
Honeymoon yang indah telah berakhir.
Begitu langkah kaki Arshlan dan Lana telah menapaki pintu keluar bandara Her terlihat menyongsong mereka dengan bergegas.
"Mobilnya sudah siap, Tuan." ujar Her sambil menunduk takjim.
Arshlan hanya mengangguk sambil berjalan mengikuti langkah kaki Her yang telah berjalan lebih dulu, sementara Lana yang ada disampingnya terus memeluk erat lengan Arshlan tanpa banyak kata.
Sesampainya didalam mobil Lana pun langsung merapatkan tubuhnya kearah Arshlan, menyerahkan tubuhnya untuk masuk kedalam rengkuhan yang sempurna.
"Aku perhatikan sejak tadi kau hanya diam saja. Ada apa?" tanya Arshlan begitu mobil mereka telah bergerak perlahan meninggalkan area bandara.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin terus dekat denganmu dan memelukmu seperti ini. Karena setelah ini, kau pasti akan kembali sibuk bekerja sepanjang hari..." ujar Lana sambil merenggut manja.
Arshlan tertawa kecil saat menyaksikan tingkah Lana yang seolah ingin terus melesak masuk kedalam dadanya. Tangannya terangkat guna membelai kepala wanita manja itu dengan penuh kasih sayang.
"Aku harus bekerja keras agar bisa mewujudkan tabungan masa depan yang baik untuk Luiz dan Leo..." bisiknya perlahan masih dengan senyum yang lembut.
"Tapi kau sudah memiliki banyak uang. Memangnya masih kurang?"
Arshlan kembali tertawa mendengar pertanyaan polos itu. "Jika memikirkan Luiz dan Leo, aku merasa semuanya masih jauh dari kata cukup."
Lana mengangkat kepalanya, menatap Arshlan lamat-lamat dengan tatapan iba. "Jadi karena itukah sebabnya kamu selalu bekerja sekeras ini...?"
Arshlan hanya membalasnya dengan senyum yang tipis.
"Kau bekerja sekeras ini untuk Luiz dan Leo tapi aku malah tidak melakukan apa-apa..."
"Kata siapa kau tidak melakukan apa-apa...?"
"Kenyataannya memang demikian. Aku selalu meminta segala sesuatu, dan kau selalu memberikan ini dan itu untukku dan si kembar, sedangkan aku..."
"Justru karena dirimu aku bisa melakukan banyak hal."
Lana mengangkat wajahnya. Guratan sendu masih bergelayut nyata disana saat Arshlan mengawasinya lekat.
"Memangnya aku bisa apa.." ujarnya lirih.
"Justru karena dirimu, aku selalu merasa bersemangat, terus tertantang untuk bisa meraih kesuksesan demi kesuksesan agar kalian bangga memiliki diriku sebagai seorang suami dan ayah..."
__ADS_1
"Tentu saja kami bangga. Sayang, kau adalah suami sekaligus daddy yang paling hebat diatas muka bumi ini..."
Arshlan menunduk guna mengecup sesaat bibir merah merekah milik Lana. " Dan kau adalah sumber dari segala sumber kekuatanku. Semua hal positif yang terjadi didalam kehidupanku itu semua karena dirimu. Semenjak kehadiranmu, hidupku menjadi sangat berarti dari hari kehari... dan aku selalu merasakan kebahagiaan yang tak ada hentinya..."
Sepasang mata milik Arshlan dan Lana bersitatap begitu dekat.
"Benarkah arti diriku sepenting itu...?" Lana menatap Arshlan ragu.
"Hhmm..."
"Sayang..." Lana kembali menghambur kedalam pelukan Arshlan, mendekap tubuh kekar dengan aroma maskulin itu dengan begitu erat.
"Jangan menangis..." Larang Arshlan mengetahui Lana mulai terisak dalam pelukannya. Tapi bukannya menjadi tenang bahu Lana bahkan semakin terguncang. "Sudah... sudah... jangan menangis terus. Kalau kau seperti ini hatiku seperti sedang dihimpit batu..."
Cup... cup... cup...
Arshlan telah menghujani wajah Lana yang dipenuhi air mata dengan ciuman disekujur wajah itu. Pria itu mengusap setiap jejak rasa haru dikedua pipi Lana dengan begitu telaten.
"Aku menangis karena terlalu bahagia..." lirih Lana, hatinya semakin melow menerima semua kasih sayang Arshlan yang terasa begitu nyata untuknya.
