TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
AKU AKAN MENERIMANYA


__ADS_3

'Arshlan.. apakah kau tidak menyadarinya..?'


'Bahwa semua yang kau lakukan.. tanpa kau sadari..'


'Semata-mata hanya merupakan caramu untuk memantaskan diri demi Lana..'


'Sedikit demi sedikit..'


...


Robi dan Marina telah pergi, mereka memeluk koper mereka masing-masing dengan wajah berbinar.


Ucapan terima kasih terus mengalir dari bibir keduanya hingga mereka menghilang dibalik daun pintu.


Sepasang orang tua gila itu pergi begitu saja tanpa beban.. tanpa peduli dengan seraut wajah keruh Arshlan.. apalagi memikirkan nasib Lana kedepan..?


Sungguh.. seumur hidupnya hingga detik ini Arshlan selalu merasa keluarganya adalah gambaran lingkup keluarga terburuk dimuka bumi, sebelum ia bertemu Marina dan Robi.


Memiliki ayah yang arogan dan tidak pernah menghargai ibu, serta memiliki ibu yang egois karena hanya fokus mengejar kebahagiaan dirinya sendiri.


Kedua orang tua Arshlan bahkan lupa bahwa mereka juga punya seorang anak yang butuh diperhatikan dan disayangi, hingga pada akhirnya.. sampai ajal menjemput ayah dan ibu, diantara mereka bertiga tak ada satu pun yang benar-benar bahagia.


Sungguh tragis.


Tidak cukup hanya dengan itu saja. Keduanya bahkan telah meninggalkan begitu banyak kesan yang buruk dibenak Arshlan hingga detik ini, membuat dirinya juga sanksi apakah ia bisa menjalani hidup tidak seperti mereka..?


Selama ini, dimata Arshlan orang tuanya adalah oang tua yang terburuk..!


Tapi hari ini.. Arshlan benar-benar dibuat takjub oleh sikap Robi dan Marina.


Lana..


Bagaimana caranya gadis itu bertahan sekian lama, hidup dengan kedua orang gila seperti Robi dan Marina..?


Apakah semua itu yang membuat Lana memiliki hati sekuat karang sekaligus selembut sutera..?


Lalu bagaimana Lana menjalaninya..?


Darimana gadis itu belajar tersenyum dan tertawa ceria..?


Membayangkan semua itu, membuat Arshlan merasa tak sanggup.


Lana pantas bahagia..


Tapi..


Tidak dengan dirinya..


XXXXX


Hari mulai gelap saat Arshlan memasuki kamarnya yang ada dilantai dua.


Hening menyapa, dan sosok Lana tak ia temui disana.


"Sepertinya Lana sedang dikamar mandi.." Arshlan bergumam sendiri, kemudian merasa lebih yakin saat sayup terdengar kucuran air keran dari wastafel.


Saat Arshlan mendekati sofa panjang, matanya menangkap sebuah keranjang berisi peralatan rajut milik Lana, serta sebuah syal yang belum juga selesai.


Arshlan membungkuk untuk memungutnya, membolak-balik syal rajut yang didominasi benang berwarna hitam.


"Tuan..?" nada terkejut bercampur keraguan terdengar menyapa telinga Arshlan.


Arshlan pun serentak berbalik dan mendapati Lana yang tersenyum ceria saat mendekat.


Sepasang mata gadis itu dipenuhi kerinduan.


"Tuan darimana saja seminggu ini..? kenapa Tuan tidak pulang? apa pekerjaan Tuan sedang banyak..? Aku tidak menyangka Tuan akan kembali sore ini.." Lana memberondong Arshlan dengan bertubi-tubi pertanyaan. Gadis itu terlihat sangat senang mendapati kehadiran Arshlan setelah nyaris seminggu ia tidak menemukan batang hidung Arshlan lagi.


Mereka berdua kini berdiri berhadap-hadapan dengan jarak nyaris dua meter.


Arshlan bisa melihat Lana dari sana, hanya berdiri sambil tersenyum takjub, tidak menghambur kedalam pelukannya seperti kebiasaannya selama ini.


"Pertanyaan apa ini..? kau bahkan tidak menyangka aku akan kembali..? jadi kau tidak suka aku datang..?"


