TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
DERMAGA YANG KOKOH


__ADS_3

Tiga hari yang teramat sangat berkesan.


Indah..


Mendebarkan..


Tidak mungkin terlupakan..


Namun sayang harus berakhir.


Lana masih saja melambaikan tangannya ke pulau kosong tak berpenghuni itu, saat helikopter milik Arshlan mulai mengudara, membawa mereka kembali menjemput kehidupan nyata.


"Tuan, kapan lagi Tuan punya waktu untuk kembali kesini..?"


Menyadari bahwa tak ada jawaban dari pertanyaannya dan sepertinya sejak tadi dirinya seolah hanya berceloteh pada diri sendiri membuat Lana sontak memalingkan wajahnya kearah Arshlan yang berada tepat disampingnya.


Lana mengerinyitkan kedua alis saat melihat Arshlan yang diam dengan pandangan terarah penuh keluar jendela pesawat, sama sekali tak menghiraukan apa yang ia bicarakan.


Entah kenapa Lana merasa, setelah tiga hari mereka seolah hidup bergelimang cinta dan kebahagiaan, tanpa persoalan dan beban pikiran, serta terasing dari hiruk-pikuk dunia luar, namun semuanya seolah sirna dalam sekejap begitu tadi pagi untuk yang pertama kalinya pria itu telah menghidupkan ponselnya.


Suara notifikasi dari ponsel tersebut langsung sahut menyahut menandakan betapa banyaknya pesan yang masuk ke ponsel Arshlan, sehingga alis Arshlan bahkan berkali-kali mengkerut saat mulai menelisik pesan-pesan tersebut satu persatu.


Detik berikutnya Arshlan telah berdiri dari duduknya dengan wajah yang datar, meninggalkan sarapannya begitu saja.


Masih sambil mengutak-atik ponsel seolah sedang berusaha menghubungi seseorang yang sepertinya Her, sang asisten pribadi.


Nyaris setengah jam Arshlan bicara diluar, seolah sengaja menjauh dari jangkauan pendengaran Lana sebelum akhirnya ia kembali dengan air muka yang sukar ditebak.


"Tuan ada apa?" tanya Lana waktu itu.


"Tidak apa-apa." Arshlan berucap acuh, sambil menyambar segelas air mineral dan meneguknya hingga tandas.


"Apa sesuatu telah terjadi..?"


"Sudah aku bilang tidak ada apa-apa."


Lana tercenung mendengar kalimat dingin itu.


"Cepatlah bersiap, heli akan tiba tak lama lagi.." ujar Arshlan sambil berjalan keluar, karena ponselnya kembali berbunyi.


Dan terhitung sejak saat itu, dimata Lana, wajah pria itu terus terlihat datar.

__ADS_1


Pasti telah terjadi sesuatu, namun sayangnya Arshlan enggan membaginya dengan Lana.


Lana tau beban pekerjaan pria itu memang sangatlah banyak.


Arshlan, adalah seorang pengusaha sukses yang memegang kendali atas beberapa brand perusahaan besar baik didalam maupun diluar negeri. Mungkin karena beban pekerjaan serta kekuasaan yang besar itu pulalah sehingga Arshlan senantiasa terlihat dingin dan arogan disetiap saat.


Tapi tiga hari ini Lana seolah menemukan sisi lain dari seorang pria yang sering disapa semua orang dengan sebutan Tuan Arshlan itu. Karena dibalik semua sifat arogannya baik diatas ranjang maupun pada kesehariannya, selebihnya pria itu benar-benar berhati lembut dan penyayang.


Hal itu membuat perasaan Lana menjadi berkali-kali lipat lebih banyak dari awalnya, meskipun semua ungkapan cinta dan sayangnya selalu saja tidak pernah ditanggapi secara serius oleh Tuan Arshlan.


Lana pasti tidak tahu, bahwa Arshlan memang selalu menganggap semua ungkapan hatinya itu ibarat angin lalu. Bisa jadi Arshlan tidak terlalu percaya dengan kelabilan Lana.. bisa jadi juga Arshlan justru tidak memiliki perasaan yang setara..


Entahlah..


Karena pada kenyataannya Arshlan hanya akan tersenyum tanpa kata setiap kali Lana mulai bicara tentang perasaan, dan mengungkapkan perasaan cintanya yang menggebu-gebu, tanpa malu-malu.


"Tuan.." Lana menyentuh punggung tangan Arshlan dengan lembut, setelah keheningan yang cukup lama. Gerakannya yang perlahan itu bahkan mampu membuat Arshlan terkesiap. "Kenapa Tuan melamun?"


"Siapa yang melamun?"


"Tuan.."


