
Triple up.
Jangan lupa supportnya yah ... π€
...
"Bahkan Bos Luna, juga menyukai Tuan Leo dan sangat mengidolakannya. Vic, asal kau tau, saat Love Desire tayang perdana di bioskop, Bos Luna telah mentraktir kami semua dengan sebuah tiket nonton bareng ..."
Seorang wanita ikut menyela penuh semangat, untuk memudahkan usaha Winda agar bisa membujuk Victoria sampai hatinya luluh.
"Akh, anu ... bukan seperti itu, aku .. aku hanya tidak terlalu suka menonton film yang ..."
"Itu tidak masalah. Kau tidak perlu menonton filmnya, yang penting kau menyukai Tuan Leo juga, sama seperti kami, dan Bos Luna ..."
Lagi-lagi memakai nama Bos Luna untuk meluluhkan keyakinan Vitoria.
"Kemarikan kartu identitasmu, biar aku yang akan membantumu untuk mendaftarkan diri menjadi anggota fans club melalui ponselku."
Winda telah berucap lagi sambil menatap Victoria lekat penuh senyuman, yang mau tak mau membuat tangan Victoria pada akhirnya meraih tas kecil miliknya yang tergolek diatas meja, membukanya, dan kemudian mengacak sejenak isi didalam tas kecilnya itu, dimana beberapa kartu miliknya berada disana, yang salah satunya merupakan kartu tanda pengenalnya.
Victoria menyerahkan kartu tersebut ketangan Winda, pasrah saat menyaksikan dengan cekatan Winda telah melakukan registrasi atas nama dirinya, untuk masuk dan mendaftarkan diri sebagai salah satu anggota fans club resmi milik Leo.
"Done yah ..." ucap Winda tersenyum semringah, sambil mengembalikan kartu tanda pengenal milik Victoria dengan mimik wajah penuh kepuasan.
Begitu akhirnya ...
Tepatnya pada hari ini, dalam sekejap Victoria telah menjadi anggota fans club resmi, milik Leo, suaminya sendiri, meskipun disudut hatinya Victoria bahkan tidak menginginkannya.
Menjadi anggota fans club resmi milik Leo, itu sama artinya, Victoria bisa dengan mudahnya mengetahui semua hal tentang Leo, meskipun Victoria tidak ingin.
Lagipula untuk apa?
Untuk apa Victoria mengetahui segala sesuatu yang dilakukan Leo diluar sana?
Semua hal yang menyangkut Leo, bagi Victoria hanya akan bermuara pada satu hal yang sama ...
Kalau bukan sakit hati ... sudah pasti kesedihan.
That's all.
Itu saja.
__ADS_1
πΈπΈπΈπΈπΈ
Hari hampir malam saat Victoria membuka pintu, dan dirinya telah dibuat kaget saat menyadari jika apartemen Leo telah terang benderang, menandakan bahwa seseorang telah menyalakan lampunya terlebih dahulu.
'Apakah Leo telah kembali?'
Victoria membathin.
Seminggu yang lalu Leo telah mengatakan bahwa ia beserta agensi dan sebagian besar artis yang bernaung di agensi tersebut akan pergi berlibur kesalah satu negara mediterania yang beriklim tropis.
Kegiatan berlibur itu bahkan seolah tersorot oleh seluruh mata lensa, terlebih karena kegiatan itu melibatkan Leo dan juga Lisa.
Saat ini publik sangat menyukai apapun pemberitaan tentang the best couple Leo dan Lisa, terlebih jika menyangkut sesuatu yang sering dikait-kaitkan dengan hubungan asmara.
Lisa, adalah artis pendatang baru yang begitu beruntung, debut perdananya yang beradu akting dengan aktor papan atas sekelas Leo sukses besar, dan kebetulan sekali gadis itu juga bernaung dalam agensi yang sama dengan Leo.
Dutambah dengan hembusan isu cinta lokasi diantara mereka berdua, yang menuai rasa ingin tahu masyarakat luas.
Sepintas, keduanya memang terlihat sangat serasi. Leo begitu tampan, sementara Lisa sangatlah cantik.
Saking serasinya, Victoria bahkan menolak menatap layar televisi, setiap kali berita keduanya muncul disana.
Sungguh, tak ada yang tau sehancur apa hati Victoria setiap kali dihadapkan pada kenyataan bahwa dirinya merupakan istri sah, dari pria yang menjadi rebutan semua orang diluar sana.
