TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 26. Tersipu


__ADS_3

Triple up


...


"Hey, kalian berdua, cepat angkat kepala kalian." ujar Luiz datar, membuat Devon dan Mona serentak mengangkat kepala mereka begitu mendengar titah tersebut.


"I-iya, Tuan Luiz." berucap bersamaan bak orang yang sedang latihan paduan suara.


"Minggir ..." Luiz berjalan mendekat, sambil sedikit mengesampingkan tubuh mungil Dasha yang seolah ingin menjadi tameng, agar Luiz tidak bisa mengintimidasi kedua sahabatnya, yang kini gerak-geriknya terlihat semakin gugup saja.


Luiz menghempaskan tubuhnya keatas sofa, menatap Devon dan Mona dengan tatapan yang terhunus tajam.


"Kalian berdua, pasti sudah mengenal siapa aku, kan ...?"


"I-iya, Tuan ..." kali ini Devon yang menjawab dengan terbata.


Luiz tersenyum tipis mendengarnya.


Bagi Luiz, untuk mengetahui latar belakang seseorang tentu saja bukanlah hal yang sulit, apalagi jika itu hanya menyangkut latar belakang dua bocah seperti Devon dan Mona.


"Sungguh kebetulan yang indah. Aku sendiri cukup kaget saat mengetahui bahwa ayahmu adalah seorang manager pemasaran di kantor pusat milikku, sedangkan kau ... kakak perempuanmu, ternyata baru saja diterima bekerja sebagai karyawan percobaan, dibagian personalia yang ada dikantor cabang ..."


Dalam sekejap, Devon dan Mona telah terduduk lemas tak bertenaga, begitupun dengan Dasha.


Padahal sesuai dengan ide Dasha, mereka bertiga telah bersepakat untuk menyembunyikan identitas Devon dan Mona yang sebenarnya, namun pada kenyataannya Luiz bahkan telah mengetahui semua itu dengan mudah.


"Aku tidak bisa membayangkan, kalau saja ayahmu tau bahwa disini kau tidak belajar dengan benar ..."


"Tuan Luiz, aku minta maaf ...!"


Kalimat Luiz bahkan belum selesai, manakala Devon telah berdiri dari duduknya, dan tertunduk dalam dihadapan Luiz.


"Tuan, Maafkan aku atas semua kesalahan serta semua hal yang tidak berkenan dihati Tuan. Aku akan mengakuinya bahwa sebenarnya Dasha dan Mona telah memesan tiga tiket bioskop untuk menonton film terbaru yang diperankan oleh Tuan Leo ..." tanpa ragu Devon langsung mengungkap semua rencana licik Dasha dan Mona, yang telah berniat menyelinap keluar dari apartemen Luiz malam ini.


Devon bukannya ingin cuci tangan, karena pada kenyataannya ia bahkan tidak tahu menahu dengan rencana tersebut.


Nanti sekitar setengah jam yang lalu, Devon baru mengetahuinya, manakala Mona telah menagih uang pembelian tiket yang telah ia dan Dasha dapatkan.


Seperti biasa, mereka selalu membayar masing-masing setiap kali mereka membeli sesuatu. Memang selama ini, tidak pernah ada kata traktir-mentraktir diantara mereka, dan mereka merasa lebih nyaman jika harus membayar masing-masing, tanpa perlu membebankan satu pihak saja.


"Devon, kau ..." Dasha dan Mona memekik nyaris bersamaan, namun urung meluapkan kemarahan saat menyaksikan wajah Luiz yang menatap keduanya dengan tatapan tajam.


"Dasha, maafkan aku. Tapi aku tidak bisa membiarkan ayahku tau kalau disini aku tidak belajar dengan benar ..." kilah Devon dengan wajah penuh penyesalan.


"Dasar pengecut." Mona mengumpat dengan sangat-sangat perlahan, ia bahkan berucap dengan deretan gigi atas dan gigi bawah yang merapat satu sama lain, agar umpatannya hanya cukup sampai ditelinga Devon saja, tidak dengan telinga Luiz.


