
Sejak pagi, kesibukan dirumah keluarga Arshlan semakin bertambah. Namun meskipun demikian, persiapannya telah rampung nyaris seratus persen, meskipun acara tersebut baru akan dilaksanakan pada malam hari.
Arshlan belum sempat menyelesaikan sarapannya manakala ponselnya yang berada diatas meja, tepat disisi secangkir kopi itu telah berbunyi.
"Itu pasti Luiz." Lana bahkan langsung berdiri dari duduknya, hendak mendekati Arshlan yang telah menerima panggilan tersebut sambil tersenyum.
"Halo Luiz ...?" sapa Arshlan.
Tidak hanya Lana, seketika tiga orang yang juga berada dimeja makan tersebut telah menatap Arshlan dengan seksama, penuh rasa ingin tahu.
Leo, Victoria, dan Dasha. Semuanya telah menatap Arshlan, namun hanya Leo dan Dasha yang tetap menatap Arshlan penuh, karena detik berikutnya Victoria lebih memilih kembali menunduk perlahan, meneruskan sarapannya.
"Oh, syukurlah ..." ucapan Arshlan terdengar menanggapi pembicaraan yang ada di seberang.
...
"Baiklah, kami semua akan menanti kedatanganmu dirumah. Cepatlah datang, karena Mommymu sudah sangat tidak sabar ingin memelukmu ..."
Ucap Arshlan sambil melirik Lana yang telah berada disampingnya, melotot sambil bersikeras ingin bicara, namun yang ada panggilan tersebut telah terputus setelahnya.
"Sayang, kenapa kau memutuskan panggilannya? Aku juga ingin bicara dengan Luiz." berucap kesal kearah Arshlan, dengan wajah yang dipenuhi aura protes yang kental.
"Luiz sudah tiba dibandara, sekarang dia pasti hendak menuju rumah juga. Lalu untuk apa Mommy memaksa bicara dengannya ...?" seloroh Leo seolah ikut mengejek Lana yang balik memelototinya.
"Leo, kau ..."
"Tidak perlu mengomel, karena Leo berkata benar." pungkas Arshlan.
"Iya, iya, aku tidak boleh marah dan tidak pernah bisa mengomeli mereka. Tapi mereka bisa menggodaku kapanpun mereka bisa, dan kau tidak pernah membelaku!" tuding Lana kearah Arshlan dengan wajah yang semakin terlihat kesal.
"Egh ...? Kenapa kau marah?"
"Aku tidak marah, aku hanya kesal karena aku ingin bicara dengan Luiz tapi kau malah ..."
"Kurang dari satu jam kau sudah bisa memeluk Luiz, bersabarlah ..." berucap demikian sambil menarik Lana ke pangkuannya, membujuk agar wanita itu berhenti cemberut.
"Hhhhmm ..." Leo telah memutar bola matanya begitu menyaksikan kemesraan kedua orang tuanya yang tak pernah berkurang.
Pada akhirnya, Leo telah memilih meneruskan sarapannya seperti halnya Victoria.
__ADS_1
Sementara Dasha malah berlaku sebaliknya. Gadis itu justru menopang dagu saat menyaksikan adegan yang begitu manis didepan matanya.
"Uhh ... so sweet ..."
Sepenggal kalimat Dasha yang penuh kekaguman itu, telah membuat semua yang ada di meja makan tersebut sontak tertawa berderai ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
Butuh waktu yang cukup lama bagi Lana untuk bisa menenangkan hatinya, saat ia nyaris tidak bisa menguasai dirinya sendiri.
Setelah moment yang sangat mengharukan manakala Lana bisa memeluk kembali tubuh Luiz dengan begitu erat, dengan air matanya yang tumpah ruah, kini Lana tetap memeluk lengan kiri Luiz saat Luiz memeluk Arshlan dengan erat, begitupun saat Luiz memeluk Leo, yang tak lain merupakan saudara kembarnya.
Sementara untuk Dasha yang juga langsung memeluk Luiz, Luiz hanya mengacak rambut gadis itu sebentar, berusaha mengontrol kerinduannya, dan hanya saling melempar senyum sesaat dengan Victoria yang berdiri paling ujung.
"Mari kita bicara didalam saja," Arshlan telah mengajak semuanya untuk duduk diruang keluarga yang nyaman, setelah Luiz menolak sarapan dengan alasan telah sarapan di lounge bandara begitu dirinya tiba tadi pagi.
"Luiz, sepertinya tubuhmu semakin bagus, kau pasti rajin berolahraga." ujar Leo sambil memperhatikan bentuk tubuh Luiz yang semakin sempurna, saat terbalut sweater tebal berwarna abu-abu cenderung gelap.