"Tuan.. bukan begitu maksudku. Aku hanya.."


"Sudahlah..!" desis Arshlan sambil menghempaskan tubuhnya keatas sofa, sambil melonggarkan dasi dan berniat membuka dua kancing atas kemejanya sekaligus.


"Biar aku saja.." Lana sudah duduk disisi Arshlan, mengambil alih mempreteli kancing kemeja dari tangan Arshlan yang akhirnya mengalah, membiarkan Lana yang melakukannya.

__ADS_1


"Apa saja yang kau lakukan seminggu ini..?" tanya Arshlan sambil memperhatikan wajah gadis itu.


"Merindukan Tuan.." jawab Lana sambil tersenyum malu-malu.


"Cihh.."


Lana tertawa kecil melihat wajah kesal Arshlan saat mendengar jawaban genitnya.


Jemari pria itu telah menghentikan Lana untuk membuka kancing ketiga kemejanya.


"Sudah cukup," desis Arshlan berniat menjauh, namun dengan serta merta Lana telah lebih dulu beringsut mendekat, memeluk tubuh Arshlan erat-erat.


"Tuan aku tidak bohong.. aku benar-benar merindukan Tuan.."


"Aku bertanya apa yang kau kerjakan seminggu ini, kau malah menjawab main-main.."


"Siapa yang main-main.." Lana terdengar bergumam pelan. "Jadi merindukan seseorang tidak termasuk pekerjaan ya..?"


Gadis itu malah mendongak, menatap Arshlan dengan wajah yang polos, membuat Arshlan ingin menggigitnya, namun akhirnya memilih membuang wajahnya kearah lain.


"Baiklah.. seminggu ini pekerjaanku hanya merajut." pungkas Lana saat menyaksikan wajah Arshlan yang dingin, menandakan pria itu sedang tidak ingin bercanda.


"Tidak bosan setiap hari merajut..?"


Gerakan tangan Lana yang mengusap lembut dada arshlan terhenti sejenak sebelum akhirnya kepalanya menggeleng. "Tidak. Karena aku merajut sambil merindukan Tuan makanya aku tidak bosan.."


"Hhhh..!"


Suara nafas Arshlan terdengar menyentak keras karena kalimat Lana yang lagi-lagi terus berputar pada kalimat yang sama, sukses membuat Lana terkikik geli.


"Kau.."


"Sssstt.."


Suara tawa Lana membuat Arshlan semakin keki, namun kalimatnya bahkan kembali tertelan karena telunjuk Lana telah menempel diatas bibirnya, membungkam segenap kalimat yang hendak terlontar.


Arshlan belum juga bisa berbuat apa-apa manakala Lana telah beringsut naik kepangkuannya begitu saja.


"Jangan bicara lagi.." berbisik manja.


"Lana, kau mau apa.."


'Tidak..! tidak..!'


Arshlan berteriak dalam hati.


Seharusnya Arshlan menolak gadis itu dengan sigap, namun yang ada ia harus menelan ludahnya sendiri.


'Setelah seminggu menenangkan diri..'


'Bersusah payah menguasai diri sendiri serta mengumpulkan keberanian..'


'Hari ini aku datang kesini untuk membuat kesepakatan akhir dengan Lana..'


'Tapi.. kalau seperti ini..'


...


Arshlan membathin kalut.


Bagaimana tidak..?


Jika diatas pangkuannya..


Tepat didepan hidungnya..


Lana sedang tersenyum manis sambil menanggalkan piyama tidur berwarna hijau muda.


'Damn..'


Arshlan mengumpat dalam hati.


Arshlan bahkan belum melihat pemandangan indah yang lain, karena hanya dengan menyaksikan kedua bahu yang seputih susu.. bagian bawah tubuhnya langsung berdenyut, imannya goyah detik itu juga.


Tanpa banyak bicara Arshlan telah meraup bibir Lana, menyatukannya dengan miliknya, membuat empat bongkahan daging kenyal berpa gut nikmat.


Kedua lidah mereka mulai saling membelit satu dengan yang lain, bahu-membahu dalam menciptakan sensasi ciuman yang memikat.. bertukar saliva.. bahkan bertukar nafas..


