TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
TIDAK BIASA MENYENTUH


__ADS_3

Musik yang telah mengalun dengan lembut telah membuat beberapa pasangan turun melantai.


Sementara Arshlan dengan kepercayaan dirinya telah mengajak Lana melangkah mendekati sang tuan pesta yang masih berdiri terpukau diujung sana.


Sebenarnya yang terpukau bukan hanya Marco saja, melainkan Maura, Aldo dan gadis muda sahabat Lana itu juga tak kalah terkesima menyaksikan Arshlan menggandeng Lana dengan begitu mesra.


Belum ada lima langkah Arshlan berjalan dengan gagah, diantara pengawasan nyaris semua pasang mata yang berada disana, manakala langkah Lana terhenti sejenak.


Mata Lana menatap nanar seorang wanita yang juga sedang menatapnya dengan tatapan takjub tanpa berkedip.


'Siska..?'


Lana bergumam dalam hati, begitu mengenali siapa gerangan wanita yang sedang menggandeng Tuan genit yang pernah ditemui Lana tempo hari bahkan sempat menggoda Lana diatas yacht mewah milik Tuan Arshlan.


Yah.. kalau tidak salah mengingat namanya.. Tuan Aldo! yah.. Tuan Aldo..!


Tapi.. kenapa Siska bersama Tuan Aldo..? lalu bagaimana dengan om Romi..? apa mereka sudah berpisah..?


"Oh tidak.. Nyonya Lana.. tolong jangan mengalihkan fokusmu. Aku tau kau pasti mengenal wanita itu.. namun kau juga harus mengingat semua hal yang telah aku peringatkan berkali-kali. Pesta ini sangat penting untuk harga diri Tuan Arshlan tolong jangan menghancurkannya..!"


"Ada apa? kenapa berhenti?" mau tak mau langkah Arshlan ikut terhenti, sejenak mengerling kearah Lana yang mematung


"Siska.." Lana bergumam perlahan, sementara dikejauhan sana Asisten Jo nampak menepuk jidatnya, begitu mengetahui Lana tidak mengindahkan peringatannya.


"Dia memang temanmu. Lalu apa masalahnya..?" ujar Arshlan dengan nada acuh.


"Nyonya Lana, tolonglah, mari kita hanya fokus pada Tuan Arshlan saja. Lupakan Nona Siska, dan Nyonya tidak perlu mengindahkannya, karena Tuan Arshlan bahkan terlihat tidak menyukai teman Nyonya itu sejak awal.."


"Baiklah.." desis Lana seolah tersadar.


"Kau bicara apa..?"


"Tidak, Tuan.. tidak apa-apa.."


Kali ini Asisten Jo bisa bernafas lega karena sepertinya kalimatnya yang terakhir mampu menyadarkan Lana, yang kemudian menatap Arshlan sambil memperbaiki letak earphone kecil ditelinganya, dimana suara cerewet Asisten Jo terus terdengar tanpa henti.


"Tidak apa-apa, Tuan, aku hanya sedikit terkejut melihat Siska setelah sekian lama.." Lana berucap perlahan sambil mengeratkan pelukannya dilengan Arshlan yang tersenyum mendapati perhatian Lana yang kini hanya tertuju padanya saja.


"Kalau begitu kita kesana sekarang."


Lana mengangguk dengan senyum yang tak lekang, kakinya kembali melangkah dengan penuh percaya diri dan keyakinan saat beriringan dengan langkah Arshlan, hingga mereka tiba dihadapan seorang pria yang terlihat terus menatap Lana sejak awal.

__ADS_1


"Nyonya, ingat baik-baik.. jangan tersenyum berlebihan kepada orang lain dan jangan menyentuh sama sekali.."


Lagi-lagi suara peringatan Asisten Jo terdengar ditelinga Lana.


Tepat dihadapan Marco yang terpukau Arshlan telah menghentikan langkahnya.


"Bagaimana Marco?"


Marco tersenyum kecut mendapati tatapan Arshlan yang dipenuhi kebanggaan.


'Si al..!'


Dalam hati Marco mengumpat. Sungguh ia tidak bisa menyangka bahwa Arshlan benar-benar telah memperistri gadis muda nan belia, yang terlihat begitu elegan, disaat ia telah menyusun rencana untuk mempermalukan Arshlan dengan mengolok-olok istrinya yang menurut Maura hanyalah seorang gadis dekil yang bar-bar.


'Dasar Maura.. bagaimana mungkin aku bisa menghina gadis dengan spek bidadari seperti ini..?'


"Aku sudah membawanya kehadapanmu, juga kehadapan dunia. Silahkan kalian menilainya sesuka hati, meskipun penilaian kalian sangatlah tidak penting.." ujar Arshlan sambil merengkuh mesra pinggang mungil Lana, menaruhnya semakin dekat dengan dirinya, seolah ingin menunjukkan betapa posesif dirinya terhadap miliknya.


Marco tersenyum, sebelah tangannya terulur untuk Lana. "Aku mengakuinya, Arsh. Dan ijinkan aku menyapa anda Nyonya Arshlan, malam ini anda sungguh memukau.."


