TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 59. Sebuah Buket Mawar


__ADS_3

Double up loh ini ... 🤗


...


"Akhirnya selesai juga."


Victoria menatap puas kearah buket bunga yang merupakan perpaduan mawar yang berwarna dark pink dan light pink.


"Orang yang memesan bunga ini, pastilah orang yang sangat romantis ..." kembali Victoria berucap seolah pada diri sendiri, sambil terus mengawasi hasil buah tangannya penuh kepuasan, dengan kedua lengan yang terlipat didada.


Meskipun tidak semua orang memahami maknanya, namun sejatinya setiap bunga memiliki makna yang berbeda.


Seperti halnya bunga mawar yang berwarna merah muda, yang sering diibaratkan sebagai simbol cinta yang manis, kebahagiaan, dan keromantisan.


Dan jika ingin ditelaah secara lebih spesifik lagi, bunga mawar berwarna dark pink dan light pink, masing-masing warna tersebut pun mempunyai arti yang berbeda.


Mawar yang berwarna dark pink memiliki makna rasa syukur yang mendalam dan rasa terima kasih kepada seseorang.


Sedangkan mawar yang berwarna light pink sendiri merupakan simbol kekaguman, cinta yang sukacita dan juga kelembutan.


Jemari Victoria meraih kartu kecil yang telah ditinggalkan oleh Feni sebelum wanita itu pergi, untuk ia selipkan diantara rangkaian mawar merah muda yang sangat cantik itu.


'Happy Birthday ...'


Alis Victoria sedikit berkerut saat tanpa sengaja, mengeja kalimat super pendek yang tertulis pada kartu ucapan itu didalam hati.


Sejenak Victoria berdecak sendiri.


"Astaga, padahal aku baru saja berpikir dan memuji orang yang memesan buket ini sebagai orang yang romantis. Tapi ternyata ..."


"Kau sedang membicarakan aku yah?"


Victoria terjingkat mendengar suara berat yang tiba-tiba telah berada tepat dibelakangnya.


Saking kagetnya, kartu mungil itu telah terlepas dari genggaman tangan Victoria begitu saja, dan meluncur ke lantai.


"L-Leo k-kau ..." Victoria tergeragap.


Pria itu telah membuka kaca mata hitamnya, hanya menyisakan topi guna menyamarkan sedikit wajahnya, namun tentu saja Victoria masih bisa dengan mudah mengenalinya.


Bukannya menggubris keterkejutan Victoria yang setengah mati, Leo malah lebih memilih membungkuk terlebih dahulu, guna memungut kartu mungil yang kini tergeletak diatas lantai yang dingin.


Sesaat kemudian pria itu telah maju mendekat guna mengikis jarak diantara mereka, menyisakan udara yang tak lebih dari selangkah.


Tubuhnya yang tinggi menjulang, dengan bahunya yang lebar, seperti biasa dengan mudah mengintimidasi Victoria.


"Bisa-bisanya kau menjatuhkan kartu ucapanku ..." Leo terlihat menyeringai kesal. Ia kembali maju kearah Victoria, sehingga kini tubuh Victoria seolah terjepit diantara meja dan sebuah tubuh yang kekar.


"Aku tidak sengaja, dan itupun karena kau yang telah mengagetkan aku." Victoria membuang wajahnya kesamping, menghindari tatapan Leo yang intens dari atas wajahnya.


"Kenapa kau lari?"


"Apa ...?!"


"Aku bicara tentang kejadian kemarin ..."


Wajah Victoria bersemu. "Siapa yang lari? Aku hanya sedang terburu-buru, karena masih ada buket yang harus diantar." ucap Victoria berbohong.


"Benarkah?"


"Tentu saja."

__ADS_1


"Aku justru berpikir bahwa semua itu karena kau sedang cemburu ..."


"Jangan ge-er!"


Leo tertawa mendengar sanggahan sengit itu, sementara Victoria terlihat sangat kesal karena terlihat sekali jika Leo tidak mempercayai alasannya.


