TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 61. Impian


__ADS_3

Double up.


...


"Dasha, mana yang menurutmu paling bagus?"


Dasha memutar bola matanya mendengar pertanyaan Luiz yang entah untuk kesekian kalinya.


Pria itu terlihat bimbang. Bingung saat harus menjatuhkan pilihan, diantara dua pasang anting cantik yang berada tepat dihadapannya.


"Dasha ... kau mendengarku tidak?"


"Ambil saja keduanya, Tuan. Untuk apa dipilih kalau keduanya sama-sama terlihat bagus."


Luiz menautkan alis mendengar kalimat yang terucap ketus itu.


"Dasha, kau ini kenapa ...?"


"Tidak apa-apa."


"Kau marah padaku, yah?" usut Luiz lagi.


Dasha melengos.


Melihat pemandangan itu Luiz hanya bisa menggelengkan kepalanya. Namun karena tidak ingin membuang waktu percuma akhirnya Luiz malah memilih menatap pelayan toko perhiasan yang berada dihadapannya.


"Kalau begitu kau saja yang pilih." titah Luiz to the point kearah pelayan wanita yang sontak terkejut mendengar perkataan Luiz yang tiba-tiba.


"Egh ... t-tapi Tuan ..."


"Pilihkan aku salah satunya dan cepat kemasi." titah Luiz lagi sambil menaruh sebuah kartu diatas kaca etalase.


"Baiklah, Tuan."


Pelayan wanita itu akhirnya memilih mengangguk dan menunduk takjim sambil mengambil debit card milik Luiz, sekaligus salah satu anting yang menurut penilaiannya paling bagus diantara dua model yang tadi ia perlihatkan.


Kali ini tatapan Luiz telah mengarah penuh kearah gadis yang berdiri membisu disampingnya sambil melipat tangan didada.


Ingin bertanya apa yang salah, namun pada akhirnya Luiz memilih membiarkan dulu Dasha dengan kekesalannya untuk beberapa saat.


Kendati demikian, Luiz tak bisa lagi menahan laju tangannya yang terangkat guna membelai rambut gadisnya itu, mengacaknya perlahan, meskipun tidak mendapatkan respon berarti.


Luiz memang belum sepenuhnya menyadari bahwa asal muasal kekesalan Dasha dikarenakan gadis itu sedang menahan kecemburuan atas apa yang dilakukan Luiz sejak tadi untuk Victoria.


Luiz malah menganggap bahwa Dasha hanya lelah, sehingga sedang tidak berada dalam mood yang baik khas remaja labil pada umumnya.


"Permisi, Tuan, ini tagihannya." pelayan yang tadi datang kembali dengan membawa mesin debit card.


Luiz memindahkan tangannya yang tadinya sedang mempermainkan helai rambut Dasha, guna mengetikkan sederet angka di mesin debit card tersebut untuk konfirmasi pembayaran, dan kembali menunggu sejenak.


"Ini Tuan." ujar pelayan itu sambil menyerahkan sepasang anting cantik yang telah terkemas rapi, sekaligus dengan bill yang telah dibayar cash.


"Terima kasih." ujar Luiz sambil tersenyum tipis.


Tatapan Luiz lagi-lagi mengarah kearah Dasha.

__ADS_1


"Ayo kita pergi. Karena setelah ini, aku akan mengajakmu ke suatu tempat." usai berucap demikian langkah Luiz pun langsung terayun ringan.


'Ke suatu tempat lagi ...? Kemana ...? Pasti mau membeli hadiah lagi ...!'


Bathin Dasha menggerutu riuh, namun langkahnya tetap terayun mengikuti langkah Luiz, meskipun dengan wajahnya yang cemberut.


🌸🌸🌸🌸🌸


Saat mobil Luiz mulai terasa menanjak, Dasha yang sejak tadi duduk diam dengan mata terpejam alias berpura-pura tidur namun akhirnya benar-benar tertidur untuk menghindari percakapan sontak membuka matanya.


"Tuan, dimana ini?" tanya Dasha takjub, tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya saat menyadari yang mobil Luiz lewati dikiri kanan bukan lagi hiruk pikuk jalanan melainkan pepohonan yang berjejer rapi kehijauan.


Luiz melirik Dasha sambil tersenyum. "Kau sudah bangun rupanya ..."


Dasha membalas tatapan Luiz dengan wajah yang sedikit linglung. "Apakah tidurku lama?"


"Lebih dari dua puluh menit."


"Lalu dimana ini?"


"Kan sudah aku bilang aku akan mengajakmu ke suatu tempat."


Dasha menurunkan kaca mobil disampingnya, membuat Luiz otomatis mematikan ac mobil dan ikut menurunkan kaca jendela yang ada disisinya, membiarkan udara sejuk dan segar masuk dari jendela mobil yang terbuka dikedua sisi.


Dasha menghirup dalam-dalam udara yang terasa sejuk itu, sehingga masuk dan mengisi kedalam ruang paru-parunya.


Cukup menenangkan dan membuat hatinya yang awalnya kesal menjadi sedikit tenang.


"Tuan, ini indah sekali. Sejak kapan Tuan bisa mengetahui ada tempat yang seindah ini?" Dasha bertanya begitu Luiz menghentikan mobilnya tepat di area yang datar dengan ruang sedikit lapang, tepat disisi tebing yang berpagar kayu.


Saat Dasha berdiri disana, tepat dibawah sebatang pohon cherry yang sedang berbuah lebat, sebuah pemandangan menakjubkan pun tersaji sempurna sejauh matanya memandang.


