.. masa depan Lana adalah segalanya, hal yang perlu ia prioritaskan sebagai wujud dari segenap rasa yang ada dihatinya.


Masa depan Lana masih panjang, dan Arshlan ingin yang terbaik. Arshlan bahkan telah menyingkirkan semua duri dari kehidupan gadis itu terlebih dahulu, untuk membuat Lana bisa menjalani hidup dengan baik dikemudian hari.


Maura.. Siska.. kemudian Robi dan Marina.


Satu hal penting yang Arshlan inginkan, kelak kedepannya Lana harus belajar untuk tidak mudah mempercayai semua orang.


Dunia ini sungguh kejam. Terkadang kita bahkan tidak tau bahwa musuh kita sebenarnya adalah orang terdekat.


Yang Arshlan sesali dari semua ini hanya satu hal.. yakni saat ia telanjur membawa Lana ke altar pernikahan.


Itu adalah satu-satunya kecerobohan yang disesali Arshlan, karena pada akhirnya mereka telah terbuai cukup dalam.. bercinta.. memadu asmara..


Hhh...


Yang jelas, perasaan Arshlan untuk Lana adalah sebuah perasaan yang sangat indah, unik, mungkin tidak akan datang lagi dikehidupan Arshlan selanjutnya.


Sementara Lana..?


Dikemudian hari Arshlan akan terus meyakini. Bahwa kelak Lana bisa mendapatkan pria terbaik.


Yang pantas.. serta bisa membahagiakan Lana.


XXXXX


Pagi ini Lana telah duduk tepat dihadapan Arshlan. Wajahnya yang sendu sedikit tertunduk. Terlihat pucat.. mungkin karena semalam kurang tidur.


"Ini. Ambilah."


Arshlan menyodorkan sebuah paperbag keatas meja.


Lana yang melihat itu merasa tidak perlu bertanya apa isinya.


Logo yang tercetak jelas milik sebuah brand alat komunikasi ternama di paperbag tersebut sudah menjelaskan bahwa isinya adalah sebuah ponsel canggih keluaran terbaru.

__ADS_1


"Aku tidak memerlukannya." tepis Lana perlahan.


"Didalamnya ada nomor ponsel yang baru. Ambilah, karena kedepannya kau pasti akan memerlukannya." ujar Arshlan seolah tak peduli dengan penolakan Lana.


Lana membisu.


Masih lekat dalam ingatannya bagaimana dulu ia tergila-gila dengan merk ponsel yang ada diatas meja saat ini. Saking tergila-gilanya Lana rela mencuci baju Siska selama berbulan-bulan lamanya hanya demi mendapatkan ponsel bekas Siska setelah sahabatnya itu dihadiahi Om Romi type terbaru dari merk ponsel yang sama.


Tapi itu dulu. Karena saat ini Lana merasa seolah tidak ada lagi yang ia inginkan diatas muka bumi ini selain cinta Tuan Arshlan.


Kebahagiaannya hanya bersama pria dihadapannya, namun sayangnya pria itu justru tidak bahagia dengan kehadirannya.


"Kau juga harus meneruskan kuliahmu. Aku sudah memerintahkan Her untuk mengurusnya." Arshlan berucap lagi sambil menyebutkan nama salah satu universitas ternama saat ini. "Meskipun diluar negeri, tapi kau tidak perlu khawatir. Aku adalah donatur terbesar disana, jadi kau.."


"Apakah aku harus diasingkan sejauh-jauhnya sampai harus keluar negeri, karena Tuan tidak ingin melihat wajahku lagi..?"


Lana bisa melihat wajah Arshlan yang dihiasi senyum kecut, saat mendengarnya menyindir pria itu.


"Padahal aku hanya memikirkan kenyamananmu, karena aku rasa setelah apa yang terjadi diantara kita pada beberapa bulan terakhir.. publik tidak akan dengan mudahnya melupakanmu begitu saja. Sehingga akan lebih baik kau berada jauh untuk sementara waktu. Lagipula, akan ada banyak hal positif yang akan kau dapatkan, saat kau menimba ilmu disana apalagi menjadi alumni dari universitas tersebut.."


'Apapun yang kau katakan, Tuan.. aku hanya mempercayai satu hal, yakni kau hanya ingin aku menjauh.'


Lana tertawa miris dalam hati.


Kemudian dengan tangan kanannya Arshlan mendorong sebuah map file yang ada diatas meja, sehingga berada tepat didepan Lana.


"Disini, aku sudah menyiapkan semuanya atas namamu. Buku tabungan, deposito, surat kepemilikan rumah dan kendaraan, begitu juga dengan.."


"Hentikan."


"Daritadi Tuan selalu mengatakan apa yang Tuan inginkan atas hidupku kedepannya. Tapi kenapa Tuan tidak pernah sekalipun bertanya apa yang aku inginkan..?"


"Aku telah memutuskan hal terbaik untuk masa depanmu."


"Masa depanku adalah urusanku.."


"Kau.."


"Tuan selalu menolakku sejak awal sampai detik ini. Lalu kenapa harus repot-repot memikirkan semuanya?"