"Sebentar setelah kita tiba, aku akan langsung menuju kantor pusat. Kau pulanglah kerumah lebih dulu dengan Asisten Jo."


"Sudah, jangan membantah.." pungkas Arshlan cepat, berusaha mengabaikan wajah Lana yang memelas dihadapannya.


"Aku ingin bersama Tuan saja. Boleh tidak aku ikut Tuan bekerja..? aku janji tidak akan berulah.."


Arshlan menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa, Lana.."


"Kenapa tidak bisa..?"


Arshlan membisu.


"Apa Tuan masih malu terlihat bersama denganku..?"


Saat Arshlan menoleh, sepasang mata Lana telah berkaca-kaca.


Hati Arshlan langsung mencelos mendapati pemandangan itu, seolah menyadari bahwa sejak tadi ia sudah sedikit keterlaluan karena terus mengacuhkan Lana sehingga gadis itu terlihat sangat sedih.


Arshlan tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menyentuh, meskipun sejujurnya hatinya sedang kesal.

__ADS_1


Bukan kepada Lana. Tapi pada akhirnya Lana lah yang menjadi sasaran empuk yang sangat tepat bagi Arshlan, untuk menumpahkan segenap kejengkelannya, saat mengetahui orang-orang yang dulunya sempat mengabaikan keberadaan Lana, kini sedang berlomba-lomba untuk menjadi orang terdekat.


"Kemarilah.." titah Arshlan, tubuhnya ikut merapat kearah Lana yang langsung masuk kedalam pelukan Arshlan.


"Tuan, aku tidak mau berpisah.. aku takut.."


"Takut..? apa yang kau takutkan..?"


Lana mengangguk kecil dalam pelukan Arshlan. "Aku takut jika berpisah.. Tuan akan kembali menjadi orang yang tidak aku kenal lagi.."


Alis Arshlan bertaut mendengar kalimat aneh itu.


"Tiga hari ini aku melihat Tuan sangat manis. Tuan tidak memikirkan pekerjaan, bisnis, dan semua yang menyangkut kekuasaan. Tuan, meskipun nanti Tuan akan dihadapkan pada semua kesibukan dan persoalan.. tolong berjanjilah Tuan tidak akan berubah saat pulang dan menatapku.."


Arshlan terdiam lama mendengar kalimat Lana yang panjang. Hatinya berdesir lembut, namun cepat ia tepis.


"Lana, meskipun akan mengecewakanmu tapi aku harus mengatakannya, bahwa kau harus membiasakan diri, karena aku tidak selalu pulang kerumah setiap hari. Terkadang aku bisa pergi berhari-hari, mengurus pekerjaan.. ke luar kota, bahkan ke luar negeri.." ungkap Arshlan kali ini dengan nada perlahan.


Lana mengeratkan pelukannya. "Tuan sudah mengatakannya. Aku ibarat dermaga.. tempat Tuan bersandar dan berlabuh usai berlayar.."


Arshlan menelan ludahnya kelu, mendengar kalimat perumpamaan miliknya untuk Lana tempo hari, yang tiba-tiba maknanya terasa menohok ulu hati. Terlebih saat ini Lana telah menengadah sehingga terlihat sepasang matanya yang jernih.


"Tuan.. sesungguhnya aku tidak mau Tuan hanya menganggapku dermaga. Aku ingin Tuan menganggapku sebuah rumah. Tempat yang tepat untuk berlindung dari hujan dan panas, angin dan badai, siang dan malam. Rumah adalah cerminan kebahagiaan sebuah keluarga yang tepat, sehingga Tuan akan selalu pulang kesana. Tidak seperti dermaga.. tempat kapal singgah sebentar, sebelum kembali berlayar.."


Arshlan terhenyak mendengar keseluruhan gambaran konsep perumpamaan diotak Lana yang polos, namun anehnya bisa mengurai makna dengan begitu dalam. "Lana, aku.."


"Tidak.."


Lana telah menggeleng cepat, mematahkan kalimat Arshlan yang hendak terucap sebagai pembelaan dirinya.


Tapi Arshlan telah terkejut, saat menyaksikan senyum Lana yang terlihat berpendar hingga kesudut bibirnya, saat tangannya terangkat mengusap sebelah pipi Arshlan dengan penuh kasih sayang.


"Jangan pikirkan keinginanku yang berlebihan itu, Tuan. Aku janji, aku akan berusaha tidak terusik, meskipun Tuan hanya menginginkan aku hanya sebatas itu saja.."


"Lana, aku.."


"Aku adalah dermaga yang kokoh, ombak yang besar sekalipun.. tidak bisa menghancurkannya.."


...


Bersambung..

__ADS_1


Ig. @khalidiakayum


Support author terus yah.. my kesayangan.. Loophyuuu all.. 😘


__ADS_2