"Dimana tanda terimanya?" ujar Leo lagi begitu tawanya mereda.


Tubuh Leo terdorong kebelakang saat Victoria mendorong dadanya dengan kedua tangannya, guna membebaskan diri dari posisi yang nyaris membuat Victoria kehilangan pasokan udara untuk bernafas.


"Minggir ..." Victoria beringsut dengan wajah datar ke sisi meja, meraih sebuah buku ekspedisi tanda terima, yang tergeletak diatasnya. Kemudian ia menyerahkannya kearah Leo tanpa kata.


Leo membubuhkan tanda tangannya disana, masih dengan bibir yang berhias senyuman yang aneh.


Setelah selesai Victoria kembali menaruh buku ekspedisi tersebut keatas meja, dan dengan gerakan enteng ia mengambil alih kartu ucapan yang masih berada ditangan Leo, langsung menyematkannya dibuket bunga yang cantik tersebut.


"Ini, bawalah pergi pesananmu." ujar Victoria dengan wajah masam, saat menyodorkan buket tersebut kehadapan Leo, namun pria itu malah menggeleng acuh.


"Itu untukmu."


"Apa ...?!" lagi-lagi terhenyak. "U-untukku ...?"


Untuk yang pertama kalinya seumur hidup Victoria mengenal Leo, baru kali ini Leo memberikan sebuah bunga untuknya. Apalagi hari ini, merupakan hari ulang tahunnya.


Jadi jangan salahkan Victoria kalau dirinya sendiri pun merasa sangsi dan tidak percaya dengan ucapan Leo, apalagi saat berucap Leo terlihat acuh bahkan terkesan kurang tulus.


"Aku sudah mengatakannya dengan jelas. Memangnya kamu berharap aku akan mengulang perkataanku berapa kali?"


"T-tapi ..."


"Kalau kau tidak sudi menerimanya, kau boleh membuangnya ..."


"Aku tidak pernah bilang kalau aku tidak sudi menerimanya."


Victoria melirik Leo dengan gemas.


'Apa-apaan pria ini?'


'Mau memberiku hadiah, tapi dengan sikap yang sangat menyebalkan ...'


Victoria membathin, masih sambil memeluk buket bunga itu dengan kedua tangannya.


Sejenak ia tersenyum miris saat mengingat untaian kata romantis yang tertera di kartu ucapan milik Lisa kemarin, sementara untuknya hanya sepenggal kata 'Happy Birthday'.


"Setelah jam kerjamu usai, aku akan menjemputmu."


Victoria mengangkat wajahnya lagi, menatap Leo.


"Malah bengong. Bukankah Mommy sudah memberitahu dirimu?"


"I-iya ... tapi ..."


"Aku akan menunggumu di parkiran." ucap Leo sambil kembali memakai kacamata hitamnya kembali, secara tidak langsung seolah mengisyaratkan jika dirinya hendak pergi, apalagi setelahnya Leo telah melirik jam tangannya. "Aku harus pergi."


Saat Leo berbalik, Victoria merasa tidak punya sesuatu hal lagi untuk bisa menahan kepergian Leo meskipun ia ingin.


"Terima kasih ..."


Langkah Leo terhenti mendengar suara lirih dibelakang punggungnya.


Mematung tak sampai lima detik, sebelum kemudian memilih berbalik, melangkah mendekati Victoria yang terpana menyaksikan sosok Leo yang mendekat ... terus mendekat, dan ...

__ADS_1


Jantung Victoria seolah berhenti berdenyut, manakala pandangannya menggelap, dan sebuah kelembutan telah menyentuh bibirnya, mengu lum dengan awal yang sangat lembut, namun semakin lama semakin dalam dan menuntut.


Victoria yang awalnya sempat berontak akhirnya ikut terhanyut dalam pusaran has rat yang telah menyentuh hingga kerelung sanubarinya yang terdalam.


