TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 14. Aura Nyonya Besar


__ADS_3

Triple up ...!!


Follow my Ig. @khalidiakayum


...


Victoria menyesap minumannya hingga tandas, sebelum memutuskan menaruh cawan yang sejak tadi berada dalam genggamannya keatas meja.


Pesta barbeque malam ini berlangsung sederhana, namun Victoria tidak bisa memungkirinya, jika ia merasa bahagia berada ditengah keluarga Tuan Arshlan yang hangat.


Seperti biasa, satu-satunya hal yang membuat Victoria kesal hanyalah kehadiran gadis cilik bernama Dasha, yang seolah menjadi primadona.


Dasha selalu saja begitu licik menguasai arena, sehingga Victoria tidak bisa leluasa mengambil kesempatan.


Yah, gadis cilik itu terus berada disana, ditengah-tengah kebahagiaan sebuah keluarga yang sempurna. Kalau bukan diantara Tuan Arshlan dan Nyonya Lana, maka Dasha akan bercanda riang dengan Leo. Tak jarang ia juga menggangu Luiz.


Iya, Luiz. Luiz yang tidak tersentuh, namun begitu mudah didekati dan mendekati bocah ingusan yang haus perhatian itu!


"Victoria, kenapa kau berdiri disini seorang diri?" sapaan ramah sang Nyonya rumah sanggup membuat Victoria terhenyak.


"Ah, tidak apa-apa, Nyonya Lana, tadi aku merasa sedikit haus, karena itulah aku mengambil minuman dingin yang ada disini." Victoria telah menjawab pertanyaan Lana dengan sedikit salah tingkah.


"Oh ya, Victoria, sebenarnya aku ingin bicara empat mata denganmu dan bertanya tentang sesuatu, tapi urung karena tadi sore kalian telah pergi berkuda."


"Nyonya ingin bertanya apa? tanyakan saja, Nyonya ..." ungkap Victoria mencoba tersenyum, meskipun jantungnya berdegup gugup, menanti dengan harap-harap cemas, entah hal apa yang ingin dibicarakan dan ditanyakan oleh wanita istimewanya Luiz juga Leo.


Kini Lana terlihat menatap Victoria dalam-dalam. Aura sang nyonya besar berpendar disana, sanggup membuat Victoria bergidik dalam diam.


"Victoria, katakanlah kepadaku, apakah kau menyukai salah satu putra kembarku?"


"Apa?"


Victoria terhenyak.


Pertanyaan Lana terdengar sangat percaya diri, sekaligus mengintimidasi.


Victoria merasa, seharusnya dirinya tidak perlu heran apalagi kaget.


Sejauh ini Victoria telah banyak mendengar tentang selentingan sifat asli sang nyonya besar yang kesehariannya terlihat begitu penyayang, lemah lembut, baik hati, namun konon katanya ... dibalik semua sikapnya yang gemulai, Nyonya Lana bisa menjadi sosok yang berpuluh-puluh kali lipat lebih tegas, jika sedang mempertahankan atau menginginkan sesuatu.


Dan jika sudah seperti itu, Luiz, Leo, bahkan Tuan Arshlan sekalipun akan senantiasa tunduk oleh satu-satunya wanita didalam keluarga Arshlan itu.


Kisah masa muda sang Nyonya besar juga terkenal sangat fenomenal.

__ADS_1


Wanita yang saat diperistri Tuan Arshlan diumurnya yang masih sangat belia itu terkenal sebagai sosok pemberani bahkan bisa dikategorikan bar-bar.


Nyonya Lana digambarkan sebagai sosok pemberani dan super nekad, dalam mempertahankan mahligai rumah tangganya dengan Tuan Arshlan yang dipenuhi kemelut diawal pernikahan, jauh sebelum Luiz dan Leo hadir kedunia, sebagai obat mujarab dari kebahagiaan yang tak lagi bercela.


"Victoria ..."


Victoria bahkan belum memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan yang terucap to the point itu, namun Lana telah kembali mengambil alih sekaligus menguasai pembicaraan.


"Sebagai ibu dari Luiz dan Leo, dan sebagai wanita yang sama seperti dirimu, aku pun tidak tau siapa yang sebenarnya sedang kau incar diantara kedua putraku. Tapi satu hal yang harus kau ketahui, Victoria, aku telah memastikan bahwa kau ... tidak akan pernah punya tempat didalam keluarga Arshlan. Apakah sampai disini kau paham?"


Kalimat itu terucap dengan lembut, syahdu dan mendayu, namun sanggup menghancurkan hati beserta kepercayaan diri Victoria hingga menjadi serpihan debu.


Hanya sepasang mata Victoria yang bergerak gelisah, saat berusaha menatap sepasang mata Lana yang terus menatapnya lekat, nyaris tanpa berkedip.


Victoria merasa semuanya ibarat sebuah mimpi buruk ...!


Sejauh ini ia telah diperlakukan dengan sangat baik oleh Nyonya Lana, sebagai salah satu karyawan terbaik dan asisten Tuan Her dikantor pusat.


Sungguh tak menyangka jika ternyata, kebaikan Nyonya Lana begitu profesional.


Wanita itu memperlakukan Victoria dengan baik laksana menjunjung seorang tamu yang datang, namun menolak tegas kehadiran Victoria, sebagai kandidat menantu untuk salah seorang putra kembarnya.