Tapi pada kenyataanya, hari ini, tepat satu minggu sudah Victoria tidak melihat batang hidung Leo sama sekali.
Mungkinkah Leo pergi bersenang-senang dulu dengan Lisa? atau pria itu memilih pulang kerumah kedua orang tuanya dan berisitirahat disana?
Entahlah ...
Sejak awal Victoria bahkan tidak memiliki hubungan yang baik dengan Mommy Lana, yang tak lain adalah ibu mertuanya.
Kenapa demikian?
Karena sudah jelas, bahwa Victoria bukanlah wanita idaman yang diinginkan Mommy Lana, untuk menjadi menantunya. Wajar saja jika Victoria tak pernah diterima keberadaannya.
Victoria bahkan telah lama menyerah. Ia sadar bahwa semua yang ia lakukan untuk mendapatkan tempat dihati mertuanya, semuanya sia-sia.
Mertuanya tidak pernah bisa menerimanya ... dan suaminya membenci dirinya ...!
Sungguh, Victoria tidak tahu apakah masih ada rasa yang lebih sakit dari semua rasa yang telah ia terima?!
__ADS_1
Akh sudahlah ...
Setelah seminggu bekerja di sebuah florist milik Luna, sahabat lamanya, baru hari ini Victoria pulang agak terlambat.
Menurut Luna, setiap mendekati weekend jumlah pesanan bunga pasti selalu mengalami peningkatan dibandingkan hari-hari lainnya. Untuk itulah Victoria baru bisa pulang dua jam lebih lama daripada hari biasanya.
"Kau darimana saja?" sebuah suara berat nyaris membuat Victoria terjingkat.
"Astaga Leo, kau mengagetkanku ..." Victoria mengelus dadanya, sambil menatap Leo yang bersandar dipintu kamar yang terbuka, dengan wajah yang tanpa senyuman.
"Aku baru saja pulang dari toko ..." ucap Victoria lirih, yang memilih menghentikan langkahnya kira-kira dua meter dari hadapan Luiz, yang seolah tidak berniat bergeser dari pintu kamar tempatnya berdiri saat ini.
"Toko? Toko apa?"
"Tentu saja toko bunga. Apakah kau lupa kalau seminggu yang lalu, aku telah mengatakan, bahwa aku akan bekerja disebuah florist milik Luna, sahabat lamaku?"
Leo terdiam.
Yah, Leo telah mengingatnya.
Seminggu yang lalu, ia telah menertawakan keinginan Victoria yang meminta ijin untuk bekerja disebuah florist milik sahabat lamanya. Namun waktu itu, Leo tidak merasa perlu untuk mengatakan persetujuannya atau justru penolakannya, karena ia hanya sibuk mengejek dan menyudutkan Victoria. Namun meskipun begitu, Leo cukup kaget saat menyadari bahwa ternyata Victoria telah mengartikan semua penghinaannya itu sebagai sebuah persetujuan.
Haihh ... sudahlah.
Leo juga tidak mau capek-capek untuk ambil pusing dengan jalan kehidupan seperti apa yang ingin dijalani oleh Victoria. Biarkan saja wanita itu mau menjalani hidupnya seperti apa, karena itu sama sekali bukan urusannya!
"Maafkan aku, aku tidak tau kau akan pulang hari ini, jadi aku tidak menyiapkan sesuatu."
Leo membisu, hanya menatap Victoria dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Kaki jenjang milik Victoria terbalut sebuah flatshoes sederhana, dan tubuhnya yang tinggi semampai terlihat lebih ramping, dengan tampilan celana capri berbahan denim, serta atasan blouse berwarna abu-abu berbahan semi rajut, tak ketinggalan sebuah tas kecil, yang tersampir dibahu kiri.
"Aku akan melihat bahan apa saja yang tersisa di kulkas, yang bisa diolah."
Tanpa menunggu lebih lama Victoria telah menaruh begitu saja, tas kecil yang tersampir dibahunya keatas sofa.
Victoria sendiri langsung bergegas menuju kearah dapur, sambil berusaha menggelung rambutnya yang panjang, membuatnya membumbung keatas, kemudian dengan sedikit gerakan yang unik, sebuah konde sederhana telah terbentuk disana.
Tanpa sadar Leo mengamati semua itu lewat ujung matanya, dan baru tersadar bahwa ia nyaris lupa berkedip, begitu Victoria menghilang dibalik dinding pembatas ...
...
__ADS_1
Bersambung ...