"Happy birthday ..." bisik Leo lembut, disela-sela ciuman yang memanas.


Tanpa menunggu jawaban Victoria atas ucapannya, Leo kembali menyatukan lagi bibirnya ke tempat semula. Kedua tangannya yang besar telah menekan tengkuk Victoria dengan kuat, untuk lebih memperdalam sentuhannya.


"Leo ..."


"Hhmmm ..."


"Hentikan ..."


"No ..."


"A-ada yang datang ..."


Victoria berusaha melepaskan dirinya dengan susah payah, saat ia mendengar bunyi pintu depan, menandakan seseorang telah melewatinya.


Meskipun dengan terpaksa, akhirnya Leo membiarkan Victoria menjauh darinya.


Benar saja ...


Detik berikutnya, sepasang pria dan wanita dengan wajah yang terlihat mirip terlihat memasuki ruangan tersebut.


"Vic, aku sengaja kembali untuk mengajakmu lunch bersama dan ..."


Luna terlihat memasuki ruangan dengan wajah dipenuhi senyuman, namun ia terkejut saat menyadari jika ternyata Victoria tidak sendirian.


Seketika wanita itu nampak tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, begitu menyadari siapa gerangan yang sedang menjadi tamu istimewa di Florist miliknya.


"K-kau ... T-Tuan Leo ...??"


Leo yang tidak bisa lagi menghindar akhirnya pun mengangguk sambil tersenyum.


"Tuan Leo, perkenalkan, ini adalah Luna, owner Mega Florist. Dan ini adalah ..." Victoria nampak memutar otaknya sejenak, mencoba mengingat sebuah nama yang begitu cepat ia lupakan.


"Aku El, Luna adalah adikku satu-satunya." sambut El yang menyadari jika Victoria sedang kesulitan menjabarkan siapa dirinya.


"Senang mengenalmu, Tuan El," sapa Leo ramah, menyadari bahwa dari penampilan El dan Luna telah menggambarkan dengan jelas bahwa mereka sudah pasti bukan berasal dari latar belakang kalangan sembarangan.


Jas mahal yang melekat ditubuh El saja merupakan salah satu koleksi fashion terbaru yang harganya tidak main-main.


"Aaaa ... aku adalah penggemar beratmu, Tuan. Tidak ... tidak hanya aku ... tapi semua karyawanku juga, kami semua mengidolakanmu. Kami bahkan menjadi anggota fans club resmi milikmu. Iya kan, Vic?"


Victoria mengangguk bodoh, menanggapi kalimat Luna yang berapi-api.


"Wah, benarkah?" Leo berucap ramah atas kalimat belepotan Luna, saking tak menyangka jika dirinya bisa bertemu langsung dengan Leo, sang idola.


Leo melirik Victoria sekilas, mengetahui informasi yang terucap tanpa sengaja dari bibir Luna. Entah kenapa ia merasa sangat senang saat mengetahui hal itu.


Leo sungguh tidak menyangka jika Victoria ternyata ikut menjadi anggota fans club resmi miliknya.


"Oh ya, Tuan Leo, ada hal apa sampai Tuan bisa datang kemari?" Luna bertanya heran, terlebih saat menyadari Victoria yang berdiri sambil memeluk sebuah buket bunga berwarna kombinasi dark pink dan light pink.


"Oh, itu ... aku ... aku telah memesan sebuah buket bunga, tapi karena aku berubah pikiran untuk menggantinya dengan mawar yang berwarna merah, makanya aku memesan lagi, dan memberikan buket sebelumnya untuk Nona Victoria ..." ujar Leo, mencoba mencari alasan yang tepat untuk berkilah.


"Wah, Victoria, kau sangat beruntung ..." Luna tersenyum kearah Victoria, yang mencoba membalas senyum semringah Luna, meskipun terlihat kikuk.


...

__ADS_1


Bersambung ...


Support yang kencang dong 🤗


__ADS_2