Nyonya Lana telah mengatakan semua itu tanpa canggung, tanpa sedikitpun merasa terbeban, saat membuat Victoria menyadari sejauh mana garis dan batasan dirinya.


Luiz, atau Leo?


Victoria bahkan melupakan hal yang penting, bahwa sekalipun Luiz atau Leo memilihnya, belum tentu dirinya cukup pantas dimata kedua orang tua mereka.


"Victoria, katakan sesuatu ..."


Victoria tertunduk sejenak. "Nyonya, aku ..."


"Jangan ragu. Katakanlah hal yang ingin aku dengar darimu."


"Nyonya, aku ... aku ..."


"Jangan mengecewakan aku."


Tenggorokan Victoria terasa sangatlah kelu.


Bibirnya gemetar, lututnya gemetar, sekujur tubuhnya ... semuanya gemetar.


"Aku sedang bicara tentang batasanmu."

__ADS_1


"Ny ... Nyonya ... aku ... aku mengerti. Aku mengerti b-batasanku. Nyonya Lana, maaf, maafkan aku ..." Victoria tertunduk dalam, mati-matian menahan ambrolnya seluruh pertahanan dirinya yang sesungguhnya telah hancur lebur.


"Baiklah, Victoria, terima kasih karena kau bisa menerima dengan baik, apa saja yang aku maksudkan. Aku minta maaf, jika aku terkesan sedikit mendiktemu. Semoga kau paham bahwa aku hanyalah seorang Ibu, seorang ibu ... yang tentu saja menginginkan hal terbaik, untuk masa depan kedua putraku. Luiz ... dan Leo ..."


🌸🌸🌸🌸🌸


"Aku telah mengatakannya."


Alis Arshlan bertaut. "Apa maksudmu, sayang? Kau telah mengatakan apa, dan kepada siapa ..."


"Victoria."


Mendengar itu Arshlan langsung mengusap wajahnya yang telah ditumbuhi janggut yang memutih.


"Bukankah sebelumnya kita sudah membicarakan tentang hal ini? Aku sudah melarangmu untuk ikut campur dengan persoalan ..."


"Maaf sayang, aku tidak bisa. Aku tidak sudi melihat kedua putraku mengitari wanita yang sama."


Arshlan menatap Lana yang duduk dengan wajah terlipat disisi ranjang. "Lana sayang, hubungan Luiz dan Victoria tidak seperti yang kau kira. Mereka hanya dekat karena bertemu setiap hari dan bekerja bersama. Aku pikir kau berlebihan dalam ..."


"Tidak." Lana telah menggeleng dengan wajahnya yang keras kepala. "Sejak awal Victoria datang kekantor pusat untuk melamar pekerjaan, Luiz telah membantunya lolos seleksi bagian SDM dengan sangat mudah. Hanya dalam kurun waktu yang singkat, Victoria telah mengalami dua kali promosi jabatan, hingga pada akhirnya wanita itu duduk dimeja asisten utama. Sebuah posisi, yang pada awalnya hanya bisa diduduki oleh pegawai yang telah mengabdi sekurang-kurangnya tiga tahun. Tidak hanya sampai disitu, Luiz bahkan beberapa kali membantu dan memberikan kemudahan material secara personal, dibeberapa moment dimana Victoria sedang berada dalam persoalan."


Usai mengungkapkan berbagai fakta secara panjang lebar, Lana terlihat menatap Arshlan lekat.


"Siapa yang tidak mengenal Luiz? seumur hidupku, yang aku ketahui hanyalah, putraku yang sedingin salju dikutub utara, tidak pernah memperlakukan siapapun apalagi seorang wanita, seistimewa ia memperlakukan Victoria."


Arshlan menghembuskan nafasnya yang berat, dalam diam ia pun mengakui bahwa Lana memanglah berkata benar.


Mustahil Arshlan tidak tau seperti apa gerak-gerik kedua putranya diluar sana, karena semua hal yang menyangkut Luiz dan Leo, ibaratnya tidak ada setitikpun yang luput dari pantauan Arshlan, begitupun halnya dengan persoalan hati keduanya.


Namun demikian, untuk persoalan Luiz dan Victoria, Arshlan memiliki pandangan yang berbeda.


Bahwa Luiz sangat menyukai Victoria, adalah hal yang lumrah. Tapi menyukai saja, itu tidaklah cukup. Dan jika itu benar perasaan cinta, maka seharusnya, Luiz tidak menyerah begitu saja.


Luiz dan Leo masih sangat muda, keduanya bahkan masih berumur dua puluh satu tahun. Bicara tentang cinta dan keseriusan rasanya terlalu dini.


Itulah sebabnya Arshlan memilih untuk membiarkan keduanya mengecap semua pahit manisnya perasaan yang labil, tidak ingin ikut campur terlalu jauh, karena sesungguhnya Arshlan telah menaruh kepercayaannya untuk Luiz dan Leo sebesar seribu persen ...!


Arshlan sangat yakin, bahwa kedua putra kembarnya itu terlalu pintar, untuk dipermainkan seorang wanita ...


...


Bersambung ...

__ADS_1


Vote enggak nambah, hadiah begitu berat, Pop novel ini pun jalan ditempat ... πŸ˜”


__ADS_2