"Kau juga, sepertinya kau menjaga tubuhmu dengan baik."
"Tentu saja aku harus menjaganya, Luiz, kau tahu kan, aku adalah seorang aktor papan atas. Tubuhku ini adalah asetku yang paling berharga ..." ujar Leo dengan gaya bicaranya yang sedikit songong, membuat Luiz berdecak mendengarnya.
"Luiz, Mommy lega kau sudah kembali. Setidaknya Mommy bisa sering-sering melihatmu setelah ini ..." Lana yang terus menempel di lengan Luiz tak berhenti mengusapkan tangannya disana, dengan penuh kasih sayang serta kerinduan.
"Lana, kau harus ingat, bahwa Luiz yang sekarang bukan lagi Luiz yang dulu. Kau tidak bisa lagi menemukan dirinya yang selalu betah dirumah karena dia akan menjadi sangat sibuk dengan pekerjaannya nanti ..." ujar Arshlan mengingatkan.
"Lagipula, Momm, sekarang Luiz memiliki banyak kekasih, bukan lagi Luiz pada lima tahun lalu yang tidak ..."
"Leo, hentikan. Kau jangan mulai merusak suasana ..." sungut Luiz dengan wajah kesal.
"Tapi aku mengatakan yang sebenarnya ..."
"Leo!!" kali ini Lana telah melotot sempurna kearah Leo yang mulai usil seperti biasa.
"Baiklah ... baiklah, Momm, sorry ..." pria itu cengengesan saat mendapati dua pasang mata milik Lana dan Luiz yang telah melotot sempurna kearahnya.
Sementara itu, Luiz hanya bisa menarik nafas perlahan, saat menyadari, wajah Dasha yang telah terlipat ditempat duduknya, sebagai efek dari candaan Leo barusan.
"Sudah ... sudah ... Luiz, sebaiknya kau pergi beristirahat dikamarmu saja. Belasan jam dalam penerbangan pasti membuatmu jet lag." Arshlan telah berusaha menengahi kemelut kecil yang belum apa-apa sudah tercipta itu.
__ADS_1
"Baiklah, Dadd, Momm, aku keatas dulu ..." pungkas Luiz cepat, sambil bangkit dari duduknya.
Tak bisa dipungkiri, tubuhnya pun kini sangat lelah setelah melewati belasan jam penerbangan, dan dirinya memang butuh istirahat panjang untuk pesta nanti malam.
"Pergilah, Mommy akan menyeduhkan teh hijau, dan mengantarnya kekamarmu,"
"Baiklah, Momm,"
"Nyonya, aku ikut ..." Dasha telah ikut berdiri sambil mengekori langkah Lana menuju kearah dapur.
Saat melewati Luiz, diam-diam gadis itu bahkan telah mengedipkan matanya dengan genit, membuat Luiz yang sedang berjalan kearah lift, sontak menyentuh tengkuknya yang mendadak terasa kebas.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Dasha?"
Begitu keluar dari kamar mandi, Luiz terhenyak mendapati sosok Dasha yang telah berada didalam kamarnya.
"Kau ... sedang apa kau di dalam kamarku?"
"Aku mengantarkan teh hijau buatan Nyonya Lana, khusus untuk Tuan, dan ..." mengambang, sambil kemudian mendekatkan langkahnya kearah Luiz yang mematung didepan pintu kamar mandi. "Aku juga rindu ...!"
Dasha telah menghambur kedalam pelukan Luiz, memeluknya erat-erat.
Sejak melihat kehadiran Luiz, Dasha telah menahan keinginannya mati-matian untuk tidak melompat ketubuh pria itu, namun kali ini gadis itu tidak bisa menahan dirinya lagi.
"Dasha, pintunya ..." Luiz berusaha menjauhkan tubuh mungil Dasha dari dirinya.
"Sebentar saja, Tuan ..." Dasha bersikeras.
"Dasha ..."
Menyadari wajah Dasha yang semakin terbenam dalam dadanya, Luiz pun telah menarik nafasnya berat, sebelum akhirnya memilih untuk memaksa menjauhkan tubuh mungil itu dari tubuhnya.
"Dasha, tolong jangan seperti ini. Kalau kau nekad begini, akan ada yang curiga nanti ..."
Sikap beserta suara lirih Luiz telah membuat Dasha terhenyak, tak menyangka jika dirinya baru saja menerima sebuah penolakan ...
...
__ADS_1
Bersambung ...