Pemandangan dari atas bukit kecil itu memang sangatlah indah. Karena dibawah sana sebuah gambaran kota besar metropolitan dengan gedung-gedung pencakar langitnya yang mewah, dalam sekejap seolah berubah, ibarat sebuah masterplan.


"Sudah sejak lama." jawab Luiz sambil bersandar santai di bemper mobilnya, mengamati Dasha yang kini sedang merentangkan tangannya seraya menghirup udara segar.


"Ini luar biasa. Aku baru tahu bahwa di kota ini masih ada tempat yang memiliki udara segar seperti ini ..."


"Kau menyukainya?" tanya Luiz.


"Tentu saja. Aku sangat menyukai tempat ini, Tuan ..."


"Benarkah?"


"Hhmm ..." Dasha mengangguk cepat, kali ini ia telah menatap Luiz penuh senyuman. Hilang semua rasa kesal yang sejak tadi menyelimuti wajahnya, terlebih hatinya.


"Kalau kau suka, aku bisa membuat keseluruhan bukit kecil ini menjadi milikmu."


Berucap enteng, namun efeknya bagi Dasha cukup telak, karena wajah gadis itu kini terlihat bengong.


"Kenapa diam? Tidak percaya dengan ucapanku? Tidak percaya jika aku bisa membuat seisi bukit ini menjadi milikmu ...?" tantang Luiz lagi kali ini dengan tawa kecilnya, namun pendar dari sepasang mata Luiz yang jernih terlihat begitu meyakinkan, seolah mencerminkan kesungguhan dalam ucapannya.


"Tuan ini bicara apa ..." kilah Dasha kikuk.


Luiz mendekatkan dirinya kearah gadis itu, membuat tubuh mereka berhadap-hadapan begitu dekat, dibawah sebatang pohon cherry yang rindang.

__ADS_1


"Bukan hanya sekedar bicara, melainkan aku sedang berusaha menunjukkan besarnya keseriusanku padamu ..."


Kemudian sepasang mata keduanya telah bertaut satu sama lain, yang berakhir pada Dasha yang tertunduk, seraya berucap lirih.


"Tuan, aku sungguh senang mendengarnya. Hanya saja aku selalu meragukanmu ..."


"Ragu? Memangnya apa yang membuatmu ragu?" Luiz nyaris tidak percaya jika bisa-bisanya Dasha meragukan keseriusannya.


"Apakah Tuan benar-benar hendak menjadikan aku milik Tuan seorang?"


"Tentu saja."


Tapi ucapan yakin Luiz dibalas Dasha dengan menggelengkan kepalanya berkali-kali. Sepasang kelopak mata gadis itu kini telah bertelaga, entah sejak kapan.


"Dasha ... kau ..." Luiz tercengang mendapati Dasha yang sedang menggigit bibirnya menahan tangis.


"Tuan Luiz, kalau Tuan mengatakan semua ini hanya karena ingin menebus rasa bersalah Tuan pada lima tahun yang lalu, maka sebaiknya Tuan tidak perlu bersusah payah."


"Dasha, kau ..."


"Saat aku berumur sebelas tahun, aku tidak mengerti apa arti sentuhan seorang pria. Tapi sekarang umurku enam belas tahun. Aku tahu persis bahwa untuk melakukan semua itu, seorang pria harus memiliki perasaan yang mendalam, bahwa ia ingin memiliki wanita yang ia sentuh seutuhnya. Tapi Tuan tidak seperti itu. Tuan selalu menjauhiku dan ..."


Sepasang mata Dasha yang awalnya tergenang kini telah melotot sempurna saat menyadari bibirnya yang baru saja berucap panjang lebar, kini telah berada dalam sebuah ciuman yang selama ini hanya ada dalam angannya.


Terasa penuh ... dan begitu nyata.


Lembut ... dan hangat.


Luiz mengusap bibir Dasha yang gemetar dengan ibu jarinya. Nafas pria itu terdengar memburu.


"Dasha, aku berusaha sekuat tenaga menahan diriku agar tidak lagi membuat kesalahan dengan menyentuhmu, seperti yang aku lakukan pada lima tahun yang lalu. Tapi kau malah salah paham ..." bisik Luiz, saat ia menjeda ciumannya yang telah membuat gadis itu mematung ibarat sebuah manekin cantik.


"T-Tuan ..."


"Apa lagi, sayangku? Kau ingin aku membuktikan apa lagi, hmm?"


"Aku ... aku ..."


"Kau telah mengacaukan rencanaku untuk masa depanmu."


"Tuan Luiz ..."


"Hari ini aku telah memutuskannya. Tak peduli kau setuju atau tidak, begitu kau lulus ujian nasional, aku benar-benar akan menyeretmu ke altar pernikahan ..."


Dasha terhenyak mendengar kalimat Luiz yang terucap dengan suara berat.


"Katakan sesuatu ..." pungkas Luiz, saat menyadari bahwa sejak tadi Dasha terus saja tercengang, sehingga tidak bisa menyelesaikan satu pun kalimatnya hingga tuntas, usai mendengar isi hati Luiz yang sekian lama teredam.


"Aku ... aku pasti akan menunggu semua janji Tuan dengan tidak sabar. Tuan Luiz, aku ingin jadi milik Tuan secepatnya ..."


Dasha mengalungkan kedua lengannya ke leher Luiz, sedikit berjinjit saat nekad meraih bibir pria yang selama ini telah menjadi impiannya di sepanjang malam ...


Dalam lima tahun terakhir ...


...

__ADS_1


Bersambung ...


Support terus karya author yah ...πŸ€—


__ADS_2