TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
BERTOLERANSI


__ADS_3

Arshlan masuk kedalam kamarnya, dan langsung memutar kenop rosetnya dari dalam.


"Tuaann.. turunkan aku..! aku bilang cepat turunkan! kenapa Tuan menyelamatkan wanita itu..! aku tidak terimaaa..!!"


Lagi-lagi Arshlan tidak mempedulikan pemberontakan Lana yang masih saja berlangsung sengit, sampai akhirnya dengan tenang ia bisa menjatuhkan tubuh Lana keatas ranjangnya yang empuk.


"Hentikan." hanya satu kata yang terucap dingin, tapi cukup membuat Lana yang kini terduduk diatas ranjangnya terkesiap.


"Tuan, kau.."


"Kendalikan dirimu.."


"Huhh..!" Lana terlihat melipat tangannya, dengan wajah yang cemberut


Arshlan berdiri dihadapan Lana yang terduduk memeluk lutut, ia sengaja tidak ikut duduk disana untuk memudahkannya mendoktrin bocah bar-bar itu.


Arshlan menarik nafasnya panjang, ikut melipat tangannya ke dada seperti halnya Lana, dan pandangannya tertuju lurus pada gadis yang sedang membuang wajahnya kearah lain.


"Lana, dengarkan aku baik-baik, karena aku harus membicarakan hal serius denganmu, mengenai keberadaan Maura.."


"Silahkan, Tuan, tidak usah sungkan. Tuan pasti ingin mengatakan bahwa Tuan ingin aku bertoleransi dengannya kan.." berucap, tapi belum juga menoleh.


Arshlan terdiam, menarik nafas lagi. Arshlan sungguh tak menyangka jika Lana bahkan bisa menebak dengan mudah apa yang ingin dirinya sampaikan dengan begitu tenang, meskipun pada menit yang lalu amarah gadis itu telah menggila tak teredam.


"Tuan, aku tau bahwa aku pasti akan mengalami hal ini lama atau cepat. Tuan, kau juga harus tau, aku bahkan sudah menyiapkan hatiku sejak jauh hari untuk semua kemungkinan.." kali ini sepasang mata jernih Lana telah berpaling menatap Arshlan. "Tapi sayangnya aku tidak bisa mecegahnya, Tuan. Maafkan aku.. karena entah kenapa hatiku terasa sakit sekali melihat semua itu, meskipun aku tau bahwa aku bisa saja terus menemukan keadaan dimana diluar sana, Tuan akan selalu dikagumi dan mengagumi wanita lain.. yang tentu saja lebih cantik, lebih dewasa, lebih segalanya, dan jauh lebih 'wah'.." bergumam.


"Arshlan menelan ludahnya saat mendapati kejujuran yang terbalut luka mengiringi kalimat itu.


Dalam diam hati Arshlan juga terluka, meski keangkuhannya datang untuk menyembuhkan luka itu dengan cepat.


"Lana, kau tau sendiri kan hubungan kami pada kenyataannya belum selesai. Aku telah melanggar perjanjianku dengannya, tepat dihari aku menikahimu.."


Lana termanggu untuk beberapa saat, sebelum berucap perlahan sambil menatap penuh kearah Arshlan.

__ADS_1


"Kalau janji Tuan untuk Nona Maura begitu penting, lalu kenapa bisa dengan sekejap mata Tuan membawaku ke altar pernikahan.."


'Karena harga diriku terlalu tinggi untuk direndahkan olehmu.. dan karena kesombonganku jauh lebih besar dari keinginananmu yang ingin memanfaatkan diriku..!'


'Karena aku harus mendapatkan harta yang menurutmu paling berharga dari dirimu.. dan karena aku tidak bisa menerima penolakan hanya karena hal sepele itu..!"


Didalam sana.. bathin Arshlan memberontak riuh..!


"Waktu itu kau juga tidak menolaknya." pungkas Arshlan seolah tidak ingin disalahkan seorang diri. "Kau juga tidak bertanya tentang Maura atau tentang wanita lain, padahal kau sudah tau semuanya tentang diriku.."


"Aku tau. Tapi mungkin aku harus mendengarnya langsung Tuan mengatakannya, sehingga semua itu bisa terus mengingatku.. tentang siapa diriku dimata, Tuan.."


Pungkas Lana dengan keberanian yang ia kumpulkan dengan susah payah, dengan sepasang matanya yang terlihat mengembun saat bertatapan langsung dengan sepasang mata Arshlan yang bermanik gelap.