"Jadi ini berawal dari kalian berdua yah ..." ujar Luiz sambil tersenyum remeh penuh kemenangan, karena berhasil membuat Devon mengkhianati kedua sahabat karibnya dengan begitu mudah.


"Tuan Luiz, maafkan aku ..." kali ini Mona yang telah berucap sungguh-sungguh, karena dirinyalah pencetus ide pertama untuk menyelinap keluar dari apartemen Luiz, begitu pria itu pergi keluar.

__ADS_1


Mona sama sekali tidak pernah menyangka, jika pria tampan yang populer seperti Tuan Luiz malah menghabiskan weekend tanpa merasa ingin pergi kemana-mana!


"Aku bisa saja memaafkanmu. Tapi aku kasihan kepada kakakmu. Dua minggu depan, dia hanya membutuhkan tanda tanganku untuk membuatnya diterima sebagai karyawan tetap. Tapi jika dia tau bahwa saat ini adiknya bungsunya sedang berusaha menipuku, maka ..."


"T-Tuan ... Tuan Luiz ... tolong jangan seperti itu. Maafkan aku, dan kasihanilah kakakku, Tuan ... aku minta maaf ... aku mengakuinya, semua itu berawal dari ideku, sehingga Dasha nekad membeli tiga tiket secara online ..." tanpa sadar dua bening telah jatuh dipipi Mona, menandakan kesungguhan dari penyesalan yang berbaur dengan rasa takut.


Mona pasti menyadari betul, bahwa secara tidak langsung, Luiz sedang berusaha menyudutkan dirinya untuk mengakui semuanya.


Luiz kembali menghiasi seluruh bibirnya dengan senyum kemenangan, terlebih saat menoleh kearah Dasha yang sedang menatapnya dengan wajah super kesal, saat menyadari karena ulah Luiz, kedua sahabatnya telah mengkhianati dirinya dengan begitu mudah.


"Wah ... aku tidak menyangka jika kalian sedang berencana kabur diam-diam dari apartemen ini selagi aku pergi ..."


"Tuan Luiz, bukan begitu. Siapa yang ingin kabur? Kami hanya.. hanya ..."


"Kemarikan tiketnya." ujar Luiz dingin, seolah tidak ingin lagi memberikan Dasha kesempatan mengarang cerita demi mengelabuinya.


"Apa?!" pungkas Dasha gugup, saat menyadari tatapan Devon dan Mona telah tertuju penuh padanya.


Akhirnya dengan gerakan lesu, Dasha pun mengeluarkan ponsel dari balik saku celana jeansnya, guna memperlihatkan bukti pembayaran atas tiga buah tiket yang telah ia beli secara inline. Ia menyerahkan ponselnya tersebut kearah Luiz.


"Love desire ...?"


Luiz membaca judul film yang tertera disana, dimana lagi-lagi Leo adalah pemeran utamanya.


Untuk film kali ini Leo terlihat beradu acting dengan seorang gadis muda dengan wajahnya yang sangat baby face.


Kepala Luiz menggeleng berkali-kali saat mengamatinya beberapa saat.


Dasha membisu, begitupun dengan Devon dan Mona.


"Tidak boleh." pungkas Luiz lagi.


"Appa ...? Egh, aaaa ... Tuaaann ..." Dasha telah merengek terang-terangan, berbeda dengan Devon dan Mona yang hanya tertunduk pasrah.


"Lagipula kalau aku mengijinkan kalian keluar malam-malam begini, lalu bagaimana kalau dijalan nanti tiba-tiba ada orang yang hendak berbuat jahat?" ucap Luiz tersenyum jumawa, masih dengan posisi duduk tenang sambil melipat kaki penuh wibawa.


"Devon memiliki ilmu beladiri, dia bisa menjaga aku dan Mona ..."


"Cih, baru dua bulan dia dan sahabat kalian yang satunya lagi belajar bertinju, mana bisa langsung menjadi jagoan dalam sekejap mata."


Ketiganya kembali terdiam setelah lagi-lagi terhenyak kelu.


Luiz bahkan mengetahui dengan jelas jika Devon dan Ben sedang belajar bertinju disebuah sasana tinju, pada dua bulan terakhir ini.