"Aku senang mendengar bahwa aku mampu membuatmu bahagia. Tapi melihat air matamu tetap saja membuatku tidak nyaman. Sayang, tolong tersenyumlah... "
Lana mengangguk perlahan, dan seperti dua kubu medan magnet yang saling tarik-menarik satu sama lain wajah mereka pun semakin lama semakin mendekat sebelum akhirnya kedua bibir mereka ikut bertaut indah, masing-masing berusaha saling membuai.
"Sayang... aku ingin dirimu..." bisikan manja Lana membuat Arshlan harus meredam gai rahnya yang juga mulai tersulut.
"Aku juga menginginkanmu, sayangku..." nafas Arshlan memburu.
Arshlan harus menahan dirinya sebegitu rupa, mencegah jemarinya menelan jangi Lana saat itu juga, mengingat mereka masih berada diatas mobil yang sedang melaju membelah jalanan, dengan sopir dan Her yang duduk tenang dibagian depan, seolah tidak terusik sama sekali dengan suara-suara kemesraan sepasang majikan dari bangku belakang.
Namun demikian tak menutup kemungkinan jika didalam benak Her dan sopir telah memikirkan hal serupa.
Bahwa kedua majikan mereka sungguh merupakan pasangan suami istri yang sangat bersemangat.
Yah. Bersemangat...!
Karena setelah melewati bulan madu yang pastinya sangat menggairahkan dari hari kehari, keduanya bahkan masih saja saling berciu man mesra didalam mobil serta terlihat tidak sabar akan satu sama lain...
🍄🍄🍄🍄🍄
__ADS_1
"Ada apa?"
Arshlan mengangkat wajahnya yang terkejut saat menyadari laju mobil yang berhenti mendadak, membuat aktifitas panas antara dirinya dan Lana yang sedang berlangsung seru harus terjeda.
"Maaf Tuan, ada seorang wanita yang menghalangi mobil tepat didepan gerbang masuk, Tuan..." sopir yang menjawab.
"Apa kau bilang?!"
"Tuan, itu adalah Nyonya Marina, ibu Nyonya Lana." kali ini suara Her yang terdengar, begitu ia meyakini siapa gerangan wanita tersebut.
Mendengar penjelasan Her membuat Lana terkejut setengah mati. Sepasang matanya langsung tertuju kearah Arshlan yang malah mendesis kesal.
"Mau apalagi dia..."
"Sayang, ibu pasti hanya ingin menemuiku..."
"Omong kosong! aku telah memberikannya uang, lalu mau apalagi...?!" suara pria itu telah meninggi, namun Lana yang telah terbiasa menghadapi kemarahan Arshlan memilih mengusap berkali-kali lengan pria yang sedang membuang pandangannya yang dipenuhi amarah itu kearah lain.
"Para pengawal telah mengamankannya, Tuan." kalimat Her terdengar lagi, bertepatan dengan mobil yang mereka tumpangi kembali bergerak perlahan, memasuki halaman rumah megah milik Arshlan yang sangat luas.
"Sayang, ibu pasti rindu ingin melihatku. Apakah aku bisa bertemu meskipun hanya sesaat...?" bujuk Lana lagi sambil terus mengusap lengan yang kekar milik Arshlan. Berusaha membujuk seperti biasa untuk meluluhkan hati yang sekeras karang namun Lana tau pasti bahwa dikedalaman hati Arshlan yang seolah dilapisi salju tebal yang dingin terdapat kehangatan yang luar biasa menenangkan.
Untuk beberapa saat lamanya mulut Arshlan tetap terkunci membuat Lana nyaris menyerah, namun, begitu mobil berhenti sempurna, tiba-tiba pria itu memutuskan berucap meski terdengar berat.
"Her, suruh para pengawal membawa Marina masuk..."
Kemudian ia menatap Lana yang juga sedang menatapnya dengan wajah berseri.
"Sayang..."
"Bicaralah seperlunya, dan jangan membuatku kecewa karena telah mengalah dan menuruti keinginannmu."
"Iya sayang... iya... aku mengerti..."
Arshlan terdiam mendapati raut kebahagiaan yang terpancar jelas diwajah Lana.
Hatinya luluh... terlebih saat wanita itu kembali mengu lum bibirnya dengan lembut, penuh rasa terima kasih...
...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jempol dulu yah man teman... 🤗
NEXT... 😀