
Presidential suite room Hotel Marion.
Sepasang mata Siska nyaris tak berkedip saat menyaksikan punggung kekar Arshlan yang kembali menuangkan champagne kedalam dua gelas tinggi yang ada disebuah meja disudut kamar.
'Ini seperti mimpi..!'
Siska berteriak girang dalam hati, saat menyadari kini ia telah berada didalam kamar super mewah, bersama pria yang paling digilai wanita sejagad.
'Oh astaga.. aku sungguh beruntung..'
Lagi-lagi Siska membathin, bibirnya terus dihiasi senyum takjub yang tak kunjung usai.
"Bagaimana pemotretan hari ini, apakah berjalan lancar..?" tanya Arshlan sambil mendekati Siska dan menyodorkan salah satu dari dua gelas yang berisikan champagne tersebut.
Mereka berdua bersulang sambil bertukar senyum penuh arti sebelum akhirnya menyesap minuman digelas masing-masing.
"Iya Tuan.. aku sungguh merasa tersanjung bisa melakukan pemotretan dengan para model senior yang memiliki jam terbang yang tinggi. Meskipun awalnya aku merasa sedikit gugup.." jawab Lana sambil menaruh kembali gelas yang nyaris kosong diatas meja.
Arshlan tersenyum. "Apa mereka telah membuatmu tidak nyaman..?" usut Arshlan lagi penuh perhatian.
Siska menggeleng cepat. "Tidak Tuan, mereka bahkan memperlakukan aku dengan begitu istimewa sehingga aku bisa menemukan kepercayaan diriku."
"Itu karena mereka tau bahwa kau wanita istimewa.. untukku.."
Siska terhenyak mendengar penggalan kalimat yang semanis madu. Kedua pipinya merona tanpa tercegah.
"Tuan, apakah aku.. seistimewa itu dimata Tuan..?" tanyanya seolah sangsi.
"Kau bisa membuktikannya sendiri.." bisik Arshlan begitu dekat ditelinga Siska.
"Aku ingin sekali membuktikannya, tapi menjadi enggan saat menyadari Tuan telah menjadi milik Lana.. sahabatku.." lirih Siska sambil menatap wajah Arshlan yang terasa begitu dekat sehingga membuatnya semakin merona, dadanya berdegup kencang saat sepasang matanya menatap seraut wajah Arshlan.
"Aku bahkan tidak ingin menyebut namanya. Moodku bisa hilang.." rutuk Arshlan, tatapannya mengarah tajam menusuk hingga kesanubari Siska yang semakin tidak bisa mengalihkan tatapannya dari wajah tampan milik Arshlan.
Garis wajah pria itu terlihat begitu tegas, terlebih dengan hadirnya kumis dan cambang lebat yang menghias disana.
Sungguh itu merupakan sebentuk wajah dengan aura kejan tanan yang teramat kental.
Belum lagi ditambah pemandangan sepasang alis yang berbaris indah, sorot mata elang yang tajam, hidung yang mancung, sementara dibawahnya terdapat dua bongkahan bibir yang penuh.
Siska merasa efek champagne yang barusan diteguknya semakin bertambah, sehingga kepalanya terasa ringan berputar.
Tanpa basa-basi Siska telah berjinjit demi menyesap kedua bongkahan bibir Arshlan dengan nikmat, terlebih ketika merasakan tindakan nekadnya telah direspon dengan baik oleh pria menawan itu.
Siska mengalungkan kedua lengannya dileher Arshlan. "Tuan.. kepalaku terasa agak pening.." lirih Siska diantara cumbuan yang memabukkan manakala ia merasakan perlahan namun pasti kepalanya terasa semakin ringan melayang.
"Itu karena kau terlalu bersemangat untuk segera bercinta, sayang.. dan champagnenya telah bekerja dengan baik untuk meningkatkan gai rahmu.."
Pungkas Arshlan, semakin melu mat bibir Siska dengan rakus.. namun membuai. Lidahnya bahkan semakin bergerak lincah menginvasi setiap rongga mulut Siska yang semakin terengah.
__ADS_1
Siska terkulai pasrah saat Arshlan membopongnya keperaduan.. seluruh tubuhnya telah dipenuhi gai rah yang menggelora..
XXXXX
Untuk sesaat Siska merasa dirinya tidak bisa mengingat dengan jelas begitu punggungnya menyentuh permukaan ranjang yang besar.
Sementara tubuh kekar milik Arshlan nampak menyusulnya disana, dan mencumbunya dengan ganas.
Pandangan Siska mengabur, tubuhnya lemas, namun setelah beberapa saat kesadarannya mulai kembali.. dan Siska bisa melihatnya dengan jelas.
Disana.. tepat diatas tubuhnya yang kini telah polos tanpa sehelai benang.. dalam temaramnya lampu kamar.. sebuah siluet tubuh pria yang kekar nampak berkilau bermandikan peluh.
Gerakan pinggulnya terlihat maju mundur dengan bertenaga, terus memompa tubuh Siska yang begitu menemui kesadarannya mulai tak henti mengeluarkan suara-suara sexy nan ero tis.
