TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 50. Empati


__ADS_3

Special THX to Dedi Wanda yang sudah bantu promo novel CEO TAMPAN DAN ISTRI RAHASIA di grup fb Noveltoon Group ... πŸ€—


Juga Niarsi Efria yang sudah pamer rak di grup fb NTOS ... πŸ€—



...


Dasha telah menempatkan dirinya tepat di sisi Luiz, saat ketiganya berjalan menuju mobil Luiz yang terparkir di teras depan.


Sementara Victoria memilih melangkah sambil menempatkan dirinya dibelakang langkah keduanya.


Luiz menghentikan langkahnya tepat disisi mobil, kemudian ia menatap Victoria.


"Mega Florist itu lokasinya tidak begitu jauh dengan kantor pusat. Jadi aku akan mengantar Dasha dulu, kemudian mengantarmu ..."


"Kenapa tidak mengantarkan Nona Victoria dulu, Tuan?" pungkas Dasha sebelum kalimat Luiz usai. Ekspresi protes terlihat jelas diwajahnya yang belia.


Luiz menatap Dasha sambil menarik nafasnya perlahan. "Kau hanya butuh sepuluh menit agar sampai ke sekolah. Bagaimana mungkin aku harus memutar jauh untuk mengantarkan Victoria terlebih dahulu, kemudian kembali lagi mengantarmu ke sekolah, dan kemudian kembali lagi kekantor pusat?"


Mendengar itu Dasha tidak menyahut, melainkan menaikkan bibirnya dua centi.


Luiz membuka pintu belakang, kemudian ia kembali menatap Dasha. "Masuklah ..."


Dasha melotot. "Di belakang? Aku harus duduk di belakang?"


"Kau kan akan turun lebih dahulu, Dasha ..." ujar Luiz kalem.


"T-tapi biasanya aku kan duduk di depan, Tuan ..." rajuk Dasha, terlihat sekali keengganannya untuk duduk dibelakang, sementara Luiz dan Victoria akan duduk bersisian didepan.


Lagi-lagi Luiz menatap Dasha, mencoba meminta pengertian gadis itu namun sepertinya tidak semudah itu mendapatkan pengertian dari seorang gadis seumuran Dasha.


"Dasha ..."


"Aku tidak mau."


"Dasha ..."


"Luiz, sudahlah, biar aku yang duduk dibelakang." putus Victoria yang mulai lelah dengan perdebatan aneh yang sedang terjadi di depan matanya antara Luiz dan Dasha.


Diam-diam Victoria mengakui kepercayaan diri Dasha yang begitu berani merajuk seperti itu dihadapan pria dingin yang tidak bisa dibantah seperti Luiz.


Victoria hendak bergerak naik, namun tubuhnya sedikit terlempar kesamping manakala Dasha telah lebih dahulu melesak masuk kedalam mobil Luiz dengan wajahnya yang super cemberut.


Luiz menggelengkan kepalanya samar mendapati sikap bar-bar yang sedang dipertontonkan Dasha secara terang-terangan, namun ia memilih membiarkannya saja.


"Duduklah didepan, Vic." titah Luiz dengan nada suaranya yang datar, sambil memutari body mobilnya setelah menutup pintu mobil di deretan kedua.


Akhirnya Victoria membuka pintu mobil yang ada didepannya, dan masuk perlahan sambil berusaha mengabaikan seraut wajah jutek Dasha dari bangku belakang.


Mobil Luiz pun bergerak perlahan meninggalkan pekarangan rumah keluarga Arshlan yang megah dengan kecepatan sedang.


Sepuluh menit berlalu, tak ada seorang pun yang berniat memecah keheningan, hingga mobil mahal milik Luiz terparkir dengan anggun didepan gerbang sekolah Dasha.


Dasha pun turun dari mobil, masih dengan wajah yang cemberut, tanpa berkata apa-apa.


"Belajarlah yang benar ..." ucap Luiz, namun tak diindahkan.

__ADS_1


Yang ada Dasha malah berlari kedalam gerbang sekolahnya yang berdiri megah tanpa menoleh, membuat Luiz terbengong, kemudian menggelengkan kepalanya berkali-kali melihat ulah kekanak-kanakan gadis itu.


"Aneh. Kenapa sikapnya seperti itu?" Victoria menjadi tidak tahan untuk berkomentar.


"Entahlah ..." jawab Luiz menyembunyikan kegugupannya.


"Pasti karena kalian terlalu memanjakannya ..." imbuh Victoria lagi, begitu Luiz telah menjalankan mobilnya kembali.


"Hhhff ..."


Hempasan nafas kasar yang keluar dari bibir Luiz telah membuat Victoria menautkan alis.


"Ada apa, Luiz?"


"Tidak ada."


Victoria pun terdiam.


Beberapa menit kemudian hening kembali mengisi udara diantara keduanya, sebelum kemudian suara datar Luiz terdengar.


"Vic, kenapa kau bekerja di Florist? Kau bisa kembali bekerja di kantor pusat kalau kau mau ..."


Victoria menoleh kearah Luiz yang menatap jalanan dihadapan mereka dengan wajah yang tanpa riak.


"Apa salahnya kalau aku bekerja di Florist?"


"Tidak salah, tapi apa kata orang nantinya, saat mengetahui menantu satu-satunya dari seorang Tuan Arshlan, malah bekerja di sebuah Florist sebagai dekorator bunga?"