"Tuan aku rindu.." bisik Lana disela-sela ciuman panjang yang menggelora, seolah ingin menuntaskan rasa rindu itu sendiri.

__ADS_1


Dihati Lana..


Dihati Arshlan..


"Tuan, aku sangat mencintai Tuan.."


'Lagi-lagi..'


Arshlan menulikan telinganya, mencegah hatinya yang bergetar setiap kali ungkapan cinta Lana terlontar indah untuknya.


Arshlan membopong tubuh Lana kearah ranjang dengan mulut yang terus berpa gut, hanya melepasnya sejenak saat ia menaruh tubuh Lana diatas permukaan ranjangnya yang lembut, kemudian setelahnya mereka kembali bergumul memadu kasih.


"Tuan.. mmhh.." Lana menge rang saat Arshlan melesakkan batang jamur kebanggannya jauh kedalam.


Pinggul mereka bergoyang seirama, saling menghentak menuntaskan hasrat.


Arshlan menyesap seluruh permukaan tubuh Lana yang begitu indah, namun benaknya masih saja sibuk berpikir.. kembali meragukan keputusan yang sempat ia deklarasi dengan penuh keyakinan.. namun kini keyakinan itu seolah kembali ke titik nadir..!


'Padahal asalkan aku tidak melihat Lana, maka aku akan baik-baik saja..'


"Tuaaann.."


Kesadaran Arshlan kembali saat menyadari tubuh Lana mulai bergerak tak terkendali.


'Aku harus bisa menyudahinya..'


Arshlan bergerak dengan kuat, memompa tubuh mungil Lana dengan tenaga penuh.


"Ohh sh it.. wait me.."


"Tuaann.. akh.. ahh.. pelan.. mmhh.."


Lana menjerit tertahan saat tubuhnya didesak dengan keras, namun kemudian hantaman orgas me yang luar biasa hebat berhasil meluluh lantakkan pertahanannya, begitupun dengan Arshlan.


Tubuh kekar pria itu ambruk begitu saja diatas tubuh mungil Lana.


Nafas mereka menderu..


Keringat mereka menyatu..


Untuk beberapa saat hanya keheningan yang ada, sebelum kalimat sendu milik Lana memecahnya.


"Tuan.. Tuan sedang berniat meninggalkan aku, kan..?"


Arshlan membeku begitu suara lirih Lana menyentuh gendang telinganya.


"Ibu sudah pergi. Seminggu yang lalu setelah bertemu Tuan, ibu tidak lagi kembali. Aku menunggunya setiap hari.. tapi Ibu tidak pernah datang lagi.."


Tubuh Arshlan tidak bergerak, masih berada diatas tubuh Lana, sementara wajahnya berada diceruk leher gadis itu. Arshlan membisu.


"Tuan pasti telah memberikan mereka uang yang banyak, kan..? karena itulah mereka menghilang.."


Suara Lana terdengar semakin lirih.


"Aku tidak kaget. Ayah dan ibu bahkan bisa menukar apapun untuk diriku. Sejak dulu.. sejak dulu aku tidak ada harganya. Aku satu-satunya seorang anak.. yang tidak berharga untuk kedua orang tuaku sendiri.."


Tubuh Arshlan ikut berguncang, saat tangis Lana pecah begitu saja dibawah tubuhnya.


"Tuan.. apakah dalam waktu dekat, Tuan juga berniat untuk meninggalkan aku..?"


"Lana.."


"Aku bisa merasakannya, karena akhir-akhir ini.. Tuan selalu berusaha keras untuk menjauh.."


"Lana.."


"Aku akan menerimanya, Tuan.. sungguh, aku akan menerimanya.."


Mendengar kepasrahan itu Arshlan memejamkan kedua matanya.


Seiring dengan tangis Lana yang memecah tak terkendali, disaat yang sama, Arshlan pun merasa hatinya ikut hancur..


...


Bersambung..


Maaf kemarin gak sempat up karena jadwal mulung banyak banget. Biasalah akhir tahun.. ngejar target buat dapat THR.. 😅


Sekali lagi maaf yah.. 🙏

__ADS_1


Yang belum masukin rak, jangan lupa favoritekan, support terus, jangan kasih kendor.. 🤗


__ADS_2