TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
KEBODOHAN TERBESAR


__ADS_3

DOUBLE UP..!!


"Tenanglah.. karena untuk hal itu, kita bisa membicarakannya lagi.."


.


.


.


Arshlan terdiam, sejenak ia membuang wajahnya kearah lain, kearah yang berlawanan dimana kepala Lana masih bersandar disalah satu bahunya.


Jemari gadis itu terus membelai lembut seolah ingin membujuk hati Arshlan untuk melemah.


'Kalau saja saat ini kau tidak sedang bertujuan untuk menipu seperti keinginan semua orang yang selalu berusaha mencari celah saat mendekatiku.. pasti hatiku tidak segusar sekarang..'


Arshlan bergumam dalam hati.


Bagi Arshlan, memiliki segalanya, uang, popularitas, kekuasaan, terkadang semua itu ibarat sebuah kutukan. Ia bisa melakukan apa saja dengan ketiganya.. tapi kesulitan mendapatkan ketulusan hati seseorang.


Entahah.. tapi Arshlan terlalu sering berpikir kalau saat ini ia tidak memiliki segalanya.. wanita mana yang ingin mengemis cintanya?


Bahkan bocah yang berada dipangkuannya saat ini.. lebih memilih menikah dengan pria berumur dua kali lipat dari umurnya, daripada menikmati masa remaja dengan pria seusianya.


"Saat ini aku tidak mau bernegosiasi." ucap Arshlan tegas. "Aku telah memutuskan, bahwa aku akan tetap melakukan semuanya sesuai dengan aturanku, termasuk semua yang ada pada dirimu." kemudian dalam sekejap Arshlan telah mengangkat tubuh Lana dari pangkuannya dengan begitu mudah, dan ia sendiri bangkit dari duduknya.


Lana menyadarinya, bahwa suara Arshlan telah berubah dingin dalam sekejap, begitu pun dengan tatapannya.


"Malam nanti aku telah mengundang seseorang untuk makan malam dirumah ini,"


"Oh ya? siapa, Tuan..?"


"Seorang teman.."


"Lalu.. apa yang harus aku lakukan?"


"Tidak ada."


"Egh?"


"Aku hanya ingin kau bisa menjadi nyonya rumah yang ramah dalam menyambut tamuku. Ingatlah, kau harus berlaku baik, setiap kali menyambut semua tamuku yang datang kerumah ini. Kau mengerti?"


Mendengar itu Lana langsung mengangguk, meski firasatnya telah membunyikan alarm waspada.


'Seorang tamu..?'


Entah kenapa perasaan Lana langsung mencurigainya, namun seperti tekadnya yang telah ia tanamkan pada dirinya sendiri, bahwa ia akan menghadapi semua keraguan dan penolakan Arshlan untuknya dengan hati-hati.


"Tentu saja, Tuan.. aku akan menyambut semua tamu dengan baik, tanpa terkecuali.."


"Anak pintar.." desis Arshlan. "Aku sudah menduganya bahwa aku memang bisa mempercayai dirimu untuk hal-hal seperti ini.."

__ADS_1


Arshlan tersenyum misterius, lebih mirip sebuah seringai.


"Baiklah.. sekarang aku harus pergi bekerja.." Arshlan telah mengesampingkan Lana sebelum pria itu terlihat beranjak, memilih mengakhiri acara sarapan paginya yang sesungguhnya belum selesai karena tadi ia malah sibuk menyuapi Lana.


"Tuan, aku akan mengantarmu kedepan.."


Arshlan berbalik menatap Lana sejurus. "Hanya kamarmu, dan area dapur. Belum apa-apa kau sudah melupakan aturannya.."


Lana terdiam seolah baru tersadar bahwa ia nyaris melanggar janjinya sendiri.


"Astaga.. aku lupa.."


"Dan aku akan memberimu kelonggaran juga dengan area ruang makan ini.." ucap Arshlan lagi sebelum berbalik, melangkah tegap, dan berlalu begitu saja, menghilang dibalik dinding pembatas ruang makan.


Lana termenung ditempatnya, menyaksikan kepergian pria yang dicintainya itu dalam diam.


Didalam hati Lana sesungguhnya sangat menyadari, bahwa sekarang dirinya sedang berdiri dalam sebuah keyakinan yang begitu rapuh, meski sejauh ini Lana merasa telah melakukan semuanya dengan begitu baik.


Kata siapa Lana tidak tau bahwa penyiksaan yang ia terima kemarin semata-mata merupakan ulah Tuan Arshlan?


Lana tidak sebodoh itu!


Mana mungkin para pelayan berani melupakan hal yang begitu penting, sehingga tidak mengantarkan makanan seharian penuh untuk istri majikan mereka sendiri kalau bukan karena Tuan Arshlan yang memerintahkan mereka untuk melakukannya?


Lana hanya sedang mengikuti alur permainan Tuan Arshlan saja.


Pria itu menganggap Lana bodoh.


Lana memang bodoh. Dan kebodohan terbesarnya adalah terjerat cinta pria dewasa yang kejam seperti Tuan Arshlan..!


XXXXX


Maura telah menekan tombol remote kecil yang ada diatas ranjang, untuk mengunci pintu kamarnya secara otomatis, sebelum ia mengeluarkan sebuah benda pipih dari balik bantalnya, dan mengaktifkannya.


Maura harus menunggu beberapa saat untuk melewati proses tersebut sebelum akhirnya bergegas menghubungi sebuah nomor yang ada dikontak.


Wajah cantik milik Maura menyeringai kesal begitu menyadari tiga panggilannya berturut-turut tidak mendapatkan respon dari orang tersebut.