Mendengar itu Victoria malah tertawa sumbang. "Memangnya siapa yang peduli, Luiz? Apakah kau lupa bahwa diluar sana, tidak ada yang tahu siapa aku?"


Luiz terhenyak saat menyadari kenyataan tersebut.


"Berhenti bekerja disana dan kau bisa bekerja di kantorku."


"Tidak."


"Kenapa?"


'Karena aku tidak mau menerima kesalahpahaman lagi ...!'


'Aku tidak mau selalu dianggap memperalat dirimu untuk mencapai ambisi pribadiku ..."


'Dari Leo ... dari Mommy kalian ... tidak, sudah cukup!'


Sayangnya semua kalimat itu, hanya terucap nyaring direlung hati Victoria yang terdalam.


"Tidak perlu repot-repot mengurusi kehidupanku." akhirnya malah kalimat itu yang meluncur dari bibir Victoria.


"Aku tidak bermaksud ..."


"Dulu, bukankah kau yang menyuruhku berhenti menghubungimu, berhenti mengeluh, berhenti meminta apapun, berhenti melakukan semua hal yang bisa membuatmu terhubung dengan diriku ..."


"Victoria ..."


"Sekian lama akhirnya aku telah terbiasa melakukan semua hal seorang diri. Aku tidak lagi mengeluhkan apapun yang terjadi di kehidupanku pada siapapun. Kau benar Luiz, sudah seharusnya aku berdiri dengan kedua kakiku sendiri."


Kalimat itu terdengar tegas, tegar dan melambangkan kekuatan. Namun Luiz tidak pernah tahu sebesar apa kehancuran yang terjadi dalam hidup Victoria, sejak pria itu memutuskan pergi dari kehidupannya, dan mengabaikan dirinya!

__ADS_1


Victoria sebenarnya telah sepenuhnya sadar bahwa semua itu murni kesalahannya, serta keserakahannya. Perkataan Nyonya Lana pada lima tahun yang lalu sangat membekas di sanubari Victoria, manakala secara terang-terangan wanita anggun itu telah menolak dirinya untuk mendekati kedua putra kembarnya Luiz, dan Leo.


Kalau saja malam itu ia memiliki kekuatan untuk menolak Leo, mungkin hari ini jalan hidupnya pastilah berbeda.


Tak terasa sekian lama hanya diliputi keheningan, mobil Luiz telah berbelok kearah Mega Florist, tempat Victoria bekerja.


"Victoria ..." ucap Luiz begitu mobil berhenti sempurna.


Saat Victoria mengangkat wajahnya, ia telah mendapati wajah Luiz yang sejak tadi hanya lurus mengawasi jalanan kini sedang menatapnya penuh.


"Ada apa lagi, Luiz?" tanya Victoria sedikit jengah.


"Kau ... apa hubungan kalian baik-baik saja?"


Luiz bahkan tidak mengerti untuk apa dirinya menanyakan hal yang sensitive seperti itu kepada Victoria. Hanya saja mendapati nasib Victoria seperti ini membuat Luiz merasa jika wanita itu sedang tidak mendapatkan keadilannya, dan itu membuat Luiz empati.


Yah empati. Murni empati.


Tapi apapun itu, tetap saja rasa itu telah menjadi sebuah perasaan yang seharusnya tidak perlu lagi mengusik jiwanya.


"Jangan khawatir. Aku telah berjalan sejauh ini, aku tau apa yang harus aku lakukan, meskipun belum tentu itu juga merupakan hal yang aku inginkan ..."


Senyum dibibir Victoria terlihat hambar.


"Terima kasih telah mengantarku hari ini, Luiz. Tapi lain kali ... kau tidak perlu melakukannya."


Kemudian Victoria telah membuka pintu disampingnya dan beranjak keluar, meninggalkan Luiz yang masih terpaku tanpa kata.


🌸🌸🌸🌸🌸


Beberapa saat setelah kepergian Victoria, mobil Luiz masih berada ditempat semula.


"Victoria berkata benar, aku memang tidak perlu lagi peduli ..." desis Luiz seolah baru menyadari, bahwa bisa saja dirinya memang berlebihan.


Perlahan Luiz meraih ponselnya yang sejak tadi berkedip-kedip menandakan ada message yang telah masuk disana.


"Dasha ...?"


Alis Luiz bertaut, bergegas ia menekan icon untuk membaca isi pesan gadisnya itu.


"Selamat bersenang-senang dengan MANTAN KEKASIH ...!!"


Sepasang mata Luiz terbelalak sempurna, saat ia telah berhasil mengeja isi chat singkat yang sebagiannya berhias huruf kapital itu.


Refleks Luiz menekan icon untuk menelepon nomor tersebut, tapi yang menyapa Luiz adalah suara seorang wanita operator seluler.


Tidak puas menekan satu kali, Luiz terus menekan nomor yang sama hingga berkali-kali, namun jawabannya tetap sama.


"Damn ..."


Umpat Luiz sambil melempar ponselnya ke jok disebelahnya, bekas duduk Victoria barusan.


Kemudian ia telah menginjak pedal gas dalam-dalam, melajukan mobilnya kembali membelah jalanan, kali ini dengan kecepatan ... diatas rata-rata ...


...


Bersambung ...

__ADS_1


Ingetin Bang Luiz, jangan ngebut. Bahaya tau ...! πŸ€ͺ


__ADS_2