Menyadari hal itu, Devon semakin merasa ngeri jika harus mengelabui Luiz lagi dimasa yang akan datang, sekalipun Dasha akan merengek padanya.


"Tuan Luiz, plisss ... sekali ini saja tolong ijinkan kami pergi. Tuan harus tau bahwa kami bertiga bahkan rela membayar mahal untuk tiket ini, dengan menyisihkan sebagian dari uang saku kami ..."


Mandapati wajah memelas Dasha yang terlihat bersungguh-sungguh, juga dua raut wajah lesu milik Devon dan Mona, telah membuat sisi hati Luiz sedikit iba dan terketuk.

__ADS_1


Untuk beberapa saat lamanya Luiz menimbang-nimbang, apakah ia harus mengijinkan ketiga bocah ini keluar untuk malam ini saja atau ...


"Kalau Tuan Luiz begitu mengkhawatirkan kami, kenapa Tuan Luiz tidak ikut saja dengan kami ...?"


Sebuah rencana yang sangat cemerlang untuk Luiz, namun tidak untuk Dasha dan Mona.


'Kalau ada Tuan Luiz, bagaimana mungkin kita bisa berteriak sesuka hati mengagumi Tuan Leo nanti ...?'


'Dasar Devon ...! Pengkhianat ...!!'


Dasha dan Mona telah mengumpat dalam hati kepada Devon yang menatap wajah keduanya dengan cuek, apalagi saat melihat raut wajah Luiz yang berubah semringah.


"Devon, kau jangan bicara yang tidak-tidak, Tuan Luiz kan tidak punya tiket ..." pungkas Dasha cepat, benar-benar tidak ingin Luiz mengacaukan kehebohannya dan Mona nanti.


"Biarkan saja, Dasha, daripada kita tidak bisa menonton sama sekali ..." bisik Mona ditelinga Dasha.


Dasha menatap Mona. "Iya yah, kau benar juga ..." ujar gadis itu lagi juga dengan berbisik.


"Sebuah tiket? bagiku itu perkara mudah ..."


Luiz menyeringai.


Tanpa berkata apa-apa akhirnya ia mengeluarkan ponsel, dan mengetik sesuatu disana.


Detik berikutnya Luiz telah menatap ketiga remaja tersebut yang juga sedang menatapnya dengan tatapan was-was.


"Pergilah bersiap. Aku akan memberi waktu lima belas menit sebelum ..."


"Tuannnn ... terimakasih, terimakasih ..."


Luiz termanggu saat menyadari Dasha telah melompat keatas pangkuannya, memeluknya erat dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi kiri Luiz yang langsung memerah.


Melihat pemandangan horor itu baik Devon dan Mona telah terkejut setengah mati, bercampur takut jika nanti tuan arrogan itu akan meradang kembali akibat tingkah bar-bar Dasha.


"Tuan Luiz, terimaksih, aku akan bersiap secepat mungkin." Devon langsung beranjak dari sana secepat kilat.


"Tuan Luiz terimakasih, aku juga akan segera bersiap ...!" Mona pun bergegas memburu langkah Devon, ia bahkan nyaris terjungkal karena dengkulnya yang membentur meja.


"Hei, tunggu aku, aku juga kan harus bersiap..." Dasha kembali melompat turun dari pangkuan Luiz dengan gesit, ikut memburu langkah kedua sahabatnya yang lebih dulu beranjak dari sana, sepintas mirip orang yang sedang berlari tunggang langgang.


Tinggalah Luiz yang termanggu ditempat duduk, sambil menikmati hawa panas yang menjalar diseluruh permukaan wajah hingga kealiran darahnya, saat menyadari bekas ciuman Dasha yang terasa lembab masih terasa nyata dipipi kirinya.


'Bisa-bisanya aku tersipu begini hanya karena dicium oleh seorang bocah?'


'Oh, Luiz, kau benar-benar sudah menjadi gila sejak lima tahun yang lalu ...dan saat ini kegilaanmu semakin bertambah...!'


...


Bersambung ...

__ADS_1


Like, Comment, Vote, dan hadiahnya dong akaaaakkk ... 🥰


__ADS_2