Arshlan nyaris meninju tangan Marco yang terulur dihadapan Lana, namun urung saat menyadari Lana tidak merespon sambutan ramah Marco.


Kedua lengan yang terbuka itu tidak bergerak sama sekali, terus melingkar dilengannya.


"Astaga, selain bar-bar, ternyata kau juga tidak punya sopan santun. Kau bahkan mengabaikan tuan pestanya..!" suara Maura memecah kecanggungan yang tercipta akibat aksi kesombongan Lana yang telah membuat Marco begitu malu, terlebih saat menyadari masih ada begitu banyak pasang mata yang setia menatap kearah mereka.


"Senang mengenal anda Tuan Marco, dan maaf.. karena sejauh ini aku telah membiasakan diri hanya menyentuh suamiku seorang, tidak dengan yang lain.." ujar Lana dengan suara yang penuh percaya diri disertai senyum tipis, sedikitpun tidak menolehkan kepalanya kearah Maura, meskipun jelas-jelas Lana juga sedang menyindirnya.


Wajah Maura terlihat merah padam, namun Lana bahkan mengibaratkan wanita itu ibarat sebongkah upil, yang tidak perlu repot-repot ia tanggapi.


"Oh begitukah..? baiklah, kalau begitu maafkanlah kelancanganku, Nyonya.." Marco menurunkan tangannya yang malam ini telah menyalami ratusan tangan wanita sebagai ungkapan selamat datang, dan berakhir dihadapan Nyonya Arshlan yang angkuh.. seangkuh suaminya..!


"Baiklah Marco, apa sekarang aku sudah boleh berpamitan..?" ujar Arshlan lagi tersenyum penuh kemenangan.


"Kenapa terburu-buru, Arsh..? pesta dansanya bahkan baru dimulai.."


"Aku sudah mengatakannya sejak awal kan? bahwa aku tidak tertarik dengan pestamu."


"Tapi.."


"Aku hanya datang untuk membuktikan padamu, bahwa aku selalu menjadi 'pemenangnya'.."

__ADS_1


Kemudian tatapan Arshlan telah berpaling kearah Aldo yang sejak awal bertindak sebagai penonton yang tertib.


"Aku akan pergi lebih dahulu. Terima kasih telah menemaniku mengobrol, dan besok.. tolong ingatkan aku lagi tentang kerjasama yang kau tawarkan.."


"Aku akan menelponmu besok, Arsh.." ujar Aldo dengan wajah sumringah. Tidak sia-sia ia mendekati Arshlan sejak awal, karena pada akhirnya pria itu telah memberikan lampu hijau untuk perusahaannya berkolaborasi.


"Lana.." sebuah suara menahan pergerakan tubuh Arshlan dan Lana yang hendak berlalu. "Lana.. kau.."


"Hai, Siska.." Lana telah menyapa gadis itu terlebih dahulu, dengan seulas senyum.


"Sudah kuduga, kau tak mungkin melupakan ak.."


"Maaf aku harus pamit, semoga kalian semua bisa menikmati pestanya." pungkas Lana dengan ramah, tanpa menunggu kalimat Siska yang awalnya terlihat sumringah, namun akhirnya malah terpaku seolah sebuah patung es.


Siska sama sekali tidak menyangka bahwa Lana akan berlaku seperti itu terhadap dirinya, kendatipun ia telah berhasil menjadi seorang istri dari Tuan Arshlan.


Lana yang ada dihadapannya saat ini terlihat sangat berbeda, membuat Siska merasa nyaris tidak bisa mengenalinya lagi.


"Good job, Nyonya. Tuan Arshlan pasti akan memberikan dirimu jackpot besar karena kau sudah bekerja keras.."


Suara lega Asisten Jo menyeruak diantara hempasan langkah Lana yang mengiringi langkah Arshlan yang berlalu.


'Benarkah..?'


Tanya Lana dalam hati begitu mendengar ungkapan puas Asisten Jo ditelinganya.


Diam-diam Lana mengerling kearah pria tinggi yang melangkah gagah tanpa kata itu, dan sepertinya Asisten Jo memang benar.


Diatas sana, Lana telah menemukan wajah tampan itu begitu cerah, seolah ada aura istimewa yang telah memancar dari sana.


Dalam hati Lana berbisik sambil tersenyum dalam hati.


'Tidak sia-sia aku memberikan ide kepada Asisten Jo untuk mengenakan semua peralatan aneh ditubuhku ini. Karena pada akhirnya.. semuanya berjalan sesuai dengan harapanku..'


...


Bersambung..


Taburkan bunga, tuangkan kopi.. 😄


Apa..? ogah karena hanya 1 bab..? jangan protes.. hari ini aq akan up lagi. Double-double.. plus-plus, dan kedepannya akan rajin up. Oke..hh..?

__ADS_1


Jangan lupa siapkan mental karena kedepannya akan lebih membara.. 🔥


Thx and Loophyuu all.. 😘


__ADS_2