Arshlan menelan ludahnya mendapati pemandangan sendu itu, dan membenci keadaan dimana sisi hatinya kembali terasa nyeri saat melihatnya.


Sayangnya, sebagian besar hatinya pun secara bersamaan telah dipenuhi keegoisan.


"Selama ini hidupku tidak bisa jauh-jauh dari wanita cantik.."


"Dan aku memilihmu karena aku mengira kau begitu menyukaiku, sehingga bisa menerima semua sifat burukku.."


"Teruskan, Tuan.."


"Aku akan memperlakukanmu dengan baik, sepanjang kau bisa menerima semuanya tanpa syarat, begitupun sebaliknya. Aku akan bertindak keras, jika kau melupakan pembicaraan kita saat ini.."


"Aku telah menerima semuanya, begitu aku memutuskan menikah dengan Tuan, dan aku akan menanamkan pembicaraan ini didalam hatiku.." Lana menggigit bibirnya kuat-kuat untuk mencegah robohnya tanggul pertahanannya yang terakhir.


"Baguslah kalau begitu, karena kedepannya aku tidak mau kejadian seperti ini kembali terulang."


Kemudian Arshlan menatap manik mata Lana dengan tajam, tak peduli jika sepasang mata yang mendongak dibawahnya itu telah bertelaga, karena Arshlan telah menutup pintu hatinya kembali.


"Akhir minggu ini, aku akan mengajakmu kesebuah pesta penting, yang diadakan oleh musuh bebuyutanku. Tujuan mereka adalah mencari kelemahanku lewat dirimu. Jadi tolonglah Lana.. jagalah sikapmu, karena aku sangat berharap.. disana kau tidak akan pernah membuatku malu.."

__ADS_1


XXXXX


Makan malam kali ini terasa begitu kaku, untuk sebagian besar orang yang berada diruangan tersebut.


Wajah Nyonya Alexandra terlihat geram, wajah Lana terlihat datar, Wajah Arshlan susah dilukiskan ekspresinya.. sementara wajah Maura terus menebar senyum sejak awal.


"Hari sudah malam, sebaiknya kalian menginap disini saja, dan kembali pada besok pagi." ujar Nyonya Alexandra sambil menatap Arshlan dan Lana berganti-ganti.


Wanita tua itu sejak tadi sudah membaca gelagat yang tidak baik, terlebih dengan kehadiran Maura yang terus mencuri perhatian Arshlan selama dimeja makan.


Maura begitu sibuk melayani semua yang diinginkan Arshlan selama dimeja makan, bak seorang istri sungguhan, sedangkan Lana hanya makan dengan tenang seolah tidak terganggu dengan pemandangan didepan matanya.


"Kami memang akan menginap, Nyonya. Hanya malam ini, karena besok pagi-pagi sekali aku harus pergi keluar kota untuk melihat perkembangan terakhir dari renovasi beberapa unit dari pabrik dikota x yang kemarin sempat terbakar.."


"Tuan, kau tidak mengatakannya kalau akan pergi.." tanya Lana untuk pertama kalinya membuka suara.


"Aku baru saja memutuskan saat menerima telpon dari Her barusan." pungkas Arshlan.


"Lalu pestanya.."


"Besok pagi Asisten Jo akan menjemputmu. Dia tau apa saja yang akan kau butuhkan.." ujar Arshlan masih dengan nada yang datar. Fokusnya tertuju penuh pada makan malam yang ada diatas piringnya, sehingga ia bicara tanpa menatap Lana.


"Sepertinya kau harus mempersiapkan dirimu dengan baik, agar tidak mempermalukan Arshlan nanti." pungkas Maura tanpa diminta, kearah Lana yang hanya membisu. Tatapannya kini kembali beralih pada Arshlan sambil menyentuh lengan Arshlan dengan lembut. "Aku juga telah mendapat undangan yang sama dari Marco.."


"Baguslah. Ini bisa dianggap sebagai ajang reuni antara kau dan dia juga setelah sekian lama.." Arshlan menaruh sendok dan garpunya diatas piring begitu saja.


Kalimat Maura membuat Arshlan langsung merasa kehilangan seluruh naf su makannya dalam sekejap, padahal ia baru menghabiskan separuh dari isi makan malam, yang berada didalam piringnya.


.


.


.

__ADS_1


Next boleh, tapi minta dukungannya dulu dong.. Like and vote.. vote.. vote.. 😀


__ADS_2