"Ohh.. mmh.. Tuann.. akh.." era ngan berulang yang penuh kenikmatan memenuhi setiap sudut kamar tersebut.
Untuk beberapa saat setelah saling berpacu dalam deru nafas yang saling berkejaran, Siska merasa bagian inti tubuhnya mulai berkedut keras.
"Tuaaann.. oh sh it.. i'm comiiinng.." Siska menjerit panjang, seiring dengan pinggulnya yang bergerak liar, sementara pria diatasnya menyeringai penuh kepuasan menyaksikan penglepasan yang dashyat, detik berikutnya ia pun memacu kencang sebelum menyemburkan lahar kepuasan didalam kantung pengaman.
Tubuh kekar itu ambruk tepat disisi Siska, dengan nafas tersenggal.
"Tuan.. terima kasih sudah memberikan aku kesempatan untuk bisa merasakan semua kepuasan ini bersamamu.." Siska membelai dada Arshlan dengan lembut, namun pria itu tidak bicara sepatah katapun, hanya mengatur jalan nafasnya yang mulai mengendur.
"Tuan.. apakah kita akan bertemu lagi setelah ini..?"
"Hhmm.."
"Tuan.. bagaimana kalau aku menjadi kekasihmu saja..? kita bisa terus bertemu dibelakang Lana.. seperti saat ini.." ucap Siska sambil mengecup lembut permukaan dada pria itu.
"Hhmm.."
Kebahagiaan Siska terasa tiada tara saat melihat Arshlan telah mengangguk dibalik temaramnya lampu kamar. Siska bahkan nyaris bersorak saking senangnya namun pada akhirnya ia memilih menghambur guna memeluk tubuh yang masih dipenuhi sisa peluh.
Aroma tubuh itu terasa begitu familiar dihidung Siska.. seolah mengingatkan dirinya akan seseorang.
Tok.. tok.. tok..
Suara pintu yang diketuk terdengar, membuat Siska terlonjak dari tidurnya yang rebah dengan nyaman diatas dada Arshlan.
"Buka pintunya, sayang.." suara Arshlan terdengar seolah tercekat ditenggorokan, membuat Siska tanpa berpikir panjang beringsut dari atas ranjang.
Siska hanya menyambar selembar kemeja putih milik Arshlan yang teronggok dilantai.
Sambil melangkah dengan kaki telan jang Siska mengunci asal-asalan beberapa buah kancing kemeja tersebut, mendekati pintu kamar yang tak henti diketuk dari luar.
Siska meraih handle pintu dan membentangkannya dengan sekali tarikan.
"K-kau.."
__ADS_1
Mengambang.
Siska tidak bisa lagi meneruskan kalimatnya manakala tubuhnya terdorong dengan kasar kebelakang, akibat tekanan dari sebuah lengan yang jemarinya telah mencengkeram lehernya dengan kekuatan penuh.
Bukk..!
"Aaahhh..!!"
Siska mengaduh keras begitu tubuhnya terhempas kasar kelantai dengan wajah pucat pasi.
"S-Siska..? ternyata kau.. dasar ja lang..!!" wajah Lana memerah sempurna begitu ia mengenali siapa wanita dengan penampilan berantakan seperti baru keluar dari kandang macan.
Amarah Lana langsung menggelegar saat menyadari dua bongkahan besar milik Siska lengkap dengan pentilnya menerawang jelas dari balik kemeja pria yang tidak terkunci sempurna.
Tidak hanya itu, dibawah sana, sebuah hutan pinus pun ikut menerawang jelas.
Dengan gerakan kilat Lana telah menghempaskan daun pintu dari dalam.
Brakk..!!
Lana memutar kenop roset yang melekat disana.
"Egh.. Lana.. Lanaaa..!!"
Marina berteriak sambil menggedor daun pintu berkali-kali saat menyadari Lana telah mengunci pintu tersebut dari dalam, memupus rencana Marina yang baru saja berniat ikut masuk agar bisa menyaksikan kejadian selanjutnya dengan mata kepalanya sendiri.
"Lana.. buka pintunya..! Lana, biarkan Ibu masuk keda.."
"Hentikan."
Marina terhenyak mendapati suara berat dari balik tubuhnya.
Dan saat Marina berbalik, detik itu juga Marina refleks menutup mulutnya yang memekik tertahan.
"K-kau.. kau.." Marina tergeragap, mungkin nyaris pingsan saking tak bisa mempercayai pemandangan yang ada didepan hidungnya.
'Astaga.. permainan gila apa ini..?'
Marina membathin bingung, sementara pria dihadapannya justru berdiri dengan senyum segaris.
"Nyonya Marina, terima kasih. Semua ini.. berkat dirimu.."
...
Bersambung..
Tangan kiri sedang terkilir. Aq bahkan membalas semua chat via vn. 🥺
Andai saja up naskah bisa pakai vn juga.. 😌
__ADS_1
Loophyuu all. Jangan lupa untuk support yah.. 🤗