"Beraninya kau membantahku.." desis Arshlan jengkel, matanya mulai memerah menandakan dirinya mulai kesal dengan segala penolakan Lana.


"Tuan, aku tidak mau semua itu."


"Beberapa saat yang lalu kau mengatakan akan menerima semua keputusanku, lalu apa yang kau lakukan saat ini..? sejak tadi kau terus saja protes dengan semua hal yang aku putuskan..!"


"Memang benar, tapi yang aku maksudkan adalah menerima keputusan Tuan, yang begitu cepat bosan padaku dan ingin meninggalkan aku secepatnya. Dan semua itu tidak ada hubungannya dengan ponsel baru, biaya kuliah, tabungan, rumah, mobil.."


"Lana, kau.."


"Aku bukan Maura yang rela menjauh demi sebuah butik ternama, atau kekasih Tuan lainnya.. yang cukup puas saat Tuan melemparkan uang.."


"Baiklah..! lalu apa yang kau inginkan..?!" tanya Arshlan dengan nada berang.

__ADS_1


"Aku hanya ingin Tuan..!"


"Wah.. ternyata kau justru lebih serakah dari Maura atau wanita-wanita lainnya.." Arshlan berdecak sinis.


"Baiklah, kalau begitu jangan berikan apa-apa, cukup biarkan aku pergi saja tanpa membawa semuanya.."


"Kau sudah gila ya..?!" Arshlan mendelik.


"Tuan.. kalau aku tidak bisa memiliki cinta Tuan, maka aku tidak ingin apapun.."


"Kalau begitu anggap saja itu upah atas kerja kerasmu melayaniku di ranjang selama ini.."


Sepasang mata Lana berkaca mendengar kalimat kasar Arshlan. Harga dirinya sangat sakit mengetahui Arshlan ingin membayarnya seolah ia sedang menawarkan jasa saat membuat pria itu senang dan puas.


"Tuan, jangan terlalu merendahkan aku seperti itu. Aku bukan wanita bayaran, melainkan istri Tuan yang sah. Saat aku melayani Tuan diranjang, itu sama artinya aku sedang menjalankan kewajibanku sebagai istri.."


Arshlan membuang wajahnya dari tatapan Lana.


"Lagipula ayah dan ibu sudah meminta terlalu banyak. Kalau Tuan masih ingin membayar, anggap saja semua yang diminta kedua orangtuaku itu adalah upah. Semua itu sudah lebih dari cukup."


Wajah Arshlan kini telah memerah sempurna. Rupanya kalimat Lana telah mencederai kesabarannya.


"Sepertinya kau benar-benar ingin membuatku marah ya.." desis Arshlan dengan amarah yang semakin meningkat. "Marina dan Beno sedang berada disalah satu jalanan kota Paris usai berbelanja dipusat mode terbaik. Sedangkan Robi dan Mona sedang berada di area Yongsan Seoul. Kau ingin mendengar berita yang mana dulu..? kecelakaan tunggal sebuah mobil di jalanan kota Paris, atau dua pejalan kaki warga negara asing menjadi korban tabrak lari di area Yongsan Seoul..?"


Lana bergidik ngeri mendengar ancaman gila tersebut yang tak tanggung-tanggung.


"Lana, aku sudah cukup lama menjadi manusia, manakala semuanya bisa berjalan sesuai dengan keinginanku. Tapi kalau hari ini aku tidak bisa memaksakan kehendakku kepadamu, maka jangan salahkan aku, jika aku kembali menjadi malaikat pencabut nyawa, khusus untuk Robi dan Marina. Apakah sampai disini kau paham..?!"


Bulir bening berlomba-lomba jatuh dipelupuk mata Lana.


"Tu.. Tuan.. kenapa kau mengancamku sekeji itu. Seburuk-buruknya kedua orangtuaku, apa hak Tuan sehingga bertekad menghilangkan nyawa mereka..?"


"Dasar bodoh.." desis Arshlan. "Aku bahkan sudah menunjukkan wajah keburukan semua orang tepat didepan matamu, tapi sekarang kau malah menyalahkan aku."


"Itu karena aku hanya peduli pada Tuan saja. Aku.tidak mau Tuan terlihat buruk.."


Arshlan terlihat menyeringai, sambil menaruh sebuah dokumen diatas meja.


"Aku tidak akan serta merta menjadi buruk meskipun aku menghancurkan seisi dunia ini. Kau mengerti?!"


"Tuan.."


"Cukup." Arshlan telah mengangkat sebelah tangannya guna menghalau kalimat protes Lana. "Tanda tangani suratnya."


Lana menggeleng berkali-kali, sepasang matanya kembali berkaca, namun tanpa iba, Arshlan malah menaruh sebuah pulpen diatas meja, dengan wajah yang dingin.


"Tanda tangani surat itu, karena aku sudah tidak sabar untuk terlepas darimu.."


...


Bersambung..


"Tuan J" minta di support.. 😍

__ADS_1


Meskipun di PHP sama NT karena level novel gak naik-naik.. 😴


__ADS_2