"Halo Sayangku.. hhhh.. hhh.."


Tepat dipanggilan ketiga diujung deringan, barulah suara seorang pria yang sedang terengah-engah terdengar menyapa gendang telinga Maura.


"Sia lan, David.. apa kau sedang bersama ja lang..?!" Maura meradang mendengar suara David, dokter lajang yang telah menangani kelumpuhannya selama lima tahun terakhir, yang sedang ngos-ngosan saat menyapanya, terlebih setelahnya suara erangan nikmat seorang wanita ikut terdengar.


Diseberang sana David terdengar tertawa kecil.


"I'm sorry, honey.. menunggu jadwal pertemuan berikutnya denganmu terasa sangat lama. Aku begitu merindukanmu.. sehingga tidak bisa menahannya lebih lama lagi.."


"Alasan! dasar baji ngan me sum..!" umpat Maura kesal yang ditanggapi David dengan tawa yang terkekeh, sebelum kemudian lagi-lagi nafasnya terdengar berat dan memburu, membuat Maura jijik mendengarnya berlama-lama. "Sore nanti sesuai jadwal.. aku akan menunggumu. Kita harus bicara serius tentang hal yang sangat penting."


"Pasti tentang Tuan Arshlan, kan.. hhhh.. hhh.."

__ADS_1


Lagi-lagi suara David terdengar disertai de sa han yang menandakan dirinya sedang berada dipuncak tertinggi.


"Sia.. lan..!" Maura tidak tahan untuk tidak mengumpat lagi. "Aku akan menunggumu. Kalau kau terlambat sedetik pun, akan aku adukan ketidak profesionalmu kepada Arshlan..!!" Maura nyaris berteriak marah sebelum akhirnya memutuskan panggilan itu sepihak. Telinganya terasa gatal saat mendengar suara wanita yang tak henti mengerang diujung sana.


"Sial..!! disaat aku pusing memikirkan Arshlan yang telah menikahi pelayan rendahan itu, David malah asik bermain-main dengan ja lang..!!" umpat Maura sambil beranjak turun dari tempat tidurnya dengan geram.


Yah.. sebenarnya dalam beberapa tahun terakhir kakinya telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Sempat kesulitan berjalan ditahun pertama dan divonis akan mengalami kelumpuhan permanen namun Maura tidak ingin menyerah begitu saja.


Keinginan serta tekadnya untuk bisa kembali berjalan sangatlah besar, membuat Maura memohon kepada Arshlan untuk terus melakukan perawatan sekaligus therapi di villa untuknya.


Arshlan tidak keberatan dan keyakinan Maura pun membuahkan hasil, karena ditahun ketiga Maura mulai bisa merasakan perkembangan otot-otot kakinya yang mulai sedikit merespon.


Sebenarnya Maura ingin mengutarakan kabar bahagia itu kepada Arshlan, namun urung karena Maura merasa sangsi, jika Arshlan belum bisa memaafkan kesalahannya yang telah mengkhianati pria itu.


Maura juga takut jika kabar kesembuhannya malah akan membuat rasa iba Arshlan menghilang.


Yah.. karena selama ini Maura bertahan hidup dibawah rasa iba pria itu. Seandainya Arshlan tidak memungutnya.. entah bagaimana nasibnya.


Maura memilih menunggu waktu yang tepat, dan berusaha kembali menarik perhatian Arshlan. Hanya dengan begitu Maura bisa menjamin kehidupan masa depannya kelak, karena tidak rela meninggalkan Arshlan dengan segala kemewahannya. Terlebih dalam lima tahun terakhir, pria itu menjadi berkali-kali lipat lebih berjaya, ibarat seisi dunia ini telah berhasil digenggamnya, membuat Maura semakin tidak rela meninggalkan Arshlan.


Maura telah meminta dokter David untuk bekerja sama, agar tidak membocorkan rahasia kesembuhannya kepada Arshlan. Maura yang licik bahkan tidak keberatan meskipun dokter David meminta imbalan untuk bisa menjaga rahasia.


Maura memang cukup serakah, sekaligus kurang beruntung. Waktu berlalu namun sejauh ini usaha Maura belum juga berhasil karena kenyataannya Arshlan belum juga bisa memaafkannya.


Pria itu bahkan masih betah membalas dendam, terus berusaha menyakiti hatinya, dengan cara bercinta dengan sejumlah wanita cantik silih berganti di villa Black Swan.


Sakit hati..?


Tentu saja.


Hati maura sangat sakit, belum juga bathinnya pun haus belaian Arshlan yang hebat dan tiada duanya, sedangkan pria itu bahkan tidak sudi menyentuhnya..!


Namun demikian Maura tetap bertahan dan bersabar. Maura selalu berkeyakinan, bahwa selagi Arshlan masih gemar bermain-main, itu pertanda hati pria itu masih terikat padanya.


Tapi kehadiran pelayan bernama Lana itu ternyata berbeda. Arshlan bahkan nekad menikahi gadis itu, dan menjadikan Lana istrinya hanya dalam sekejap mata.


"Nona Maura.. buka pintunya," suara Lucy terdengar dari balik pintu, membuat seluruh ingatan Maura ikut terburai.


Dengan geram akhirnya Maura harus kembali keatas ranjang. Lagi-lagi berpura-pura lumpuh..!


Sungguh Maura merasa sangat muak jika memikirkan nasibnya yang tak kunjung mendapatkan jalan keluar.. malah yang ada semakin suram..!


.


.


.


Bersambung..


Like, comment, vote, Support jangan lupa yah.. 🤗 Lopyuuu all 😘

__ADS_1


__ADS_2