TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
9. SECANGKIR KOPI


__ADS_3

"Kau sedang memikirkan apa lagi...?" tanya Arshlan kemudian, tersenyum lembut sambil mengacak kecil ubun-ubun Lana.


Dalam diam ia begitu menikmati sentuhan jemari Lana yang menyusuri wajahnya dengan tatapan kekaguman yang kentara.


Yah... Arshlan menyukainya. Ia selalu sangat menyukai moment dimana Lana menunjukkan rasa cinta untuknya setiap saat.


"Tidak ada." Lana tersenyum lagi, memilih kembali membalikkan tubuhnya, lagi-lagi menatap Pulau San Goliorgio yang berada didepan sana. "Aku hanya merasa takjub dengan keindahan pemandangan dipagi hari, setiap kali aku membuka tirai jendela..."


"Kita bisa berada disini lebih lama kalau kau mau..." Arshlan menyurukkan wajahnya diceruk leher Lana yang jenjang, mengendus aroma segar khas aroma bayi yang menguar dari tubuh Lana... yang karena aromanya tersebut selalu sukses membuat Arshlan tergila-gila oleh hasratnya sendiri.


Mendengar itu Lana langsung menggeleng tegas.


"Kenapa?"


"Meskipun semua ini terasa begitu indah bagaikan sebuah mimpi, tapi aku justru ingin kita bisa segera pulang..."


"Hhhhmm.. kau pasti merindukan si kembar kan...?" Arshlan berucap lembut, namun kepalanya masih berada dileher Lana, sibuk mengecup dan sesekali memainkan ujung lidahnya disana, sengaja membuat tubuh Lana bergetar kecil ibarat dialiri listrik bervoltase rendah.


"Memangnya kau tidak merindukan mereka berdua...?" ucap Lana sambil menggeliat pelan, namun Arshlan malah mengetatkan pelukannya.


"Aku juga rindu... tapi disisi lain aku tidak bisa berbohong... aku sangat suka berada disini bersamamu... hanya kita berdua... dan terus melakukannya..."


"Sayang, jangan mulai... bukankah semalam kau sudah berjanji bahwa di hari terakhir ini kita akan kembali berkeliling dan..."


"Segala sesuatu yang hebat disini sudah aku tunjukkan semuanya padamu..." bisik Arshlan, kedua tangannya sudah bergerilya dengan tangkas diatas pemukaan kulit tubuh Lana. Lana bahkan tidak menyadari entah sejak kapan kedua tangan yang nakal milik suaminya itu menyelusup kedalam sana, meremas bukit kembarnya dengan remasan yang sangat pas.

__ADS_1


"Tapi aku ingin melakukannya lagi..." meskipun bersikukuh namun suara Lana terdengar mulai memberat karena perlakuan intim Arshlan.


"Baiklah... kalau begitu mari kita lakukan lagi..."


Lana melotot mendengar selorohan ringan Arshlan. "Sayang, bukan melakukan 'itu'. Tapi 'melakukan lagi' yang aku maksudkan adalah kembali menaiki gondola... menyaksikan sunset dilapangan St. Mark's... menikmati makan romantis di kanal... berbagi some love gelato... menyaksikan pertunjukan ballet di Theatro La Venice..."


"Baiklah... baiklah... kita akan melakukan lagi semua yang sudah kau ucapkan itu, tapi nanti... setelah aku selesai dengan yang satu ini..."


"Aaaaa...!"


Lana terpekik begitu tubuh mungilnya telah diangkat ala bridal style oleh Arshlan begitu saja.


"Sayang... kau sudah berjanji bahwa kita hanya akan melakukan ini dimalam hari...?" protes Lana begitu punggungnya mendarat sempurna diatas ranjang super besar nan lembut.


"Pagi ini adalah pengecualiannya..." ujar Arshlan acuh sembari naik keatas ranjang dengan senyum devil, sama sekali tak mengindahkan kalimat protes Lana


"Curang.." desis Lana saat menyadari kini ia tak lagi bisa berbuat apa-apa begitu Arshlan telah berhasil membebaskan b r a berenda miliknya, serta langsung meremas, mengecup, dan menghisap pucuk kedua buah kenyal miliknya dengan sangat rakus, berganti-ganti.


"Masih terlalu pagi untuk berkeliaran diluar sana, aku butuh sesuatu yang hangat..." ucap Arshlan, mulut pria itu telah menjeda sejenak aktifitas intimnya yang sempat membuat tubuh Lana menggila.


Kini Arshlan terlihat menatap Lana dengan tatapan nakal, namun tidak dengan kedua tangannya yang terus berpetualang.


"Kalau kau butuh yang hangat berarti yang kau butuhkan itu adalah secangkir kopi..."


"Apa kau bilang...? secangkir kopi...?"

__ADS_1


Sepasang mata Arshlan melotot menerima kalimat usil Lana, refleks kedua jemarinya masing-masing memilin puncak mungil menggemaskan milik Lana dengan sedikit mencubit, sebagai hukuman yang indah untuk wanita.


"Aduhhh... sshh... mmhh..."


Lana mendesah tertahan menerima rangsangan dikedua pusat sensitif miliknya.


"Beraninya kau menyuruhku minum kopi disaat aku menginginkan sesuatu yang hangat disini..." desis Arshlan, kali ini sebelah tangannya telah meraup kasar sesuatu yang mulai terasa lembab dan basah dalam waktu singkat akibat ulah jari-jemarinya yang lincah.


"Mmmhh... sayaaangg... aku hanya bercandaa... ohh..."


Arshlan tersenyum puas saat berhasil membuat tubuh Lana meliuk-liuk kesana-kemari tak beraturan. Dari mulut mungil gadis itu suara desa han, era ngan, bahkan jeritan manja mulai bersahut-sahutan dengan merdu acap kali Arshlan meningkatkan ritme permainan awal yang semakin mendebarkan.


"Sayang... cepat lakukan..."


Arshlan tertawa kecil mendengar permohonan manja itu. Namun jemarinya masih enggan berpindah, terus mempermainkan titik kecil diantara lembabnya belukar, yang setiap kali Arshlan memetiknya maka tubuh Lana akan tersentak indah.


"Memohonlah sayang..." bisik Arshlan sambil kembali mengu lum lembut bibir yang merekah dan basah...


"Akhh... sayaangg... pliiss..." Lana memohon disela-sela cum buan Arshlan yang semakin intens, sepasang matanya yang bersinar sayu telah menatap Arshlan penuh permohonan, tatapannya telah dipenuhi kabut gairah yang menggebu-gebu.


Kedua tangan Lana menyentuh dua lengan kokoh Arshlan yang mengungkung tubuh mungilnya, mengusap lembut naik-turun, membujuk pria yang seolah sengaja berlama-lama menurunkan pinggulnya yang masih terbalut handuk berwarna putih demi menggoda pinggul Lana yang menggeliat penuh damba dibawah sana...


...


Bersambung...

__ADS_1


Masih lanjut... 😅 woilaahh... cuaapek banget nulis part ini guys... 🥲


Butuh asupan vote sama kopi pliss.. 🤭


__ADS_2